Behind The Boss

Behind The Boss
Penculikan



"Hei, Nona, aku punya banyak pakaian bekas di rumah. Hanya robek sedikit, kau bisa menjahit, lalu memakainya. Aku yakin kau cocok menggunakannya."


Nala yang mendengarnya tidak bisa menahan kesabaran lagi. Ia pun menoleh wanita tadi dan berkata, "Aku baru tahu orang kaya seperti mu ternyata menyimpan baju yang sudah robek


Aku yakin kau selalu memakainya karena tidak punya baju ganti."


Sontak ucapan Nala membuat wanita tadi emosi dan menghinanya habis-habisan.


"Dasar wanita miskin, jelek, kampungan!"


"Tidak apa-apa, yang penting aku tidak punya baju robek." Dengan entengnya Nala menjawab.


"Lihat saja aku akan panggilkan papaku!"


"Iya, panggil saja papamu. Dia kan pengusaha kaya, mereka tidak ada apa-apanya denganmu."


"Wah, aku merasa sangat terhormat, seorang pengusaha kaya akan datang ke sini karena anaknya tidak sanggup melawanku." Nala tersenyum miring.


"Dasar miskin! Asal kau tahu, papaku adalah pimpinan GX Group! Kau akan menerima akibatnya!"


Erlangga tertegun mendengar ucapan gadis itu. GX Group adalah perusahaan yang kata orang tuanya berpuluh kali mengajukan kerja sama, namun akhirnya diterima setelah pengajuan ke tiga puluh enam kali.


'Lihat apa yang bisa ayahmu lakukan sekarang," batin Erlangga. Ia pun segera mengetikkan sebuah pesan pada asisten papanya untuk memberi pelajaran pada orang tua gadis itu.


Tak berselang lama, si gadis langsung mendapat telepon dari mamanya.


"Apa, Ma? Perusahaan Armadja membatalkan kerjasama? Tapi, bagaimana bisa?" Gadis itu tampak sangat syok dan pucat. Begitu juga dengan teman-temannya yang juga ikut terkejut.


"Mana papamu yang mau datang itu?" tanya Nala semakin menantang.


"Diam kau! Ini karena aku bertemu denganmu dan menjadi orang yang paling sial!" Gadis itu terlihat sangat murka.


"Ros, kau bangkrut? Kalau begitu kau tidak bisa jadi teman kami lagi. Pertemanan kita sampai di sini."


"Maaf, kita putus saja. Aku tidak mau berpacaran dengan orang miskin seperti mu." Si pria pun pergi meninggalkannya yang kini bisa menangis.


Dan saat pelayan datang membawa bill, ia tidak tahu harus membayar pakai apa karena kertu kreditnya telah diblokir saat itu juga.


"Kenapa? Tidak bisa membayar?" tanya Nala sambil menghampiri Rosa. Ia pun memberikan beberapa lembar uang ratusan yang diberikan Erlangga untuk menolong gadis itu. "Ini, bayar sana, dan jangan berteman dan pacaran dengan pria seperti itu."


Setelah membayar, Rosa pun segera beranjak dari kursinya. Ia pun mendatangi Nala dan mengucapkan terima kasih serta meminta maaf atas perbuatannya tadi.


Nala memaafkannya. Rosa pun segera pergi. Namun baru mencapai pintu keluar, ia terlihat menerima telepon dan tersenyum penuh kelegaan.


Erlangga tahu apa yang terjadi. Ia sudah meminta asisten papanya untuk kembali melakukan kerja sama dengan perusahaan ayah Rosa saat tadi Nala menghampiri gadis itu.


Setelah makan selesai, Erlangga dan Nala pun berkeliling mall. Mereka keluar Mall setelah membeli beberapa baju couple.


Mereka pun segera pulang dengan mengendarai sepeda motor Erlangga.


Namun, saat melewati jalan sepi, tiba-tiba saja ada mobil berhenti menghadang mereka. Beberapa orang berperawakan tinggi dan besar langsung menyeret Nala ke dalam mobil.


Erlangga yang berusah mempertahankan Nala malah terkena pukulan dari seorang di antara mereka.


"Tidak! Jangan bawa aku! Angga, tolooooong!"


"Nala!" Erlangga menarik tangan Nala yang sudah berada di dalam mobil.


Dua pria menarik dan mereka terlibat perkelahian. Karena kalah jumlah, dan sering absen ketika Bibi Sevina ingin mengajarinya bela diri, Erlangga pun kalah.


Ia hanya mampu melihat Nala dibawa oleh para pria besar itu. Ia sempat melihat logo kecil yang ia kenali tertempel di bagian seragam pria tadi.


"Adnan Group? Jadi wanita yang kabur itu adalah Nala? Dan Tuan Adnan memaksa Nala menikah dengannya? Ini tidak bisa dibiarkan! Aku harus menyelamatkan dirinya."


Erlangga langsung melajukan sepeda motornya. Ia pergi ke rumah pimpinan terbaru perusahaan, lalu meminjam mobil dinas untuk ia bawa untuk mengejar mobil pengawal Adnan.