Behind The Boss

Behind The Boss
Sarapan Bersama



Wajah Tuan Mahesa sumringah ketika melihat Radit dan Kiran turun bersama. Apalagi mereka tampak bergandengan tangan dengan mesra. Sementara Mama Ariana melihatnya dengan tatapan sendu.


"Duduk di sini Kiran," ujar Mama Ariana sembari menunjuk kursi kosong di depan Raisa. Raisa sudah ada di sana. Kiran duduk di kursi yang ditunjuk Mama Ariana sementara Radit duduk di sebelahnya.


"Bagaimana tidurmu, Kiran?" tanya Tuan Mahesa melirik Kiran sekilas.


"Alhamdulillah nyenyak, Pa," jawab Kiran singkat. Mengelak untuk mengakui bahwa tidurnya sangat tidak nyaman. Seluruh tubuhnya bahkan menjadi pegal karena tidur di sofa itu. Ia melirik Mama yang tampak tersenyum menatapnya.


"Syukurlah jika begitu. Mari kita makan sekarang," ucap Tuan Mahesa kemudian. Merasa lega.


Mama Ariana mengambil nasi dan beberapa lauk untuk Tuan Mahesa. Kiran menatap piring Radit dengan ragu. Haruskah aku melakukan seperti yang dilakukan Mama? batinnya dalam hati.


Radit mengetahui kegelisahan Kiran. Ia mengambil piring dan mengisinya dengan cepat. "Makanlah. Jangan banyak berpikir." Kiran menunduk dalam. Kemudian mengambil piring dan makanannya sendiri. Beberapa saat kemudian mereka sarapan dalam keheningan.


Meski terasa ada yang kurang, masing-masing dari mereka mencoba memahamkan diri untuk mengikhlaskan semua. Radit sendiri seakan sulit menelan nasi yang sudah masuk ke dalam mulutnya. Mengingat bahwa Ari yang biasanya duduk dihadapannya.


"Kak Radit, tadi malam kenapa menjerit?" tanya Raisa setelah mereka hampir menyelesaikan makannya. Tadi malam secara tak sengaja, ia mendengar jeritan Radit saat melewati kamar kakaknya itu. Mama Ariana dan Tuan Mahesa mengamati keduanya yang masih tampak makan dengan tenang.


"Ini urusan orang dewasa. Anak kecil gak boleh tahu," jawab Radit cuek.


"Ada apa sebenarnya, Dit?" suara bariton Tuan Mahesa menghentikan makan Kiran. Gadis itu melirik ekspresi Tuan Mahesa.


"Gak apa-apa, Pa. Cuma jempol Radit digigit sama binatang aja tadi malam." Radit menjawab sembari tetap melanjutkan makannya. Kiran yang mencoba kembali makan jadi terbatuk.


"Minum dulu, Kiran," ucap Mama. Kiran mengangguk kemudian minum beberapa tegukan.


"Binatang apa, Kak? Sampai jeritnya kuat begitu." Raisa bertanya dengan muka polosnya.


"Anak kecil mau tahu aja." Radit melotot menatap Raisa.


"Gimana ujian semester kamu, Dek?" tanya Radit mengalihkan pembicaraan. Sembari mengelap mulutnya dengan tisu. Dia sudah selesai makan.


"Seperti biasa, Kak," jawab Raisa sumringah. Radit bisa menebak, hasilnya pasti sempurna.


"Nenek sehat?" tanya Radit lagi.


"Alhamdulillah sehat, Kak. Tapi ya gitu. Nenek kalau udah sore, suka lemes. Gak enak badan gitu. Makanya Raisa gak bisa lama-lama juga di sini. Selesai resepsi Kakak, Raisa bakal balik ke sana lagi."


Mama melirik Raisa. "Coba rayu Nenek, Raisa. Ajak Nenek tinggal di sini. Minimal Mama bisa menemani dan mengurus ketika Nenek sedang sakit," ujar Mama Ariana.


"Nenek gak akan mau, Ma. Katanya di sini banyak mengingatkan Nenek akan kenangan bersama Kakek."


Wajah Mama Ariana langsung sedih. Tuan Mahesa menyadari itu. "Atau Mama kunjungin Nenek. Sekalian melepas rindu."


Mama menatap Tuan Mahesa. "Serius? Mama boleh pergi?" tanyanya masih tak percaya.


"Iya. Memang kapan Papa pernah ngelarang Mama jenguk Nenek? Dia kan orang tua kita. Tapi perginya setelah Radit resepsi ya, Ma. Papa juga gak bisa ke sana. Tapi nanti Papa yang jemput Mama. Sekalian Papa juga mau lepas kangen sama Nenek."


Mama Ariana terlihat senang dan kembali melanjutkan makannya. "Radit juga harus bawa Kiran menemui Nenek. Biar Nenek kenal dengan cucu menantunya."


"Nanti aja ya, Pa. Kerjaan Radit banyak banget. Mana nambah sama beban TJ. Jika sudah bisa, Kiran akan Radit bawa ke sana."


"Radit sudah selesai makan. Radit berangkat dulu ya, Ma," ucap Radit lagi sembari bangkit dari kursi. Tangannya meraih tas yang kini sudah ada di atas meja. Tas itu berisi laptop yang tadi ia minta Tina untuk mengambilnya.


"Perginya sama Kiran saja, Dit," ucap Tuan Mahesa.


"Kantor kami gak searah, Pa. Biar Kiran diantar supir seperti biasa."


"Iya, Pa. Nanti Radit bisa terlambat jika mengantar Kiran dulu," Kiran menyela.


"Iss ..., masa Kakak ipar manggil Kak Radit dengan Radit sih ..., manggilnya mas dong Kak. Biar mesraan dikit gitu," celetuk Raisa.


"Anak kecil ini, ikut aja." Radit menatap Raisa tajam.


"Iya. Bener juga Kiran. Umur Radit kan juga lebih tua. Minimal panggil Kakak," Mama Ariana menimpali.


"Kiran berangkat bareng Radit aja." Radit menyela, mengalihkan pembicaraan. Kemudian memberi isyarat kepada Kiran untuk mengikutinya.


"Radit pergi ya, Ma, Pa," ucap Radit sembari mencium punggung tangan Tuan Mahesa dan Mama Ariana. Kiran mengikuti, mencium punggung tangan kedua mertuanya dengan takzim.


Begitu di depan Raisa, Radit menyodorkan tangannya untuk dicium adik bungsunya itu. "Udah sombong sekarang. Kalau pulang gak nyariin Kakak lagi," ucapnya saat Raisa mencium punggung tangannya.


"Kakak ...." Raisa mengerucutkan mulutnya kemudian bangkit dan memeluk Radit dengan erat. Air matanya mulai menggenang. Mengingat bahwa kini kakaknya tinggal satu.


"Sudah, Kakak berangkat ke kantor dulu, ya." Radit mengacak rambut adiknya dengan cepat. Raisa mencebikkan bibirnya. Kebiasaan Kak Radit tu ya begini.


"Assalamualaikum," salam Radit yang kemudian dijawab oleh Tuan Mahesa dan Mama Ariana. Selanjutnya Radit melangkah keluar diikuti oleh Kiran.


❇❇❇


"Gak perlu repot-repot mengantarku. Aku berhenti saja di depan sana. Biar aku naik angkutan umum saja," ucap Kiran setelah mereka berdua masuk ke dalam mobil.


"Jalan, Pak. Kita ke TJ dulu," perintah Radit pada supir.


"Radit! Kau tuli ya. Biar aku turun di depan sana saja. Tidak perlu mengantarku sampai ke kantor."


Radit menatap Kiran tajam. "Seharusnya kau berterima kasih karena aku sudah menyelamatkanmu, kenapa kau malah mengatai aku tuli!"


"Kau ini ya ...." Radit menyentil dahi Kiran.


"Ow!" Kiran mengaduh, mengusap dahinya.


"Sudah kau diam saja. Duduk manis. Jangan banyak tanya!" Radit membuang muka. Menatap keluar jendela. Hening beberapa saat.


"Yang dikatakan Raisa tadi. Apa kau juga ingin dipanggil seperti itu?" tanya Kiran kemudian memecah keheningan.


Radit melirik Kiran kemudian mendekatkan bibirnya ke telinga Kiran. "Kalau kau panggil aku begitu, aku malah jadi geli. Diamlah dan jangan pancing emosiku. Mengerti?!"


❇❇❇❇


"Hei, kok tumben dirimu telat," ejek Bara melihat Radit masuk dalam ruangannya.


"Diamlah atau kusumpal mulutmu pakai kaos kaki."


Bara menghentikan tawanya. Wajahnya serius seketika. "Bagaimana, sudah kau cek?" tanyanya kemudian.


"Aku belum sempat. Segera kucek sekarang." Radit segera duduk di kursinya dan segera membuka laptopnya.


"Ada lagi yang ingin kau sampaikan? Jika tidak, tinggalkan aku sekarang."


"Pengawal yang kau kirim untuk menemani Ari waktu itu. Melaporkan sesuatu padaku. Aku sedang menindaklanjutinya. Dua hari lagi orang yang bisa memberi kita kabar lengkapnya akan datang. Nanti akan kubawa orang itu bertemu denganmu."


"Maksudmu pengawal yang menemani Ari ketika dia meniduri wanita itu?"


"Istrimu maksudnya?" sindir Bara. Radit menatapnya tajam. Bara yang ingin tertawa, mengejek sahabatnya itu pun langsung bungkam.


"Ada lagi?" tanya Radit mengalihkan perhatiannya pada laptop yang ada di depannya.


"Mengenai Bowo. Aku sudah bicara padanya. Tapi biar dugaanku tidak meleset. Aku ingin kau bertanya terlebih dahulu pada Kiran."


Radit mengalihkan pandangannya menatap Bara. "Apa yang harus kutanya? Kenapa kau pakai rahasia-rahasiaan begini!"


"Aku hanya tidak ingin memberikan asumsi sembarangan. Aku tahu siapa dirimu. Tolonglah kau tanyakan padanya."


"Kau saja yang tanya padanya."


"Kau itu suaminya. Kenapa harus aku yang tanya?" tanya Bara.


"Itu urusanmu. Lagian aku juga bukan suami yang sebenarnya. Setelah Ari kembali, dia akan bersama Ari," Radit menutup mulutnya. Ia kelepasan. Dengan canggung Radit mengalihkan tatapannya kembali ke laptop.


"Kau masih belum bisa menerimanya?" tanya Bara menatap Radit.


"Jangan bahas aku. Kau telpon saja wanita itu."


"Boleh aku tahu, kenapa kau masih tidak bisa menerima bahwa memang Ari sudah meninggal?" tanya Bara dengan wajah serius, duduk di depan meja Radit.


Radit menghela nafas pelan. Menyenderkan kepalanya pada kursi. Mungkin sudah saatnya ia berbagi.


"Waktu aku berusia sepuluh tahun. Ari berusia tujuh tahun. Pada hari itu, kami sedang melihat pak Waluyo membakar sampah. Ari diam-diam pergi ke tempat pembakaran itu. Aku yang tahu langsung mengejarnya. Ia membakar beberapa plastik yang ia temukan. Aku sudah mencoba melarangnya tapi ia tak mau mendengarkan. Akhirnya aku pun mendiamkannya. Yang terjadi selanjutnya, plastik yang dia bakar saat itu meleleh dan mengenai tangannya." Radit terdiam beberapa saat.


"Melihatnya menjerit kesakitan, akupun berlari memanggil orang terdekat yang aku temui. Setelah itu seorang pelayan mengobati Ari. Ketika dia diobati, aku hanya bisa menerima kemarahan Mama. Saat itu aku jadi tahu, aku tidak boleh membiarkan Ari dalam bahaya lagi."


Radit menatap Bara. "Luka bakar saat itu, berbekas di lengan Ari. Itulah yang coba kucari dari jasad yang kau bilang sebagai jasad Ari itu. Luka itu tidak kutemukan, meskipun aku memang melihat ada luka juga di sana. Karena itu lah aku merasa bahwa Ari memang belum meninggal."


Bara menghela nafas pelan. "Lalu tidakkah kau berpikir jasad siapakah itu? Model rambutnya juga sama dengan Ari. Bahkan putih kulitnya. Tidakkah kau lihat itu?"


"Aku melihatnya. Itu juga yang membuatku bimbang. Tapi bagaimana pun dengan wanita itu, aku sama sekali tidak berani menganggapnya sebagai istriku. Meski Ari sudah meninggal. Hatiku sendiri merasa sakit karena itu. Yang bisa kulakukan sekarang hanya berpura-pura baik-baik saja di depan semua orang. Terutama di depan orang tuaku."


"Lalu bagaimana dengan Kiran?"


"Aku tak mau menebak perasaannya. Tapi syukurnya dia juga menghormati perasaan kedua orang tuaku. Jadi untuk berpura-pura baik, aku rasa tidak sulit. Tapi ada yang aneh ...." Radit menghentikan ucapannya, melihat reaksi Bara masih serius mendengar apa yang akan ia ucapkan.


"Tadi malam aku memimpikan Karina. Kami sedang berlari menyusuri hujan bersama. Paginya, aku melihat rambut basah Kiran sama seperti Karina, di dalam mimpiku itu. Wajah Kiran juga. Jika kuperhatikan dengan teliti agak mirip dengan Karina," lanjut Radit.


Bara membelalakkan matanya. "Rambut basah? Kalian ngapain, Bro? Mandi bareng?"


"Cie ..., udah tatap-tatapan ceritanya. Memang Kiran itu cantik sih. Jadi wajar saja jika dia bakalan mirip dengan Karina-mu yang usianya masih sembilan tahun itu." Bara melanjutkan. Sindirannya itu secara tidak langsung mengatakan bahwa tidak mungkin Kiran mirip dengan bocah usia sembilan tahun, teman masa lalu Radit.


Radit menatap Bara tajam. "Sekarang lebih baik kau telpon saja wanita itu! Jangan mengejekku lagi!"


Tawa yang hampir keluar hilang seketika. "Aku akan menelponnya." Bara mengeluarkan ponselnya dari saku. "Berapa nomornya, Dit?" tanya Bara.


"Mana aku tahu."


"Widih, parah kali jadi suami. Meski bukan istri yang sebenarnya, setidaknya kalian tukaran nomor ponsel. Gak gaul banget sih jadi suami," ucap Bara. Ia menggerakkan layar ponselnya.


Namun perasaan Bara jadi tidak enak. Bulu kuduknya seketika merinding. Ia pun melirik Radit. Benar saja. Sahabatnya itu sedang mendelik menatapnya.


"Baik. Aku akan menelponnya melalui TJ. Kau lihat saja isi flashdisk itu. Aku akan menelponnya dari mejaku." Bara buru-buru bangkit dan keluar dari ruangan kerja Radit.


❤❤❤💖