
Kiran membuka matanya. Melihat jam yang tergantung di dinding kamar. Ia menggeliat sebentar. Kemudian bangkit lalu masuk ke kamar mandi. Sekilas ia melirik Radit yang masih tampak tidur dengan lelap.
Jika masih di kamar Raisa, ia baru mandi ketika akan berangkat ke kantor. Sekarang ia berada di kamar Radit. Seperti yang dikatakan pria itu, ia harus tahu diri. Tidak mungkin mereka rebutan kamar mandi karena ingin mandi di waktu yang sama.
Kiran terkesiap begitu masuk kamar mandi. Semua peralatan mandinya hilang entah kemana. Kiran mencari ke tiap sudut di dalam kamar mandi. Nihil. Kiran berinisiatif mencari ke dalam tempat sampah yang ada di dalam kamar mandi. Ia menghela nafas berat, menemukan semua peralatan mandinya ada di sana.
Selesai mandi, dengan menggunakan bathrobe, Kiran keluar dari kamar mandi. Rambutnya yang masih basah ia biarkan terurai begitu saja. Tanpa jilbab.
Entah mengapa, meski ia sering merasa kesal dan jengkel dengan Radit, hatinya merasa nyaman dengan pria itu. Tidak ada kekhawatiran sedikit pun jika ia akan dilecehkan. Kiran sendiri merasa bingung. Apa karena pria itu yang sudah tampak jelas tidak menyukainya atau karena pria itu memang sudah menjadi suaminya.
Kiran berjalan melewati tempat tidur menuju lemari. Sekilas ia melirik Radit yang membelalakkan mata menatapnya. "Kau ...?!" Radit merasa tak percaya.
"Dimana jilbabmu itu? Kau keluar begitu saja. Di mana rasa malumu itu?" Radit langsung bangkit dari tidurnya, dan berada dalam posisi duduk.
Kiran menatap Radit tak peduli atas apa yang sedang dipikirkan pria itu sekarang. Ia juga tak ambil pusing dengan kata-katanya. Ia berjalan dengan langkah biasa, mengambil baju dari dalam lemari.
"Hei, kau tidak mendengar suaraku. Kenapa kau diam saja. Atau jangan-jangan ... kau ingin menggodaku ya?"
Kiran menatap Radit dingin. "Menggoda itu bukan tipeku. Apalagi menggodamu," ucapnya datar.
Radit sedikit terpana ketika matanya menatap wajah Kiran secara keseluruhan tanpa jilbab. Ketika Kiran berbicara dan menatapnya, ia baru menyadarinya. Wajah gadis itu ....
"Kau yang telah membuang peralatan mandiku ke tempat sampah kan? Berani kau buang lagi, bukan hanya sabun dan sikat gigimu, bajumu pun akan kubuang juga."
"Kau berani mengancamku?" tanya Radit sinis sembari turun dari tempat tidur menghampiri Kiran yang berdiri menatapnya.
"Apa yang akan kau katakan pada orang tuaku jika aku mengadukan hal itu pada mereka?" katanya lagi mengejek.
Kiran menyilangkan tangannya di depan dada. "Aku bukan wanita yang bertindak tanpa berpikir. Kau pastinya yang akan disalahkan jika itu terjadi," balas Kiran sembari menarik satu sudut bibirnya.
Radit menghampirinya. Mengamatinya sekilas. Lalu mencoba meraih rambutnya. Kiran mengelak. " Kau mau apa?"
"Kau keluar begini karena ingin menggodaku, kan. Aku sekarang sudah tergoda. Maka kau harus tanggung jawab," ucap Radit menyeringai.
"Kau memang tak pernah mendengarkan apapun yang aku katakan," ucap Kiran sembari melangkah cepat masuk ke kamar mandi.
"Hei, kenapa kau buru-buru. Kau mau kita melakukannya di dalam kamar mandi!" pekiknya sembari mengeluarkan senyum simpul.
Kiran yang mendengarkan langsung menutup pintu kamar mandi dan mengunci dari dalam. "Dia memang gila," sungutnya.
Radit menggelengkan kepalanya dengan cepat. Menepis pikiran yang melintas di kepalanya. Tidak mungkin dia. Wajah itu ..., ya wajah itu hanya mirip.
Kemudian ia mendekati sofa lalu mencari sesuatu di sana. Ketemu. Ternyata memang ia berada di sana. Flashdisk itu terselip di antara celah di pinggir sofa. Selanjutnya Radit meletakkannya di atas laptop yang berada di atas nakas. Sayup-sayup suara azan shubuh terdengar.
Kiran keluar lagi dari kamar mandi. Ia sudah mengenakan pakaian rumahannya. Kaos lengan panjang, celana panjang dan jilbab instan. Bergerak mengambil mukena dan sholat.
Mengamati Kiran yang sholat, Radit beranjak mengambil beberapa helai bajunya dari dalam lemari dan masuk ke dalam kamar mandi.
Selesai sholat, Kiran keluar dari kamar mencari pelayan. Ia ingin meminta salep pada mereka. Meski tadi malam ia sangat kesal, pagi ini rasa bersalah menyusup dalam hatinya. Setelah mendapatkan salep yang diinginkan, Kiran pun kembali ke kamar.
"Bagaimana luka gigitan di kakimu?" tanyanya pada Radit yang membelakanginya. Pria itu sedang berada di balkon ketika Kiran menemukannya.
"Kenapa? Kau ingin menggigitku lagi?" tanyanya sinis sembari membalikkan badan. Untuk beberapa saat Kiran terpana. Kenapa dia begitu tampan? batin Kiran dalam hati.
Sedari kecil Kiran sangat menyukai papanya ketika memakai baju koko. Papanya terlihat sangat tampan. Baginya, penampilan pria yang sedang memakai koko apalagi berwarna putih itu jauh lebih menarik daripada pria yang sedang memakai stelan berdasi.
Dan saat ini melihat Radit memakai koko apalagi koko putih itu digulung sedikit dibagian lengannya hingga hanya menutupi dua pertiganya semakin menambah pesonanya. Kiran terpana. Namun dengan cepat ia menepisnya.
"Pakailah ini. Biar bekas gigitan itu tidak infeksi," katanya sembari menyerahkan salep. Radit menatapnya dalam diam.
"Jika kau tidak mau, tidak apa-apa. Aku akan mengembalikannya ke salah satu pelayan." Kiran berbalik.
"Jika ingin meminta maaf seharusnya katakan secara langsung." Kiran menghentikan langkahnya.
Radit menghela nafas pelan. "Memang susah bicara denganmu."
"Bukannya seharusnya aku yang bicara begitu," bantah Kiran tak terima.
"Ya sudah jika kau tidak mau minta maaf. Tapi kau harus pakaikan salep itu ke kakiku." Kiran berpikir sejenak kemudian mengangguk pelan.
Radit melangkah masuk ke dalam kamar kemudian duduk di atas tempat tidur, menaikkan kakinya ke atas tempat tidur dan meluruskannya.
Kiran mengikutinya kemudian duduk di hadapan Radit. Secara perlahan menyentuh jempol Radit dan melihat luka yang ia timbulkan tadi malam. Lukanya tidak terlalu parah. Syukurlah ia menggigit tepat di kuku. Jika bukan kuku, tentu saja sudah berdarah.
"Kau tidak jijik waktu menggigit jempolku tadi malam?" tanya Radit, mengamati Kiran yang mengoleskan salep itu dengan hati-hati.
"Aku tahu kau itu tipe yang suka bersih. Kakimu juga pasti bersih."
"Darimana kau tahu?" tanya Radit menaikkan satu alisnya.
"Karna kau perfeksionis."
"Dari mana kau tahu aku perfeksionis?"
"Saat kau minta Ari presentasi waktu itu, aku bisa menebak jika kau perfeksionis."
"Hmm ...."
"Sudah. Kedepannya kau bisa oles sendiri," ucap Kiran sembari bangkit dari tempat tidur.
"Karina!" Kiran tersentak. Kemudian menoleh, melirik Radit. "Nama itu sudah lama kutinggalkan. Sekarang namaku Kiran. Panggil aku seperti itu!"
"Sejak kapan kau meninggalkan nama itu?" tanya Radit sembari menatapnya.
"Kenapa kau tanya itu?"
"Aku suamimu. Apakah aku tidak boleh bertanya?" Radit bertanya balik.
"Sejak aku lulus dari SMA."
"Bagaimana dengan nama itu setelah kau menjadi Kiran?"
"Nama itu sudah ...." Kiran menghentikan ucapannya ketika terdengar suara ketukan di pintu.
"Masuk saja!" pekik Radit.
Pintu terbuka. Wajah Tina muncul dari balik pintu. "Nyonya minta Mas Radit dan Mbak Kiran untuk sarapan di bawah."
"Baiklah, kami akan ke bawah setelah mengganti pakaian," jawab Radit.
Tina mengangguk dengan cepat kemudian menutup pintu kamar kembali. Kiran menatap Radit. Mata mereka bertemu. Senyum kemudian merekah di bibir keduanya. Radit senang karena Mamanya sudah kembali ke kebiasaannya. Sementara Kiran juga senang akhirnya mertuanya mau keluar kamar dan sarapan di luar kamar. Ini sungguh suatu kemajuan!
Dengan cepat mereka berdua mengganti baju. Kiran mengganti bajunya di dalam kamar mandi. Sedangkan Radit mengganti baju di dalam walk-in closet.
Setelah selesai Radit menunggu Kiran mengganti bajunya. Ketika Kiran keluar dari kamar mandi, Radit langsung berdiri.
"Kau menungguku?" tanya Kiran tak percaya.
"Kita ke bawah bersama," jawab Radit.
Begitu keluar dari kamar, Radit mengenggam tangan Kiran. Mereka pun berjalan bersama.
❤❤❤💖