Behind The Boss

Behind The Boss
Permintaan Tuan Mahesa



Saat di kantor tadi pagi, Kiran sudah merasakan tubuhnya pegal-pegal akibat tidurnya yang kurang nyaman. Merasa Radit sudah mulai baik padanya, tadinya ia akan meminta secara baik-baik pada Radit agar membolehkannya tidur di atas tempat tidur yang sama.


Hal itu akan ia utarakan setelah ia bertanya tentang pertanyaan yang diberikan Bara. Namun karena Radit menjawab dengan tidak bersahabat, situasinya juga tidak mendukung permintaannya. Maka Kiran pun menjalankan plan B, yang sudah dia persiapkan sebelumnya.


Mau tak mau Kiran bangkit dan berdiri di hadapan Radit. Kini gadis itu menekuk kaki kanan di depan, telapak kaki menghadap ke depan. Sedangkan kaki yang di belakang dalam posisi lurus dengan posisi tangan mengepal ke depan. Posisi kuda-kuda depan!


Radit mengernyitkan dahinya. "Kau ingin menantangku?"


"Siapa yang kalah, dialah yang harus tidur di sofa," ujar Kiran dengan sorot mata kesungguhan.


"Jangan kau pikir karena kau pernah mengalahkanku di TJ lalu kau merasa akan selalu menang melawanku," ujar Radit sembari menekan pelipisnya. Merasa tidak habis pikir dengan wanita di depannya.


"Tidak usah bicara. Buktikan saja!" jawab Kiran. Radit menatap wanita di hadapannya tidak percaya. Dia begitu keras kepala. Apa dia pikir, dia bisa menang melawanku?


"Baik, jika itu maumu. Aku tidak akan menggunakan semua kekuatanku. Tapi jangan salahkan aku," ujar Radit. Mau tak mau, dia harus meladeni kemauan wanita yang ada di hadapannya ini.


"Satu syarat untuk mengakhiri ini. Siapa yang lebih dulu jatuh ke lantai, dia yang kalah." Kiran mengajukan syarat.


"Oke. Aku setuju," Radit menyeringai. Masih dengan posisi tanpa persiapan. Ia sudah pernah melihat video Kiran bertarung dengan sepuluh orang laki-laki. Dia sudah mengukur kekuatan wanita itu dalam pertarungan. Dan bukan lawan yang berat baginya.


"Kau saja yang mulai. Ladies first," ucap Radit mempersilahkan.


Kiran menahan senyumnya. "Baik." Kiran berjalan satu langkah ke depan. Radit memasang strategi, apapun yang ia terima, baik pukulan maupun tendangan, ia akan memutarbalikkan semuanya untuk menjatuhkan Kiran. Tidak perlu memukul, cukup tangkis dan jatuhkan, selesai.


Baru saja Radit ingin membaca serangan yang Kiran berikan, tiba-tiba..., "Mama?!" pekik Kiran dengan mata membelalak.


Radit terkesiap kemudian menoleh ke belakang. Melirik jika memang mamanya berada di sana. Namun nihil. Pintu itu bahkan masih tertutup.


Kiran mengambil kesempatan dengan menyerang mata kaki Radit, dan ....


Buk! Pria itu jatuh seketika.


"Maaf, kau kalah!"


"Kau ...." Radit bangkit, menatap Kiran dengan sorot mata penuh kemarahan.


"Kau curang!" serunya tak terima. Rahangnya mengeras, tangannya mengepal. Wanita ini memang licik!


"Kau tentu tahu bahwa dalam pertarungan, dua hal harus diperhitungkan. Strategi dan kekuatan. Kau mungkin lebih kuat dariku. Tapi kau tak punya strategi. Jadi jangan salahkan aku atas kekalahanmu."


"Tapi kau menang dengan cara curang." Radit benar-benar tidak terima. Wanita ini, jika bukan wanita, maka mungkin akan langsung dihajarnya.


"Syaratnya cuma satu. Siapa yang lebih dulu jatuh ke lantai, dia yang kalah. Tidak ada aturan harus dengan cara apa. Setidaknya aku tidak pakai cara kotor dengan menyerang selangk*ng*nmu," ujar Kiran datar.


"Kau ini ...." Radit menggantung ucapannya. Hatinya dipenuhi dengan kemarahan.


"Maaf, tapi kau harus tidur di sofa sekarang," kata Kiran datar sembari merangkak naik ke atas tempat tidur.


"Selamat tidur dengan tenang di sana. Ambillah posisi paling nyaman," ujar Kiran dengan senyum kemenangan sembari membaringkan tubuhnya.


Radit mendengkus. "Dasar wanita murahan yang licik," gumam Radit kesal.


"Apa katamu?" tanya Kiran.


"Kau itu memang licik. Pantaslah ada orang yang tidak menyukaimu sampai Ari menjadi korban."


Kiran menegang. "Apa maksudmu?" tanya Kiran meminta penjelasan. Radit membuang muka, tak menanggapi Kiran kemudian melangkah keluar kamar.


Kiran masih tak percaya dengan apa yang Radit ucapkan. Ari menjadi korban oleh orang yang tak menyukaiku?


Meski masih diliputi tanda tanya, Kiran membaringkan tubuhnya dan menutupi tubuhnya dengan selimut miliknya. Selimut Radit ia letakkan ke pinggir tempat tidur. Apapun maksud Radit, ia harus tidur sekarang.


Tadinya ia ingin mengajak Radit untuk tidur di atas tempat tidur bersama dengannya, tapi mendengar kata-kata Radit barusan, ia pun mengurungkannya. Hatinya terluka.


Tanpa mereka sadari, sepasang mata sedang mengawasi dari lubang kecil yang ada di pintu penghubung.


❇❇❇❇


Radit menatap Tuan Mahesa dalam diam. Ia masih menunggu sesuatu yang ingin disampaikan oleh Papanya itu. Entah karena masalah tadi pagi, saat Papanya menemukan dirinya keluar dari dalam kamar Ari, atau entah karena apa. Radit masih menunggu. Duduk dengan tenang di atas kursi di dalam ruangan papanya. Mereka masih berada di kantor Makarim Group.


"Kau tahu kenapa Papa memanggilmu sekarang?" tanya Tuan Mahesa setelah lama terdiam hanya menatap Radit saja.


Radit menggeleng pelan. "Tidak tahu, Pa."


Radit sedikit terkesiap. Meski ia sudah menebak sebelumnya. Apa yang dia takutkan terjadi juga. "Radit merindukan Ari, Pa," jawaban ini memang sudah ia persiapkan sebelumnya.


"Merindukan Ari atau karena tidak mau tidur dengan Kiran?" tanya Tuan Mahesa dengan sorot mata menekan.


Sebelumnya Tuan Mahesa sudah mendengar dari Raisa, sedikit peristiwa yang terjadi di kamar Radit tadi malam. Putri bungsunya itu bercerita saat mereka sarapan setelah Radit dan Kiran berangkat ke kantor.


Pada awalnya, Raisa hanya menceritakan kekagumannya sebab telah melihat, lebih tepatnya mengintip kakak ipar dan kakaknya berkelahi, yang akhirnya dimenangkan oleh kakak ipar. Namun Tuan Mahesa bisa menebak apa yang terjadi sebenarnya.


"Dua-duanya benar, Pa." Tuan Mahesa menghela nafas berat mendengar jawaban jujur dari putranya. Ia memang harus secara perlahan menyatukan mereka.


"Kamar Ari akan Papa kunci mulai dari malam ini dan seterusnya. Siapa pun tidak akan bisa masuk pada malam hari."


Radit melirik Papanya sekilas, merasa kaget akan pernyataan sang Papa kemudian menundukkan kembali pandangannya.


"Pekan depan resepsi kalian akan diadakan. Setelah kita mengumumkan bahwa Kiran adalah istrimu, setelah itu kita harus persiapkan Kiran untuk menjadi pemimpin TJ. Maka kau harus membimbingnya."


Radit terkesiap. "Maksud Papa, Kiran yang akan memimpin TJ menggantikan Ari?"


Tuan Mahesa mengangguk dengan yakin. "Siapa yang lebih layak daripada dia? Dia putri pemegang saham terbesar di TJ. Selisih saham kita dan dia hanya sepuluh persen. Terlebih lagi dia adalah istrimu. Maka dia sangat layak berada diposisi itu."


"Memimpin bukan hanya masalah kelayakan, Pa. Tapi juga kemampuan. Dia hanya seorang sekretaris biasa. Mana bisa kita bandingkan dengan memimpin sebuah perusahaan."


"Kita juga pernah melakukannya untuk Ari. Kau tentu ingat itu? Terlebih lagi, dia juga kan yang dulu membantu tugas Ari memimpin perusahaan. Kau sendiri kan yang bilang begitu. Jadi Papa rasa dia akan sanggup."


Radit kehabisan kata-kata. Pernyataan Papa yang terakhir adalah informasi yang berasal darinya saat Papa menanyakan alasan dipercepatnya penyelenggaraan pernikahan Ari. Tak disangka, hal itu bisa menaikkan posisi Kiran pada akhirnya.


"Tapi ..., meskipun nanti dia yang memimpin. Jabatannya tetap wakil direktur. Kau tetap menjadi direkturnya. Dia harus tetap berada di belakangmu," ucap Tuan Mahesa menatap Radit dalam.


Radit menatap Papanya. Berusaha menangkap maksud dari pernyataannya.


"Kau tentu heran. Tapi untuk sekarang ini, kita harus melindungi dia. Dia tidak boleh terlalu diekspos ke depan. Dalam satu pekan ini, kalian juga harus bersama. Jangan biarkan dia keluar dari rumah sendirian. Satu lagi, jalankan sistem pengamanan tiga ring untuknya. Kita tidak akan tahu, apa yang akan terjadi setelah undangan kalian tersebar."


"Apakah akan ada yang menyakitinya, Pa?" tanya Radit.


"Kita tidak akan tahu. Lebih baik berjaga-jaga."


Radit berpikir dalam diam. Ingin ia menceritakan keterkaitan antara foto dan kematian Ari pada papanya. Namun ditahannya. Sebab masih akan diselidikinya lebih dalam.


"Papa ingin cerita sedikit masa lalu Papa. Sudah saatnya kau tahu."


"Papa lahir dari keluarga biasa saja. Tidak ada pengalaman memimpin perusahaan sama sekali. Sementara Mamamu, pewaris perusahaan TJ. Setelah Papa menikah dengan Mama, Kakekmu memercayakan perusahaan pada Papa. Karena kurangnya pengalaman. Akhirnya perusahaan dalam kondisi kritis. Pada saat itu, hanya Papa Kiran, Kamil yang mengajari Papa. Dia juga yang membuka cakrawala Papa untuk membuka perusahaan lainnya. Allah kirimkan dia untuk menolong Papa. Perusahaan kita selamat. Bahkan kita sanggup membuka perusahaan yang lain."


"Sekarang putrinya berada bersama kita. Dengan izin Allah tanpa ada janji sebelumnya Kiran datang pada kita. Tidakkah kita juga harus memperlakukan dia dengan baik? Mengingat jasa orang tuanya pada keluarga kita yang begitu besar."


"Aku tidak ingin kehilangan muka pada Kamil di akhirat nanti jika kita sampai tidak bisa memperlakukan putrinya dengan baik," suara Tuan Mahesa mengandung kesedihan mendalam. Kemudian ia melanjutkan,


"Apalagi keluarga Kiran sendiri tidak mengakuinya. Kiran juga telah yatim piatu sudah sejak lama. Ia sudah lama hidup sendiri. Sekarang dia sudah menikah denganmu, jadi Papa minta padamu. Perlakukan Kiran dengan baik. Tidak cukup dengan baik namun dengan perlakuan terbaik yang kau bisa. Papa pikir ini tidaklah sulit. Papa yakin kau pasti bisa melakukannya."


Radit tersentak. Pernyataan sang Papa barusan membuatnya bingung. Ia harus seperti apa? Haruskah ia katakan, pemahamannya tentang wanita itu pada Papa? Atau memang ia yang salah memahami Kiran?


"Radit ...."


Radit mendongak melirik sang Papa yang menatapnya dengan penuh pengharapan. "Papa yakin padamu. Selama ini kau tidak pernah mengecewakan Papa." Kata-kata itu, selalu membuat Radit tak bisa menolaknya.


"Baiklah, Pa. Radit berjanji akan memperlakukannya dengan baik," ucap Radit kemudian.


Tuan Mahesa tersenyum senang. "Terima kasih, Nak. Papa percaya padamu."


"Satu lagi yang perlu kau ingat. Ari sudah meninggal dan dia tidak akan kembali lagi. Maka perlakukan Kiran bukan sebagai calon adik iparmu namun sebagai jodoh yang sudah Papa persiapkan sejak kau masih kecil," ucap Tuan Mahesa kemudian.


"Kau boleh kembali bekerja sekarang." Radit mengangguk kemudian bangkit dan keluar dari ruangan itu.


Bantu agar mereka juga lebih dekat. Kau pasti paham maksudku.


Send. Sebuah pesan dikirim Tuan Mahesa pada Intan.


❤❤❤💖


Like, komen and vote..🤗🤗😘