Behind The Boss

Behind The Boss
Malu



Kreeekkkk! Pintu terbuka.


Intan dan Bara sama-sama membelalakkan mata dengan sempurna. Pemandangan di depan mereka sungguh di luar dugaan. Dengan cepat Intan menutup pintu itu kembali.


"Anak kecil dilarang lihat yang begituan," ujar Intan pada Bara yang bersemu merah.


Aku kan seumuran dengan ponakanmu, sungut Bara dalam hati.


Intan menarik tangan Bara, ingin menyeret pria itu ke depan. Namun sebelum mereka melangkah, suara Radit terdengar dari dalam kamar. "BARAAA ...!!"


Bara memandang Intan, tersenyum getir. Intan menepuk bahu Bara pelan. "Tenang saja, katakan saja seperti apa yang sudah kita rencanakan. Dia tidak akan marah. Insya Allah ...," ucap Intan yakin. Ya, iyalah ..., senyum Intan dalam hati.


Pintu terbuka, Radit keluar dengan wajah merona. "Mari kita berangkat ke kantor," katanya pada Bara.


Bara melongok. Lho, gak marah? Kirain ....


Intan tersenyum geli melihat ekspresi Radit yang baru keluar dari kamar. Melihat kebingungan Bara ia lebih lucu lagi. Oalah, Bara ... Bara ..., orang lagi keciduk kok, manalah mungkin marah-marah. Malu iya.


"Kau, tolong antar Kiran pulang," pesan Radit pada Intan datar. Radit ingin melangkah namun seketika ia berhenti.


"Jangan pernah gunakan kamera untuk merekamku lagi. Jika kau ulangi, akan kuhancurkan butikmu ini!" ancamnya menatap Intan tajam.


Intan menarik satu sudut bibirnya. "Dia menutupi rasa malunya dengan mengancam orang," gumamnya pelan dengan suara yang tak didengar pria itu. Radit sudah berjalan dengan cepat keluar dari butik, diikuti Bara.


Intan masuk ke dalam kamar. Kiran sedang merapikan barang-barangnya. Bersiap akan pulang. Wajah gadis itu tampak bersemu merah. Ia menutupi wajahnya dari tatapan Intan.


"Jika kau sudah siap, ayo kita pulang," ajak Intan. Kiran mengangguk sembari tersenyum tipis.


-


❇❇❇


Radit membuang pandangannya keluar jendela. Ia sendiri merasa malu pada Bara. Bagaimana mungkin aku bisa lepas kontrol seperti itu?


Radit menghela nafas pelan, memijit pelipisnya dengan satu tangan. Tadinya ia hanya berpikir untuk menghentikan tawa Kiran yang menyebalkan itu dengan mulutnya. Entah darimana juga ide itu muncul. Semua terjadi begitu saja.


Tak disangka ciuman penghenti tawanya malah jadi ciuman yang dia sendiri tak mampu menghentikannya. Jika Bara dan Intan tak memergokinya, mungkin ia sudah melakukan "itu" dengan Kiran.


Radit mengepalkan tangannya. Merasa geram dengan dirinya sendiri. Meski ia mengatakan sendiri pada Kiran bahwa pada akhirnya mereka harus melakukan hubungan layaknya suami istri demi memenuhi keinginan sang mama, namun untuk waktu yang masih sangat dekat dengan kematian Ari, rasanya ia menjadi benci pada dirinya sendiri.


Papa mengatakan bahwa dirinya harus selalu ingat bahwa Kiran adalah calonnya sejak kecil dan bukannya calon Ari. Namun tak dapat ia pungkiri, pada awalnya memang Kiran adalah calonnya Ari. Maka sudah sepantasnya mereka belum boleh melakukan itu dalam waktu yang masih dekat dengan waktu kematian adiknya.


Terbayang dalam ingatan Radit, bagaimana tadi ia membaringkan tubuh wanita itu lalu tanpa melepaskan ciumannya, tangannya bergerak sendiri tanpa instruksi, menyusuri setiap lekuk tubuh gadis itu. Bahkan menyusup ke dalam kaosnya.


"Argghhhhh!!" Radit tampak frustasi.


"Maafkan kami ya, Dit. Aku gak tahu kalau kalian lagi ..., ehmm .... Kalau seandainya aku tahu, aku tidak akan berani mengganggumu," ucap Bara penuh dengan rasa penyesalan.


Bara melirik ekspresi Radit melalui kaca spion. Seketika terlintas posisi Radit yang berada di atas tubuh Kiran saat mereka membuka kamar. Meski Radit membelakanginya, namun Bara tahu dengan jelas, Radit sedang mencumbu gadis itu.


Mendengar kata-kata Bara, bukannya menenangkan malah membuat Radit frustasi. Ia mengacak-acak rambutnya kesal.


"Atau kau mau kuantar menjumpai Kiran. Kalian bisa melanjutkannya lagi di rumah," ucap Bara lagi.


"Apa yang kau pikirkan?! Diam dan menyetir saja. Jangan pedulikan aku!" sahut Radit ketus, membuang pandangannya lagi keluar jendela.


-


❇❇❇


Kiran melempar pandangan ke luar jendela mobil. Wajah gadis itu bersemu merah. Pikirannya masih mengembara atas apa yang baru saja terjadi.


Bagaimana mungkin aku bisa hilang kontrol begitu? Bukan menolaknya, malah aku menikmatinya. Mungkin Radit benar bahwa aku memang murahan. Sedikit saja sentuhan darinya, aku tidak bisa menolaknya dalam jangka waktu yang lama. Sebentar saja pria itu menahanku yang mendorong tubuhnya, aku sudah mengikuti dan membalas apa yang dia lakukan padaku.


Kiran menutup wajahnya dengan kedua tangan. Membayangkan bagaimana Radit meremas sesuatu dibalik kaosnya. Bagaimana mungkin bisa sampai sejauh itu? Kiran menggelengkan kepalanya.


"Sudahlah. Tidak apa-apa. Kalian kan sudah menikah. Kenapa kau jadi tampak menyesal begitu?" suara Intan menyadarkan Kiran.


Kiran melirik Intan yang menyetir di sebelahnya. Kiran jadi salah tingkah. Saking asyiknya ia pada pikirannya, ia sampai lupa pada keberadaan Intan yang berada di sampingnya.


"Enggak gitu kok, Mba ..., Kiran hanya malu sudah ketahuan sama Mba dan Bara," jawabnya skeptis.


Alasan ini tidak sepenuhnya benar. Ia lebih malu lagi pada Radit karena sudah membiarkan pria itu. Bagi Kiran, malu yang paling mendominasinya saat ini karena ia tidak menolak Radit tadi. Malah ia membalas apa yang Radit lakukan.


Intan tertawa geli. "Ketahuan banget bohongnya ya, Kiran. Dari wajahmu, Mba itu bisa tahu kalau malumu yang paling gede itu ya sama Radit." Kiran menundukkan tatapannya. Tak berani melihat Intan.


"Gak apa-apa, Kiran. Sudah halal bagi kalian. Nanti Mba bakalan buat moment biar kalian bisa berbuat lebih dari itu. Kamu tenang aja. Yang penting kalian harus segera berikan cucu pada Mbakku, biar dia gak teringat Ari terus."


Kiran terkesiap, melirik Intan dengan bingung. Lho, kok? Maksudnya? Lebih dari itu? Cucu?


"Hahahaaa ..., wajahmu Kiran ..., biasa aja lagi! Hahaa ...." Intan tertawa geli melihat ekspresi Kiran barusan.


Merasa malu, Kiran mengalihkan pandangannya kembali keluar jendela mobil sembari menghela nafas pelan.


Kini pikirannya terbayang pada momen semasa kecilnya. Saat ia menanyakan masalah ciuman pada papa. Pada waktu itu, ia baru saja selesai membaca buku Snow White, dimana sang putri hanya terbangun jika dicium oleh sang pangeran.


Saat itu papanya hanya mengatakan bahwa dalam dunia nyata, ciuman itu hanya boleh dilakukan sesudah menikah. Ciuman pertamanya juga harus dilakukan pada suaminya. Sekarang ia baru menyadari bahwa perkataan papanya itu benar adanya. Ciuman plus suasana yang mendukung, apalagi cuma berdua, memang sangat memabukkan. Akan menjadi pemicu tindakan selanjutnya. Maka memang ciuman sebaiknya dilakukan pada pasangan yang sudah halal.


Tapi untuk masalahnya, bukan hanya halal atau tidaknya. Mereka bersatu karena kondisi. Tidak ada cinta di antara mereka. Belum lagi Radit sebelumnya telah berkata bahwa pria itu tidak bisa mencintainya. Bukankah ia sangat terlihat murahan, jika tidak menolak ketika Radit menyentuhnya? Radit pasti akan memikirkan itu sekarang. Kiran merasa kesal pada dirinya sendiri.


Kiran disibukkan dengan pikirannya yang mengembara. Tanpa disadarinya wanita di sebelahnya sedang tersenyum menahan geli. Senyum sumringah mengembang di bibirnya.


Aku pikir tadinya siasatku setidaknya hanya mendekatkan mereka. Membuat mereka agar bisa tidur di ranjang yang sama. Ternyata hubungan mereka bisa berkembang lebih dari apa yang aku harapkan. Kak Mahesa ..., kau akan senang mendengar kabar dariku, batin Intan senang.


-


❇❇❇


Kiran berusaha setenang mungkin dalam bersikap, menghalau bayangan yang mengusiknya hingga wajahnya terasa panas jika bayangan itu muncul dalam ingatannya.


Di tempat yang berbeda, Radit juga merasakan hal yang sama seperti apa yang Kiran rasakan. Meski tidak fatal, beberapa kali ia melakukan kesalahan. Jika sudah begitu wajahnya tampak bersemu merah. Setelah menenangkan diri, ia pun kembali bekerja.


Sepulang dari kantor seperti biasa, Kiran selalu mengunjungi mama. Kali ini, mama tidak berada di kamar. Ia berada di ruang TV di lantai dua bersama Raisa.


"Sini ..., Kiran." Mama melambaikan tangan pada Kiran untuk mendekat.


"Lagi nonton apa, Ma?" tanya Kiran mengambil posisi duduk di samping mama. Setelah sebelumnya ia mencium punggung tangan wanita itu.


"Si Raisa yang muter Kiran. Mama sih ikut aja."


"Nonton film cinta, Kakak Ipar.... Kakak nonton sampe habis sama kita ya. Mana tau jadi referensi Kakak biar semakin mesra sama Kak Radit," sela Raisa sambil nyengir. Wajah Kiran memerah lagi mendengar bahasa "semakin mesra" dari Raisa.


"Wiih ..., Kakak Ipar langsung jadi malu-malu gitu," ejek Raisa. Kiran menunduk malu.


"Mbak Kiran .... Mas Radit sudah pulang," ujar Tina yang datang menghampiri.


"Oh .... Eh, jadi ...." Kiran salah tingkah. Baru kali ini ia diberitahu jika Radit sudah pulang. Jadi dia harus apa? Biasa tidak seperti ini.


"Ya udah, kamu ke kamar aja." Mama seakan paham kebingungan Kiran.


"Baik, Ma. Makasi ya, Mba Tina," ucap Kiran pada Tina. Wanita paruh baya itu langsung menundukkan kepalanya sedikit kemudian berlalu.


"Kalau gitu, Kiran ke kamar dulu ya, Ma," pamit Kiran pada mama.


Mama mengangguk sembari tersenyum. Ia tahu, pasti suaminya yang menyuruh Tina untuk memberitahu Kiran jika Radit pulang dari kantor. Ia juga tahu, suaminya itu meminta bantuan Intan untuk mendekatkan Radit dengan Kiran. Tidak pulangnya mereka berdua kemarin malam tentu ada kaitannya dengan upaya itu. Baru saja ia ingin menanyakannya pada Kiran, namun panggilan Tina menghentikannya.


Ariana menatap punggung Kiran yang melangkah pergi dengan sedih. Masih terbayang diingatannya bagaimana mereka membuat skenario berdua bersama Ari agar gadis itu mau menikah dengan Ari. Masih terbayang wajah penuh cinta Ari jika bercerita tentang Kiran. Bagaimana Ari begitu senang saat Kiran boleh menginap di rumah sampai hari pernikahan mereka. Setelah semuanya, satu langkah lagi menuju pernikahan mereka, malah Ari dipanggil yang Maha Kuasa. Ariana merasa sakit dalam hatinya.


Suaminya mengatakan bahwa Ari sudah meninggal dan tidak akan peduli tentang urusannya di dunia. Namun bagi Ariana, ini semua tidak adil bagi Ari.


Mengadakan resepsi mewah serta mendekatkan Radit dengan Kiran, meski Radit adalah putranya juga. Hatinya teriris dengan semua ini. Meski memang dirinya yang membuat Radit harus menikahi Kiran.


"Ma, kok melamun, sih." Raisa menggoyang-goyang bahu Ariana. Ariana terkesiap.


"Mama ngantuk, Dek. Mama tidur aja, ya ...."


"Iss, Mama gak asyik banget sih. Jarang-jarang Raisa bisa nonton bareng Mama gini."


"Besok kita nonton, ya." Raisa manyun.


"Ya udah deh, Ma."


-


❇❇❇


Kiran masuk ke dalam kamar. Mendapati Radit sedang duduk di atas tempat tidur. Entah kenapa jantungnya kini bertalu dengan cepat. Ia berusaha mengendalikan kegugupannya dengan berjalan seperti biasa.


"Mau minum?" tanyanya dengan suara yang dibuat sebiasa mungkin.


Radit mengalihkan pandangannya dari ponsel ke arah Kiran. "Aku tidak haus."


"Kau sudah makan?" tanya Kiran lagi.


"Kau juga baru pulang kan? Kau sudah makan?" Radit malah balik bertanya.


Kiran menggeleng pelan. "Aku diet."


"Badanmu sudah kurus begitu. Kau mau diet apalagi?! Ayo, kita makan. Aku sudah menyuruh pelayan untuk menyiapkan semuanya."


Radit melangkah keluar menuju balkon. Kiran berjalan mengikuti. Di atas meja terdapat beberapa makanan yang telah disediakan. Oh, ternyata ini alasan kenapa aku dipanggil....


"Duduk!" perintah Radit pada Kiran.


Kiran duduk di kursi yang ditunjuk Radit. Mereka duduk saling berharapan. Tidak banyak bicara, Radit mulai makan. Kiran pun mulai ikut makan. Sesekali melirik ke arah Radit yang tampak makan dengan tenang.


Setelah selesai makan. Radit memutar kursinya ke arah depan, memandang keindahan malam. Kiran yang baru saja menyelesaikan makannya, berniat menyusun piring itu dan ingin membawanya ke dapur. Namun suara Radit menghentikannya.


"Letakkan saja! Biar pelayan yang membersihkannya. Kau juga kan lelah karena telah bekerja seharian."


Hening beberapa saat.


"Kiran ...," panggil Radit pelan.


"Iya." Kiran menjawab cepat.


Aku harus menjawabnya. Jika tidak, aku akan dikatakan idiot olehnya, batin Kiran.


"Perbuatan kita yang tadi pagi ..., mau dilanjutkan?" tanya Radit lirih melirik Kiran.


Eh? Kiran terkesiap. Melirik pria itu yang kini menatapnya dalam.


❤❤❤❤