Behind The Boss

Behind The Boss
Apa yang melatarbelakangi?



Erlangga dan Nala sudah sama-sama sampai di kontrakan. Mereka sudah mengemas barang-barang mereka yang akan dibawa luas, tepat di hari mereka berangkat ke ibu kota karena dipindah tugaskan.


"Angga, aku rasa memang inilah yang namanya jodoh. Kemana pun aku pergi, kau juga selalu ada bersamaku. Aku sangat bahagia karena tidak jadi berpisah denganmu," ucap Nala sambil menyandarkan kepalanya ke bahu Erlangga.


"Aku juga senang. Apalagi, kita mendapatkan fasilitas tempat tinggal. Aku tidak menyangka jika aku diangkat menjadi karyawan, sama seperti dirimu. Padahal aku sudah nyaman dengan pekerjaanku sebelumnya sebagai cleaning service." Erlangga mengusap rambut Nala yang terurai panjang. Sangat lembut, wangi, dan lebat.


'Dan ini pasti akal-akalan mereka. Pengawal pasti sudah bercerita tentang penyelamatan itu. Astaga, Mama rupanya sangat tidak sabar memiliki menantu. Aku bahkan belum siap untuk memberitahukan Nala siapa aku sebenarnya,' batinnya sambil menghela nafas panjang.


"Itu rezeki untukmu. Itu jika jawaban atas doamu yang ingin mapan agar bisa menikahiku."


"Nala, pernah tidak kau bertemu dengan seorang pembohong?"


"Pernah, dulu aku memiliki seorang teman yang aku anggap baik. Namun, dia berbohong padaku tentang identitasnya yang ternyata orang kaya. Aku langsung marah padanya dan menjauhinya."


Ucapan Nala langsung membuat nyali Erlangga menciut.


"Apakah Pak Adnan bukan alasan utama mengapa kau membenci orang kaya?"


"Sebenarnya bukan. Jauh sebelum aku bertemu dengan Pak Adnan, aku pernah menjalin hubungan dengan seorang laki-laki. Dia berasal dari keluarga kaya. Hingga ketika aku dikenalkan di keluarganya dalam pesta, aku dipermalukan hingga sampai mengurung diri selama berbulan-bulan. Bayangkan saja, teman-teman dan keluarganya mengolok aku dan gayaku yang biasa. Bahkan, saat aku tidak bisa memotong steak, mereka untuk membungkusnya dan membawanya pulang. Katanya aku bisa menggunakan tanganku secara langsung untuk memakan stik itu!"


Ingatan Nala pun kembali ke peristiwa beberapa tahun silam sebelum dia bertemu Adnan.


Dalam pesta itu, dia berhasil menjadi pusat perhatian karena tampil sangat cantik.


Namun, teman kekasihnya yang menaruh hati pada sang kekasih mencoba untuk mempermalukannya di sana dan mereka berhasil.


"Hei, kulitmu bagus, pakai sabun apa? Sabun cuci piring, ya?"


"Tidak, aku pakai sabun mandi," sahut Nala sekedarnya.


"Kak, jangan begitu, dia ini kekasihku."


"Gadis desa ini? Bukankah dia adalah orang miskin yang berusaha masuk ke keluarga orang kaya untuk mendapatkan hartanya?"


"Jaga ucapanmu, aku tidak begitu."


"Kau harus tahu bahwa kejahatan bukan karena ada niat pelakunya tapi karena ada kesempatan. Lama-lama, pasti kau akan terlena dengan harta kami dan diam-diam berencana untuk merebutnya."


"Kak! Sudah, cukup!"


"Mama, lihat anak Mama. Gara-gara gadis desa satu ini, dia membentak kakaknya."


"Hery, jaga bicaramu pada kakakmu. Lagipula, bukankah sudah mama tekankan dari dulu bahwa kau harus mencari pasangan yang setara denganmu. Keluarga kita adalah keluarga terpandang, rasanya tidak mungkin jika kita menerima gadis seperti ini. Gadis yang hanya akan membuat malu kemana kita." Ucapan Mama Hery lah yang membuat Nala sakit hati.


Hingga saat mereka memakan hidangan, Nala kembali mendapatkan ejekan.


"Bawa pulang saja, lalu makan dengan tanganmu. Sekalian bawakan untuk keluargamu. Aku yakin mereka pasti tidak pernah makan makanan buah seperti ini. Berterima kasih lah pada Hery karena dia telah membawamu ke pesta ini sehingga kau bisa menikmati makanan mewah di sini secara gratis. Padahal kami tahu bahwa di rumah kau dan keluargamu hanya makan nasi dan ikan asin saja, hahaha."


Ucapan kakak Hery lah yang membuat Nala tak tahan dan langsung menyiram wajahnya dengan minuman. Suasana pesta menjadi kacau hingga dia diusir oleh keluarga kekasihnya.


Dia dan kekasihnya putus saat itu juga karena dia tidak mau jika kelak mereka menikah, maka dia menjadi bahan ejekan di keluarganya saja. Pasti keluarga kekasihnya akan semena-mena padanya. Mereka pasti akan menjadikannya bulan-bulanan. Penuh penghinaan seperti yang pernah dilihatnya di film-film.


"Memangnya siapa nama belakang kekasihmu?"


"Kalau tidak salah namanya Hery Sanjaya."


'Hery Sanjaya, aku akan beri perhitungan padamu,' batin Erlangga. Dia memang mengenal Hery Sanjaya yang kini sudah beristri seorang anak pengusaha kaya yang sombong dan manja.