Behind The Boss

Behind The Boss
Perasaan Apa ini?



Mencintai bukan hanya sekedar melampiaskan hasrat biologis semata atau ungkapan cinta yang melalang buana. Namun cinta akan lebih berarti ketika kehadiranmu menjadi tonggak penyandar bagi orang yang kau cinta~Radit.


〰〰〰


Kiran melangkahkan kakinya masuk ke dalam gedung Makarim Group. Berjalan beriringan dengan Radit. Pria itu memaksa untuk menggenggam jemarinya ketika turun dari mobil. Genggaman itu bahkan tidak lepas saat mereka memasuki lobby.


"Dit, aku malu. Dilihatin terus tuh sama karyawanmu," bisik Kiran pelan.


Matanya menangkap reaksi heran dari orang-orang yang mereka lewati. Beberapa dari mereka bahkan melirik tautan jari mereka dengan tatapan tidak percaya.


Radit tak mengacuhkannya. Dengan langkah penuh percaya diri, Radit tetap menggandeng Kiran masuk ke dalam lift.


Ketika Radit masuk ke dalam lift, tidak ada karyawan lain yang berani ikut masuk. Di dalam lift itu hanya ada mereka berdua. Bara masih memarkirkan mobil Radit di basement.


Kiran hanya bisa berdecak kagum, saat lift langsung membaca tempat ruangan Radit saat pria itu menempelkan ID Cardnya.


Access Card Lift! Maunya TJ dibuat begini juga ....


Radit melirik Kiran. "Kau pasti sekarang sedang membatin kan, kenapa sistem lift TJ tidak dibuat seperti ini?" Kiran tak menjawab. Ia merasa malu karena Radit bisa menebak apa yang dia pikirkan.


"TJ itu bangunan lama. Dibangun oleh Kakekku. Sementara gedung ini dibuat oleh Papa." Radit menjelaskan. Kiran hanya diam mendengarkan.


Ting!


Pintu lift terbuka. Radit menarik Kiran untuk mengikutinya. Langkah kaki pria itu lebar, sehingga Kiran harus berlari kecil untuk menyamainya. Meski begitu, Kiran tak protes.


Radit seperti terburu-buru untuk masuk ke dalam ruangannya. Setelah mereka berdua masuk, pria itu langsung menutup pintu. Mata Kiran baru saja ingin mengagumi luasnya ruangan Radit saat ini, namun ia begitu kaget atas apa yang pria itu lakukan.


Begitu pintu tertutup, Radit langsung memeluknya dengan erat. Pria itu membungkukkan badan sedikit, meletakkan kepalanya pada bahu Kiran.


"Kalau kau ingin menangis, menangis saja. Ada aku sekarang. Kau tidak sendirian lagi. Aku siap menjadi pendengar setiamu." Tubuh Kiran membeku. Masih kaget atas apa yang Radit lakukan.


"Dit, lepas. Pelukanmu terlalu erat. Aku jadi tidak bisa bernafas," ujar Kiran lirih.


"Ah, maaf."


Radit melonggarkan pelukannya. Namun tak melepaskannya. Ia merasa malu. Perasaan ingin melindungi ternyata masih kalah jauh dibandingkan dengan keinginan untuk memeluk Kiran sedari tadi.


Saat di mobil, Kiran menolak untuk dipeluk olehnya. Wanita ini terlihat sangat dingin. Radit paham Kiran masih memikirkan apa yang diucapkan oleh neneknya. Maka Radit pun tak berani memaksanya.


Namun melihat Kiran terus berdiam diri dari tadi, menggedor instingnya kembali untuk memeluk wanita ini.


"Aku nggak apa-apa, Radit. Terima kasih sudah mengkhawatirkan aku."


"Kalo memang nggak apa-apa, kenapa kau masih diam dari tadi. Kenapa nggak menjawab ketika kutanya. Jika menjawab pun hanya sekedarnya."


"Hanya lagi malas bicara saja, nggak ada yang lain."


Radit melepaskan pelukannya. Menjauhkan tubuh Kiran sedikit. Sebuah ide terbersit dalam kepalanya. Ia membalikkan tubuh Kiran dengan cepat.


"Kau memang nggak sedih. Tapi kau seperti kehilangan semangatmu. Aku akan mentransfer semangatku. Kau terima ya."


Radit memukulkan punggung Kiran dengan kedua telapak tangannya. Lalu menggetarkannya seperti seseorang yang sedang mentransfer ilmu kanuragannya pada orang lain. Entah itu karena ingin menyembuhkan atau untuk menurunkan ilmu, seperti yang ada di film-film.


Mungkin maksud Radit ingin menyembuhkan sakit yang ada di hati Kiran. Kiran tersenyum geli saat menyadari maksud dari perbuatan Radit.


Tiba-tiba saja ia terhanyut pada masa lalu. Saat seseorang yang sangat berarti itu berbuat seperti itu juga ketika melihatnya sedih ataupun sedang terlihat tak bersemangat.


"Oke, sekarang sudah selesai. Kau sudah menerima semangatku. Kau akan kembali bersemangat," kata Radit menarik tangannya dari punggung Kiran.


"Kau itu sungguh lucu. Kak Raksa ... sa."


Kata-kata itu keluar sendiri dari lisan Kiran saat ia membalik badan. Seketika ia terdiam, menyadari tatapan penuh arti dari pria yang ada di hadapannya.


"Apa katamu tadi? Kau panggil aku apa?" tanya Radit tersenyum penuh arti.


Melihat senyumnya, Kiran menepis pikiran yang melintas di kepalanya. Merasa bodoh jika pria kekar dengan perut dengan enam cetakan di hadapannya ini dengan anak lelaki gendut tinggi besar di masa lalu adalah orang yang sama.


"Bukan. Aku hanya ingin bilang kau sama seperti temanku. Itu ... ya itu aja." Kiran jadi menyesali dirinya yang sempat terbuai tadi.


"Oh ...." Kiran menangkap jika Radit terlihat kecewa dengan jawabannya.


"Ruanganmu sangat besar. Interiornya juga sangat bagus." Kiran mengalihkan topik pembicaraan dengan memerhatikan isi ruangan Radit.


"Tentu saja. Ini kan perusahaan induk. Jangan samakan dengan gedung TJ yang sudah dibangun cukup lama itu."


"Apa kau juga punya kamar rahasia di balik dinding ini?" Kiran menyentuh salah satu dinding.


"Ini kantor! Kenapa harus ada tempat tidur di dalamnya?! Kau kira aku ke sini itu untuk tidur?!" jawab Radit sengit.


"Aku kan cuma tanya! Mana tau ya kan kau punya ruangan rahasia di balik dinding seperti di film-film ...."


"Berhentilah menonton film itu! Film itu membuatmu berhalusinasi yang tidak baik. Masa ruang kantor dibuat macam kamar hotel?!"


"Kau sendiri, berhentilah menonton kartun atau mungkin drama kolosal. Kau lihat kekonyolanmu tadi. Mana bisa semangat ditransfer!" Radit terdiam.


Melihat pria itu terdiam, Kiran pun ikut terdiam. Mereka saling menatap satu sama lain.


"Aku lihat, kau sudah lebih baik?" tanya Radit menarik satu sudut bibirnya.


"Aku kira seperti itu." Kiran kembali mengagumi interior dalam ruangan itu.


"Baik, kukira kau bisa membayar rasa bersalahmu sekarang jika memang kau sudah baikan."


Kiran terkesiap. Dia memutar bola matanya. "Kalau begitu, aku meralat ucapanku. Aku sedang tidak baik sekarang. Hatiku masih sedih, bahkan terasa disayat-sayat di sini." Kiran memegang dadanya sebelah kiri.


"Sudah terlambat. Aku sudah bisa melihat kau sudah kembali seperti sedia kala."


Radit berjalan mendekati mejanya. Mengambil sebuah remot lalu mengarahkannya pada pintu. Pria itu mengambil remot yang lain lagi. Lalu mengarahkannya pada dinding kaca yang ada di dalam ruangan. Kaca itu pun tertutup tirai.


"Duduk sini!" kata Radit menepuk sofa yang ada di sampingnya. Pria itu telah duduk di atasnya.


Kiran merasa jantungnya mulai berdetak dengan tidak normal. Mengingat bahwa cara untuk meminta maaf seperti yang Radit minta adalah dengan mencium pria itu di dahi, pipi dan bibirnya.


Kiran mematung. Melangkah mendekati sofa itu hanya akan membuat jantungnya kian bertalu. Dia bisa membayangkan tindakan selanjutnya setelah dia duduk di situ adalah mencium pria itu. Digaris bawahi mencium dan bukan dicium. Oh My Good!!


"Aku ingin mengunjungi ruangan Papa. Bisa kau antar aku ke sana?" Kiran menawarkan opsi lain. Berharap Radit berubah pikiran.


Wajah Radit berubah dingin. "Sini!!!"


Kiran berjalan pelan mendekatinya. Sambil memikirkan alternatif lain untuk bisa membelokkan keinginan Radit, namun tak satupun cara bisa ia temukan. Setelah no idea itu ia duduk dengan canggung di samping Radit. Pria itu tampak tersenyum senang.


"Di sini ...," katanya memberi instruksi pada Kiran. Menunjuk dahi, pipi dan bibirnya.


Kiran tersenyum getir. "Dit, di rumah aja ya. Nanti malam. Malu di sini. Nanti jika ada yang datang bagaimana?"


"Pintu sudah dikunci. Aku cuma minta ciuman darimu tidak lebih. Jika kau membuatnya lebih lama, aku akan meminta lebih." Radit tersenyum licik.


"Oke. Baiklah," kata Kiran pasrah. Kiran perlahan mendekatkan wajahnya. Dan...


Cup! Sebuah ciuman ringan mendarat di dahi Radit. Pria itu tersenyum lebar. Matanya berbinar.


Cup! Kini bibir Kiran turun ke pipi. Kiran melirik, Radit memejamkan matanya.


Nyaris Kiran ingin mencium bibir Radit, namun tanpa terduga tangan Radit sudah menarik pinggangnya. Yang satunya lagi sedang menarik kepalanya.


Tadinya Kiran pikir, Radit akan menciumnya. Ternyata pria itu malah menempelkan kepala Kiran di dadanya. Menarik Kiran dalam pelukannya.


"Kau berhutang ciuman di bibir untukku. Bayar hutangmu ketika aku memintanya nanti. Sekarang kau hanya perlu diam begini. Jangan pikirkan apapun. Jika kau masih bingung, maka lepaskan saja kebingungan itu. Percayalah ..., akan tiba waktunya, semua kebenaran akan terungkap."


Kiran membisu. Membiarkan dirinya dalam pelukan Radit. Ia sendiri memang masih merasa bingung menghadapi kebenaran yang baru saja didengarnya. Hal yang tak pernah terpikirkan olehnya. Merasa nyaman, Kiran semakin membenamkan kepalanya ke dada Radit.


Kiran bisa merasakan debaran di dada Radit. Merasa penasaran, ia dekatkan kembali telinganya ke dada pria itu. Benar saja. Suaranya semakin kencang.


"Dit, jantungmu berdebar," bisik Kiran.


"Ya, aku tahu," jawab Radit lirih.


"Kenapa kau berdebar?"


"Pertanyaan apa itu? Apa kau tak tahu alasannya?!"


"Ini kan jantungmu. Mana aku tahu!"


Kiran mengangkat kepalanya dan ingin menjauhkan tubuhnya, namun Radit mencegahnya.


"Jangan hiraukan debaran itu. Begini saja. Kau merasa nyaman kan?"


Kiran berdehem. Ia merasa malu jika harus menjawab iya.


Perasaan nyaman, tenang dan hangat ini menaunginya. Seorang Radit Makarim yang selalu terlihat membencinya, bisa menghadirkan perasaan seperti ini dalam hatinya.


Jika ditanya sekarang, Kiran menjawab bahkan ia ingin selamanya begini. Eh, perasaan apa ini?


Kiran belum berani menjawab pertanyaan yang terlintas dalam benaknya. Lagipula bukan kali pertama pria ini memeluknya seperti ini. Di dalam butik Intan, mereka juga melakukannya. Tapi yang terjadi berikutnya, Radit malah mengatakan bahwa sikapnya membuatnya merasa bersalah pada Ari.


Tok! Tok! Tok!


Pintu diketuk dari luar. Radit tak mengacuhkannya. Karena merasa terusik sebab pintu itu masih diketuk dengan antusias, Radit meraih remote dan menekan tombol buka. Ia bisa menebak, siapa orang yang akan masuk.


Kiran ingin menjauhkan tubuhnya, namun lagi-lagi Radit mencegahnya.


"Itu Bara."


"Aku malu padanya."


"Biarkan saja. Paling dia iri."


Baru masuk ke dalam ruangan. "Wah..., pantesan dikunci. Rupanya sedang ada drama percintaan di dalam ruangan ini." Bara tersenyum mengejek.


"Kau ada perlu apa sampai ngetok-ngetok pintu begitu?!"


"Widih ..., terganggu? Buat donk pengumuman di depan pintu kalau memang gak boleh diganggu. Yang lagi kasmaran ya, sampe nggak ingat ke sini tu maksudnya mau ngapain. Ck ck ck ...."


Bara mendecak sebal. Radit melengos tak peduli. Namun Kiran berhasil mengeluarkan diri dari rengkuhan pria itu.


"Nih, ada undangan untukmu." Bara menyerahkan sebuah undangan pada Radit.


Radit membaca sekilas. Tertulis dengan indah nama Rangga dan Sesil di cover undangan itu. Seketika Radit langsung menyembunyikannya meskipun Kiran terlihat penasaran.


"Siapa Dit?"


"Bukan siapa-siapa."


"Undangan dari Rangga Kiran .... Seharusnya kan undangan ini untukmu. Kenapa bisa sampai ke sini?"


Bara menyela. Membuat Radit meliriknya tajam. Tadinya ia ingin merahasiakan hal ini hingga Kiran tidak terlihat sedih lagi baru ia akan memberitahunya. Tapi memang Bara ini tipe orang yang bocor halus tapi keliling. Plus kurang empati jadi ya gitu. Gak bisa lihat situasi!


"Oh, Rangga ...!" Kiran langsung menyambar undangan itu dari tangan Radit.


"Alhamdulillah, akhirnya dia nikah juga ...," wajah Kiran berubah sumringah.


Radit menatap Kiran heran. Dia gak sedih? Padahal pria itu kan orang yang dia cinta ....


"Kamu nggak sedih ... dia kan mantan pacarmu?"


Radit mengubah panggilannya menjadi kamu. Namun hal itu tak diperhatikan Kiran, ia masih fokus mengamati undangan yang ada ditangannya. Tatapan khawatir Radit pun tak dihiraukannya.


"Kita pergi ya ...."


Ini bukan pertanyaan namun pernyataan. Kiran mengajaknya pergi ke sana. Menghadiri undangan mantan pacar dengan suami sih, udah biasa. Yang berarti bagi Radit saat ini ialah Kiran berarti sudah menganggapnya suami. Mudah-mudahan setelah dia melihat orang yang dia cintai menikah, perasaannya akan berubah padaku.


"Kalo gitu, nanti sore kita ke butik Intan ya .... Kamu bisa pilih baju mana yang kamu suka," ajak Radit. Kiran menyetujuinya dengan anggukan.


"Woi, ada meeting dengan klien! Gak ingat jadwal kita tu sampe malam. Belum lagi katanya mau evaluasi kinerja salah satu anak perusahaan ...." Lagi-lagi Bara menginterupsi.


Radit melirik Bara tajam. "Majuin aja jamnya. Bisa kan?!"


Bara berpikir sebentar. "Meetingnya tetap nggak bisa, Dit. Tapi, kalau kunjungan ke salah satu anak perusahaan mungkin bisa kita pending aja." Radit menarik ujung bibirnya, keinginannya terpenuhi.


"Ya udah ... nih, kartumu." Bara memberikan ID Card pada Kiran. "Biar enak kalo mau keliling gedung." Kiran menerima kartu dari Bara, melihatnya sekilas kemudian mengalungkannya di leher.


"Si Ayu tadi bilang, papamu pesan, kalau kau sudah datang suruh langsung jumpai dia di ruangannya."


Ayu merupakan sekretaris perusahaan di Makarim Group.


"Nanti pulangnya sama Dewi aja ya, Karina .... Dia sedang jalan ke sini. Kamu balik aja ke TJ. Nanti malam sehabis maghrib kita jumpa di butik Intan." Pesan Radit sebelum dia meninggalkan ruangan, tidak menghiraukan suara Kiran yang menginterupsi agar memanggilnya namanya dengan nama Kiran.


Dewi adalah supir sekaligus pengawal pribadi Kiran.


Bara tidak mengikuti Radit kali ini, karena harus mempertemukan Kiran dengan Ayu. Mereka harus saling bertemu untuk memudahkan pekerjaan Kiran ke depannya.


-


❇❇❇


Rumah Kediaman Sonya ....


Wanita tua itu masih kelihatan cantik. Badannya bisa dibilang montok dengan balutan baju yang terbilang sexy untuk wanita seusianya. Daster tanpa lengan dan hanya sebatas paha.


"Kau datang Sandi? Bibi senang jika kau sering mengunjungi Bibi seperti ini," ucapnya melihat Sandi datang.


Sandi duduk di kursi yang ada di ruang tamu rumah itu. Matanya menatap Sonya dalam. Wanita yang selama ini ia anggap sebagai ibu kedua baginya.


Sedari kecil Mamanya pun tak pernah melarang Tante Sonya ini untuk menjaga dan merawatnya. Kerap kali ia juga diajak untuk menginap di rumah ini. Tak disangka alasan dibalik semua itu karena wanita yang ada di hadapannya ini nyatanya adalah ibu kandungnya.


"Sandi sudah tau semuanya jika memang Sandi bukan anak Mama."


Pernyataan Sandi membuat Tante Sonya terkesiap. Namun ia berusaha tenang. Ia tersenyum tipis menatap Sandi.


"Kau kecewa?" tanyanya.


Dengan mata berkabut sedih, Sandi bertanya lirih. "Kalau memang Bibi sudah tau, kenapa Bibi terus memprovokasi Sandi untuk membenci Kakak?"


❤❤❤💖


Aku gak tau harus ngomong apa. Mohon maaf udh bolak balik tapi emang begitu sih. Aku cuma bisanya minta maaf gak bisa menuhi keinginan kalian untuk up tiap hari.


🙏🙏🙇


Tugas di DuTa (Dunia Nyata) tuh nyita waktu banget. Plus ada accident pula semalam.


Jadi sorry banget jika up nya masih begini. Sing penting, Insya Allah ni novel bakal ditamatin walau dengan tipo yang salahnya seabrek. Plus ada lose pula kata"nya ya.


Makanya aku terima kasih banget bagi readers yang udh like, komen, vote, plus bagi tips pula untuk karya pertama aku yang masih luar biasa kurangnya ini.


Aku doain pada sehat semua, rezekinya pada berkah, makin cantik n ganteng serta awet sepanjang masaaa... Aaminn.


〰〰〰〰〰〰〰😘😘😘〰〰〰〰〰〰〰