
Meskipun janji menonton akhirnya batal. Ditambah kondisi basah kuyup plus ac menambah dingin yang menerpa tubuh. Namun Radit tetap bahagia sebab malamnya Kiran memeluknya dengan erat, hingga mereka berdua terlelap.
Paginya, Radit bangun dan salat subuh di masjid. Sementara Kiran salat di rumah. Karena hari libur, Radit menghabiskan pagi setelah salatnya di ruang khusus olahraga. Rutinitas yang ia lakukan setiap pekan. Meski tak lagi rutin setiap hari.
Sementara Kiran merasa sedikit kurang bersemangat karena semalam sudah berlari di bawah guyuran hujan. Tubuhnya serasa panas dingin. Begitu pun ia tetap melakukan olah raga ringan dan kemudian meminta dibuatkan air hangat oleh Tina. Madu hangat plus lemon menjadi penawar yang luar biasa.
Selesai berolahraga, Radit menyuruh Tina untuk memanggil Kiran agar sarapan bersama di bawah.
Tubuh pria itu yang hanya dibalut kaos oblong tanpa lengan terlihat penuh dengan peluh. Namun Radit langsung mengelapnya dengan handuk kecil yang ia letakkan di lehernya.
Sekilas Kiran melirik bagaimana otot pria itu terlihat semakin liat dengan adanya bekas keringat itu. Bahkan wajahnya semakin terlihat maskulin. Kiran tersadar dan langsung menundukkan pandangannya.
"Kenapa? Kau sedang mengagumiku?" tanya Radit seakan tahu bahwa Kiran mencuri pandang ke arahnya.
"Tubuhmu penuh keringat."
Tentu saja Kiran harus mengelak. Apa kata dunia jika ia ketahuan sedang memerhatikan seorang Radit Makarim? Bisa-bisa dia makin besar kepala! Meski pria ini telah berubah, Kiran masih belum berani percaya seratus persen sikapnya tidak akan berubah lagi. Menjaga diri dari segala macam kemungkinan itu lebih baik.
Radit menarik satu sudut bibirnya. "Dari tatapanmu, aku sudah bisa membacanya. Sebentar lagi kau akan menatapku dengan penuh cinta."
Kiran tak menjawab. Mengalihkan pandangannya pada makanan yang sudah ada di atas meja. Kemudian meletakkannya ke atas piringnya.
Meski perbuatannya terlihat menyangkal, dalam hati Kiran mengakui jika ia pun takut jika memang hal itu terjadi. Ia takut tanpa ia sadari hatinya mencintai pria yang duduk di hadapannya ini.
Kiran tidak ingin memperpanjang. Ia takut wajahnya akan bersemu merah nantinya. Ditambah lagi ingatan tadi malam ketika ia memeluk Radit hingga ia tertidur pulas. Disela pelukan itu, Radit menciumi puncak kepalanya berulang kali. Ia jadi merasa disayang. Ia merasa dicintai.
Terlalu aneh jika seorang Radit Makarim yang dulu begitu benci padanya, bahkan selalu melihatnya dengan dahi berkerut tanda tidak suka kini dengan begitu cepat mencintainya. it's impossible. Meskipun begitu jantungnya seakan memompa lebih cepat saat tanpa aba-aba Radit mendaratkan sebuah kecupan ringan di seluruh wajahnya. Peristiwa itu, ditambah kata-kata yang mengarah ke sana, jika diteruskan. Kiran yakin tidak akan sanggup untuk berwajah biasa lagi.
Radit masih mengamati pergerakannya. Mereka hanya berdua di meja makan sebab Tuan Makarim menjemput Mama Ariana di rumah nenek.
"Kau tidak makan?" tanya Kiran, mencoba menunjukkan ekspresi sedatar mungkin dan suara setenang mungkin.
"Ambillah apa yang kau suka dulu. Aku makan setelah melhatmu makan."
Radit menjawab tanpa melepaskan tatapannya dari Kiran. Tangannya dibiarkannya di atas meja dengan tubuh menyandar pada kursi. Pria itu belum terlihat tertarik sama sekali untuk mengambil makanan dan meletakkannya ke atas piring.
Merasa terus ditatap, Kiran risih juga. Ia mengangkat kepala dan menentang kedua mata Radit. "Makanlah. Aku juga nggak akan bisa makan jika kau menatapku terus seperti ini. Apa ada yang salah di wajahku hingga kau terus menatapiku seperti ini?"
Mata pria itu seperti yang Kiran lihat, setajam elang. Dan kini pria itu menyunggingkan sebuah senyuman. Ini kali pertama Kiran melihat senyuman pria itu. Terlihat sangat manis. Biasanya, Kiran hanya menangkap senyuman yang dingin, sinis ataupun menyeringai. Sekarang senyuman itu sudah sukses membuat jantung Kiran berdebar.
"Ya, baiklah. Aku akan makan."
Kiran menarik nafas lega saat Radit akhirnya mengambil nasi dan lauk ke atas piringnya.
"Kita nonton yuk? Semalam kita kan gak jadi nonton."
Tidak ada alasan bagi Kiran untuk menolak. "Kita mau nonton apa?"
"Kita lihat aja nanti di bioskop. Atau searching dulu, film bagus apa yang ingin kau tonton." Kiran mengangguk mengiyakan.
Setelahnya tidak ada suara karena mereka mencoba makan dengan tenang. Meski sesekali saling melirik satu sama lain.
❇❇❇❇
Selesai sarapan, Radit kembali ke kamarnya. Ia mengecek ponselnya. Mana tahu ada telpon dari papa, pikirnya. Seperti perkiraannya memang banyak panggilan masuk tak terjawab. Namun bukan dari papa. Tapi dari nomor tak dikenal. Hingga 100 panggilan tak terjawab.
Radit menelpon balik nomor itu. Panggilan diangkat dengan cepat. Suara pria dewasa menjawab panggilannya.
"Anda menelpon ke nomor saya tadi? Dengan siapa ya?"
"Mohon maaf Pak Radit. Saya Sandi."
"Ada apa Anda menelpon saya?"
❇❇❇❇
Rumah itu sangat megah. Setara dengan rumah keluarga Makarim. Bisa di bilang malah lebih megah rumah ini. Enam pilar yang terdapat di teras rumah dibuat tinggi menjulang. Dengan warna putih yang mendominasi, membuat rumah ini terlihat semakin megah dan klasik. Inilah rumah kediaman Nyonya Tutik Hardiyanti. Di sinilah Papa Kiran dilahirkan dan dibesarkan sebelum akhirnya ia diusir keluar.
Begitu mereka menginjakkan kaki di tangga menuju teras berpilar itu, Sandi Sanjaya langsung datang dan menyambut mereka. Dia tersenyum dengan kikuk namun matanya memancarkan kelegaan.
"Terima kasih sudah datang, Karina," ucapnya dengan tulus. Kiran bisa melihatnya. Mata pria itu tidak lagi menatapnya dengan kebencian.
Kiran tak menjawab. Dia membiarkan Radit membimbingnya masuk ke dalam rumah. Tangan mereka saling bertautan. Lewat genggamannya seakan Radit berkata tidak ada yang perlu ditakutkan.
"Kita langsung ke ruang kerja saya?" tanya Sandi melirik Radit sekilas. Radit terlihat mengangguk dengan yakin.
Kiran mengernyitkan dahinya. Ruang kerja? Bukankah mereka akan mengunjungi Nyonya Tutik seperti yang dikatakan Radit sebelum mereka berangkat ke sini tadi? Lalu kenapa ke ruang kerja?
Kiran menanyakan pada Radit lewat sorot matanya, tapi pria itu menjawab dengan tatapan mata seakan mengatakan kau akan tahu nanti.
❇❇❇❇
"Kita mulai dari mana?" tanya Sandi Sanjaya mengawali pembicaraan mereka di satu ruangan khusus. Ruang kerjanya.
Kiran melirik Radit yang berada di sampingnya. Mereka duduk di atas sofa di dalam ruangan itu. Di sebrang mereka duduk Sandi Sanjaya.
"Kau ingin bertanya apa, Karina?" tanya Radit menatap Kiran lembut. Kiran balas menatapnya dengan tak mengerti. Aku harus tanya apa? Begitulah kira-kira arti tatapan Kiran.
Radit tersenyum simpul melihat tatapan heran Kiran. Melihat senyuman di bibir Radit membuat Kiran mengalihkan pandangannya dari Radit. Sungguh dia tak sanggup melihat senyum di wajah pria itu.
Sandi Sanjaya menatap kedua insan di depannya dengan bingung juga. Radit yang menyadarinya langsung tertawa kecil. "Ah, Karina tidak tahu apa-apa tentang ini, Paman."
".... Sebelum kau melihat Nenek, aku ingin Paman Sandi menjawab seluruh pertanyaan darimu. Bagaimana?"
Kata-kata Radit barusan sukses membuat Kiran membeliakkan matanya. Jantungnya berdegub kencang. Menjawab seluruh pertanyaan?? Jantungnya bagai meloncat ingin keluar saking senangnya atas syarat yang diajukan Radit.
Inilah saatnya! Inilah saatnya! Aku akan menanyakan semuanya!
"Baik. Jadi mau mulai darimana? Silakan tanya saja, Karina."
Kiran menatap Sandi Sanjaya. Ekspresinya berubah dingin. "Karena kau yang minta, aku akan senang hati bertanya padamu. Ceritakan padaku, apa saja yang telah kau lakukan pada keluargaku?"
Sontak Sandi Sanjaya memundurkan tubuhnya ke belakang. Refleks menyender pada sandaran sofa. Cara bicara Kiran mengingatkan ia akan sang Kakak. Darahnya berdesir.
"Kau boleh tanya satu-satu, biar aku lebih enak menjelaskannya."
Kiran tak mengalihkan pandangannya. Ia memperhatikan dengan seksama perubahan ekspresi yang dilakukan Sandi Sanjaya. Agar dia tahu harus bagaimana mengambil sikap atas informasi yang ia dapatkan nantinya.
"Oke. Kita mulai dari saat aku berusia dua belas tahun. Apakah kau dalang di balik kepergian Mamaku saat itu?" tanya Kiran.
Sandi Sanjaya menghela nafas berat. Ternyata begini rasanya harus membicarakan dosa yang telah diperbuat. Begitu berat. Dan ada perasaan menyesal sebesar gunung yang menghimpit dadanya. Apalagi setelah tahu bahwa apa yang ia lakukan sia-sia. Kebencian yang tersalurkan itu tak ada artinya.
"Pada saat itu, aku mendatangi ibumu ketika dia sendiri di rumah. Aku memintanya untuk meninggalkan kalian dan pergi sejauh mungkin agar Kakak tidak bisa mencarinya. Aku memberikannya uang dan sebuah tempat bermukim jika dia menurutiku." Sandi mulai bercerita.
"Dan kau menang karena dia menurutimu," ucap Kiran sinis.
"Ya, karena aku mengancamnya." Kiran mengernyitkan dahinya.
"Aku mengancam akan mencelakaimu jika dia tidak menurutiku. Cara itu cukup berhasil. Setelah itu aku tahu dari orang yang kuminta mengintai kalian, bahwa dia telah pergi. Tapi dia tidak menerima uangku. Bahkan tidak bermukim di tempat yang sudah aku suruh."
"Jadi, ada di mana dia sekarang?"
"Aku juga tidak tahu. Setelah hari itu. Informasinya hilang. Dan anehnya, orang-orangku tidak bisa mencarinya."
Kiran menghela nafas pelan. Mungkin inilah maksud kata Papa bahwa aku tidak boleh membenci Mama. Karena akulah alasan kepergiannya. Ia takut aku terluka. Mama takut aku celaka.
"Kenapa kau lakukan itu pada kami? Tidakkah kau tahu bahwa hidup kami menjadi suram karena kau meminta Mama pergi?"
"Itulah tujuanku saat itu. Aku tidak senang kalian bahagia."
"Kenapa kau begitu membenci Papa dan Aku?"
"Aku yakin kau sudah mendengar ini dari mama. Aku yakin kalian telah berjumpa sebelumnya, hingga mama jatuh sakit setelah pertemuan itu."
Kiran tak menjawab. Karena memang itu benar adanya.
"Tapi karena kau sudah bertanya maka akan aku jelaskan seperti janjiku."
"Aku membenci Kakak karena dia telah merebut calon istriku, Rina. Mereka menusukku dari belakang. Saat aku tahu bahwa dia bukan anak kandung mama, kebencian di hatiku bertambah. Aku mengusirnya dari rumah. Kebencianku padanya semakin bertambah ketika mendengar pengumuman resmi warisan keluarga Widjadja...."
"Kakek Widjadja meninggalkan banyak perusahaan. Tapi semua perusahaan itu sepenuhnya berada dalam pengelolaan satu orang anggota keluarga. Kau tahu siapa dia?"
"Papaku?"
Sandi Sanjaya terkekeh. "Iya, kau benar. Cuma Kakak yang boleh mengelolanya. Jikapun tampuk perusahaan itu dikelola oleh anggota keluarga lain, harus tetap mendapatkan pengawasan dari Kakak. Perusahaan induk harus dia yang menduduki. Aku yang mengira sebagai anak kandung ibu, hanya diperbolehkan mengelola satu perusahaan kecil. Dan itu pun karena permintaan mama."
Sandi tertawa kecil. Tawanya kini terlihat menyedihkan. "Aku yang anak kandung harus kalah jauh dari seorang anak angkat. Itulah yang aku pikirkan. Jadi aku semakin membenci papamu."
"Lalu kenapa kau membenci aku? Apa salahku?"
"Karena wajahmu mirip ibumu. Aku sangat mencintai Rina. Melihat wajahmu yang seperti Rina, membuat rasa sakit akan kehilangan itu hadir kembali. Jadi aku membuat segala cara agar kau tidak menampakkan diri di hadapanku."
Kiran terdiam beberapa saat. Semua menjadi terang sekarang. Satu pertanyaan lagi.
"Apakah Nyonya Tutik tahu semua itu? Apakah ikut bekerjasama denganmu?"
Sandi Sanjaya tampak sedikit kaget. Ia menjawab dengan cepat. "Tentu saja tidak. Hanya aku dan Baron. Baron membantuku."
"Siapa Baron?" tanya Kiran merasa ajaib mendengar satu nama asing di telinganya.
"Dia suami Sonya." Radit menjawab.
"Sonya?"
"Ya, ibu kandungku." Sandi Sanjaya menjawab dengan lirih.
❇❇❇❇
Kamar itu tampak luas. Isi kamar bernuansa putih seluruhnya. Mulai dari lemari, meja kaca, sofa, hiasan di atas nakas. Bahkan ranjang tempat wanita itu tidur. Semua serba putih.
Kiran melangkah dengan hati-hati. Gerimis mulai melanda hatinya.
"Nenek sangat menyayangimu, Karina. Dia berulangkali menyebut namamu dan Kakak. Dia juga bilang ingin menyusul Kakak. Jangan hukum dia karena kelakuanku. Aku yang bersalah, bukan dia. Aku belum ingin kehilangan dia."
"Sayangi dia Kiran. Jadilah cucu yang baik menggantikan papamu. Dosa di masa lalu bisa kau timpakan padaku. Perlakukan aku sesuka hatimu. Aku menerima semuanya. Aku menerima semuanya...." ucap Sandi Sanjaya berlutut saat itu.
Wanita paruh baya yang berada di sisi wanita tua itu menyadari keberadaan Kiran. Ia membisikkan sesuatu ke telinga si wanita tua. Wanita tua itu mencoba bangun dengan susah payah dibantu si wanita paruh baya. Dia membuka matanya yang seakan berat untuk dibuka.
"Kau datang Karina...? Kau datang menjenguk nenekmu? Kau sudah tidak membenciku, cucuku?" kata wanita tua itu lirih. Tanpa bisa dicegah, buliran bening itu langsung meluncur menuruni pipi mulus Kiran.
❤❤❤💖