Behind The Boss

Behind The Boss
Siasat Intan



Radit duduk kembali di atas sofa, di ujung ruangan. Bara memberikan segelas air putih hangat dan permen padanya. Setelah meneguk habis air putih yang diberikan Bara, Radit langsung memasukkan permen dalam mulutnya. Mual dalam perutnya hilang secara perlahan. Wajahnya terlihat lelah.


"Maafin, Tante ya, ponakan Tante," ucap Intan yang baru saja datang dan berdiri di hadapan Radit.


"Kau ...?! Sudah kubilang kau akan mati!" Menyadari kehadiran Intan, Radit berusaha bangkit dari duduknya. Matanya menatap tajam Intan.


"Radit, tenangkan dirimu." Bara dengan cepat berusaha menghalangi Radit. Tangannya menekan kuat bahu Radit, menahan agar sahabatnya itu tidak bangkit berdiri.


"Tante salah, Dit. Tante, lupa kalau kamu trauma sama durian. Tante maksudnya baik lho, Dit. Karena bolu itu enak, Tante mau kasi sama kamu," ucap Intan dengan sorot mata penuh penyesalan.


Bara melirik wanita yang ada di belakangnya, Giliran udah ada salah, ngomongnya Tante, ponakan. Aku, kamu. Kalau gak, mana mau dipanggil Tante. Memang benarlah dia ini Nenek Sihir, batin Bara.


"Omong kosong! Kau memang sengaja!" Radit masih berontak. Bara tak mampu menahannya, pria itu kini sudah berdiri. Bara terkesiap. Jika tidak ditahan, sahabatnya itu bisa hilang kendali.


"Sabar, Dit. Ingat, dia itu tantemu, sepupu mamamu. Mamamu akan marah jika kau sampai menyakitinya. Tahan emosimu ya, Dit. Sama orang tua kita memang mesti banyak mengalah," pekik Bara sembari menahan Radit yang hendak menerjang Intan. Tak disadarinya wanita yang ada di belakangnya meliriknya dengan tajam. Intan tak terima dengan kata-katanya barusan.


Radit menghela nafas kasar. Pria itu duduk kembali sembari menahan marah. Intan mendekati Radit dan duduk di sebelahnya.


"Tante belikan jus alpukat. Khusus untukmu. Tanpa gula dan es. Hanya pakai susu coklat saja. Minumlah. Biar menggantikan aroma yang tak kau sukai itu," ucap Intan lembut.


Intan menyodorkan satu cup jus alpukat pada Radit. Pria itu tak bergeming. Intan tak berhenti berusaha. Ia raih tangan Radit lalu meletakkannya di tangannya. Radit menepisnya.


"Kau kan tahu, aku tuh peduli padamu. Mana mungkin aku begitu."


"Kau pernah melakukannya dulu. Apa kau tak ingat?!" ucap Radit ketus. Masih menatap tajam pada Intan.


Intan tersenyum getir. "Bedalah. Dulu aku masih penasaran tentang trauma itu. Jadi aku ingin membuktikan sendiri sampai sejauh mana kau membencinya. Tapi itu kan udah lama. Sampai aku lupa sekarang." Radit membuang muka.


"Minumlah. Kau akan suka rasanya," ucap Intan sembari meraih tangan Radit kembali dan meletakkan jus itu di tangannya. Usahanya berhasil, Radit menerimanya.


"Minumlah. Setelah itu kau harus pemotretan lagi," kata Intan lagi.


Radit meminum jusnya. Setelah lebih tenang, ia bangkit dan berjalan menuju tempat pemotretan. Bara mengikutinya. Tiba-tiba tangan Bara ditarik dari belakang.


"Kau bilang apa tadi? Orangtua?" Intan melototinya. Menarik kerah bajunya dengan satu tangan. Bara tersenyum kecut.


"Aku terpaksa lho, Mba. Mba itu kan bukan orang tua. Statusnya aja tante Radit. Tapi kalo dari segi wajah udah kayak sahabat Bara," ucap Bara sambil nyengir.


"Syukur Radit langsung berhenti marah karena kata-katamu itu. Jika tidak, sebelum dia menghajarku, kau lah yang terlebih dulu akan kuhajar," ucap Intan melepaskan pegangannya di kerah baju Bara dan meninggalkan pria itu di belakangnya.


Bara menggumam pelan. "Dasar, Nenek Sihir!"


Intan melirik ke belakang. "Kau bilang apa?!" melotot tajam menatap Bara.


"Bukan apa-apa lho, Mba." Bara cengengesan. Setelah Intan berlalu, Bara bernafas lega.


-


❇❇❇


Pemotretan berjalan lebih lancar dari sebelumnya. Beberapa kesalahan berasal dari Kiran yang tampak lebih kaku dan sepertinya tidak ingin terlalu dekat dengan Radit.


Saat azan Maghrib berkumandang, pemotretan pun selesai dilaksanakan. Selesai sholat maghrib, Intan mengajak semua kru untuk makan bersama, termasuk Radit, Kiran dan Bara. Sebagai permohonan maafnya pada Radit.


Selesai makan bersama, Intan mengajak Kiran mengobrol secara pribadi di lantai atas. Setelah dirasa agak malam, Kiran pun pamit untuk mengganti baju pada Intan. Intan juga pamit pada Kiran untuk pulang lebih dahulu, sebab dirinya sedang ada urusan.


Kiran melangkah menuju kamar pribadi Intan, tempat dia dirias sebelumnya. Lantai bawah tempat para kru, Radit dan Bara berada sebelumnya tampak kosong. Pegawai yang dibilang Intan untuk membantunya berganti pakaian pun belum datang.


Meski sedikit khawatir, Kiran masuk juga ke dalam kamar. Kiran menghela nafas pelan. Menatap ke arah cermin besar yang ada di dalam kamar. Mencoba meraih resleting yang berada di punggungnya. Mencoba membuka gaunnya sendiri.


Kiran masih berusaha membuka gaunnya, namun tiba-tiba ia dikejutkan dengan suara pintu yang terkunci dan pintu kamar mandi yang terbuka. Radit muncul dari dalam kamar mandi.


"Kau sudah di sini?" tanya Radit melirik Kiran. Tanpa sadar matanya menatap punggung Kiran yang kini terbuka. Tali branya kelihatan dengan jelas di sana. Kiran tersadar, segera berdiri dan berbalik menatap Radit. Menutupi punggungnya yang terbuka.


"Maaf. Kau pasti ingin mengganti pakaianmu, ya? Baik, aku akan keluar," ucap Radit melangkah menuju pintu kamar. Ekor mata Kiran mengikuti Radit yang melangkah mendekati pintu kamar.


Tangan Radit memegang handle pintu. Ia berusaha membukanya. Namun pintu tak terbuka. Kiran melirik Radit yang masih berusaha membuka pintu.


"Aku dengar sepertinya seseorang menguncinya dari luar," ucap Kiran.


Radit terkesiap. Berbalik melirik Kiran. "Lalu kenapa kau diam saja?!"


"Sudahlah, aku akan menelpon Bara," kata Radit mendekati nakas. Mencari ponselnya yang tadi ia letakkan di sana. Nihil. Ponsel itu tak ada. Yang ada hanya dua botol air minum dan sebungkus permen.


"Ponselku tidak ada. Mana ponselmu, biar kita telpon siapapun yang bisa membuka pintu."


Kiran mengambil tas yang ada di ujung tempat tidur. Mencari sesuatu di dalamnya. Tanpa disadarinya, ia berjalan dengan baju yang sudah terbuka bagian belakangnya. Radit memalingkan wajahnya ketika punggung yang putih dan mulus itu tertangkap oleh iris matanya.


"Ponselku juga tidak ada." Kiran menatap Radit pias.


Paper bag di sudut ruangan menarik perhatian Radit. Paper bag itu tidak ada sebelumnya. Radit memeriksanya. Isinya satu buah handuk serta sepasang baju rumahan pria dan wanita.


"Saat kau masuk ke sini tadi. Apakah Bara ada di sini?" tanya Radit kemudian.


"Tidak ada siapapun. Bahkan di luar ruangan juga tidak ada orang. Aku pikir tinggal aku sendiri di sini."


"Aku menunggumu dari tadi. Mana mungkin kau tinggal sendiri. Kenapa kau lama sekali di atas sama Intan. Kalian ngapain aja?!"


"Tidak ada. Mba Intan hanya menanyai asal usul ku saja."


Pancaran sinar lampu yang masuk dari bawah pintu menghilang, berganti dengan kegelapan. Tanda bahwa lampu yang berada di luar sudah dimatikan.


"Hei, Nenek Sihir! Jangan becanda lagi. BUKA PINTU INI SEKARANG!" teriak Radit. Suaranya menggema di dalam ruangan.


Hening.


"BARA!! JANGAN BECANDA DENGANKU, JIKA KAU INGIN HIDUP!" teriak Radit lagi.


Hening.


Radit mendengkus kesal. Ia duduk di atas tempat tidur. "Mereka pasti sudah berkomplot menjebak kita."


Kiran menatap Radit heran. "Menjebak?"


"Kau lihat paper bag itu. Isinya handuk dan pakaian tidur kita." Radit menunjuk paper bag di sudut ruangan. Kiran melirik, mengikuti arah telunjuk Radit.


"Waktu aku masuk tadi, belum ada dua botol minuman dan permen di atas nakas. Karena aku meletakkan ponselku di sana." Kiran melirik lagi, kali ini ke arah atas nakas.


"Aku tahu ini pasti ulah Intan. Dia ingin kita bermalam di sini."


"A-apa?!" ucap Kiran mulai tampak panik.


"Tidak ada pilihan lain. Kita harus bermalam di sini," ucap Radit menatap Kiran dalam.


❤❤❤❤


Salam Semuanyaaa....🤗🤗🤗😘


Terima kasih buat para readers yang masih setia baca karya aku hingga saat ini... aku begitu kaget untuk yang ngeview novel ini untuk tiap harinya. Dukungan kalian itu jadi mood booster banget buat daku...😋😋😋


Mohon maaf kemarin ada fase, di mana aku merasa males menulis karena sedikit kecewa sebab jumlah like nya kok segitu-segitu aja, gak naik-naik. Akhirnya kerjaanku hanya baca dan berikan like pada novel yang kubaca untuk mengalihkan kekecewaanku...Hehehe


Tapi sekarang, berkat dukungan kalian aku makin semangat. Banget malah.. Maka aku upayakan untuk up tiap hari. Walaupun lagi jelong-jelong..😗😗


Buat mas yang bilang aku melecehkan wanita berhijab. Aku bacanya tuh antara seneng plus miris. Senang, sebab berarti wanita berhijab dimuliakan. Ini tuh bagus. Mirisnya ternyata pesanku mungkin belum sampai. Karena aku gak ada niat melecehkan sebenarnya. Sepertinya memang pesan moral perlu juga diungkapkan lewat bahasa yang tersirat. Maka di akhir nanti akan aku sampaikan semuanya ya.


Buat yang bilang, kok salah paham aja.. hehehe.. sabar aja ya sayong-sayong aku... Gak gitu kok.


Sebenernya aku tuh buat cerita ini ngalir aja. Gak ada target harus sampai bab berapa. Jadi kalaupun ada salah paham, bukan untuk memanjangkan bab, tapi karena ada kaitannya untuk peristiwa selanjutnya. Jadi buat readers semua... sabar dan nikmati aja novel ini ya..


Pokoke, aku berterima kasih karena readers semua sudah membaca karya aku.


Terima kasih buat Mba Rifdai, Mba Jesting dan Mba Aywa yang udh kasi vote yang paling banyak buat aku. Sini peyukkk🤗🤗🤗


Terutama buat Mba Rifdai yang sekali ngevote langsung banyak, aku tuh paling suka begini...😍😍😍


Buat yang lain yang udh nge vote, like n komen makasi juga ya. Yang udh baca aja, aku makasi, apalagi ikutan nge vote juga... love u full..😍😍


So, buat semuanya.. Thanks banget udh baca karya aku. Terus setia tunggu update-an aku ya...


I love u all...😘❤❤💖💖