
Aku sudah pernah kehilanganmu sekali. Maka tidak akan kubiarkan kehilanganmu untuk kedua kali~Radit.
〰〰〰〰〰〰
Perhelatan itu dilaksanakan dengan cukup mewah. Maklumlah, Sesil putri satu-satunya. Sebagai pemilik perusahaan Regan, sudah pasti pernikahan ini akan dibuat semegah mungkin. Meski jika dibandingkan, lebih megah pesta keluarga Makarim.
Ayah Sesil menyambut tamu dengan sumringah. Tampak pula Marissa dan papanya. Tidak ketinggalan kedua orang tua Rangga.
Para tamu yang hadir pun terdiri dari berbagai kalangan. Tidak hanya kaum elite. Kaum menengah pun terlihat memadati gedung itu, yakni para saudara maupun tetangga Rangga.
Kedua orang tua Rangga terlihat begitu bahagia. Senyum selalu menghiasi wajah mereka ketika bersalaman dengan para tamu yang hadir. (Acara ini dibuat sebelum si mas covid hadir. Jadi masih boleh salam-salaman😊)
Senyuman itu berubah ketika melihat Kiran memasuki gedung. Meski kedua orang tua Rangga tetap tersenyum menyambutnya, Kiran tahu mereka masih menyimpan kecewa dan marah padanya. Semua terlihat jelas dari mata mereka.
"Wah, Kiran sama Pak Radit rupanya. Selamat ya .... Pantas kamu meninggalkan Rangga. Kalau demi Pak Radit sih, Ibu bisa maklum."
Jelas sekali ini sebuah sindiran. Kiran tersenyum getir. Radit melirik Ibu Rangga dengan tajam. Papa Sesil dan papa Marissa melirik besan mereka dan memberikan sebuah isyarat pada ayah Rangga.
"Anda benar sekali, Bu. Bukan hanya karena aku. Mamaku pun sangat mencintai Kiran. Tentunya tidak bisa dibandingkan bila harus mempunyai ibu mertua seperti Ibu yang suka sekali bicara dengan menyindir. Syukur aku menemukannya sebelum menikahi anak Ibu."
Radit membalas kata-kata ibu Rangga dengan telak. Wanita paruh baya itu tidak terima. Ia ingin membalas lagi namun dicegah oleh suaminya.
"Apa kabar Pak Radit? Senang sekali Anda bisa hadir. Silahkan masuk dan nikmati hidangan yang kami sediakan."
Papa Marissa, Pak Baroto menyalami Radit dengan senyum sumringah. Memutus pertengkaran yang sepertinya bisa jadi sengit jika terus dibiarkan.
Radit membalas senyum Pak Baroto. Dia masih ingat jika pria ini dulu yang pernah menekan Ari untuk menikahi putrinya.
Pria paruh baya itu membimbing Radit untuk masuk ke dalam. Namun Radit menghentikannya. "Mohon maaf, Pak. Ada yang ingin saya katakan pada besan Anda."
"Baik, silakan. Kalau begitu saya juga permisi ingin menemui tamu yang lain," ucap Pak Baroto, kemudian pergi meninggalkan Radit. Sebelumnya, dia memberikan isyarat khusus pada Ayah Rangga agar tidak mencari masalah. Ayah Rangga jadi merasa malu, dia mengangguk mengiyakan.
"Sebentar ya," bisik Radit pada Kiran, melepaskan tangan wanita itu pada lengannya. Radit berbalik, mendekati ibu Rangga.
Dia ingin mengucapkan sesuatu, biar orang tua itu paham. Sesuatu yang ia ketahui tentang hubungan yang terjadi antara anaknya, Rangga dan Sesil.
"Seharusnya Anda bersyukur. Kiran mengalah agar anak Anda bisa menikahi putri orang kaya. Jabatannya kan bisa cepat naik karena dia memacari menantu Anda sebelum menikahi Kiran. Seharusnya Anda berterima kasih padanya. Ya, kalau malu sih seharusnya Anda minta maaf atas kelakuan anak Anda," ucap Radit pelan, hanya didengar oleh kedua orang tua Rangga.
Mata ibu Rangga membelalak. Dia menatap suaminya, meminta izin untuk berbicara lagi. Namun sang suami menggeleng pelan.
"Sudah, Dit. Kenapa jadi begini sih?" bisik Kiran pelan sambil menarik tangan Radit.
"Aku nggak suka kata-katanya. Dia merendahkanmu," jawab Radit dengan berbisik pula. Mereka melangkah meninggalkan kedua orang tua tadi.
"Itu wajar. Kau juga dulu berpikir begitu."
"Aku bukan berpikir begitu. Aku mendengar dari mulutmu. Itu beda."
"Iya. Kau memang beda." Kiran tidak ingin berdebat panjang. Jika dilayani, pria ini pasti bisa membuat pernikahan orang lain rusak.
Menurut Kiran sih wajar, jika ibu Rangga terlihat kecewa dan marah. Anaknya sudah mengejar dirinya selama tujuh tahun. Kemudian mereka berpacaran selama empat tahun. Tiga bulan lagi pernikahan digelar, Kiran malah memutuskan secara sepihak hubungan mereka. Parahnya, uang untuk menggelar resepsi pernikahan itu malah digunakan Rangga untuk menculiknya. Jadi sebagai orang tua, tentu saja mereka membela anaknya dan membenci Kiran sebagai pusat dari masalah tersebut. Meski mungkin jika orang tua Rangga mengetahui masalah sebenarnya, mereka pasti tidak akan menyalahkannya.
Ingatan akan hari itu kembali lagi. Ketika Rangga mengirimkan sepuluh orang pria tinggi besar untuk menculiknya. Kemudian menciumnya secara paksa. Bagi Kiran itu sangat menakutkan. Memikirkan itu kembali membuat Kiran memegang erat lengan Radit.
"Kenapa, kau takut? Kenapa kau jadi lemah begini? Mana dirimu yang percaya diri itu? Lagipula kau di sampingku. Mana ada yang berani macam-macam denganmu."
Radit mengira Kiran memegang erat lengannya karena takut pada kedua orang tua Rangga. Padahal dia seperti itu karena mengingat saat Rangga menciuminya dengan membabi buta.
Setelah memakan hidangan yang tersedia. Kiran mengajak Radit menemui Rangga dan Sesil. Pria itu menyetujuinya.
Pertama Kiran menyalami Sesil. Memeluk wanita itu dan memberikan doa terbaik untuk pernikahan mereka.
"Maafkan aku ya, Kiran," bisik Sesil saat Kiran mengucapkan selamat. Perempuan itu memeluk Kiran dengan erat. Seperti merasa bersalah pada Kiran.
"Nggak ada yang perlu dimaafkan. Dia memang jodohmu," jawab Kiran sambil tersenyum tulus.
Setelahnya, Kiran berhadapan dengan Rangga. Mata pria itu berubah sayu saat melihat Kiran. Meski sebagian besar tatapan mata Rangga menyatakan kekaguman akan penampilan Kiran malam ini.
Kiran juga terpana melihat penampilan Rangga. Seketika ia teringat pada malam dia memimpikan melakukan malam pertama dengan Rangga. Baju yang Rangga pakai terlihat sama dengan baju yang dipakai di dalam mimpi itu.
Radit berdehem, menghentikan lamunan Kiran dan tatapan Rangga yang terpaku pada Kiran. Sekilas mereka memang terlihat saling menatap.
"Selamat ya, Rangga .... Semoga sakinah, mawaddah dan warahmah," ucap Kiran mendoakan Rangga. Pria itu hanya membalas dengan ucapan terima kasih karena Radit buru-buru menarik Kiran pergi.
-
❇❇❇
Titik-titik air hujan mulai turun. Radit masih fokus memegang kemudi. Ia tidak bicara sama sekali sejak keluar dari gedung. Sedari tadi mereka hanya diam membisu.
"Kita jadi nonton?" tanya Kiran memulai pembicaraan.
"Iya," sahut Radit singkat.
"Pakai baju begini?" tanya Kiran lagi.
"Kita ganti baju di sana."
"Hah?"
Hening.
"Kenapa kau jadi pendiam? Apa kau marah padaku?"
Hening.
"Kau marah padaku?" tanya Kiran lagi.
Radit menghela nafas kasar. "Aku hanya nggak habis pikir lihat sepasang kekasih yang reunian tadi. Apa kau pikir itu perbuatan baik, melihat suami orang lama-lama begitu?!"
"Aku kan cuma ingin memberi ucapan selamat."
"Aku nggak berpikir sampai ke situ. Aku hanya ...."
"Tau begitu aku nggak usah pergi tadi. Atau aku tunggu saja di luar. Biar kau puas memandanginya. Kalau perlu batalkan pernikahan mereka biar kau bisa menikah dengannya. Itu kan yang kau mau?!"
Kiran terkesiap. "Dit! Kau sudah keterlaluan!"
"Kau yang keterlaluan!! Sudah ada aku di sampingmu pun kau berani melihat pria lain. Apa kau sama sekali nggak melihat keberadaanku?! Apa sama sekali nggak pernah memikirkan perasaanku?!!!"
"Jika kau masih seperti ini, lebih baik kita nggak usah nonton saja. Atau kau mau kita bercerai saja." Kiran memalingkan wajahnya keluar jendela.
"APA?!!!"
Ciiitttttt!!!!!
Mobil berhenti mendadak di tepi jalan.
"Apa maksudmu?" Radit menatap Kiran tidak percaya. Kiran tak menjawab. Masih memakukan pandangan keluar jendela. Melihat derasnya hujan yang turun.
Melihat Kiran hanya diam, emosi Radit bangkit. "KALAU DITANYA ITU JAWAB!!!" teriak Radit. Kiran kaget.
Kiran menatap Radit terpana. Tidak menyangka pria itu begitu emosi. Masih dengan membisu, ia keluar dari mobil.
Blamm!
Kiran menutup pintu mobil dengan kuat.
"Hei, kau mau kemana?" pekik Radit tidak didengar Kiran. Dia berlari menjauhi mobil Radit, di bawah guyuran hujan. Dengan tergesa Radit keluar mobil, mengejar Kiran.
Kiran tak memedulikan teriakan Radit yang menyuruhnya berhenti. Dia terus berlari sambil mengangkat gaun agar tidak menghalangi pergerakan kakinya.
Tiba di pertigaan, Kiran ingin menyebrangi jalan. Saking tergesanya, Kiran tidak melihat mobil yang akan lewat. Dia begitu terkesiap saat mendengar suara klakson mobil dan cahaya menyilaukan.
Diiinnnnn ...!!
Kiran sudah pasrah melihat mobil dengan kecepatan tinggi mendekatinya. Ia memejamkan matanya. Dan ....
Tangannya ditarik dengan kuat ke belakang. Kiran terhuyung, terjerembab ke dada bidang seseorang. Nafas pria itu tersengal. Dia memeluk Kiran dengan erat.
"Syukur, aku cepat. Maaf. Kau jangan lari lagi. Jangan bilang cerai lagi. Aku minta maaf."
Kiran membeku. Suara Radit terdengar kecewa dan sedih. Kiran mendongak. Menjauhkan sedikit tubuhnya. Mata Radit tampak memerah.
Apa dia ... menangis???
-
❇❇❇
Hujan di luar terlihat semakin deras. Rencana menonton dibatalkan sebab baju mereka sudah basah kuyup. Mereka berdua terdiam di dalam mobil. Perlahan Radit menarik tuas, menjalankan mobilnya dengan perlahan.
"Kenapa kau lari begitu?" tanya Radit melirik Kiran. Suara pria itu melembut.
"Aku nggak mau bicara pada pria yang berteriak padaku."
"Kenapa nggak bilang sedari awal?"
Kiran tidak menjawab. Hening. Hanya terdengar hembusan nafas mereka, menahan dingin dari tubuh yang kuyup plus ac mobil yang harus hidup karena hujan lebat.
"Maaf. Mungkin aku cemburu melihatmu menatap Rangga tadi."
Kiran sontak kaget. Cem-bu-ru???
Ya, Radit marah karena itu. Mengingat Karina melupakannya karena pria itu. Ditambah tatapan Karina dan Rangga yang terlihat memendam rindu menyulut emosinya.
"Aku bukan melihatnya. Aku hanya ...." Kiran jadi ragu mau berbicara.
".... Tiba-tiba aku teringat pada mimpiku." Jujur sudah. Lebih baik jujur, pikir Kiran. Mendengar kata cemburu memantik perasaan asing di hatinya.
"Mimpi?" tanya Radit tidak mengerti.
"Kau mungkin nggak percaya. Pada malam itu aku melihat Rangga dan Sesil berduaan di dalam kamar hotel. Setelah itu aku malah memimpikan malam pernikahan bersama Rangga. Anehnya, besoknya aku malah mendapati Ari keluar dari kamar mandi di kamarku. Baju yang Rangga pakai tadi, sekilas mengingatkan aku pada mimpi itu."
Ada semburat merah di wajah Kiran ketika menceritakan itu. Sejujurnya dia malu, namun terdorong kata cemburu, membuatnya ingin jujur pada Radit.
"Aku percaya," sahut Radit cepat.
Jadi pria itu yang dimimpikannya. Artinya memang benar, jika pria itu yang ada di dalam hatinya.
Mereka terdiam beberapa saat.
"Jangan pernah bilang cerai lagi."
"Hah?"
"Aku nggak suka kau bicara begitu. Apapun yang terjadi aku nggak akan menceraikanmu. Aku pernah kehilanganmu sekali, nggak akan kubiarkan kehilanganmu untuk kedua kali."
Apa maksudnya karena aku lari keluar dan ada mobil yang mau menabrakku tadi. Jadi seakan-akan dia kehilanganku?
"Iya." Kiran menjawab.
"Sebagai gantinya, malam ini kau harus memelukku. Aku jadi basah kuyup begini karena mengejarmu."
Eh?
"Jika nggak mau, bakalan aku yang memelukmu."
❤❤❤💖