
Agenda honeymoon sudah di depan mata. Hari ini, Radit mengajak Kiran berbelanja untuk kebutuhan mereka di sana nantinya. Ia ingin membeli beberapa baju untuk Kiran.
"Harus ya Kak, kita membeli semuanya?" Kiran menatap malas pada beberapa paper bag yang sudah berada di tangan Bara dan supirnya. Mereka berdua sampai kewalahan membawanya.
Barang-barang itu dibeli Radit hanya karena dirinya menatap sekilas barang-barang itu, seperti baju, sepatu, tas juga beberapa aksesoris yang sedikit menarik minat Kiran untuk meliriknya. Dia tak menyangka jika ketertarikannya itu dianggap Radit sebagai isyarat jika ia ingin memilikinya.
"Tentu saja harus. Sudah berapa lama kamu jadi istriku. Baru sekarang kan kita berbelanja. Aku lihat beberapa bajumu bahkan sudah terlihat agak pudar," ujar Radit tak peduli.
"Baju mana yang agak pudar, Kak. Perasaan nggak ada baju Kiran yang begitu," bantah Kiran tidak terima jika dikatakan bajunya pudar. Jika benar begitu, bukankah penampilannya sangat tidak layak untuk menjadi sekretaris TJ.
"Ada. Jika bukan pudar berarti Kakak yang bosan dengan model baju kamu yang nggak seberapa itu. Sebagai istri seorang Radit Makarim, baju kamu itu terhitung sedikit," cecar Radit sambil melihat beberapa isi toko yang mereka lewati.
"Tapi tetap saja itu terlalu banyak, Kak. Bulan depan kan kita masih bisa beli lagi."
"Bulan depan kita belanja yang lain lagi. Baju kamu yang berbeda lagi. Uang belanja kamu yang aku kasih aja belum pernah kamu gunakan, maka untuk baju yang udah kita beli itu belum ada apa-apanya."
"Kakak nggak perlu kasih uang belanja lagi. Kiran kan punya gaji sendiri. Lagipula kita hanya tinggal makan di rumah, jadi uang yang Kakak kasih nggak akan pernah kepakai."
Radit berhenti. "Uang kamu itu ya punya kamu. Tugas aku tetap harus kasi nafkah sama kamu. Mau kamu pakai atau nggak itu tetap hak kamu."
"Iya." Kiran tak berani menatap.
"Termasuk membeli baju ini juga hak kamu dan kewajiban aku." Kiran tak lagi membantah.
Radit menarik kembali tangan Kiran. Matanya mengamati beberapa toko yang mereka lewati. Kini langkahnya berhenti menatap lurus pada isi toko yang berada di samping mereka.
Kiran refleks melihat. "Kak ..., jangan bilang kita mau beli ...." Kiran tak berani melanjutkan ucapannya. Wajahnya memerah.
"Bara, kau tunggu di sini. Aku dan Kiran akan masuk ke dalam." Radit memberi perintah pada Bara yang terlihat membuang muka. Ia juga merasa malu.
"Kak ...." panggilan pelan Kiran diabaikan Radit yang telah menariknya masuk ke dalam toko itu.
"Aku suka warna apa ya?" kata Radit sambil melihat beberapa barang contoh di etalase. Sapaan karyawan toko yang ingin membantunya memilih diabaikannya.
"Kak, bukannya seharusnya Kakak bertanya pada Kiran tentang warna yang Kiran suka?" Kiran bertanya dengan wajah yang masih memerah. Bagaimana mungkin pria pemalu ketika mengutarakan cinta ini, begitu santainya masuk ke toko ini bahkan dengan tenangnya memilih sesuai dengan keinginannya. Padahal nantinya Kiran yang akan memakainya.
Radit mendekatkan wajahnya, sedikit berbisik di telinga Kiran. " Aku lah yang nanti akan melihatnya. Jadi aku harus memastikan warna dan modelnya sesuai dengan seleraku."
Jawaban yang membuat wajah Kiran semakin menghangat. Ah, iya pula. Kiran mendesah dalam diam. Ada getar-getar halus dalam dirinya.
"Sebentar, kita di sana selama tujuh hari. Berarti kita harus membelinya sebanyak dua puluh buah. Berarti ...."
"Kak, tunggu! Apa maksud dua puluh buah tadi? Bukannya Kakak nggak suka membawa banyak baju jika ke luar kota?" Kiran menyela gumaman Radit.
"Ini beda. Baju seperti ini nggak mungkin bisa kita beli di sana. Lagipula aku nggak ingin mengurangi waktu kita bersama dengan berbelanja baju. Nggak mungkin juga baju seperti ini kita laundry di sana."
"Tapi dua puluh Kak? Bukannya itu berlebihan. Kapan saja Kiran harus memakainya. Kita di sana kan cuma tujuh hari." Kiran masih keukeuh ingin merubah keputusan Radit.
Radit mendekatkan wajahnya lagi. Berbisik dengan lebih lembut. " Ketika berada di dalam kamar, Kiran harus memakai baju seperti ini di depanku. Kalau memang mau dikurangi berarti kamu mau jika tidak mengenakan baju apapun saat berada di kamar bersamaku."
Ah, merahnya tomat sudah setara dengan wajah Kiran sekarang. Ia menyesali dirinya yang terlalu banyak bertanya. Ia putuskan untuk tidak akan bertanya lagi nantinya.
Beberapa karyawan toko terlihat menahan senyumnya melihat interaksi kedua orang di hadapan mereka.
"Tolong mbak turunkan yang itu!" Tunjuk Radit pada sebuah manekin.
Karyawan toko itu menurunkan manekin yang ditunjuk Radit dan menyerahkan sebuah lingerie merah muda pada Radit. Lingerie itu terlihat begitu tipis dan menerawang.
Radit menerimanya dan mencocokkannya pada tubuh Kiran yang menutupi wajahnya. "Terlalu panjang!" gumamnya. Kiran terkesiap.
"Carikan yang lebih pendek tapi dengan warna yang sama." Perintah Radit lagi.
Karyawan itu mengangguk dan mengangsurkan model yang berbeda. Radit menerimanya. Kemudian kembali mencocokkan pada tubuh Kiran. Ia tersenyum puas.
"Kalau yang model tali aja ada nggak ya?" Radit bertanya tanpa ragu sementara Kiran sudah ingin melarikan diri dari situasi ini.
Karyawan toko itu tersenyum kemudian mencari seperti apa yang Radit mau. Ia juga memerintahkan mereka untuk mencari sembilan belas model berbeda lainnya. Sembari menunggu para karyawan tadi mencari apa yang ia perintahkan, Radit mengajak Kiran untuk duduk di sofa yang disediakan di dalam toko. Kini mata pria itu tertuju pada sebuah benda yang tergantung di sebuah manekin, "Kiran, kamu nggak ingin membeli pakaian d*l*m juga? Ayo kita pilih juga yang modelnya paling bagus dan nyaman untukmu."
Radit menarik tangan Kiran untuk berdiri lagi. Tak menghiraukan wajah istrinya yang sudah sangat merah itu.
Kiran terkesiap. Matanya membelalak mendengar apa yang Radit tanyakan. Namun melihat santainya pria itu, ia pun mencoba meminimalisir keterkejutan dan rasa canggung luar biasa yang menerpanya.
"Ehm, ... mungkin ...." Kiran tergagap menjawabnya. Belum sempat ia menuntaskan jawabannya, rasa malu teramat sangat menyergapnya sebab kini tatapan Radit memaku di dadanya.
"A-apa? Kakak lihat apa?" tanyanya mencoba menepis pemikiran yang menggelayutinya.
Radit tak menjawab. "Aku pikir ini cocok buatmu," katanya mengangsurkan sebuah benda itu di depan Kiran. Sudah tak sanggup lagi menanggungnya, Kiran pun menutup wajahnya.
"Eh, kenapa? Kamu malu ya? Nggak apa-apa. Nggak lama lagi aku juga akan melihatnya." Radit mengerling, berbisik di telinga Kiran. Menarik tangan yang menutupi wajahnya.
Kiran mendesah. "Kak, ...."
"Atau kamu juga mau melihat ukuran cel*n*a dalamku? Kita akan memilihnya setelah memilih milikmu," ucap Radit tanpa dosa.
Ya Allah Kakak ....
-
***
Kamil berdiri tegak di depan sebuah rumah besar dengan enam pilar. Begitu mewah dan elegan. Semua masih terlihat sama seperti saat ia meninggalkan rumah ini. Lama sekali. Sejak peristiwa pertengkaran itu. Di mana untuk pertama kalinya Sandi menentangnya.
Satpam di pintu gerbang menatapnya dengan bergetar. Masih orang yang sama sebagai penjaga di rumah ini ketika ia pergi. Satpam itu berniat untuk mengantarnya sampai ke dalam namun urung karena ia menolak. Akhirnya penjaga keamanan itu pun hanya bisa mengabari kedatangannya melalui interkom.
Pintu terbuka. Asih adalah sosok yang pertama kali dilihatnya. Wanita paruh baya itu tampak terperanjat. Ia menutup mulutnya disertai dengan cairan bening yang menetes tanpa diminta.
Kamil hanya menatapnya sembari mengulas senyuman. "Apa kabar, Asih?"
Bi Asih mengangguk. "Ba-aik. Nyo-nyonya di dalam, di atas ...."
Kamil menepuk pundak Asih pelan. "Terima kasih informasinya. Aku ke atas sekarang." Pria paruh baya itu melangkahkan kakinya pelan menaiki tangga menuju lantai dua, kamar ibunya.
Sudah lama, teramat lama ia berhenti menapaki tangga rumah ini. Padahal hatinya teramat sangat rindu pada sang pemilik rumah yang merawatnya dengan kasih sayang sedari kecil. Hatinya menghangat. Seketika teringat perkataan Sandi padanya tempo hari. Karena perkataan itu, ia memberanikan diri datang ke rumah ini.
"Pulang lah, Kak. Mama sangat merindukan Kakak. Apa Kakak yakin tidak akan menyesal nantinya jika tidak melihat mama sekarang? Maafkan Sandi, Kak. Sandi tidak ingin menjadi penyebab Kakak menjauh dari mama lagi sekarang. Pulanglah, Kak. Kami semua merindukanmu terutama mama."
Gerimis melandanya. Kerinduan yang teramat besar itu meluap, memenuhi ruang hatinya. Ketika berada jauh dari rumah ini, ia merasa sangat tegar sekali. Namun ketika menapakkan kakinya pada tangga ini lagi, perasaan itu membuncah tanpa mampu ia membendungnya.
Kaki Kamil berhenti melangkah pada pijakan terakhir anak tangga. Ia sudah menatap bayang-bayang orang yang dirindukannya itu dari jauh.
Matanya sedang menutup. Kerutannya sudah sangat terlihat. Wajahnya terlihat kuyu dan kurus dari terakhir kali ia melihatnya.
"Mama ...," ia mendesis pelan, sangat pelan. Tangannya menghapus cairan bening yang telah mengalir di pipi. Ia terlihat ragu untuk melanjutkan langkahnya.
"Masuk aja. Nyonya selalu menunggu Tuan ...." Asih bersuara dari belakangnya. Entah sejak kapan wanita itu sudah berada di sana. Sama sekali ia tidak menyadarinya.
Ia melangkahkan kakinya lagi. "Mama ...."
Mata wanita tua itu membuka. "Kamil ...? Aku seperti mendengar suaranya," gumaman wanita tua itu tertangkap di telinganya. Kepalanya menggeleng sedih. Namun ketika menatap ke depan, satu sosok yang terpaku di tempatnya seakan menghentikan dunia wanita tua itu. Ia membelalakkan matanya.
"Kamil ...." Tangannya menggapai. Seakan ingin memastikan lebih jauh, wanita tua itu bergerak, ingin bangkit.
Kamil mengejarnya. Meraih tubuh wanita tua yang sedang terduduk di tempat tidur itu dan membenamkan dalam pelukannya.
"Kamil? Kau benar Kamil? Kamil anakku ...."
"Iya, Ma. Ini Kamil. Maafkan Kamil baru menemui Mama sekarang. Maafkan Kamil, Ma ...."
Kamil meraih tangan Nyonya Tutik, mencium punggung tangan wanita tua itu dengan takzim dan membanjirinya dengan air mata.
Tubuh Nyonya Tutik berguncang. Ia menepuk bahu Kamil. "Kenapa kau menipu Mama. Kenapa harus pura-pura meninggal? Kau kan janji akan menemui Mama secara diam-diam ...."
"Iya Ma. Kamil salah. Maafkan Kamil. Maafkan Kamil."
Di balik pintu seorang pria juga ikut menangis dengan mereka. Tubuh Sandi Sanjaya juga berguncang, tidak lebih kecil dari kedua orang yang berada di dalam kamar.
❤❤❤💖