Behind The Boss

Behind The Boss
Beruntung sekali



Hari-hari pun dilalui Nala dengan lesu. Serasa semangatnya sudah tidak ada lagi sejak Erlangga tak tampak. Bagas sudah dipanggil oleh CEO dan diberikan SP satu setelah dilakukan pemeriksaan tentangnya. Sikapnya yang semena-mena pada bawahan membuat Erlangga merasa geram dan melaporkan hal itu pada sang kakak.


Erlangga tidak memimpin perusahaan ini. Dia memimpin perusahaan yang lain, meski tetap saja hanya perusahaan Armadja lah yang paling besar karena merupakan induk perusahaan.


Nala masih melamun di tempat kerjanya. Pekerjaannya belum disentuhnya sama sekali dan hal itu membuat Bagas tak berani menegurnya karena takut Erlangga akan marah. Padahal, kalau masalah pekerjaan, Erlangga sangat profesional dan tidak akan mengaitkan masalah pribadi dengan pekerjaan. Jika Nala salah, dia tidak akan marah jika Bagas menegurnya, asal jangan sampai membentak.


"Anna, Anna, lihat." Vina terlihat menyikut tangan Nala yang tampak melamun.


Nala langsung terkesiap dan menatap ke arah yang ditunjuk Vina dengan gestur kepalanya.


Terlihat Erlangga yang sedang lewat bersama para bawahannya. Untuk pertama kalinya, Nala melihat Erlangga yang sangat tampan karena berpakaian layaknya seorang CEO.


Seketika jantungnya berdegup kencang melihat sosok tampan yang selama ini mengisi hidupnya. Canda tawa mereka, senyuman Erlangga, hingga saat dia memeluknya, semua itu terlintas di bayangannya.


"Anna, kau beruntung sekali telah memenangkan hatinya. Dia tampan dan kaya raya. Aku tidak pernah melihat ada wanita seberuntung dirimu di dunia ini." Vina berdecak kagum melihat sosok Erlangga.


Nala tidak menanggapi, dia hanya menatap Erlangga dengan tatapan datar. Namun, beberapa detik kemudian, Erlangga terlihat menoleh dan tersenyum ke arahnya.


Namun, dia tidak membalas dan malah memalingkan wajahnya meskipun dia tak bisa menyembunyikan semburat merah di pipinya. Lagi-lagi dia tidak bisa memungkiri bahwa Erlangga sangat tampan.


Erlangga terlihat sangat kecewa dengan sikap Nala yang tidak mau melihatnya barang semenit saja.


Nala tidak menjawab dan memilih untuk memperhatikan dokumennya.


"Tidak disangka, ya, ternyata Angga, rekan kita yang culun dan jelek itu adalah Erlangga Armadja. Kenapa dia harus menyamar segala? Apa dia ingin mengikuti jejak di film-film? Berpura-pura jelek untuk mengetes wanita yang disukainya?" ucap karyawan lain sambil menatap Erlangga yang hanya terlihat punggungnya saja karena semakin menjauh.


"Iya, bagaimana bisa ada orang tampan dan sempurna seperti itu?"


"Jika aku menjadi gadis yang disukainya, pasti aku akan menjadi wanita paling beruntung di dunia."


"Eh, aku mengetahui sedikit informasi tentangnya."


"Apa?"


"Sejak masih SMA, dia itu memang terkenal sederhana. Temanku ada yang satu SMA dengannya. Erlangga adalah orang kaya paling murah hati karena selalu membantu yang sudah. Setiap hari, dia selalu membantu teman-temannya yang memiliki keterbatasan biaya dari uang jajannya. Dia lebih suka membawa bekal daripada menghabiskan uangnya untuk jajan. Katanya dia tidak suka menghabiskan harta orang tuanya. Apalagi memakai uang mereka untuk dirinya sendiri. Dia lebih suka berbagi."


"Astaga, mengapa ada orang yang hatinya mulia seperti itu. Aku benar-benar iri dengan wanita yang menjadi pujaan hatinya."


Nala yang mendengar obrolan mereka kembali kepikiran dengan Erlangga. Selama ini Erlangga memang sangat royal padanya, namun tidak pada dirinya sendiri.