
Restauran itu tampak padat di siang hari. Beberapa meja bahkan sudah direservasi sebelumnya. Ada satu tempat khusus di ujung ruangan, agak menjorok ke dalam. Tempatnya lebih spesial dibandingkan yang lain. Kursinya menggunakan sofa yang empuk. Tempatnya agak tertutup dari pandangan orang lain. Di situlah Kiran menghabiskan makan siangnya bersama Radit.
"Mana orang yang ingin bertemu denganku itu, Dit? Kenapa belum datang juga?" tanya Kiran sesudah mereka menyelesaikan makan siangnya. Radit berada di sampingnya.
"Sebentar lagi, mungkin masih dalam perjalanan. Kau tidak ingin makan yang lain? Mungkin es krim?"
"Kau kira aku anak kecil?! Mungkin aku yang dulu suka itu."
"Sekarang?" tanya Radit, seperti ingin tahu.
"Masih suka sih, cuma kalau lagi penat aja," jawab Kiran lugas. Kemudian ia menyadari sesuatu.
"Eh, kenapa dirimu bisa tahu kalau aku suka es krim?" tanyanya, baru sadar jika hal ini saja bahkan tidak diketahui oleh Rangga. Meski pria itu mengenalnya sejak SMA.
"Tergambar dari wajahmu," jawab Radit singkat. Kiran melengos.
Jawaban apa itu? Memang di wajahku ada gambar es krim?!
Radit melirik tangan Kiran. "Mana cincin pernikahanmu? Kenapa tidak kau pakai?" tanyanya menyadari tangan Kiran yang kosong. Hanya ada sebuah jam melingkari pergelangan tangan kirinya.
"Aku nggak suka pakai perhiasan," jawab Kiran datar.
"Itu cincin pernikahanmu! Bukan sekedar perhiasan seperti yang kau bilang!" Radit terlihat kesal.
"Dit, itu cuma cincin .... Baiklah, kedepannya akan kupakai cincin itu." Kiran tidak mau berdebat.
Senyum mengembang di bibir Radit. Senyum yang tak dilihat Kiran. "Nah, begitu. Kalau dibilangin langsung nurut."
"Baiklah Tuan Radit Makarim .... Saya akan menuruti Anda."
Radit menarik hidung Kiran. "Aku gak suka kalau kau bicara seperti itu."
Kiran mengerucutkan bibirnya. "Sakit, Dit!" protes Kiran, menepis tangan Radit. Radit tak mengacuhkannya.
"Kenapa? Anda memang Radit Makarim. Lalu?"
"Aku suamimu, Karina Hardiyanti Widjadjaaa ...!!!" Radit memberikan tekanan pada akhir ucapannya.
"Aku memang Karina. Mesti agak canggung mendengar nama itu kembali tapi aku tidak pernah marah padamu. Lalu kenapa kau marah jika kupanggil dengan nama lengkapmu?" Radit memandang Kiran tajam.
"Baiklah, aku nggak akan bicara begitu lagi. Tapi kalau sedang marah, aku gak janji," kata Kiran lagi. Ia sedang malas berdebat sekarang.
"Seenakmu saja bicara begitu! Kau pikir aku akan membiarkanmu. Kau harus minta maaf dulu padaku. Hari ini kau sudah melakukan dua kesalahan. Yang pertama kau nggak pakai cincin nikahmu. Yang kedua, kau panggil aku dengan panggilan yang nggak aku sukai."
"Hah? Baiklah ... aku minta maaf."
Iyakan saja, biar cepat.
"Minta maaf juga harus pakai tindakan. Sebagai tanda kalau kau memang merasa menyesal karena sudah melakukannya," ujar Radit menyeringai.
"Udah deh, Dit. Nggak usah lebay! Kesalahanmu padaku kan lebih banyak. Aku juga kan nggak minta yang aneh-aneh padamu."
"Ya sudah kalau begitu. Atas kesalahanku yang telah lalu, kau boleh minta apa saja. Kau mau minta apa? Mobil? Rumah? Atau apa?"
Kiran membeliakkan matanya. Merasa kaget. Pria di hadapannya ini benar-benar serius rupanya. "Sudahlah. Aku tidak ingin apa-apa darimu! Minta maaf saja sudah cukup bagiku."
"Kalau begitu kau yang tidak mau. Jangan salahkan aku yang menuntut lebih padamu."
Eh? Aku bakal rugi kalau begitu! Ketika dia salah, dia cuma minta maaf. Ketika akunya salah, dia meminta lebih dari sekedar maaf. Tidak bisa! Aku juga harus meminta lebih!
"Oke, jika kau memaksa. Aku ingin sesuatu darimu. Lebih dari yang kau sebutkan tadi. Aku mau tahu tentang seseorang ...." Kiran tersenyum penuh arti. Sekarang, dia sudah memasang kuda-kuda. Jika Radit menggigitnya, maka dengan gesit ia akan menghindar.
"Tanyakan saja. Aku akan menjawabmu dengan jujur," jawab Radit tenang. Tidak menyiratkan sedikitpun rasa keberatan atas permintaan Kiran.
Kiran akan memulai pertanyaannya. Ia akan bertanya dengan lebih detail. Ia harus tahu siapa wanita yang selama ini ada di hati Radit. Dia akan menemukan wanita itu dan memintanya agar mau menikah dengan Radit, bagaimanapun caranya.
Menikah dengan pria yang hatinya tidak dinikahi adalah hal yang sebenarnya tidak diinginkan Kiran. Ia merasa dirinya menyedihkan. Mendapatkan tubuhnya namun hatinya untuk orang lain.
Dulu, saat Ari menawarkan ingin menikahinya sebab mereka telah tidur bersama, ia tidak menyetujuinya. Karena dirinya tidak ingin Ari menikahinya secara terpaksa. Setelah ia tahu Ari mencintainya, barulah ia setuju untuk menikah dengan Ari.
Begitu juga dengan Rangga. Dirinya sampai menunggu waktu tujuh tahun untuk memastikan bahwa perasaan Rangga untuknya memanglah cinta dan bukan hanya rasa kasihan saja. Setelah ia bisa memastikan hal itu, meski ia tidak mencintai pria itu, ia tetap menerima cintanya.
Baginya, biarlah dia tidak mencintai, namun dia tidak akan membiarkan kekasihnya ataupun suaminya yang tidak mencintainya. Pelajaran dari sang papa mengajarkannya.
Begitu pun dengan Radit. Yang kini telah menjadi suaminya. Ia tidak akan tinggal diam. Ia akan berusaha mencari tahu siapa wanita yang ada di hati suaminya ini.
Setelah ia menemukan wanita itu, ia segera menikahkan mereka berdua, bagaimanapun caranya. Setelah itu ia akan bebas. Ia tetap mendapatkan status namun tidak dibebani dengan melayani suami yang hatinya menjadi milik orang lain. Dirinya diakui sebagai menantu keluarga Makarim sudah cukup membuatnya bahagia. Cukup itu saja, ia tidak ingin lebih.
"Siapa nama wanita yang kau cintai itu?" Kiran mulai bertanya.
Radit menatap Kiran dengan serius. "Karina!" jawab Radit singkat.
"Hah?!" Kiran merasa tak percaya atas apa yang ia dengar. "Siapa nama wanita itu?" Kiran mengulang pertanyaannya.
"Karina!" Radit tetap konsisten.
Apa memang namanya sama? Baiklah ..., next questions.
"Dimana dia tinggal?" Kiran bertanya lagi.
"Di hatiku!" Radit menjawab malu-malu.
Kiran menatap Radit datar. "Aku serius Radit. Kau sudah berjanji menjawabku dengan jujur."
Radit berdehem. Ia bingung harus apa. Harus sedih karena memang wanita di depannya ini sama sekali tidak peka. Atau harus senang, melihat kegigihan wanita di hadapannya mencari tahu wanita yang ada di dalam hatinya.
Yang kau cari sebenarnya adalah dirimu sendiri. Dasar!
"Baik, aku ulangi lagi pertanyaanku. Di mana wanita itu tinggal?"
"Di rumahku!"
Hah? Di rumah? Apa mungkin pelayan di rumah atau apa? Oh, atau mungkin sekarang sudah tidak ada di rumah lagi?
"Ada di mana dia sekarang?"
"Di depanku!"
Kiran memalingkan mukanya. Dia mulai kesal. "Bercanda juga ada batasnya, Dit!" katanya memasang tampang marah.
"Kau itu yang tidak mau mengerti ...." Radit mendorong pelan dahi Kiran dengan telunjuknya.
"Sekarang giliranku!" ucap Radit penuh semangat.
"Kau mau apa dariku?! Uangku nggak banyak. Nggak bisa beli mobil apalagi rumah!" Merasa curiga melihat semangat Radit.
Pasti dia ingin mengerjaiku. Terlihat sekali
dari aroma-aroma semangatnya itu ....
"Uangku sudah banyak. Aku nggak butuh itu." Radit mengibaskan tangannya.
"Jadi kau mau apa?" tanya Kiran menyelidik. Dia memutar otak. Mencoba membaca apa yang diinginkan oleh pria yang ada di hadapannya ini. Mencari kemungkinan untuk menyangkalnya.
Kiran mengernyitkan dahinya. "Apa maksudnya?"
Radit memonyongkan bibirnya lagi. Kini sudah jelas. Pria ini memberi isyarat ciuman. Kiran membelalak. "Aku harus segera menikahkanmu. Sepertinya hormon testosteronmu meningkat cukup tajam belakangan ini." Kiran menggelengkan kepalanya.
Radit melotot. "Lakukan!!" Wah, kalah sudah begini, Kiran sendiri jadi merasa seram. Aura ke'diktator'an pria itu telah terpampang nyata.
"Sekarang?" tanya Kiran berharap pria itu akan menjawabnya nanti. Tidak ada jawaban. Hanya tatapan tajam pria itu yang sedang menguncinya. Seakan benar bahwa pria ini memintanya sekarang juga. Kiran tersenyum getir.
"Tidak bisakah nanti? Ini tempat umum, Dit. Malu sama jilbabku kalau kita melakukan hal seperti itu di sini."
Kiran mencoba bernegoisasi. Meski sebenarnya tempat itu lumayan tertutup. Di tambah lagi, Bara makan siang di meja sebelum meja yang mereka tempati. Di tambah lagi ada dua pengawal tinggi besar berjaga di depan. Pelayan yang akan masuk saja harus melewati kedua pengawal tadi.
"LAKUKAN!!!" Wajah Radit berubah semakin kelam. Aura mengerikan memancar dari wajahnya.
Kiran menghela nafas berat. "Baiklah ...."
Kiran celingukan melihat ke sekitar mereka. Memang tempat mereka lebih private sih, jadi tidak dijangkau oleh pandangan mata orang lain. Pengawal itu pun fokus melihat ke depan.
Baiklah Radit Makarim .... Kalau cuma ciuman, aku kira tidak berlebihan ....
Baru saja Kiran ingin mendekatkan bibirnya pada area yang diminta Radit, suara berisik menuju tempat mereka duduk membuat ia mengurungkan niatnya. Bara masuk dan langsung mendekati Radit. Ia membisikkan sesuatu di telinga pria itu. Radit menggangguk. "Suruh saja dia masuk."
Bara mengangguk kemudian dia keluar lagi. Sekilas dia memberikan senyum mengejek pada Kiran. Seakan tahu, perbuatan apa yang akan Kiran lakukan sebelum ia masuk.
Apa dia dengar?
Setelah Bara keluar, ia masuk kembali sembari menggandeng seorang wanita tua dengan tongkat di tangan kanannya. Nyonya Tutik Hardiyanti Widjadja.
Kiran tercekat. Melemparkan pandangannya pada Radit. Seakan bertanya apa maksud dari semua ini. Radit memandangnya dengan teduh. Tatapan mengerikannya telah hilang.
"Kau harus tahu kebenarannya, Karina. Dengarkanlah dia. Dia akan memberitahukan semuanya padamu."
Radit menggenggam tangan Kiran kemudian memberi isyarat pada Bara untuk menunggu di luar. Nyonya Tutik duduk di hadapan Radit dan Kiran. Meja memisahkan mereka. Kiran menatap Nyonya Tutik dengan dingin.
"Aku pikir kau belum menceritakannya padanya, melihat tatapannya masih tidak berubah padaku. Apa Mahesa belum memberitahumu?" tanya Nyonya Tutik menatap Radit.
"Maaf, Nek. Radit ingin Karina mendengarkan langsung dari Nenek." Radit menjawab dengan sopan.
Kiran terkesiap. Nenek? Bahkan Radit pun memanggilnya nenek?!
"Lihat, suamimu sudah memanggilku seperti itu. Apa kau tidak mau memangggil seperti itu juga?"
"Maaf, Nyonya. Seperti yang saya katakan sebelumnya. Saya tidak punya Nenek bahkan sudah sejak lama ...."
Kau memang putri Kamil. Keras kepalanya bahkan menurun padamu.
Nyonya Tutik tertawa kecil. "Baiklah. Kita mulai saja. Ceritakan, apa yang kau ketahui. Kenapa kau bisa membenciku? Kenapa kau bisa memanggilku pembunuh?"
Kiran melirik Radit. Seakan meminta pertimbangan Radit. Pria itu tersenyum sambil menganggukkan kepala. Kiran menghela nafas pelan.
"Aku harus mulai dari mana? Aku sendiri tidak yakin kau mau mendengar mulai dari mana," jawab Kiran datar. Ia menegakkan punggungnya. Ia tampak sangat percaya diri.
"Mulai dari kata pembunuh," bisik Nyonya Tutik.
"Baiklah .... Akan aku ceritakan sebuah kisah tentang seorang remaja yang saat itu masih kelas dua SMA. Suatu hari remaja itu izin pulang cepat pada gurunya, berniat ingin memberikan surprise ulang tahun pada sang papa. Tak disangka di depan pintu, belum lagi masuk. Dia mendengar jika sang papa mendapat telpon dari seseorang di perusahaan, yang mengabarkan jika perusahaan yang telah mereka bangun dengan susah payah ternyata collapse."
Kiran membuat jeda di ceritanya. Mengamati raut wajah wanita tua di hadapannya yang masih terlihat tenang.
Kiran menghela nafas pelan. Ingin melanjutkan ceritanya namun dadanya bergemuruh. Kilasan masa lalu, tepat di kejadian itu membayang. Memberikan emosi berlebih pada hatinya.
Kiran menata kembali emosi itu. Ia harus terlihat tenang.
"Dan yang terjadi selanjutnya. Sakit jantung sang papa langsung kambuh mendengar cerita itu. Anak remaja itu langsung masuk dan berlari ke dalam rumah mendengar suara sang papa yang mengaduh sambil memegang dada. Di pangkuan anak remaja itu, sang papa yang ingin diberikan surprise di hari ulang tahunnya, ternyata membuat kejutan pada remaja itu dengan kematiannya."
Kiran berhenti sesaat. Buliran bening tanpa sadar sudah menetes dari matanya. Dadanya bergejolak. Emosi itu tidak bisa dikendalikannya.
"Dan kau tahu, penyebab perusahaan sang papa dari anak remaja itu hancur kenapa?" tanya Kiran tersenyum sinis.
"Karena perusahaanmu itu yang dengan segala cara berusaha untuk menghancurkannya. Tidak untuk sekali. Namun berkali-kali. Puncak kesedihan papaku karena sudah kehilangan istri yang tidak setia itu, ia juga kehilangan perusahaan yang dengan susah payah telah dibangunnya. Itu lah yang membuatnya meninggal dunia.
Menurutmu, KATA-KATA APA LAGI YANG PANTAS AKU SEMATKAN PADA PEMILIK PERUSAHAAN YANG SELALU MENGHANCURKAN PERUSAHAAN PAPAKU ITU KALAU BUKAN PEMBUNUH??!!"
Keluar semua. Emosi Kiran sudah ia keluarkan seluruhnya. Nafas Kiran turun naik. Matanya menatap Nyonya Tutik dengan tajam. Radit memeluknya dari samping. Memegang tangannya dengan erat.
Nyonya Tutik mengusap sudut matanya yang basah. "Ya, itu pantas. Bahkan sangat pantas ...."
Kiran terkesiap mendengar ucapan Nyonya Tutik. Di luar dugaan, wanita tua di hadapannya ini tidak menyangkalnya sama sekali.
".... Tapi jika memang aku yang menghancurkannya. Aku sendiri sudah lama berdiri di balik layar dalam mengelola perusahaan. Aku sudah tua untuk itu." Nyonya Tutik melanjutkan ucapannya.
"Sekarang kau mau dengar ceritaku?" tanya Nyonya Tutik menatap Kiran dalam. Kiran terdiam.
Nyonya Tutik menghela nafas pelan. Secara tenang ia bertutur atas apa yang terjadi. Semuanya. Semua hal yang sudah ia sampaikan pada Mahesa.
Kiran terperanjat. Ia menyandarkan tubuhnya pada sandaran sofa. Merasa kaget luar biasa mendengar penuturan wanita tua yang ada di hadapannya.
"A-aku ...." Kiran tak sanggup lagi meneruskannya. Ia sungguh tidak tahu lagi harus berkata apa. Dendamnya dan kebenciannya selama ini, menjadi kehilangan arah, tidak tahu lagi kemana harus ditujukan.
"Nenek tidak ingin apapun darimu. Nenek hanya ingin pengakuanmu. Cuma kau satu-satunya keluargaku. Aku cuma ingin menyayangimu, Karin ...."
❤❤❤💖
Udah cukup sampe sini dulu.
Mata udh siwer lihat tulisannya panjang banget.
Mudah-mudahan readers nggak gitu ya....😊😊😊
〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰
Jangan lupa like dan komennya plus vote bagi yang punya point.
Eh, nanti aja dink nge vote nya. Tanggung... Tanggal 18 aja baru mulai nge vote lagi ya..😁😁😁
Bagi yang gak punya kumpulin dulu. Tanggal 18, baru vote banyak-banyak. Hehehe..
Maksa amat yak..
Wokehlah kalau gitu..
Buat para readers tersayoongg..
Minum selasih di kapal tangker..
Aku ucapin terima kasih, see u next chapter..
hehehee
〰〰〰〰〰〰〰😘😘😘😘〰〰〰〰〰