Behind The Boss

Behind The Boss
Tidak Akan Pernah



Matanya mencermati keindahan suasana sekitar dari balkon lantai tiga. Ia sengaja berdiri di situ, dari kamar Raisa dan bukan kamarnya. Ia ingin mengingat kembali hari di mana ia dan wanita itu masih ingin bertaut satu sama lain. Berjanji untuk tidak saling meninggalkan. Meski mungkin wanita itu belum memiliki perasaan yang sama dengan dirinya.


Setelah berbulan-bulan berkutat dalam ingatan samar-samar di tempat yang terasa asing baginya. Hanya satu wajah familiar yang berada di benaknya. Wajah wanita yang kemudian ia tuangkan dalam berlembar-lembar kertas. Hingga kemudian ingatan itu kembali, menjadi terang dan jelas. Maka ia pun kembali.


Dalam asanya, wanita itu pasti masih akan menunggunya sebab kekasih si wanita--menurut asumsinya--sudah tidak punya harapan untuk kembali pada si wanita. Dan membuatnya lebih yakin adalah adanya sang Kakak yang akan menjaga wanita itu untuk dirinya. Menjaganya agar tidak dimiliki oleh orang lain.


Namun ternyata kenyataan menghempasnya. Orang yang ia pikir pada awalnya akan menjaga wanita itu agar tak dirampas oleh orang lain, nyatanya malah menjadi orang yang merampas wanita itu darinya. Masih terngiang dalam benaknya kata-kata luar biasa yang meremukkan hatinya dalam seketika, 'Kami saling mencintai ....'


Pria itu menghela nafas pelan, melepaskan kegundahan yang melanda hatinya.


"Hei! Assalamu'alaikum ...," sebuah suara mengagetkannya. Pria itu menilik asal suara. Kiran keluar dari kamar Radit dan melangkah mendekatinya.


"Wa'alaikumussaam," jawabnya.


Setelah perintah cerai keluar dari lisan Mama Ariana, Tuan Mahesa lekas mengajak istrinya dan putra sulungnya untuk berbicara di ruang kerjanya. Sementara Ari dan Kiran diminta kembali ke kamar masing-masing.


Kiran hanya sebentar masuk ke kamarnya, membereskan barang-barang bawaannya dan Radit lalu bergegas mencari Ari. Ada banyak hal yang ingin ditanyakan Kiran, salah satunya adalah kebenaran malam itu.


Ia sudah pergi ke kamar Ari untuk menemukan pria itu, namun hasilnya nihil. Kamar pria itu kosong. Ia berpikir suatu tempat, dan benar saja, pria itu seperti dugaannya sedang berada di sini, di balkon lantai tiga.


"Kau mencariku?" tanya Ari.


Kiran mengangguk, memposisikan diri berdiri di samping Ari dengan pandangannya menghadap ke langit, menikmati hamparan cahaya berlimpah dari matahari yang sudah merangkak naik ke atas kepala.


"Kau pasti ingin bertanya perihal malam itu kan?" selidik Ari mencermati wajah Kiran dari samping. Sungguh, ia merasa puas bisa melihat wajah asli itu dari dekat. Kerinduan yang memenuhi rongga dadanya terpuaskan seketika.


"Aku memang selalu bertanya-tanya tentang malam itu. Ada banyak keraguan dan ada banyak keanehan. Kalau kau tidak merasa lelah, aku berharap kau menceritakannya padaku."


Ari terdiam beberapa saat. Tubuhnya berbalik kini menatap Kiran. "Kalau aku tidak mau?"


"Aku bisa bertanya pada Kak Radit. Tapi jika hal itu kuketahui dari orang lain, aku nggak janji akan bisa memaafkanmu karena sudah membohongiku."


Ari berbalik lagi, menatap hamparan pemandangan sekitar dari balkon. "Ya, dan kau tahu sendiri kalau aku takut akan itu."


Kiran tertawa pelan. "Kau memang Ari ...."


"Jadi kau pikir aku siapa? Orang yang mengaku-ngaku sebagai Ari?" balas Ari lagi yang disambut Kiran dengan tawa.


"Kau sekarang jadi lebih sering tersenyum dan tertawa ...," sambung Ari lagi. Nada suaranya terdengar sendu.


"Kau tidak menyukainya?"


"Tentu saja. Karena bukan aku yang menyebabkan semua itu."


"Semua sudah takdir, Ari. Kita sebagai hamba hanya bisa berusaha, hasil akhirnya tetap Allah juga yang menentukan. Begitu pun hubungan kita."


Ari terdiam.


"Bagaimana dengan cerita malam itu? Aku masih menunggu itu darimu."


Ari menghela nafas sesaat. Merasa sesak sebab harus mengutarakannya secara langsung namun juga tidak rela jika semua ini harus didengar Kiran dari Radit.


***


Tuan Mahesa duduk di ruang kerjanya dengan Mama Ariana duduk di sebelahnya. Radit duduk di tempat yang berlawanan arah dengan mereka.


Mama Ariana memperlihatkan beberapa lembar kertas berisi sketsa wajah seorang wanita pada Radit. Sketsa wajah Kiran.


"Pada malam itu Ari terjatuh bersama mobilnya ke sungai. Ia berhasil keluar dari mobil, melawan arus dan berenang ke hulu. Menjauhi beberapa orang yang sekilas dilihatnya berada di atas. Mereka tidak melihatnya berenang ke hulu saat itu sebab begitu ia berhasil keluar dari mobil ia tenggelam sebentar. Sementara beberapa orang tadi mengamati arus menuju hilir. Disitulah mereka kehilangannya. Setelah susah payah melawan arus dan naik ke atas, Ari pun tak sadarkan diri. Setelah sadar ia kehilangan ingatannya. Yang diingatnya hanya wajah wanita ini, Radit. Wajah Kiran."


Suara Mama Ariana berubah sendu. Radit yang baru mendengar semuanya sekarang juga merasakan hal yang sama.


"Ia pun selalu menuangkan wajah ini pada lembar-lembar kertas di rumah orang yang menolongnya. Hingga akhrinya ia menemukan ingatannya dan ia pun kembali."


"Kakak tahu, nama Kiran yang pertama kali dia tanya pada Papa dan Mama. Dia tanya Kiran mana? Apa Kiran masih menunggunya?"


Radit menatap lembaran kertas-kertas itu dengan mata memerah. Hatinya terenyuh luar biasa.


"Jika Kakak melihat bagaimana wajahnya saat bertanya hal itu pada Papa dan Mama, Kakak pasti bisa tahu jika ia memendam kerinduan yang sangat besar pada Kiran. Namun senyumnya berubah hilang setelah Mama dan Papa menceritakan tentang pernikahan kalian."


Bulir-bulir bening mulai mengaliri pipi Mama Ariana. "Mama merasa bersalah, Dit. Mama lah yang memaksa kalian untuk menikah dulu. Jika saja bukan karena paksaan Mama tentunya Kakak dan Kiran tidak akan menikah. Tentunya setelah kembali, Ari tidak akan kecewa seperti sekarang."


Radit menghempaskan tubuhnya pada sandaran sofa. Menatap Mama Ariana dengan iba. Hatinya merasa sedih.


"Semua sudah terjadi, Ma ...," ucapnya lirih.


"Nggak, Kak. Kita masih bisa mengembalikan senyumnya. Adikmu akan kembali, jika Kakak menceraikan Kiran."


Radit menatap Tuan Mahesa, ingin meminta pembelaan dari Papanya.


"Pada awalnya, Papa juga tidak setuju dengan ide Mama, Radit.


Tapi setelah Papa pikir, hubungan kalian juga kurang baik kan? Ide Papa agar kalian honeymoon kemarin malah menjadikan kalian bertengkar. Papa bisa menebaknya dengan melihat Kiran pulang sendiri dari sana."


"Tapi, hubungan kami sekarang sudah berubah, Pa."


Tuan Mahesa terdiam. "Papa juga jadi teringat sesuatu, Dit. Radit ingat kisah Kamil kan? Melihat kalian bertengkar tadi membuat Papa teringat dengan kisah Kamil dan Sandi. Sandi juga dulu sangat hormat pada Kamil. Namun begitu Kamil memiliki hubungan dengan Rina, sikapnya pada Kamil berubah drastis. Papa khawatir, Ari akan berubah seperti Sandi. Papa tidak ingin hubungan kalian seperti itu. Radit pasti bisa merasakan sendiri perubahan Ari sekarang."


"Tapi semua ...."


"Mengertilah, Kak. Kakak kan bisa mencari wanita lain, Kak. Dengan kelebihan yang Kakak punya, semua itu akan mudah bagi Kakak. Sementara Ari memang membutuhkan Kiran," potong Mama Ariana.


Radit mengulas senyum kecewa.


"Ari mencintainya, Radit. Adik Kakak mencintainya. Cintanya pada Kiran lebih lama dari hubungan Kakak bersama Kiran. Dia jatuh cinta sejak pertama kali melihat Kiran ...," sambung Mama Ariana.


"Lalu, jika Radit bilang bahwa Kiran dan Radit sudah saling mencintai sejak kami masih kecil, apa Mama akan mendukung kami?"


"Tunggu, Dit!" sela Tuan Mahesa. "Apa maksudmu Kiran itu memang Karina cinta masa kecilmu?" imbuh Tuan Mahesa memperjelas ucapan Radit.


Tuan Mahesa menatap istrinya lembut. "Ma, dia memang Karina-nya Radit, Ma. Nggak mungkin kita pisahkan mereka jika mereka saling mencintai."


Mama Ariana menggeleng. "Nggak, Pa. Nggak boleh begini. Mama merasa bersalah dengan Ari. Mama merasa, Mama lah yang menghancurkan harapannya."


"Dengan berjalannya waktu, Papa yakin Ari pasti bisa mengatasinya, Ma."


"Enggak, Pa." Mama Ariana bangkit mendekati Radit. "Kak ..., Kakak bisa kan, Kak, mengalah pada Ari? Kakak lebih kuat darinya, Kak? Kakak pasti bisa mengganti posisi Kiran dengan wanita lain. Sementara Ari, dia baru saja kembali, Kak. Kenyataan ini terlalu berat untuk dia tanggung." Mama Ariana memegang lembut bahu Radit.


"Ma, ini bukan masalah kuat atau tidak kuat, Ma. Ini pernikahan. Terdapat komitmen dan ikatan kuat bukan hanya antar Radit dan Kiran tapi juga Allah. Sedari awal memang Radit sudah bersalah dengan menuruti Mama menikahi Kiran dengan janji akan menceraikannya setelah Ari kembali. Radit merasa merendahkan ikatan pernikahan itu sendiri. Jadi, jangan tambah kesalahan Radit, Ma."


Mama Ariana mulai terisak. "Kakak tega sama Ari dan Mama, Kak. Kakak tega melihat adik Kakak terluka dalam karena ini. Kakak tega, meskipun sebenarnya bisa dikatakan bahwa Kakaklah yang merebut Kiran dari Ari."


"Ya Allah, Mama ...." Tuan Mahesa mengusap wajahnya.


"Astaghfirullah, Mama. Ini bukan masalah tega atau tidak tega. Kami sudah menikah, Ma. Bukan hanya sekedar menjalin cinta. Seluruh kolega juga sudah tahu jika Radit adalah suami Kiran."


"Itu bisa kita atur, Kak .... Ya kan, Pa?"


Tuan Mahesa hanya terdiam, tak mampu menjawab permintaan istrinya itu. Pada awalnya memang Tuan Mahesa tidak setuju jika ada perceraian sebab berkaitan dengan tingginya nilai pernikahan ditambah dengan nama baik keluarga namun melihat hubungan Radit dan Kiran yang ia kira belum terlalu baik, Tuan Mahesa akhirnya menyetujui juga ide istrinya itu. Karena ia pikir, Radit juga menginginkannya. Namun mendengar jika Kiran adalah Karina, ditambah lagi keukehnya Radit mempertahankan rumah tangganya membuat Tuan Mahesa jadi berpikir dua kali untuk menyetujui istrinya.


"Baik, jika Radit bersedia. Apa Kiran juga mau? Dia juga punya perasaan, Ma. Kiran itu bukan piala bergilir yang bisa kita pindahkan begitu saja."


"Kalo Kiran gampang, Kak. Selama ini dia selalu nurutin apa kata Mama."


"Ma!"


"Kak!"


"Ini pernikahan, Ma. Mama apa nggak bisa memahami masalah ini. Tidak semudah itu, Ma."


"Mama paham. Tapi adikmu, Kak. Dia baru saja kembali dari kematiannya. Mama nggak bisa bayangkan kalau kita ambil kebahagiaannya."


Radit diam sejenak. Memakukan tatapannya pada wajah Mama Ariana. "Jika Radit yang berada diposisi Ari, apa Mama mau membela Radit sampai seperti ini?"


Mama Ariana tercenung.


"Radit yakin pasti nggak kan, Ma. Mama nggak akan mungkin seperti ini jika posisi kami berbeda."


"Kamu tahu sendiri kan, Kak, kalian berdua juga berbeda. Kamu lebih kuat dan bijak dari adik kamu."


"Iya, dan dia lebih mirip dengan Mama daripada Radit!"


"Kak, bukan itu ...."


"Pernah nggak, Ma. Sekali aja Mama jangan membedakan kasih sayang Mama pada kami berdua. Sekali aja Mama juga perhatiin Radit. Sekali aja Mama membela Radit. Sekali aja, Ma ...."


"Bukan begitu, Kak ...."


"Mama nggak pernah bisa, kan? Dan Mama nggak akan pernah begitu. Mama selalu lebih sayang sama Ari dibanding Radit."


"Kak ..., Mama paham kamu dan Mama paham Ari. Kamu lebih mandiri, Nak. Sementara Ari masih butuh Mama.


Kamu sendiri juga kan nggak terlalu butuh Mama kan? Mama nggak pernah bisa jadi Mama yang baik buat kamu. Sejak dulu, kamu selalu lebih memilih Papa dibanding Mama."


"Mama dan Papa orang tua Radit. Jika Mama pikir, Radit memilih Papa pada saat itu karena lebih memilih Papa, Mama salah. Radit memilih Papa karena Radit yakin Ari akan memilih Mama. Maka Radit harus berada di pihak Papa agar Mama dan Papa kembali bersatu."


"Ma ..., sekali aja ..., pikirkan masalah ini tanpa pernah memihak. Faktanya kami sudah menikah. Dan Ari harus bersabar atas hal itu. Dia harus mendewasakan dirinya, memahamkan dirinya bahwa tidak semua yang kita inginkan bisa kita dapatkan. Dia harus belajar, Ma."


"Tapi dia dalam kondisi psikis yang tidak baik, Kak. Dia baru kembali."


"Nggak ada alasan untuk itu."


"Kakak!"


"Mama!"


"Radit!" sela Tuan Mahesa. Meski merasa bahwa apa yang dikatakan Radit benar adanya namun ia juga tidak suka putra sulungnya itu bernada tinggi pada istrinya.


Radit terdiam sesaat. "Mau Mama paksa seperti apa pun, Radit tidak akan pernah menceraikan Kiran kecuali jika Kiran sendiri yang memintanya. Tapi, jika hal itu terjadi sebab Mama yang memaksanya ...," hening sesaat, "maka saat itu Radit bukan hanya kehilangan istri namun keluarga ini juga akan kehilangan Radit Makarim," tuturnya lirih.


"Radit! Apa maksud kamu?!"


Radit tak menjawab. Pria itu memberikan seulas senyuman. "Radit kembali ke kamar, Ma ..., Pa ...."


"Radit, tunggu!"


Tak dihiraukannya panggilan Mama Ariana. Namun langkahnya berhenti saat sebuah tangan menahannya.


"Papa akan membujuk Mama. Maafkan kami, Nak."


"Iya, Pa. Terima kasih," ucapnya kembali melangkah.


❤❤❤💖


Readers tercinta ....


Makasi banyak atas hadiah, vote, like n komennya.


Tambah bahagia akunya. Walaupun like berkurang sebab authornya males up, tapi hadiah n vote nya masih bertambah. Makasi banyak ya ....


Mas Otong ..., o... Mas Otong ...


Mana mas2 yang rajin ngasi tip seperti waktu itu? Udah g mampir lagi kali yak.


Penting aku tetap bersyukur readersku pada baik2, nggak pelit, baik hati dan tidak sombong hehehe ....


Kecup manis dariku untuk kalian semua.. ..😘😘😘