
Tuan Mahesa menyambar ponsel yang berada di atas nakas. Menekan salah satu nomor dipanggilan cepat sembari melangkah keluar kamar menuju balkon, meninggalkan Mama Ariana yang sedang duduk tercenung di tepi ranjang.
"Assalamu'alaikum," suara salam terdengar ketika panggilan terhubung.
"Wa'alaikumussalam. Lho, Kiran ya? Ponsel Radit sama kamu, Nak?"
"Iya, Pa. Kakak meninggalkan ponselnya di kamar," suara lirih terdengar dari sebrang.
"Sekarang Radit di mana, Nak? Apa Kiran tahu? Kenapa dia pergi dari rumah?"
"Kiran nggak tahu Kakak kemana, Pa. Kakak bilang tidak akan pulang jika Mama belum merestui kami."
Tuan Mahesa mendesah kecewa. "Kenapa pikirannya begitu sempit? Kenapa dia tidak sabar? Kenapa kalian harus berpisah?"
Tadinya Tuan Mahesa ingin menahan pertanyaan ini. Menunggu hingga kesedihan Kiran menyusut. Namun mendengar dirinya sudah terhubung dengan Kiran, terlontar juga pertanyaan yang memenuhi kepalanya.
"Kak Radit merasa sedih, Pa. Dia ingin menenangkan diri di sana. Mengenai tetap tinggalnya Kiran di sini, menurut Kakak ini yang terbaik. Kak Radit tidak ingin mengulang kisah yang sama seperti Papa Kiran."
"Tapi nggak begini juga .... Yang namanya suami istri itu ya harus selalu bersama. Susah senang berdua. Bukan begini caranya menyelesaikan masalah."
"Iya, Pa."
"Jadi sedikit pun kamu nggak tahu Radit di mana?"
"Iya Pa."
"Jujurlah pada Papa Kiran. Katakan di mana Radit. Nggak mungkin dia nggak bilang ke kamu dia akan pergi ke mana? Kesannya kok jadi dia yang ninggalin kamu gini."
"Iya Pa. Demi Allah, Kiran berkata jujur."
"Baiklah Kiran." Tuan Mahesa tidak ingin mendesak lagi. "Mohon maaf atas keributan ini ya, Nak. Tidak seharusnya kami mencampuri rumah tangga kalian. Papa janji akan segera menuntaskan masalah ini. Papa janji kalian akan segera kembali bersama."
"Aamiin ... ya Allah. Terima kasih, Pa."
"Kamu istirahat aja. Jangan berpikiran macam-macam ya."
"Iya, Pa."
Tuan Mahesa mematikan sambungan telepon setelah mengucapkan salam. Ia menghela nafas pelan. Dicarinya kembali satu nomor. Kemudian melakukan panggilan kembali.
"Assalamu'alaikum." Terdengar suara dari sebrang.
"Bara, di mana Radit?" Tuan Mahesa to the point. Tidak mungkin Bara tidak tahu dimana putranya sulungnya itu.
Hening
"Bara, katakan pada saya di mana Radit!" ulangnya kembali, terdengar lebih tegas.
"Mohon maaf, Pak. Radit mengancam akan menguliti saya jika memberitahu keberadaannya pada Bapak." Suara disebrang terdengar jujur.
Tuan Mahesa mendengkus. "Baik. Kalian sudah sepakat ternyata." Dia sudah tidak ingin memaksa lagi. "Katakan pada Radit ya Bara, Saya akan segera membujuk mama. Siapkan dirinya untuk pulang segera."
"Baik, Pak."
"Terima kasih, Bara. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam, Pak."
Tuan Mahesa menghela nafas pelan. Pria paruh baya itu kemudian melangkah menuju kamar. Begitu memasuki kamar dilihatnya mama Ariana masih terisak di tepi ranjang.
"Ma ...," sapanya pelan sambil menyentuh pundak istrinya itu dengan lembut.
"Jahat kamu, Pa. Kamu tahu semuanya tapi baru sekarang memberitahu Mama."
"Momennya belum pas, Ma."
"Tapi Papa sudah buat Mama seperti orang jahat bagi putra Mama sendiri," rajuk Mama tak mau Tuan Mahesa melihat wajahnya. Ia memalingkan muka.
"Kamu terlalu sibuk dengan Ari, Ma. Papa nggak ingin membebani Mama dengan masalah Radit lagi. Papa juga baru tahu jika Kiran itu adalah Karina. Sebelumnya Papa juga nggak tahu."
"Jadi bagaimana, Pa? Mama jadi bingung harus bersikap seperti apa. Pada Ari, Mama sudah berjanji. Tapi Mama juga memahami perasaan Radit."
"Perlahan-lahan kita memahamkan Ari, Ma. Ini semua adalah proses pendewasaan dirinya. Mudah-mudahan dia jadi lebih dewasa dari sebelumnya."
Mata Mama Ariana mengerjap namun kemudian dia mengangguk. Secara lembut Tuan Mahesa menyeka air mata Mama Ariana yang telah tumpah.
"Maafin Papa ya, jika kata-kata Papa tadi terlalu menyakiti hati Mama."
Mama Ariana tidak bersuara. Hanya anggukan disertai air mata yang menjadi jawabannya.
...***...
"Ari?"
Wajah di depan Kiran terlihat menyunggingkan senyuman.
"Maaf, Ari. Aku sedang tidak berselera untuk mengobrol," sesal Kiran kemudian. Berniat untuk menutup pintu namun tangan Ari mencegahnya.
"Aku hanya ingin mencari Kakak, Kiran. Bisa panggilkan dia sebentar."
Kiran menatap Ari hampa. "Dia sudah pergi Ari."
"Maksudnya?"
Kiran menghela nafas pelan. "Kamu ingin kita bicara di mana?"
Ari menatapnya datar. "Jangan paksakan diri jika kamu sedang tidak ingin bicara denganku. Aku akan kembali nanti."
"Tunggu, Ari." Panggilan Kiran menghentikan langkah kaki Ari yang ingin berbalik pergi.
"Hmmm ...."
"Boleh aku tahu ada perlu apa kamu mencari Kakak?"
Ari terdiam beberapa saat. "Aku hanya ingin memastikan sesuatu."
"Sesuatu apa?" balas Kiran dengan pertanyaan cepat.
Ari terdiam lagi mengetahui begitu antusiasnya Kiran. "Tadi dia menemuiku dan aku pikir sepertinya ada sesuatu."
"Ya. Memang ada sesuatu." Kiran mendesah. "Lebih baik kita bicara di sana, Ari." Tunjuk Kiran pada ruang santai di lantai tiga. Ruang santai sebelum ruang kerja Radit.
Kiran keluar dari kamar kemudian menutup pintu. Ari hanya mengikutinya kemudian duduk di salah satu kursi.
"Kakak pergi dari rumah, Ari ...," ucap Kiran setelah beberapa saat mereka saling menatap. Ari dengan setia menunggu setiap kata keluar dari lisan Kiran.
"Apa maksudmu?"
"Ya, Kakak pergi dari rumah ini dan tinggal di tempat lain."
"Lalu kamu ditinggalkan sendiri di sini, begitu?" Ari terkekeh. "Itu bukan tipe Kakakku, Kiran," lanjutnya lagi.
"Iya."
Ari terdiam.
"Dia tidak ingin menyakitimu, Ari."
"Lalu dia bebas meninggalkanmu, begitu?"
"Apa kamu sadar, kita semua tersiksa di sini?"
"Kami saling mencintai, Ari. Tapi demi menjaga hatimu, dia pergi. Aku, kamu dan Kak Radit, kita semua terluka."
"Lalu, kamu mau aku melepasmu. Begitu?"
"Kita memang tidak berjodoh, Ari. Sedari dulu Allah sudah mempertemukan kami dan Allah juga yang menyatukan kami. Bahkan aku pun tidak menyangka, kami bisa bertemu dan menikah seperti sekarang."
"Sedari dulu?"
"Iya. Kami telah bertemu sejak kami kecil, Ari. Dia lah pria yang selama ini aku cari hingga aku datang ke kota ini."
...***...
Tina begitu terkesiap saat membuka pintu. Dia sangat mengenal orang ini, yang telah lama menghilang. Kemunculannya yang tiba-tiba di rumah ini begitu mengejutkannya. Dia hanya mematung menatap pria paruh baya itu di hadapannya.
"Panggil Mahesa dan Ariana, Tina. Sampaikan pada mereka, aku ingin bertemu." Kata-kata lugas itu seketika menyadarkan Tina yang mematung.
"Baik, Tuan," jawabnya patuh. "Silahkan tunggu sebentar. Saya akan memanggil Tuan dan Nyonya." Tina refleks menjawab. Dia sudah terlatih untuk itu.
"Silahkan duduk, Tuan." Ia masih sempat mempersilakan tamu paruh baya itu sebelum beranjak untuk memanggil majikannya.
Sangat disayangkan, kedua majikannya bahkan meminta makan malam di kamar sebab masih merasa tidak enak hati dikarenakan kepergian Tuan Radit. Kini, harus bertambah satu masalah. Ia bukannya tidak tahu hubungan semuanya dengan pria paruh baya yang baru datang itu. Hatinya jadi berdebar, ingin mengetahui hal apa yang terjadi kemudian. Mendorong langkah kakinya berpacu dengan cepat menuju lantai dua.
❤❤❤💖