
Pada malam hari, di Minggu ketiga setelah terbongkarnya identitas Erlangga.
Nala baru saja keluar dari ruang ganti di sebuah mall terkenal yang tak lain adalah mall milik keluarga Armadja.
Erlangga yang melihat penampilan Nala yang begitu memukau sampai tak bisa berkedip dan menutup mulutnya. Untuk pertama kalinya dia melihat seorang bidadari yang berhasil menggetarkan hatinya.
"Cantik sekali, bagaimana kau bisa menjelma menjadi bidadari?" ucap Erlangga sambil mendatanginya.
"Mudah saja, aku hanya perlu menghabiskan uang kekasihku yang kaya raya."
Candaan Nala membuat Erlangga terkekeh. Mereka pun segera pergi dari tempat itu setelah membayar gaun yang dikenakan Nala.
Rencananya, malam ini mereka akan datang di acara makan malam bersama keluarga Erlangga.
Tadinya Nala gugup, bahkan tak mau pergi. Namun, setelah Erlangga meyakinkan, akhirnya dia bersedia untuk ikut makan malam bersama.
"Baik, calon istri, sekarang ayo kita pergi," ucap Erlangga sambil menggandeng tangan Nala menuju keluar dari toko baju itu.
Keduanya terlihat saling melemparkan senyuman layaknya pasangan yang kasmaran dan sedang bucin-bucinnya.
Namun, baru saja mereka keluar dari toko, tiba-tiba saja Erlangga ingin ke kamar mandi untuk buang air kecil.
Nala pun memutuskan untuk menunggunya sambil duduk di salah satu bangku yang ada di sana.
Beberapa saat kemudian, tanpa disangka, dia malah bertemu dengan Hery yang sedang menggandeng seorang wanita. Namun, Nala tahu jika wanita itu bukanlah istri sah Hery. Untuk sekian kalinya dia bersyukur tidak jadi menikah dengan pria hidung belang itu.
Hery yang melihat keberadaan Nala sendirian, apalagi dengan penampilan yang sangat cantik langsung mendatanginya bermaksud untuk memamerkan kekasihnya.
"Hai, Nala, kenalkan, dia Gina, istri keduaku," ucapnya sambil memperkenalkan wanita yang ternyata istri kedua Hery.
"Aku Nala," ucap Nala sambil menjabat tangan wanita bernama Gina itu.
"Kau sendirian saja? Di mana kekasihmu yang tampangnya pas-pasan itu?"
"Kenapa aku merasa kau malang sekali karena mendapatkan pria seperti itu di dalam hidupmu." Hery mulai membanding-bandingkan dirinya dengan Erlangga yang belum diketahuinya bahwa dia adalah keturunan Armadja.
"Tidak apa-apa tampangnya pas-pasan yang penting setia," sahut Nala bermaksud menyindir Hery.
"Tetap saja itu tidak akan mengubah fakta bahwa kau mengencani orang yang jelek sekaligus miskin." Hery tersenyum puas, begitu juga dengan Gina.
"Sayang." Erlangga yang sudah siap menunaikan buang air kecilnya langsung menghampiri Nala dan menggandeng tangannya mesra.
"Ka-kau? Kau Erlangga, kan? Kau berkencan dengannya? Bagaimana bisa?" tanya Hery hampir tak percaya.
"Kenapa? Memangnya aku tidak boleh berkencan dengan wanita cantik?"
Erlangga beralih merangkul pundak Nala dengan begitu mesra.
"Erlangga, kau tidak tahu saja bahwa dia ini suka mempermainkan laki-laki. Beberapa minggu yang lalu dia berpacaran dengan seorang laki-laki jelek dan miskin. Aku yakin dia langsung memutuskannya setelah melihat ada laki-laki kaya seperti dirimu. Percayalah, dia bukan wanita baik-baik." Hery yang seakan tak terima dengan hubungan mereka pun langsung memprovokasi Erlangga.
"Benarkah? Astaga, aku tidak menyangka ada orang yang tidak tahu malu seperti itu."
"Nah, benar! Kau harus menjauhinya. Dia bukanlah wanita yang baik untukmu."
"Bagaimana bisa ada orang munafik seperti itu? Dia sudah membuat keluarganya menghina kekasihnya. Bahkan merasa sebenarnya dan jadi orang yang paling tersakiti. Meminta balikan, tapi tidak diterima dan malah memaki."
Ucapan Erlangga membuat Hery mengernyitkan dahinya. Dia merasa bahwa Erlangga tidak sedang membicarakan Nala, melainkan dirinya.
"Erlangga, apa maksudmu?"
"Dasar kadal, buka matamu lebar-lebar! Akulah pria jelek dan miskin yang kau hina beberapa waktu lalu!"
"Apa?"