Behind The Boss

Behind The Boss
Bertemu



"Mba Kiran diminta Tuan ke kantor sebentar." Tina menyambut Kiran di depan pintu Raisa.


"Saya, Mba? Sekarang?"


"Iya, Mba." Tina mengangguk.


Meski masih bertanya dalam hati perihal yang ingin disampaikan papa Mahesa padanya, namun kaki Kiran dengan tenang terus melangkah mendekati ruang kerja Tuan Mahesa.


"Assalamu'alaikum, Pa." Kiran mengetuk pintu kerja Tuan Mahesa pelan. Pintu itu sudah terbuka.


Tuan Mahesa mendongak. "Masuk saja Kiran. Biarkan pintu itu terbuka."


Tadi saat Arini masuk, pintu ini langsung ditutup berarti sudah ada Ari sebelum Arini datang, batin Kiran.


"Ada apa ya, Pa?" tanya Kiran setelah duduk di sofa.


"Papa rasa tidak perlu basa-basi lagi. Kamu pasti sudah tahu perihal pernikahan Ari dan Arini kan?"


Kiran mengangguk.


"Itulah kenapa Papa panggil kamu, Kiran. Segera temui Radit. Papa tidak ingin kamu berpisah lebih lama lagi darinya. Bawa Radit pulang ke rumah ini."


"Tapi, Kakak tidak akan pulang sebelum Ari dan mama memberikan restu mereka, Pa."


"Dengan adanya Arini tidak mungkin mama masih mempertahankan idenya untuk menikahkan kamu dan Ari. Lagipula ancaman Kamal tidak bisa dianggap main-main."


"Sedari awal Papa memang sudah tahu jika ini salah. Tapi tindakan papa ternyata kalah cepat dibanding mama. Ditambah lagi Radit sangat cepat mengambil keputusan."


"Kamu temui saja Radit besok. Lusanya, Papa, mama dan Ari akan menyusul ke sana. Papa masih ada sedikit urusan di perusahaan yang belum bisa ditinggal," lanjut Tuan Mahesa lagi.


"Baik, Pa."


"Masalah Arini ..., Papa hanya mendengar darinya kalau kamu sudah berjanji memberinya bantuan hingga ia menolak semua yang Papa tawarkan. Papa boleh tahu bantuan apa yang kamu janjikan, Kiran?"


Kiran terdiam beberapa saat. "Hanya bantuan kecil, Pa." Tuan Mahesa tersenyum meski terlihat kecewa sebab Kiran tidak jujur memberitahunya.


"Sebelumnya Papa ingin minta maaf sama kamu atas desakan mama. Tapi dengan datangnya Arini, Papa bukan hanya ingin minta maaf namun juga malu, Kiran. Papa merasa gagal mendidik Ari. Ia sudah tumbuh menjadi pria dewasa namun sikapnya terkadang masih egois seperti anak kecil. Ia selalu menuntut agar semua keinginannya terpenuhi meskipun dengan mengorbankan orang lain seperti kamu dan Radit.


Maafkan Papa dan mama ya, Kiran...."


"Iya, Pa ..., Papa juga nggak perlu seperti ini. Papa juga tidak pernah gagal. Arinya yang masih berproses untuk menjadi lebih dewasa. Semoga dengan semua kejadian yang dia alami ini bisa merubah sikap Ari kedepannya."


"Aamiin...." Tuan Mahesa mengaminkan doa Kiran.


"Kalau begitu Kiran izin ke kamar ya, Pa."


"Baik. Terima kasih, Kiran. Tolong sampaikan salam Papa untuk Radit jika kamu sudah bertemu dengannya."


"Iya, Pa," sahut Kiran kemudian keluar dari ruangan Tuan Mahesa.


Setiba di luar, Kiran menemukan Ari telah menunggunya di ruang santai lantai dua. Pria itu langsung menyambut Kiran dengan senyuman begitu Kiran keluar.


"Kamu menungguku, Ari?" Ari mengangguk.


"Mau bicara di mana?" tanya Kiran lagi.


"Di sini saja. Silahkan duduk Kiran." Ari menepuk sofa di sampingnya. Kiran tersenyum. Ia memilih sofa di depan Ari.


"Kamu sudah tahu semuanya dari Arini, kan, Kiran?" pria itu bertanya canggung.


"Tidak sebanyak yang kamu pikir, Ari."


"Aku tahu kamu pasti kecewa padaku, Kiran. Tapi yang harus kamu tahu, semua terjadi bukan kehendakku. Takdir mempermainkanku, Kiran." Gurat kesedihan muncul di wajah Ari.


"Kamu bertemu wanita sebaik Arini itu bukan tanda takdir mempermainkanmu, Ari. Tapi karena Allah tahu yang terbaik buat kamu."


"Iya. Dia memang wanita yang baik. Namun sedari awal hati aku cuma ada kamu, Kiran."


"Belajarlah, Ri. Belajarlah untuk mengikhlaskan sesuatu yang tidak bisa kamu miliki. Aku yakin kedepannya kamu bakalan bilang terima kasih ke aku karena pernah mengatakan ini. Kamu hanya perlu membuka mata dan hatimu untuk Arini. Aku yakin kamu pasti bahwa dia memang yang terbaik untuk kamu."


"Ajak Arini bicara. Aku yakin dia bukan wanita keras kepala sepertiku yang tidak bisa langsung memaafkanmu."


Seulas senyum hadir di wajah Ari. Ia menggelengkan kepalanya. "Ya, kamu memang keras kepala. Wanita berhati dingin. Wanita gunung es." Ia terkekeh.


"Jadi selama ini kamu berpikir begitu?!" Kiran berpura-pura manyun.


"Sekarang kamu sudah lumayan cair Kiran. Mungkin efek bersama kak Radit meluluhkanmu ya, Kiran?"


Kiran terdiam.


"Pergi temui kakak, Kiran. Aku terlalu egois jika ingin memisahkan kalian. Sampaikan salamku pada kakak. Untuk sekarang ini, aku merasa malu untuk menemuinya."


Kiran tercenung. "Kenapa tidak sedari awal kamu begini, Ari? Keluarga ini tidak akan ribut begini jika kamu bisa menerima pernikahan kami."


Ari tertunduk lesu. "Aku juga baru sadar, Kiran. Setelah mendapatkan ingatakanku, aku segera kemari untuk menemuimu. Begitu mendengar kabar pernikahanmu dan kakak, hatiku dipenuhi kemarahan dan kekecewaan. Aku tidak terima, Kiran. Di saat aku mengalami fase terdasar, kenapa kakak seakan mengambil semua keuntungan itu dariku. Aku menyalahkannya. Bahkan, aku sempat membencinya.


Kakak itu orang yang paling aku hormati, Kiran. Namun setelah mendengar kabar pernikahan kalian, semua rasa hormat hilang menjadi kebencian."


"Lalu? Kenapa sekarang kamu bisa menerima? Apa karena Arini datang sehingga kami jadi tahu pernikahanmu? Lalu kamu merasa tidak ada kemungkinan lagi?"


Ari terkekeh pelan. "Kamu masih Kiran yang selalu tepat sasaran," Ari geleng-geleng kepala. "Tapi enggak sepenuhnya benar seperti itu namun juga enggak sepenuhnya salah."


"Aku tersadar mendengar kata-kata Arini di depan papa tadi. Aku jadi menyadari kesalahanku."


Kiran ingin sekali bertanya perkataan seperti apa yang diberikan Arini hingga bisa menyadarkan Ari. Namun ia menahannya.


Ari menatap Kiran. "Karena itu Kiran. Aku ingin secepatnya melihatmu dan kakak bersatu."


" Terima kasih sudah menerima semua ini Ari."


Ari mengangguk pelan.


***


Esoknya, seperti janji Kiran. Ia membawa Arini untuk melihat rumah kontrakan tempat dia dulu tinggal. Seperti dugaannya, rumah itu berdebu. Namun tidak terlalu tebal. Perabotannya juga masih lengkap. Terbukti memang tempat itu aman meski tidak ditinggali.


"Kamu nggak perlu mikirin sewanya karena aku yang akan membayarnya." Arini mengangguk.


"Ini buat kamu." Kiran mengeluarkan atm berwarna gold dari dompetnya. "Pin nya aku tulis di sini," katanya lagi sembari mengeluarkan secarik kertas kecil lalu meletakkannya di tangan Arini. Beberapa digit nomor terlihat sekilas di kertas itu.


"Terima kasih, ya, Mba...." ucap Arini, matanya berkaca-kaca.


"Iya. Nggak usah sampai haru begitu. Ini cuma bantuan kecil."


"Bagi mbak Kiran kecil tapi bagi saya sangat berarti mbak."


"Iya. sama-sama."


"Sepertinya sudah selesai. Ada lagi yang kamu butuhin?"


Arini menggeleng samar.


"Oya, masalah baju. Kamu kan nggak bawa sama sekali. Kamu beli aja yang baru. Pake aja uang dari atm itu, jadi kamu nggak perlu balik ke rumah untuk ngambil baju."


"Iya, Mba."


"Kalau begitu aku pergi dulu, ya, Arini. Aku masih ada urusan lagi."


"Baik, Mba. Terima kasih banyak, ya, Mbak. Jazakillah khairan katsiraan...." Arini mencium takzim punggung tangan Kiran.


"Iya." Kiran melangkah keluar kemudian mengucap salam. Ia menggerakkan layar ponselnya. Mencoba menelpon seseorang.


"Bara? Iya. Aku sudah selesai. Temui aku di depan gang rumahku dulu. Aku tunggu segera ya."


Kiran mematikan sambungan telponnya. Sopir dari keluarga Makarim memang sudah dimintanya langsung pulang begitu mengantar mereka. Ia berjalan santai menuju jalan besar sembari mengenang kenangannya dulu saat masih tinggal dikontrakan itu dan pulang pergi bekerja melewati jalan itu.


***