
"Masuklah, Kiran!" pinta Radit pada Kiran, membuka pintu mobil bagian belakang.
"Kau duduk di depan!" perintah Radit pada Ari, melihat adiknya membuka pintu belakang mobil juga.
"Kiran duduk denganku, Kak. Kakak duduk di depan," jawab Ari datar.
"Dia istriku, Ari. Aku tidak akan membiarkannya duduk berdua denganmu. Jika kau ingin duduk di belakang maka Bara akan duduk denganmu biar Kakak yang menyetir."
Ari terdiam. Mau tidak mau akhirnya ia membuka pintu mobil dan duduk di samping Bara sebagai supir. Mobil milik tuan Gultom yang sengaja dipinjam Bara untuk kepulangan Radit dan Kiran. Ada dua orang karyawan hotel dengan mobil, mengikuti untuk membawa mobil itu kembali.
"Kamu sehat, Kiran?" suara Ari memecah kesunyian di dalam mobil setelah melaju dengan kecepatan sedang di atas jalanan beraspal.
"Alhamdulillah, aku sehat, Ari. Kamu sendiri bagaimana? kemana aja selama ini?"
Sejak melihat Ari pertama kali di lobby, ingin sekali Kiran menyapa dan bertanya ini itu pada pria itu namun urung melihat aura yang dimilikinya berbeda. Terutama ketika melihat kebersamaan antara dirinya dan Radit.
"Panjang ceritanya, Kiran. Setelah sampai di rumah aku akan menceritakannya padamu," tutur Ari tersenyum lembut melirik Kiran sesaat.
"Radit yang udah jumpa dari semalam nggak kamu tanyain juga kabarnya, Ari? Wah, tega bener kamu. Padahal dia sedih banget lho waktu kehilangan kamu," sela Bara. "Aku sampai tergantung di dinding karena telah membawa jasad yang diduga adalah milikmu," sambungnya lagi.
Ari tampak terkejut. Menatap Bara sekilas kemudian beralih pada kaca spion, melirik Radit yang duduk di belakang.
"Maaf, Kak. Ari selalu yakin Kakak bisa menjaga diri dengan baik makanya Ari nggak bertanya," ucap Ari.
"Nggak apa-apa, yang terpenting kamu sudah kembali. Itu saja sudah cukup bagi Kakak," sahut Radit cepat.
Tidak ada tanggapan dari Ari.
Ingin sekali Radit membuka obrolan lebih lanjut sebab terlalu banyak pertanyaan yang berkecamuk di benaknya. Seputar kemana saja adiknya itu selama ini? Bagaimana kronologis kejadian pada malam itu hingga ia tidak bisa ditemukan? Apa yang sudah dilaluinya dan mengapa baru kembali sekarang? Semua itu memenuhi benaknya. Ingin sekali ia menanyainya namun melihat perangai Ari yang berbeda dari biasanya membuat Radit menahan semua pertanyaan itu. Adiknya cenderung diam, bahkan senyum yang dulu tak pernah lekang kini terlihat hampir menghilang.
Bara berdehem mencairkan suasana kemudian menghidupkan musik untuk mengurangi kecanggungan yang ia rasakan di dalam mobil.
-
***
"Ceraikan Kiran, Kak. Dia milik Ari!" tandas Ari begitu sampai di rumah mereka, di kediaman Makarim. Ari menahan tangannya yang berniat naik ke lantai tiga.
Radit memicingkan matanya menatap Ari. "Kau sedang bercanda, Ari?"
Wajah Ari terlihat datar. "Tidak, Kak. Sama sekali tidak."
"Bibirmu tidak bergetar mengucapkan itu, Ari?!" seru Radit.
Kiran yang sedang memberikan petunjuk pada beberapa pelayan untuk memisahkan koper pun terusik hingga mendekati mereka.
"Ada apa, Kak?" tanya Kiran ingin tahu.
Radit tak menjawab. Sekilas menatap Kiran dengan sorot mata tak berbaca.
Sebab tak mendapat penjelasan, Kiran bergantian menatapi kedua pria yang berada di hadapannya. Radit yang terlihat kesal sementara Ari dengan wajah datarnya sedang menentang mata kakaknya. Padahal mereka baru saja masuk ke dalam rumah. Masih berada di ruang tamu.
"Sedari awal Kakak hanya pengganti Ari, kan? Jadi apa yang salah dengan kata-kata tadi?" sambung Ari tanpa emosi.
Sedikit banyak Kiran jadi mengerti arah pembicaraan ini. Namun ia memberi ruang pada kedua pria di depannya untuk menyelesaikan pembicaraan diantara mereka.
"Tentu salah. Kau tidak pantas mengucapkan itu. Aku bercerai atau tidak dengannya bukan berdasarkan keputusanmu."
"Itu terjadi jika wanita yang Kakak nikahi adalah wanita Kakak. Tapi Kiran, sedari awal dia adalah milik Ari. Kakak harus ingat itu. Dialah calon istri Ari. Jika saja kecelakaan itu tidak terjadi, tentunya sekarang kami sudah menjadi suami istri. Malangnya malam naas itu menimpa Ari dan Kakak kan diminta mama hanya sebatas pengganti. Peng-gan-ti! Sekarang, ketika Ari telah hadir, seharusnya Kakak kembali pada posisi Kakak."
"Ari!!" bentak Kiran menatap Ari tak percaya. Pria yang ia kenal sangat segan bahkan bisa dibilang takut pada Radit kini berani menentangnya.
Ari melirik Kiran lembut. "Aku hanya memperjuangkanmu, Kiran."
"Tapi bukan begini, Ari ...."
Radit menahan amarahnya. Sejujurnya hatinya terluka, sangat terluka.
"Kau masih punya hati, Ari?" sela Radit dengan intonasi yang dibuatnya selemah mungkin. Ia menahan betul emosi yang ingin meluap dari hatinya.
"Seharusnya Ari yang bertanya seperti itu, Kak? Apa Kakak punya hati jika masih mempertahankan rumah tangga Kakak setelah Ari kembali? Kakak lupa bagaimana cinta Ari pada Kiran?"
"Aku tidak lupa, aku selalu ingat. Semua tingkahmu aku ingat. Yang Kakak tidak ingat jika Kakak punya adik yang melawan kakaknya seperti ini. Aku tidak ingat adikku pernah berbuat seperti itu."
Ari terdiam. Wajahnya berubah sendu.
"Apa pun itu, ceraikan Kiran, Kak!" potong Ari cepat menghentikan Radit untuk menyelesaikan kata-katanya.
"Kalau Kakak tidak mau?"
"Kak ..., minta apa saja dari Ari, Kak. Ari turutin. Perintah apa saja pada Ari, Kak. Ari lakuin. Asal jangan rebut Kiran dari Ari, Kak. Ari nggak bisa. Kakak nggak tahu kan apa yang sudah Ari lakukan hingga akhirnya hubungan kami sampai ke titik kami hampir menikah?"
"Aku tahu."
Ari terkesiap.
"Semua berawal dari malam itu kan?"
"Kakak tahu tapi Kakak masih nggak mau menceraikan dia?! Kakak tahu perjuangan Ari tapi masih berani bilang kalian saling mencintai?!" seru Ari. Suaranya mulai meninggi.
"Itu bukan perjuangan, itu kebohongan!" bantah Radit.
Ari terkesiap sementara Kiran kaget luar biasa.
"Kau terbiasa menghalalkan segala cara untuk meraih apa yang kau inginkan, sekarang Allah sedang menegurmu!"
"Seharusnya kau instropeksi diri. Kau pikir Allah ridho atas apa yang telah kau perbuat pada Kiran? Kau pikir dengan semua kebohongan yang kau anggap perjuangan itu, kau bisa mendapatkan semuanya? Kau pikir semua bisa terjadi sesuai dengan kemauanmu tanpa mempertimbangkan kehendak Allah?"
"Justru semua ini seharusnya menyadarkanmu, Ari. Kenapa aku yang nggak berbuat apa-apa bisa mendapatkannya sementara kau tidak."
Ari mematung di tempatnya. Pria itu kehabisan kata-kata.
"Kak, apa maksudnya itu? Apa maksud kebohongan yang Kakak bilang tadi."
Radit tersadar. Ia sudah melupakan keberadaan Kiran di antara mereka.
Kiran menarik tangan Radit, memaksa pria itu untuk menatapnya. "Apa yang Kakak sembunyikan?"
Radit menggenggam kedua tangan Kiran, menatapnya lembut. "Maaf, Kiran .... Kakak bukannya ingin menutupi selamanya darimu. Kakak hanya ingin menutupi aib Ari. Kakak pikir nantinya kamu akan tahu setelah hubungan kita berkembang. Setelah itu baru Kakak akan menceritakan semuanya padamu."
"Jadi apa yang sebenarnya terjadi pada malam itu, Kak?"
Mata Radit mengarah pada Ari. "Kau yang ingin menceritakannya atau Kakak yang bercerita?
Ari menatap Kiran dengan gelisah. Mengalihkan pandangannya kemudian menatap Radit lemah. "Kakak sudah tahu semuanya kan? Berarti Kakak paham bagaimana pentingnya Kiran bagi Ari makanya Ari melakukan semua itu. Lalu apa Kakak ingin semua yang Ari buat jadi sia-sia?"
"Astaga! Kepalamu itu apa mungkin tertukar dengan batu waktu jatuh di sungai, hah?! Kau tidak dengar kata-kata Kakak tadi?!"
"Assalamu'alaikum!" sebuah suara mengalihkan perhatian. Mama Ariana dan Papa Mahesa masuk ke dalam rumah.
Mama Ariana lekas mendekati Ari. "Kenapa? Mas sudah bertemu Kiran, kan? Bagaimana? Kok masih sedih?" cecar Mama Ariana menangkup wajah anak kesayangannya itu.
"Ma ...." jawab Ari lirih. Ia menatap Mama Ariana dengan wajah memelas.
Papa Mahesa mendekati Radit. "Ada apa tadi, Dit? Kenapa Papa dengar kalian seperti sedang bertengkar?" bisik Papa Mahesa.
"Ari meminta Radit untuk ...."
"Radit!" panggil Mama Ariana. Seketika Radit menoleh. Firasatnya mengatakan jika apa yang akan disampaikan oleh mamanya kemudian adalah sesuatu yang tidak ingin didengarnya.
"Sekarang Ari sudah kembali. Maka Kakak sudah bisa menceraikan Kiran!"
Deg.
Radit dan Kiran sama-sama tersentak. Begitu pun Tuan Mahesa hingga menatap istrinya dengan tatapan tidak percaya.
❤❤❤💖
Terima kasih banyak ya atas votenya ....🤗🤗
Lov lov lah buat semuanya.
Tetap tinggalkan jejak dengan like dan komen plus vote nya ....
Love u all
Kukasi kiss lagi dari jauh ya, 😘😘😘😘