
Suasana ballroom gemuruh seketika. Para tamu undangan sampai berdiri melihat apa yang terjadi di pintu masuk. Drama kedua mempelai.
Wajah kedua mempelai berseri saat melewati mereka. Setiap tamu menyanjung kecantikan dan ketampanan yang serupa. Sungguh serasi kata mereka. Mereka tidak tahu bahwa si mempelai pria sedang ngedumel dalam hatinya.
Sesosok mata menatap haru ke arah sang mempelai wanita. Air mata itu menggenang kemudian luruh seketika.
"Mama tidak apa-apa?" tanya Sandi Sanjaya menatap sang ibu dengan khawatir.
"Kau lihat dia, Sandi. Persis sekali dengan Rina dan Kamil. Wajah cantiknya mirip dengan Rina sementara aura ketegasannya mirip dengan Kamil." Tangan keriput milik wanita tua itu menghapus jejak air mata yang baru saja turun. Sandi tak berkomentar lagi. Matanya menatap punggung mempelai wanita dengan sorot mata tak terbaca.
"Kau bilang mereka kecelakaan satu keluarga. Jasadnya hilang hingga tak dapat kau temukan. Tapi kenapa cucuku masih hidup. Apa kau berbohong pada Mama, Nak?" tanya wanita tua itu lagi.
Sandi menggeleng. "Sandi tidak berbohong, Ma. Dia memang mendapat kecelakaan mobil hingga tewas. 'Orang Sandi' bahkan mengikutinya sampai ke rumah sakit."
"Lalu bagaimana dengan Kamil dan Rina? Apa mereka sudah meninggal?"
"Kalau mereka memang sudah meninggal, Ma." Sandi menundukkan pandangannya. Ada sesuatu yang disembunyikan dalam pandangannya.
"Sandi, tatap Mama. Benar mereka sudah meninggal?" tanya wanita tua itu dengan sorot mata kesungguhan.
Sandi mendongakkan kepalanya. "Benar. Dia memang sudah meninggal, Ma," ucapnya menantang kedua manik mata ibunya.
Nyonya Tutik menghela nafas pelan. "Bagaimana hidupnya selama ini? Dia tinggal dengan siapa?" tanya Nyonya Tutik seperti pada dirinya sendiri. Air matanya kembali menggenang.
"Tolong sampaikan pada Mahesa. Aku ingin mengobrol dengan cucuku," katanya lagi pada Sandi. Sandi mengangguk.
Kiran dan Radit sampai di dekat pelaminan. Radit naik terlebih dahulu ke atas panggung. Setelah di atas tangga ke dua, pria itu menjulurkan tangannya pada Kiran. Membimbingnya sampai naik ke atas. Mereka bergandengan mesra lagi kemudian berdiri di depan sofa.
MC memberikan instruksi untuk memasuki acara selanjutnya, yakni ucapan selamat pada kedua mempelai. Satu persatu tamu naik ke atas panggung dan memberikan selamat pada mereka.
"Aku tak percaya kau bisa tersenyum pada mereka. Tapi aku heran, kenapa kau tidak bisa tersenyum seperti itu kepadaku?" bisik Radit, mendekatkan bibirnya pada telinga Kiran yang tertutup jilbab.
Kiran mendekatkan bibirnya pada telinga Radit. "Aku takut kau akan kembali merasa bersalah jika kau mendapat senyuman itu dariku," bisik Kiran pelan. Radit terkesiap melirik Kiran.
"Lagipula aku tidak terbiasa tersenyum seperti itu pada kakak ipar calon suamiku," bisik Kiran lagi.
Radit mengernyitkan dahinya. Jelas sekali, dia memang tersinggung! batinnya.
Setelah mengucapkan selamat kepada kedua mempelai, MC pun mempersilakan para tamu undangan untuk menikmati hidangan yang disediakan. Untuk menghibur para tamu, satu hiburan musik memulai performanya.
Sesi foto bersama pun dilaksanakan. Pertama, foto kedua mempelai dengan keluarga Makarim. Dilanjutkan foto kedua mempelai dengan keluarga Widjadja yang hadir.
Selesai sesi foto, orang suruhan Tuan Mahesa naik ke atas panggung kemudian berbisik kepada Radit. Radit mengangguk pelan.
"Ada yang ingin bertemu denganmu. Sebaiknya kita temui mereka," bisik Radit pada Kiran.
Kiran mengangguk kemudian beranjak. Radit dengan hati-hati membantunya, diikuti beberapa asisten Intan yang mengangkat ekor gaunnya.
Radit membawa Kiran memasuki ruangan yang berada di samping ballroom. Seorang wanita tua, seorang pria dan seorang gadis muda sudah menunggu mereka di sana.
"Kau tampak cantik sekali hari ini, Karina," sapa wanita tua itu yang tak lain Nyonya Tutik Hardiyanti Widjadja.
Kiran tersenyum samar. Radit berbisik cepat di telinga Kiran. "Dia nenekmu."
Kiran terkesiap namun tetap berusaha setenang mungkin. Dia sudah mencari tahu tentang keluarga Widjadja namun tidak dengan wajahnya. Apalagi Nyonya Tutik ini jarang muncul ke media.
"Terima kasih, Nyonya. Senang mendengar pujian ini dari Anda," balas Kiran sembari mengulurkan tangannya pada wanita tua itu.
Semua yang ada di dalam ruangan terkesiap mendengar ucapan Kiran. Nyonya?? Meski begitu, Nyonya Tutik mengulurkan tangannya juga pada Kiran. Kiran menjabat uluran tangan Nyonya Tutik dengan senyum tipis. Selanjutnya gadis itu duduk diikuti Radit.
"Mungkin kau tidak mengenalku. Aku memahaminya. Ini pertama kali kita berjumpa. Sebaiknya aku perkenalkan diriku. Namaku Tutik Hardiyanti Widjadja. Namaku juga ada di dalam namamu kan. Karena Papamu adalah putraku, Kamil Prayetno Widjadja. Pastinya aku adalah nenekmu, Karina," Nyonya Tutik menjelaskan dengan senyuman.
"Senang mendengar Anda berkata seperti itu, Nyonya. Sudah lama sekali saya tidak bertemu keluarga. Sebuah kebahagiaan tersendiri bisa bertemu Anda di sini," jawab Kiran dengan senyuman.
"Panggil dia Nenek, Karina!" sahut Sandi Sanjaya dengan ketus.
Kiran melirik pamannya itu. Kau pikir aku takut padamu sekarang? Tak akan!!
"Anda pasti Pamanku ya, Tuan Sandi Sanjaya. Senang akhirnya saya bertemu Anda. Bagaimana dengan perusahaan yang Anda pimpin? Saya harap tidak berakhir tragis seperti perusahaan yang telah dibangun oleh Papa saya." Sandi Sanjaya tampak tersenyum kecut. Kiran tersenyum samar. Radit menatap Kiran dengan heran. Sandiwara apalagi ini? batin Radit.
"Kau sungguh tidak sopan! Apa seperti itu yang diajarkan oleh orang tuamu ketika berbicara dengan orang yang lebih tua!" Sandi Sanjaya menggebrak meja. Radit menaikkan alisnya.
"Maaf, kalau aku mengagetkan Mama." Sandi berucap dengan penuh rasa penyesalan.
Kiran terkekeh. "Seharusnya saya yang harus berkata seperti itu. Apakah seperti ini yang diajarkan oleh orang tua Anda? Mengingat orang tua Anda masih hidup. Anda sama sekali tidak bisa mengontrol emosi." Kiran menatap Sandi tajam. Kemudian melirik Nyonya Tutik yang tersenyum samar.
"Kau ...," Sandi berdiri menunjuk Kiran tapi tak mampu melanjutkan kata-katanya. Radit sudah menghalanginya.
"Sandi, kau keluarlah. Biar Mama yang bicara dengan Karina," perintah Nyonya Tutik.
Dengan malas Sandi keluar ruangan. Diikuti gadis yang lebih muda dari Kiran. Nyonya Tutik sudah memberi kode pada gadis itu untuk mengikuti papanya.
"Dia itu sepupumu, Karina. Namanya Mesya. Kau pasti bisa akrab dengannya. Dia mudah bergaul dengan siapa saja." Nyonya Tutik mengalihkan pembicaraan.
Kiran menatap wanita tua itu datar. "Pantaslah, saya tidak pernah melihat nenek saya selama ini. Ternyata nenek saya telah memiliki cucu lain yang lebih menarik dari saya." Kiran menarik satu sudut bibirnya.
Radit melirik ekspresi Kiran, seketika dia merinding. Kenapa aku merasa ekspresinya mengerikan?
"Kaulah cucuku, Karina. Dia hanya anak angkat pamanmu," jawab Nyonya Tutik tetap tenang. Senyuman masih menghiasi wajahnya.
"Bukankah luar biasa! Pamanku mengangkat anak orang lain menjadi anaknya sementara aku sebagai keponakan kandungnya malah diangkat anak oleh orang lain." Kiran tersenyum sinis
Nyonya Tutik menaikkan satu alisnya. "Apa maksudmu, Karina?" tanyanya tak mengerti.
Kiran tersenyum samar. "Mungkin ini tidak penting bagi Anda, Nyonya. Tapi demi bertahan hidup, saya terpaksa diangkat menjadi anak oleh orang lain dan hidup dengan nama orang lain. Meski itu hanya hitam di atas putih."
"Demi bertahan hidup? Coba jelaskan apa maksud ucapanmu?" tanya Nyonya Tutik semakin tak mengerti.
Kiran menatapnya datar. "Sebaiknya Anda cari tahu saja sendiri, Nyonya." Kiran sudah malas dengan semua basa-basi ini. Nyonya ini berpura-pura tidak mengerti, pikirnya.
Nyonya Tutik menghela nafas pelan. "Maafkan Nenek, Karina. Mungkin kau membenci kami karena tak pernah mengunjungimu. Tapi kau perlu tahu kalau aku dan Papamu memiliki kesepakatan. Karena kesepakatan itulah makanya aku tak pernah bertemu denganmu."
"Kesepakatan?" tanya Kiran. Radit mendengarkan.
Nyonya Tutik menarik satu sudut bibirnya. "Sudah kuduga kau pasti tidak tahu. Makanya kau jadi seperti ini."
"Apapun kesepakatan itu, bukan berarti Anda bebas menghancurkan perusahaan yang Papa saya bangun dengan susah payah, hingga kehilangan nyawanya," ucap Kiran datar.
Nyonya Tutik terkesiap. "Menghancurkan perusahaan papamu hingga meninggal?"
"Sudahlah Nyonya. Basa-basi ini sudah membuat saya gerah. Yang jelas, apapun yang akan Nyonya katakan tidak akan merubah semuanya. Pandangan saya pada Anda akan tetap sama." Kiran bangkit dari duduknya. Nyonya Tutik menatap Kiran dengan sorot mata kecewa.
"Terima kasih atas kehadiran Anda, Nyonya," ucap Kiran sembari mengulurkan tangan. Nyonya Tutik membalas uluran tangan Kiran, sehingga gadis itu bisa menjabat tangannya.
"Saya permisi dulu." Kiran berbalik ingin melangkah pergi.
"Karina ...!" panggil Nyonya Tutik sebelum Kiran sempat melangkah.
"Kami menyayangimu," ucap Nyonya Tutik sambil tersenyum. Kiran menatapnya dingin.
"Ada satu hal yang ingin saya katakan pada Anda. Saya sudah menahannya sejak lama. Sejak kematian Papa saya."
"Silakan. Katakanlah, aku akan mendengarnya dengan senang hati."
"Aku hanya ingin bilang bahwa selama ini aku hidup dengan senang dan bahagia, ...," Kiran mencondongkan tubuhnya, mendekatkan bibirnya ke telinga Nyonya Tutik. Dia berbisik pelan dan penuh penekanan.
"... pem-bu-nuh." Kiran melanjutkan.
Tubuh Nyonya Tutik menegang. Dirinya terkesiap dengan apa yang diucapkan Kiran. Matanya membulat seketika.
Kiran meninggalkan wanita itu dengan senyum menyeringai. Meninggalkan wanita tua itu dengan tatapan tercengang.
❤❤❤💖
Hellooo genks...
Mohon mahap kalau up nya telat. Pengaruh liburan jadinya mau leye-leye di rumah.. hehehe.
Yang masih suka aku... (eh😅) suka baca novel aku maksudnya...😁😁😁 Jgn lupa like, komen n vote nya ya...
Terima kasih banyak...😘😘😘