Behind The Boss

Behind The Boss
Si Masa Depan



"Aku suka to the point Mahesa. Kedatanganku kesini hari ini masih ingin membahas tentang cucuku."


Tuan Mahesa mendengarkan. Ia menahan diri untuk tidak menyela.


"Tapi sebelum aku membahasnya denganmu, aku ingin kau tahu sesuatu tentang sahabatmu," ucap wanita tua itu menatap dalam mata Tuan Mahesa yang menjadi antusias mendengarkan wanita tua itu bicara.


Nyonya Tutik menarik nafas perlahan, menatap dalam kedua manik mata Tuan Mahesa, kisah demi kisah itu pun mengalir.


Nyonya Tutik mengusap sudut matanya yang basah."Jadi begitulah sebenarnya, Mahesa ...," ucap Nyonya Tutik setelah menceritakan kebenarannya pada Tuan Mahesa.


Tuan Mahesa tercenung. "Kenapa dia harus menanggungnya sampai seperti itu. Jika papanya masih hidup, tentu rahasia itu akan diungkap juga. Tidak mungkin Pak Didi membiarkan anaknya menderita," ucap Tuan Mahesa penuh penyesalan.


"Aku juga pernah sampaikan pada Kamil. Tapi kau tahu sendiri, dia orang yang memegang janji. Sandi juga sepertinya malah semakin bertambah benci padanya."


"Jadi apa yang bisa saya bantu, Bu?" tanya Tuan Mahesa.


"Setelah tahu semuanya kau baru memanggilku seperti itu. Apa pada awalnya kau juga berpikir kalau itu semua perbuatanku?"


Tuan Mahesa tersenyum tipis, "Yang lalu biarlah berlalu. Maafkan kesalahpahaman saya, Bu. Jadi apa yang bisa saya bantu?" tanya Tuan Mahesa sekali lagi.


Nyonya Tutik memandang Tuan Mahesa penuh kasih. Melihat Mahesa, Nyonya Tutik jadi teringat Kamil. Seketika matanya jadi berkaca-kaca. "Aku cuma mau menyayangi cucuku, Mahesa. Aku ingin dekat dengannya. Dia lah keluargaku. Aku ingin bicara padanya. Tapi sebelum dia bertemu denganku, aku ingin kau memberitahunya untuk membuka hatinya saat bertemu denganku."


"Baiklah, Bu. Aku akan mengaturnya," jawab Tuan Mahesa dengan penuh keyakinan.


-


❇❇❇


Sedan Elit dengan merek Mazda CX-9 membelah jalanan. Warna Jet Black Mica-nya berbaur dengan malam.


"Mulai besok mungkin kesibukanku akan semakin bertambah karena sudah tiga hari aku menunda pekerjaan. Jadi mulai besok aku akan menyuruh supir untuk mengantarmu pulang," ucap Radit melirik Kiran yang tampak serius melihat keluar jendela.


"Iya," jawab Kiran singkat. Melirik Radit sekilas. Teringat akan ucapan Bara tentang masa lalunya. Untuk apa dia mencari tau informasi sampai aku SD di mana dan siapa teman masa kecil yang akrab padaku??


"Aku juga telah menerima seseorang untuk menjadi rekan kerjamu. Besok ia sudah mulai bekerja. Aku harap kalian bisa bekerja sama dengan baik," ucap Radit lagi.


"Kenapa? Apa hasil pekerjaanku kurang memuaskan? Aku pikir kita tidak butuh itu sekarang." Kiran merasa curiga sebab ia paling memahami pekerjaannya. Ia beranggapan semuanya sudah bisa di handle sendiri. Jikalau pekerjaan itu harus dibagi dua, malah jadi aneh rasanya.


"Siapa pemimpin perusahaan sekarang?" tanya Radit.


"Kau," jawab Kiran singkat.


"Jadi siapa yang memutuskan perusahaan butuh atau tidaknya sekretaris tambahan?" tanya Radit lagi.


"Kau," jawab Kiran malas.


"Bagus. Sekarang kau sudah paham, kan?" tanya Radit menyeringai.


Kiran terdiam. Kembali mengalihkan pandangan ke luar jendela.


Ciiiiitttt!!!! Mobil direm mendadak.


Duukkk!!! Kiran mengelus dahinya yang membentur kaca jendela.


"Apa-apaan kau Bara??!! Kau lihat Karin sampai kejedot jendela. Kalau sampai ada apa-apa dengan kepalanya, mati kau kubuat," pekik Radit khawatir.


Dia memanggilku Karin ..., kenapa dia jadi begitu khawatir padaku?


"Sori, Dit. Tiba-tiba aja ada kucing hitam lewat," Bara melirik Radit dari spion.


Radit mendengkus kesal. Kini tatapannya mengarah pada Kiran. "Kau juga, makanya jangan terlalu jauh duduknya, sini dekat denganku!" pekik Radit.


Eh? Kiran menggeser duduknya, mendekati Radit. "Apa sakit?" tanya Radit lagi. Kiran menggeleng pelan.


"Enggak sakit sama sekali," ucap Kiran sedikit berbohong. Padahal lumayan sakit juga karena tadinya dia memang menyandarkan kepalanya ke kaca jendela.


"Sini. Aku takut nanti kepalamu terantuk lagi kayak tadi." Radit merangkul Kiran. Tubuh Kiran menegang.


"Ehm ..., maaf Tuan Radit Makarim. Saya rasa Anda terlalu berlebihan jika harus merangkul saya seperti ini," ucap Kiran merasa canggung. Biasanya dia akan memanggil Radit seperti itu jika sedang marah. Tapi sekarang ini bukan karena itu, ia merasa canggung plus heran luar biasa. Kenapa makhluk di sampingnya sepertinya berubah.


Oh, jadi karena itu ....


"Aku hanya takut kau nantinya jadi merasa bersalah pada Ari jika terlalu dekat denganku," ucap Kiran lirih. Entah kenapa jantungnya jadi berdebar lagi.


"Kau tenang saja. Ari sudah berpesan padaku agar aku selalu menjagamu," bisik Radit


Perkataan ini memang benar. Pada hari di mana Radit tidur setelah subuh di kamar hotel, ia bermimpi Ari. Dalam mimpinya, Ari menitipkan Kiran padanya. Dan meminta untuk menjaganya.


"Kau bercanda ya?" tanya Kiran mencoba menjauhkan dirinya dari Radit sebab jantungnya mulai terasa abnormal.


"Aku ini tidak pernah berbohong. Kau diam saja. Berani kau bicara lagi dan menolakku, kukeluarkan kau dari mobil ini," ancam Radit.


Kiran tak menjawab lagi. Entah kenapa nafasnya jadi sesak. Dipeluk Radit dengan erat begini membuat Kiran jadi salah tingkah. Wanita itu menautkan kedua jemari tangannya. Pemandangan itu tertangkap di iris mata Radit. Paham, jika Kiran mulai merasa gugup. Radit memalingkan wajahnya yang tersenyum, menatap keluar jendela.


Bara melihat tingkah laku bos-nya dari spion. Lihat wajah senangnya itu. Dikiranya aku nggak tahu .... Dasar gengsian!


"Fokus Bara!!" Bara terkesiap. Diliriknya Radit yang kini sedang menatapnya tajam. Duh, dia pasti marah, aku sudah memergoki wajah bahagianya itu ....


Ciiiiiiiittttttt!!!


Mobil berhenti mendadak lagi. Sebuah truk besar tepat berada di depannya berhenti mendadak. Tubuh Radit dan Kiran terhuyung ke depan kemudian terhempas ke belakang. Radit refleks merentangkan tangan yang satunya ke tubuh bagian depan Kiran. Kini tubuh Kiran sudah dalam naungan tubuh kekar Radit.


"Ada apa lagi, Bara???!!! Kenapa hari ini cara menyetirmu itu bikin aku jantungan?!"


Bara tersenyum kecut. "Sori, Dit. Truk di depan tiba-tiba aja berhenti."


"Makanya kau fokus. Matamu jangan kemana-mana!!"


Bara tersenyum geli. "Mataku memang gak kemana-mana, Dit. Masih di sini. Di atas hidungku." Si Bara malah ngajak bercanda.


"Kau mau mati, hah???!!" Radit jadi emosi. Seketika senyum bercanda Bara pun menghilang.


"Sori, Dit. Aku akan hati-hati kedepannya."


"Udah berapa kali kau bilang sori. Kalau kau bilang lagi, kutinggalkan kau di jalanan." Bara menelan ludah.


"Kau baik-baik saja, Karin?" tanya Radit menatap khawatir pada Kiran. Kiran merasa pertanyaan Radit barusan sangat canggung.


Kiran menepiskan tangan Radit. "Jangan panggil aku Karin. Namaku Kiran bukan Karin. Aku baik-baik saja. Aku malah sesak kalau kau peluk begini."


"Tidak bisa. Hari ini Bara nyetirnya nggak becus. Aku takut terjadi sesuatu padamu. Lihat tadi kepalamu sudah terbentur begitu. Bagaimana nanti kalau terbentur dengan kuat lagi trus kau jadi gila. Apa yang akan kukatakan pada Papa?!"


Kiran menaikkan satu sudut bibirnya. "Kau ini sebenarnya mau mengejekku atau apa? Apa maksudmu sebenarnya?" tanya Kiran datar.


"Hei, kau ini bodoh ya. Sudah berapa kali kubilang. Apa harus kejelaskan lagi. Cemana sih, cara belajarmu dulu. Dijelasin dari tadi kok masih tanya melulu."


"Apapun alasannya, lepaskan tanganmu. Aku bisa duduk sendiri dan selamat tanpa bantuanmu," ucap Kiran tegas.


"Aku tidak mau. Kepalamu bisa terbentur lagi. Kau itu kebanyakan melamun. Jadi lebih baik posisimu seperti ini."


"Tapi aku tidak mau!" intonasi suara Kiran mulai meninggi.


"Aku tidak tanya pendapatmu!!" suara Radit lebih tinggi dari suara Kiran. Aura ketegasannya keluar.


Kiran kembali menepis tangan Radit dan mengangkat tubuhnya agar berpindah posisi menjauhi Radit. Namun malang, Bara mengerem lagi. Posisi tubuh Kiran yang sudah terangkat karena direm tiba-tiba maka terhuyung lagi ke belakang. Radit sigap memeluk tubuh Kiran dengan posisi kaki yang membuka lebar hingga akhirnya Kiran terduduk di antara kaki Radit, di kursi yang diduduki Radit dan sedikit menghimpit sesuatu yang berharga milik Radit.


"Aoowww, masa depanku!" pekik Radit.


Bara yang melirik dari spion sontak menahan tawanya. Kiran merasa bingung namun ketika tersadar wajahnya pun jadi merah seketika.


❤❤❤💖


Waduh, bagaimanakah nasib si masa depan Radit?? Nantikan part berikutnya ya....😁😁😁


terus like, komen n vote... vote... vote...


thanks😘