Behind The Boss

Behind The Boss
Happy End



Sebuah rumah mewah yang terletak di tengah kota menjadi saksi bisu malam panas yang dilalui Erlangga dan Nala. Erangan dan des*han nikmat terdengar dalam kamar kedap suara yang berukuran luas itu.


"Er, apa yang kau minum?" tanya Nala yang sudah mulai kelelahan mengimbangi Erlangga.


"Tidak terlalu banyak, aku hanya meminum segelas minuman kuat dari Kak Rayden. Katanya agar kita segera memiliki anak," ucap Erlangga yang tak berhenti dari gerakannya.


"Aku kelelahan, Er. Ini sudah ketiga kalinya. Bisakah kita berhenti setelah ini?"


"Tentu, Sayang. Aku akan memberimu istirahat selama delapan jam, lalu kita akan kembali melakukannya lagi."


"Tidak, aku tidak bisa. Rasanya badanku remuk redam, Er."


"Tapi kau sangat menggigit, Sayang." Erlangga membenamkan wajahnya di leher Nala dan mempercepat gerakannya.


Hingga beberapa saat kemudian, dia pun menyelesaikan pertempuran malam itu.


Nala sudah tak kuat lagi membuka matanya. Bahkan ke kamar mandi pun harus digendong Erlangga.


Setelah mereka membersihkan diri, dalam hitungan menit, Nala sudah terlelap dalam mimpinya dengan keadaan rambut yang masih lembab karena Erlangga belum selesai mengeringkannya.


Dan pagi harinya, ketiga Nala membuka mata, Erlangga sedang duduk di sofa sambil terus memandanginya. Di depannya ada sebuah nampan berisi sarapan dan juga segelas susu.


"Er, kau sudah bangun?" tanya Nala sambil mencoba bangkit dari posisinya. Dia menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang karena Hanya itu yang bisa dilakukannya saat ini karena tubuhnya yang seperti remuk redam.


"Aku sengaja bangun lebih awal hanya untuk membuatkanmu sarapan ini. Makanlah." Erlangga menyerahkan mengambil meja kecil, lalu diletakkan di atas kaki Nala. Nampan itu diletakkan di atasnya, lalu dia menyuapi Nala makan.


"Maka biarkan aku memperlakukanmu seperti ratu setiap hari. Kau adalah istriku, tidak apa-apa jika aku memanjakanmu." Erlangga mengusap pipi Nala, lalu mengecup keningnya.


"Aku beruntung sekali memiliki suami sepertimu. Aku tak pernah bermimpi akan mendapatkan jodoh dari keluarga terpandang seperti keluargamu. Ternyata berita yang beredar itu memang benar. Keluarga Armadja memiliki hati yang baik dan jiwa sosial yang tinggi."


"Aku juga beruntung memiliki istri seperti dirimu yang tak pernah memandang fisik dan harta. Jadi, yang kau dapatkan sekarang adalah buah dari keikhlasanmu. Ya, walaupun latar belakangmu karena trauma dengan keluarga kaya."


"Marilah hidup bersama sampai tua. Sampai maut memisahkan dan jangan ada air mata kesedihan. Hanya boleh ada air mata kebahagiaan."


"Ya, Sayang. Aku berjanji akan membahagiakan dirimu." Erlangga kembali menyuapi Nala hingga akhirnya makanan di dalam piring habis.


Setelah selesai makan, Erlangga pun mengajak Nala ke taman belakang, namun sambil menutup matanya karena ingin memberi kejutan.


Dan ketika mereka sudah sampai di taman belakang rumah itu, Erlangga langsung membuka penutup mata Nala.


Betapa terkejutnya Nala ketika melihat ada namanya di ukuran patung rumput, di kursi taman, dan juga di lampunya.


"Er, kenapa kau..." Nala sampai kehabisan kata-kata.


"Karena aku sangat mencintaimu. Akan aku lakukan semua untukmu agar kau selalu bahagia, Nalaku." Erlangga memeluk Nala dari belakang. Membenamkan wajahnya di pundak Nala dan sesekali mencium pipinya.


"Aku juga mencintaimu, Er." Nala memegang pipi Erlangga dan memiringkan wajahnya hingga keduanya menyatu dalam ci*man hangat pagi itu.


TAMAT