
Bulan tampak terang dengan cahayanya yang berpendar. Bintang-bintang seakan mengerling manja pada setiap mata yang melihatnya. Malam ini terlihat cerah. Secerah hati Bara mengendarai mobilnya menyusuri jalanan yang tidak pernah tampak lengang. Bermaksud membeli sesuatu yang sangat diinginkannya pada malam dingin nan cerah ini.
Ia memasuki jalan tikungan yang terlihat lebih lengang. Memarkirkan mobilnya. Duduk di salah satu bangku. Menunggu pesanan mie ayam bakso langganannya. Tempatnya terpencil, jauh dari keramaian. Penjualnya pedagang kaki lima. Namun rasanya seperti restoran bintang lima. Itu sih menurut Bara.
Ia mengusap perutnya. Merasa kenyang. Kerinduan akan cita rasa itu terpuaskan sudah. Ia bermaksud langsung pulang. Ia naik dan melajukan mobilnya perlahan. Sesosok wanita menarik perhatiannya. Ia terlihat familiar dari belakang tatkala Bara melihatnya. Wanita itu duduk di pinggir jembatan kecil menghadap sungai. Ditangannya memegang sebotol minuman.
Ah, bukan urusanku!
Bara mencoba tak peduli. Nuraninya terusik saat beberapa pemuda mendekati wanita itu. Bara melirik dari kaca spion. Wanita itu terlihat tidak suka dengan kedatangan tiga orang pemuda tadi. Ia bangkit meninggalkan pemuda tadi. Bara memutar mobilnya ketika melihat ketiga pemuda tadi mengikuti sang wanita diam-diam.
Mobilnya berhenti. Apapun yang terjadi, ia bertekad akan melindungi wanita itu. Ini masalah hati nurani. Bagaimana jika wanita tadi adik atau saudaranya. Tentu saja ia tidak akan terima jika sampai terjadi sesuatu.
"Pergi sana! Jangan ganggu aku!" teriak wanita itu sambil berlari kecil, menghindari ketiga pemuda yang mengikutinya.
Dasar bodoh! Kenapa malah lari menyusuri sungai. Jalanannya kan sepi. Dasar idiot!
Bara menyumpah melihat wanita itu memilih alternatif jalan yang salah. Padahal jalanan itu diapit sungai dan tembok. Jelas hanya mengharapkan bantuan dari para pengguna jalan jika sang wanita berteriak. Itu pun jika ada yang lewat.
"Pergi! Aku bilang pergi!" Wanita itu berlari. Suaranya ..., sepertinya Bara mengenalinya.
Apa yang dikhawatirkan Bara akhirnya terjadi. Wanita itu tersandung. Saat ia berdiri, ketiga pria tadi sudah mengelilinginya. Dua orang pria langsung memeganginya. Sementara yang satunya mulai melakukan aksi.
Buk!!
Bara memukul salah seorang pria yang sudah bersiap-siap tadi. Pria itu pun langsung ambruk. Kedua temannya kaget dan langsung menghadang Bara. Tak terhindari, perkelahian pun terjadi. Syukurnya, Bara masih bisa mengatasi kedua makhluk zalim bin mesum dengan seringai kepuasaan di wajahnya. Mereka semua tersungkur. Badan ceking ketiga pemuda tadi ternyata bukan tandingannya.
Dan setelah melihat si wanita yang meringis kesakitan karena didorong oleh salah satu dari ketiga pemuda tadi, Bara terkesiap. "Lusiii...!!!"
-
❇❇❇
Di kamar hotel ....
Yah, benar saja. Setelah Kiran membuka paper bag itu, nyata lah kini. Baju minim itu lagi ..., dan lebih transparan dari sebelumnya.
"Dit, baju ini?" tanya Kiran lemas. Membentangkan lingerie itu agar Radit melihatnya. Seketika Radit melirik. Sedikit kaget namun lebih banyak didominasi oleh rasa malu. Ia langsung mengalihkan pandangannya.
Ekspresi itu ditangkap Kiran. Ia mencium aroma-aroma konspirasi di antara Radit dan Intan.
"Mau bagaimana lagi? Bajumu kan sudah kotor. Masa' mau pakai piyama semalam?" Memberi penyangkalan lewat pertanyaan.
"Iya juga sih. Ya udah aku pakai aja kalau begitu." Ia menyerah. Membawa paper bag dan laundry bag ke dalam kamar mandi.
Radit mengetuk pintu kamar mandi. Meminta Kiran menyerahkan laundry bag tadi sebab karyawan hotel sudah datang untuk menjemputnya. Meski sebenarnya ia telah selesai mandi dan mengganti pakaiannya namun Kiran belum berani keluar. Ia memberikan laundry bag tadi pada Radit lewat celah pintu yang terbuka sedikit.
Kiran mamatut dirinya di depan cermin. Jelas lingerie ini lebih transparan daripada yang dahulu. ****** ******** saja langsung kelihatan. Ia tak ubahnya seperti memakai dalaman saja.
Kiran bingung. Merasa malu, namun tidak ada pilihan lain. Ekspresi tadi .... Kiran mengenali ekpresi Radit. Membandingkannya dengan malam resepsi mereka. Dan kini ia merasa sepertinya Radit tidak terlalu kaget akan lingerie ini.
Jika memang Radit tahu. Apa jangan-jangan .... Kiran menepis kemungkinan yang ia bayangkan. Nggak usah berpikir macam-macam Kiran. Jika pun terjadi sesuatu, toh dia suamimu!
Kiran menghela nafas perlahan kemudian membuka pintu kamar mandi. Berjalan melewati Radit yang terpana melihatnya. Pria itu menelan salivanya dengan susah payah. Kiran segera masuk ke balik selimut.
Intan memang luar biasa. Dia tahu seleraku. Radit membatin dalam hati.
Sebelumnya saat di kantor, Radit ingin memesan lingerie untuk Kiran. Namun melihat dari hasil pencaharian, yang ada kepalanya jadi pusing tujuh keliling. Melihat wanita dengan pose aduhai yang menjadi modelnya. Ditambah lagi banyaknya variasi dari lingerie tersebut. Alhasil, Radit meminta Intan untuk mengirimkan lingerie baru untuknya.
"Kau nggak mandi?" tanya Kiran menyadari Radit masih membeku di tempatnya.
"Iya. Aku memang mau mandi." Radit beranjak masuk ke kamar mandi.
Beberapa saat setelahnya, Radit keluar menggunakan celana pendek dan kaos tak berlengan. Otot liatnya terpampang nyata. Wajahnya terlihat fresh. Butiran bening yang masih menggantung di ujung rambutnya menambah kesan kemachoan itu semakin terlihat ekstrim. Hati Kiran berdebar dibuatnya. Dia mengakui bahwa pria di hadapannya itu memang luar biasa memesona.
Radit masuk ke dalam selimut. Melirik Kiran dengan ekor matanya. "Kau mengantuk?" tanyanya tanpa mengalihkan pandangan. Masih menatap layar televisi.
"Belum. Masih jam sepuluh. Kenapa?" tanya Kiran.
Radit mendekat. Jantung Kiran semakin berdebar. Ruangan dingin itu ia rasakan menjadi hangat.
Kiran terkesiap. Tangan Radit melingkari pinggangnya. "Kenapa? Kok kaget?" Radit berusaha menyembunyikan rasa gugupnya.
"Tanganmu dingin," jawab Kiran berusaha santai. Kok seperti mengarah ke sana ....
"Dit ...," panggil Kiran pelan sedikit risih dengan kegiatan yang Radit lakukan.
"Hemmm ...." Tidak terusik sedikit pun dengan panggilan Kiran. Masih asyik menciumi leher gadis itu.
"Ngapain begitu sih, Dit?" tanya Kiran. Jantungnya berdegub dengan kencang sekarang.
"Aku suka. Kamu wangi."
Kamu?
Kiran mencari akal. Harus ganti topik, pikirnya. "Jadi menurutmu hotel itu memang harus dibeli, Dit?"
"Masih kupikirkan." Seakan tidak peduli dengan topik obrolan yang sudah berubah.
"Dit ...." Kiran menegang. Tangan pria itu sudah menyelinap di balik gaun transparannya sekarang.
"Hmmm .... Apa?"
"Sepertinya kau pernah berjanji. Mau menyampaikan sesuatu padaku." Radit berpikir sebentar. Menghentikan aktivitasnya.
"Hmmm ..., iya. Aku lupa. Aku ingin memberitahu teman masa kecilmu." Radit berhenti menciumi leher Kiran. Tangannya ditarik, tak melingkari pinggang Kiran lagi. Kiran menarik nafas lega. Jantungnya kembali normal.
Radit menarik nafas. Sejujurnya ia masih belum tahu cara tepat menyampaikan pada Kiran. Tapi karena ia sendiri sudah berjanji. Dia akan mengatakan apa adanya saja.
"Aku tahu siapa teman masa kecilmu. Dia dulu kau panggil raksasa kan? Dia teman SD mu?"
Kiran menunggu. "Kau bertemu dengannya?"
Radit salah tingkah. "Bukan hanya bertemu. Aku mengenal dirinya dengan baik."
"Siapa? Di mana kau berjumpa dengannya?" Kiran terlihat sangat antusias.
Ya Allah Karina .... Dia itu aku ...!!
Radit membisu. Merasa bingung. Kini matanya menatap wajah Kiran dengan serius. "Coba kau lihat aku, Kiran ...."
Kiran menatap Radit sesuai instruksi pria itu. "Ya?"
"Apa kau bisa melihat sesuatu di wajahku?"
Kiran menggeleng. "Apa?"
"Coba lihat dulu. Aku mirip siapa?"
"Mirip Papa Mahesa!"
Radit menghela nafas. "Tidakkah kau lihat aku seperti dia, Kiran?"
"Siapa?"
"Raksasamu!"
Radit mengangguk ragu. Kok feelingku nggak baik ya.
Kiran berbalik. Membelakangi Radit. "Nggak lucu!" ia terlihat kesal.
"Aku serius ...." Meraih pinggang Kiran dan mendaratkan kecupan di bahu wanita itu.
Kiran membisu. Mencerna. Haruskah ia percaya? Benarkah ia?
"Begitu lulus SD aku dimasukkan Papa ke dalam pesantren. Saat sudah SMA baru aku keluar dari sana. Aku belum bisa mengunjungimu saat itu. Pernah sekali aku menjenguk nenek sekaligus ingin menjumpaimu. Tapi kau sudah pindah dari sana. Aku mencarimu. Tapi karena tenagaku terbatas. Aku tidak berhasil menemukanmu. Setelah aku berhasil mengutus orang untuk mencarimu, aku malah mendapatkan informasi bahwa kau meninggal dunia karena kecelakaan. Aku frustasi saat itu, Karin ...."
Kiran berbalik. Menatap kedua manik mata Radit. Mencoba menilai kejujuran pria itu.
"Aku juga baru tahu kalau kau itu Karina sejak aku menemukan kalungmu di kamar mandi waktu itu."
Radit menunduk. Ia merasa seperti diinterogasi lewat tatapan Kiran. Ia pun terdiam. Membalas tatapan wanita itu. Mereka saling menatap. Sebuah kata akhirnya keluar dari bibir Kiran. Respon yang tidak pernah dibayangkan Radit sebelumnya.
"Sudah? Sudah puas membohongiku?" Kiran terlihat sinis.
"Apa?" Radit tidak menyangka.
"Apa maksudmu berkata begitu? Mau mengejekku?"
"Hah?"
"Aku sudah curiga mulai dari lingerie yang aku pakai ini. Ini taktikmu kan? Setelah aku pakai lingerie ini, kau pun mengatakan hal yang mustahil seperti tadi. Apa tujuanmu? Kau ingin tidur denganku kan? Tujuan perjalanan ini pasti itu kan?"
Radit membelalak.
"Lusi berhasil mengelabuiku karena memang aku membiarkannya. Aku nggak menyangka dia bakal menjadikan tanda tangan itu untuk menjatuhkanku di depanmu. Aku yang masih emosional karena kau menerimanya padahal sudah jelas ia jadi gila karenamu, jadi nggak bisa berpikir logis.
Lalu karena aku selalu diam dan membiarkan semua yang terjadi. Hingga kau menyingkap semua rahasia keluargaku, jadi kau bisa mengaku seperti itu? Kau mengharapkan aku akan menganggapmu apa dengan kau berkata seperti itu?"
Radit terperangah. Tubuhnya mundur ke belakang. Menatap Kiran dengan tidak percaya. Ekspresi dingin dan datar itu kembali.
"Kau nggak berpikir kau itu keterlaluan? Kau benar-benar mengira aku berbohong?"
"Kalau memang kau jujur, kenapa baru kau katakan semua ini sekarang? Kenapa nggak sedari awal saat kau menemukan kalung itu. Dan kenapa momennya saar kita menginap di hotel ini dan aku memakai lingerie ini? Cuma satu alasan untuk itu. Karena kau ingin meniduriku! Kau ingin kerelaanku. Bukankah seperti itu?"
Radit bangkit. Menatap tajam Kiran. "Sekarang aku tanya padamu. Jika kau jadi menikah dengan Rangga. Apa kau bakal menolak jika dia mengajak berhubungan denganmu?"
Kiran terdiam. Membisu. Ia takut memberikan jawaban yang sudah pasti itu.
"Lalu jika Ari nggak kecelakaan. Dan dia menikahimu. Apa kau bakal menolaknya juga saat dia mengajak berhubungan denganmu?"
Lagi-lagi Kiran membisu.
"Lalu apa bedanya aku dengan mereka berdua?!" suara Radit meninggi. Kiran terkesiap.
"Kenapa kau selalu mencurigaiku?" tanya Radit lagi. Penuh kekecewaan.
"Aku nggak berpikir seperti itu. Bukan itu maksudku." Kiran berkata lirih.
"Jadi kenapa kau bisa berpikir aku harus mengarang cerita dulu biar aku bisa menidurimu. Kau pikir aku ini siapa??!"
Kiran terdiam.
"Aku baru tahu. Ternyata bukannya kau tidak mengenaliku meski kuberikan clue berkali-kali. Tapi aku memang tidak pantas menjadi dirinya. Begitu kan?"
Tidak ingin mendengar jawaban Kiran, Radit segera keluar dari kamar itu.
Klik!
Pintu kembali terkunci saat Radit menutupnya. Kiran mematung di dalam kamar. Ingin mengejar namun diurungkan. Mengingat pakaian seperti apa yang ia kenakan.
-
❇❇❇
"Di mana rumahmu? Biar aku antar." Bara bertanya pada Lusi. Yang ditanya malah duduk bersila di atas tanah. Matanya menengadah, menatap Bara sambil tersenyum.
"Bara? Kau? Terima kasih ...." Lusi nyengir.
"Hei, kau mabuk ya? Astaga!" Bara menggelengkan kepalanya. Tidak habis pikir.
Ni perempuan, duduk di sana sambil minum-minuman keras. Pantas aja digangguin. Dasar bego! Cari mati!
Bara mengutuki wanita di depannya. Mau dimarahi pun percuma.
"Ya sudah, kau ikut saja ke rumahku!" katanya memapah Lusi yang terhuyung.
"Aku tahu kalau kau memang baik, Bara. Aku sedih Bara ... huhuhu .... Kenapa wanita itu bisa kembali .... Kenapa dia merebut Radit dariku .... Huhu .... Siapa lagi sekarang yang akan baik padaku? Huhuuhu ...." Lusi mengoceh sambil menangis.
"Makanya kau jangan bego! Mana mungkin Radit mau sama wanita tukang mabuk begini. Kalo pun Kiran nggak datang, kau sudah pasti dieliminasi jika Radit tau kau begini!"
"Jadi kalau kau saja bagaimana? Kau sudah punya pacar?"
"Cih! Siapa juga yang mau pacar sepertimu!"
Lusi nyengir sembari mencolek-colek pipi Bara. Sementara Bara masih merasa keberatan memapah Lusi yang jalan terhuyung-huyung.
"Aku ini belum pernah pacaran Bara .... Kau pasti nggak percaya kan? Hiks."
"Kau kira aku percaya. Wanita tukang php sepertimu mana mungkin belum pacaran."
Lusi mengelengkan kepalanya berulang kali. "Kau salah Bara. Kau salah."
Bara memasukkan Lusi ke dalam mobil. Meraih safety belt dan memasangnya. Sekilas ia mencium aroma alkohol dari mulut Lusi, dan ....
Cup!
Bara kaget. "Hei, jangan kau lakukan itu lagi! Dasar perempuan murahan! Tau begini kubiarkan kau dengan para pria tadi."
Lusi terkekeh. "Wajahmu lucu Bara."
Tingkahnya tidak hanya sampai di situ. Dengan cepat dia meraih kepala Bara dan menyatukan kedua bibir mereka.
"Oeeekkk!!! Dasar gila!" Bara melepaskan kepalanya dari tangan Lusi. Merasa mual tercium aroma alkohol dari mulut Lusi.
"Duduk yang bagus. Kalau kau macam-macam, kutinggalkan kau dipinggir jalan." Ancam Bara. Menutup pintu mobil.
Dia pun masuk ke dalam mobil dan duduk di balik kemudi. Mobil melaju menuju rumahnya.
Bara memasukkan mobilnya ke dalam garasi. Lewat pintu penghubung antara garasi dan rumahnya, ia memapah Lusi masuk ke dalam rumah. Meletakkan Lusi di sofa ruang tengah, di depan televisi.
"Panas Bara ...." Lusi membuka kancing bajunya. Bara menahan lengannya.
"Opss! Jangan lanjutkan Lusi ...! Kembalikan kesadaranmu! Kita cuma berdua. Bisa gawat nanti."
Lusi menepiskan tangan Bara. "Awass ...! Aku cuma kepanasan. Lepaskan tanganmu!"
Tangan Bara terlepas. Kancing kemeja Lusi kini terbuka seluruhnya. Menampilkan pemandangan yang memicu hormon Bara. Ia menutup mukanya. Ponselnya berbunyi. Sebuah nama tertera di sana. Radit.
❤❤❤💖