
"Jadi yakin nih, bakalan ninggalin Kiran?" Bara melirik Radit skeptis. "Yakin Loe kuat?" imbuhnya lagi.
Radit sudah menceritakan semuanya pada Bara, begitu ia minta diantarkan sahabatnya itu ke lokasi tujuan.
Masih terbayang dalam ingatannya saat mengucapkan selamat tinggal pada Kiran tadi. Atas permintaannya agar tidak mencolok, ia ingin Kiran hanya mengantarnya sampai pintu kamar. Sebab, jika papanya tahu, rencananya pasti tak kan bisa terwujud. Meski begitu aroma kesedihan yang menguar tadi masih bersisa di hatinya.
Radit menatap hampa keluar jendela mobil. "Mau gimana lagi. Setelah kupertimbangkan masak-masak memang inilah jalan terbaik." Hatinya serasa kosong.
"Aku hanya takut darah tinggimu kumat lagi kalau jauh dari Kiran. Ingat kan di hotel waktu itu? Setelah Kiran pulang, kau sedikit pun tak pernah tersenyum. Aku salah sedikit aja langsung kau semprot."
Darah tinggi yang dimaksud Bara tentu bukanlah darah tinggi dalam arti sebenarnya. Maksudnya adalah emosi Radit jadi tak terkendali.
"Kali ini aku takkan begitu," ucap Radit lirih. Ia teringat sesuatu. "Tapi, jika sampai lokasi dimana aku berada bocor karenamu. Bukan hanya kusemprot, kau langsung kukuliti detik itu juga!"
Bara merinding. "Kau meragukan kesetiaanku padamu."
"Bukan kesetiaan, tapi kadang mulutmu itu ringan. Sementara papaku itu paling jago untuk membuat orang lain bicara."
"Kau harus percaya padaku. Aku akan menjaga rahasia keberadaanmu rapat-rapat. Meskipun nanti mamamu menangis-nangis di kakiku. Aku akan memantapkan hatiku untuk tidak menjawabnya."
"Gak usah drama. Buktikan saja kalau kau itu lelaki kuat. Tapi pastinya mamaku tak akan bertindak sampai seperti itu hanya karena ingin mencariku."
"Beuh, kau meragukanku, Dit. Sini Raisa. Biar segera kunikahi. Agar kau tahu kekuatanku sebagai lelaki lewat adikmu."
Plak!
"Pikiranmu itu minta dibersihkan pakai detergen ya. Muternya kesitu aja."
Bara mengelus kepalanya yang baru saja mendapat sentuhan tidak sopa dari Radit. Ia selalu menganggap jika kepalanya dipukul atau ditoyor merupakan sentuhan yang tidak sopan. Sebab kata neneknya pantang memukul di daerah itu.
"Marah sih marah ..., tapi nggak di kepala juga, Dit," sungutnya.
Radit melengos tak peduli.
"Jadi sekarang apa rencanamu?"
"Aku akan menenangkan diri di sana."
"Itu aja?"
"Jadi, apa lagi?"
"Kau diam saja menunggu mamamu membuka hatinya?"
"Iya."
"Astaga, Dit! Kok tumben kau pasrah begitu ...!!"
"Kau meragukan kekuatan doa? Aku akan meningkatkan doaku. Urusan membolak-balik hati biar Allah yang atur."
"Padahal kalau dari dulu kau langsung 'itu-itu' sama Kiran terus dia hamil, jadinya kan nggak begini, Dit. Mana mungkin mamamu akan meminta kalian pisah jika Kiran telah mengandung anakmu."
"Jika itu terjadi, kisahku dan Kiran akan sama seperti papanya Kiran."
"Tapi kau yakin jika ini lebih efektif, Dit? Malah bukannya lebih beresiko karena kau meninggalkan Kiran di sana?"
"Aku hanya ingin Ari melihat bahwa Kiran tetap mempertahankan hubungan kami meski kami tak bersama. Terlebih lagi, aku ingin mama merasa kehilanganku."
Hening.
"Jadi untuk apa kita ke jalan ini? Bukannya sebaiknya kita langsung saja jalan dari sana. Ini kan menuju lokasinya ...." Bara tak melanjutkan ucapannya. Ia masih menduga.
"Ya, kau benar. Agar semua harapanku cepat terjadi maka aku harus meminta pertolongan seseorang ...." Radit menatap Bara penuh arti.
Bara meliriknya sekilas. "Maksudmu?"
"Aku sudah bisa menduga jika papa akan susah membujuk mama. Tapi orang ini tentu akan mudah menaklukkan mama. Aku dengar kalau cuma dia yang bisa mementahkan keinginan mama."
Bara manggut-manggut.
Radit memang sudah mengukur semuanya. Ia memang sudah mempersiapkan hati dan jiwanya untuk sementara berpisah dari Kiran. Tapi tentu ia juga sudah bisa memperhitungkan agar harapannya untuk mendapat restu semua orang berjalan dengan cepat. Prediksinya perpisahan ini hanya memakan waktu sepekan. Jika sampai dengan sepekan nanti belum membuahkan hasil maka ia pun akan melaksanakan plan B. Tentunya plan B ini tidak akan diberitahukannya pada siapa pun termasuk Bara dan Kiran.
"Udah sampai, Dit. Aku di mobil aja ya kayaknya
...," suara Bara menghentikan lamunan Radit.
Tanpa memberikan jawaban, Radit membuka pintu mobil dan keluar. Ia dekati rumah itu dengan langkah berat. Pintu rumah berwarna coklat itu kemudian diketuknya perlahan.
"Assalamu'alaikum ...," ia memberikan salam.
"Wa'alaikumussalam." Terdengar sahutan salam dari dalam. Suara langkah mendekat.
Krieettt!!
Pintu terbuka, menyembulkan sesosok wajah yang menjadi harapan Radit terakhir. Ia menatap wajah di depannya dengan berkaca-kaca. Entah kenapa hatinya yang sudah dikuatkan sedari awal kembali melow melihat wajah bijak itu.
"Radit? Ada apa?" suara berat itu bertanya dengan heran.
...***...
Papa Mahesa kaget begitu mendapat kabar dari Tina jika Radit telah meninggalkan rumah. Mama Ariana yang ikut mendengar kabar juga langsung memegang dadanya.
Tina mengangsurkan kertas kuning petak kecil ke tangan Tuan Mahesa yang diam membeku. Kertas itu diberikan Radit pada salah satu maid yang sudah diberikannya pesan agar menyerahkan kertas itu pada Tina satu jam setelah kepergiannya.
Padahal Tina yang mengantarkan Radit sampai pintu depan. Namun pria itu tidak mengucapkan apa-apa. Radit pun hanya berkata ada tugas luar kota padanya. Maka Tina tidak merasa curiga. Namun ketika seorang maid memberikan kertas memo itu ia pun kaget luar biasa dan langsung melaporkannya pada Tuan Mahesa di kamarnya.
Tuan Mahesa menatap kertas itu.
Jaga kesehatan baik-baik ya, Tina. Jangan tidur terlalu malam. Aku titip papa, mama dan Ari.
Terima kasih, Tina.
Hati Tuan Mahesa bergetar. Ia teringat kembali ucapan Radit. Ancamannya bahwa keluarga Makarim akan kehilangan Radit Makarim jika memaksanya menceraikan Kiran.
"Jadi bagaimana, Pa?" tanya mama Ariana panik. "Radit marah banget sama Mama ya, Pa?" imbuh wanita paruh baya itu lagi.
Tuan Mahesa menatap istrinya datar. "Bukankah ini yang Mama inginkan?"
Tuan Mahesa merasa kecewa sebab Radit tidak menunggunya untuk mengubah hati istrinya. Tapi memang begitu sifat Radit. Ia paling benci menunggu sesuatu hal yang tidak pasti. Ia lebih suka bertindak menurut perhitungannya.
"Papa kok ngomong kayak gitu sih, Pa? Apa mau Mama Radit keluar dari rumah. Mama kan cuma bilang agar dia menyerahkan hak Ari."
Tuan Mahesa mengabaikan kata-kata mama Ariana. Ia menjaga agar pertengkaran mereka tidak terjadi di hadapan orang lain. Ia menatap Tina. "Apa Kiran ikut bersamanya?"
"Tidak, Tuan. Nona Kiran masih di kamarnya," jawab Tina singkat.
"Baik. Terima kasih Tina. Kau boleh pergi."
Tina mengangguk sedikit lalu meninggalkan kamar Tuan Mahesa.
Tuan Mahesa menghela nafas pelan. Ia berbalik masuk ke dalam kamar. Ia tahu, Kiran pasti sedang sedih sekarang. Ia akan menunggu hingga besok untuk bicara pada menantunya itu.
"Papa lihat kan? Radit tidak membawa Kiran. Artinya apa, Pa? Artinya dia sudah memutuskan menerima tawaran Mama. Dia sudah melepaskan Kiran," celetuk mama Ariana mengikuti Tuan Mahesa masuk ke dalam kamar.
"Ma ...."
"Lho, benar kan, Pa? Kalau nggak begitu, jadi untuk apa Radit pergi?"
"Bisa nggak, Ma, kamu tuh adil dengan kedua putramu?! Jangan berat sebelah. Entar di akhirat jalan kamu bisa miring, Ma."
"Papa ngomong apa sih? Nggak nyambung kamu, Pa."
"Seharusnya Papa bilang begitu ke diri Papa sendiri. Bisa nggak Papa adil sama kedua putra Papa. Coba aja kamu sayang sama Ari tentu Mama nggak akan begini. Mama lebih sayang sama Ari kan karena Papa lebih sayang sama Radit. Jadi adilkan? Papa sayang Radit sementara Mama sayang Ari. Mereka mendapatkan kasih sayang kedua orang tuanya," imbuh Mama Ariana.
"Astaghfirullah!! Jadi Mama mikirnya gitu? Coba Papa tanya sekarang, di mana letak pilih kasihnya Papa ke mereka?" cecar Tuan Mahesa. Emosinya sudah naik ke ubun-ubun namun ia mencoba tetap mengontrol agar emosi itu tidak sampai keluar.
"Papa lebih memuji Radit dibanding Ari. Selalu saja lebih mempercayai kata-kata Radit dibanding Ari. Selalu lebih mengandalkan Radit dibanding Ari. Pokoknya Papa selalu mengutamakan Radit dibanding Ari."
"Sekarang Papa tanya, Ari sudah bisa Papa andalkan dibanding Radit? Sudah bisa Papa memuji dia? Apa memang lebih baik kata-katanya yang Papa percaya dibanding Radit? Coba sekarang Mama yang jawab pertanyaan Papa. Bisa Ma? Menurut Mama bisa??!"
Mama Ariana terdiam.
"Mama sendiri ragu kan?" Tuan Mahesa mengambil jeda, menarik nafasnya perlahan dan membuangnya dengan perlahan juga.
"Mama sendiri pasti tau jawabannya. Nggak usah Papa jelaskan. Sedari awal Papa nggak pernah pilih kasih. Semua sikap Papa untuk mendewasakan Ari. Begitu pun Radit. Kami ingin yang terbaik buat dia. Apalagi Radit, dia sangat menyayangi Ari.
Mama tahu, saat Bara membawa jenazah yang katanya mirip Ari, Mama tahu reaksi Radit? Mama tahu sedihnya dia? Mama tahu betapa tidak relanya dia? Dan Mama tahu kalau dia masih tidak mengakui jika jenazah itu adalah Ari? Mama tahu kenapa? Bisa jadi hatinya masih merasakan bahwa adiknya masih hidup. Dan Mama tahu saat kita paksa dia untuk menikahi Kiran, dia masih belum bisa menerima Kiran karena dia merasa bersalah pada Ari. Tapi Papa yang mendorongnya. Papa yang memintanya untuk bersikap baik pada Kiran. Dan Mama tahu pada awal pernikahan dia setelah kamar mereka kita satukan, Radit lebih banyak tidur di ruang kerjanya. Mama tahu artinya apa? Dia sudah banyak berkorban Ma. Untuk siapa? Untuk keegoisan Mama."
Mama Ariana terdiam.
"Mama bukan menyuruh Radit menyerahkan hak Ari, tapi Mama selalu meminta Radit untuk memberikan haknya. Mama selalu meminta dia melaksanakan kewajiban dengan mengorbankan hak-haknya. Sedari kecil kan Mama lakukan itu pada Radit? Jadi bukan dia yang tega tapi Mama yang tega padanya."
"Cukup, Pa."
"Tidak. Papa nggak akan berhenti. Mama harus dengar ini. Mama harus tahu bagaimana hati Radit sekarang. Mama tahu saat kita sedang diambang perceraian, ketika itu Papa bawa Radit pulang ke rumah ibuk. Di sana dia selalu bilang rindu Mama dan Ari. Di sana lah dia bertemu Kiran kecil. Mereka berjanji untuk menikah ketika dewasa. Sebab janji itulah Radit tidak pernah berhubungan dengan wanita lain. Setelah lama tak bertemu akhirnya dia tahu jika wanita yang semula dianggapnya sudah meninggal ternyata masih hidup dan menjadi istrinya. Dia lah Kiran. Lalu Mama meminta dia memutuskan hubungan itu dan menyerahkan wanitanya pada Ari."
Kisahnya dan Kiran memang sudah diceritakan Radit sedari awal pada Tuan Mahesa agar Papanya itu mendukungnya untuk mencari Kiran.
"Coba Mama pikir, yang tega itu siapa, Ma?!"
Mama mulai menunduk, menutup kedua telinganya dengan tangan.
"Papa yang salah sudah membiarkan Mama dan Ari begini sejak lama. Sekarang Mama pikirkanlah bagaimana perusahaan kita tanpa Radit. Papa pikir kepergian Radit bukan karena menyerahkan Kiran tapi dia ingin Mama merasa kehilangannya."
Air mata Mama Ariana sudah tak terbendung, ia terisak.
"Tapi Mama kasihan pada Ari, Pa."
"Ari memang sudah tidak berjodoh pada Kiran, Ma. Itu faktanya. Dan dia harus menerimanya."
❤❤❤💖
Kali ini entah kenapa aku takut dihujat sama readers-zen karena nggak nepati janji untuk up, sampai nggak berani baca kolom komentar.
Maaf up nya telat. Penting up aja yak.
Terima Kasih. 😘😘😘🌻
Mohon maaf jika banyak typo. Penting up dulu yak, perbaikinya nanti aja..