
Mama Ariana dan Tuan Mahesa duduk dengan canggung. Mereka masih kaget luar biasa ketika Tina memberitahu mereka. Teman lama itu akhirnya muncul juga.
Tuan Mahesa sebagai orang yang telah tahu pasti kabar temannya itu dari putra sulungnya, hanya bisa menerka bahwa kedatangan sahabatnya itu pasti hanyalah untuk mengunjungi putrinya. Namun, apakah jawabannya jika dia juga menanyakan Radit?
"Apa kabar, Kamil? Sudah lama sekali kita tidak bertemu," sapa Tuan Mahesa, mencoba berbasa basi. Orang yang baru disapanya--Papa Kamil, masih diam tanpa ekspresi. Menjawab pun tidak.
"Kamu sudah bisa pergi, Tina ...," perintah Tuan Mahesa, melihat Tina masih tegak berdiri di tempatnya.
"Tidak! Tina harus di sini! Karena aku akan menyuruhnya untuk memanggil Karin." Kaki Tina surut untuk melangkah mendengar sangkalan tegas itu. Sekaligus lega sebab ia juga penasaran akan apa yang terjadi.
Tuan Mahesa tertawa canggung. "O, sudah pasti kamu merindukannya, ya?"
"Kenapa kamu tidak memberi kabar terlebih dahulu, Kamil. Setidaknya kami bisa menyiapkan sesuatu untuk menyambut kedatanganmu. Dan di mana Rina? Kami tidak melihatnya." Tuan Mahesa menambahkan, masih mencoba berbasa-basi, padahal hatinya sedang cemas sekarang. Kenapa Kamil datang di waktu yang tidak tepat? Apa yang akan dipikirkannya jika dia tahu tentang apa yang melanda putrinya?
Kamil tersenyum tipis. "Aku tidak ingin berbasa-basi, Mahesa. Aku hanya ingin menanyakan hal ini pada Ariana."
"Aku?" Mama Ariana bingung. Menatap Kamil dan Mahesa bergantian. "Kenapa aku?"
"Ya, tentu dirimu. Kamu lah sumber masalah ini," jawab Papa Kamil dingin. "Apakah sekarang kamu masih ingin meminta anakku untuk bercerai dari putramu lalu menikahi putramu yang lain?"
Sebuah perkataan yang seketika membuat Mama Ariana tercengang. " Ka-kamu tahu darimana?" tanya itu lolos begitu saja dari lisannya.
Papa Kamil terkekeh. "Lalu menurutmu, jika aku tidak tahu maka kamu bisa dengan sesuka hati melakukan apa saja pada putriku? Begitu?!" Matanya berubah tegas.
Mama Ariana menciut. Dia beringsut mendekati Tuan Mahesa yang duduk di sebelahnya. Mencengkram lengan suaminya seakan sedang meminta pembelaan.
"Apa yang ada dipikiran kamu, Ariana? Apa kamu pikir anakku itu piala bergilir? Apa kamu pikir dia itu tidak punya perasaan? Menurutmu pantas, kamu menyuruhnya cerai lalu menikahi pria lain? Padahal kamu itu wanita, Ariana. Seharusnya kamu yang lebih paham perasaannya dibandingkan aku yang pria ini!"
"Kamu itu sudah jadi seorang ibu, Ariana. Pantaskah pikiranmu masih seperti itu? Bagaimana jika anak perempuanmu diperlakukan seperti itu? Atau bagaimana jika itu terjadi padamu?
Sudah setua ini kenapa kamu masih saja berpikir seperti anak-anak. Masih saja egois. Bahkan kini kamu membuat putra keduamu sama sepertimu," cecar Papa Kamil panjang lebar.
Mama Ariana tidak berani menjawab. Dia pun juga bingung harus mengatakan apa. Apalagi Tuan Mahesa, dia merasa malu. Namun ia juga tidak suka melihat posisi istrinya yang begitu diintimidasi oleh kata-kata Kamil.
"Maaf, Kamil. Semuanya tidak seperti yang kamu pikirkan," sanggah Tuan Mahesa. "Aku tidak tahu kamu dapat informasi darimana tapi semuanya tidak seperti yang kamu pikirkan."
"Berhentilah membelanya, Mahesa. Aku sudah mendengar semuanya secara jelas." Kamil menaikkan satu kakinya ke atas kaki yang lain. Mencoba menyamankan dirinya dengan menyandarkan punggungnya. Ia sedang meredakan amarahnya yang bergemuruh di dalam dada.
"Secara jelas?" tanya Tuan Mahesa tidak mengerti.
Kamil menatapnya sinis, "Jika kamu ingin menutupi ini, coba sekarang kamu katakan kepadaku di mana Radit berada? Kamu tahu?"
Tuan Mahesa terdiam.
Kamil tersenyum tipis. "Kalian tidak akan mungkin tahu di mana dia karena dia pergi dari rumah. Begitu, kan? Kamu masih mau menyangkalnya?"
Hening menjeda.
"Sore tadi Radit datang dan memohon maaf padaku. Dia sudah menceritakan semuanya. Perihal kalian yang telah menyuruhnya menceraikan Kiran.
Aku sama sekali tidak menyangka pikiran kalian sesempit itu. Terutama kamu, Ariana. Kamu juga keterlaluan Mahesa. Kamu biarkan dia berbuat seenaknya."
Tuan Mahesa terperanjat, begitu pun Mama Ariana. Mereka saling berpandangan. Menyebutkan satu kata yang tak bersuara. 'Radit?'
"Tunggu dulu. Maksudnya Radit menemuimu?"
"Ya. Jadi tidak perlu kamu menutupi apa yang telah terjadi," jawab Papa Kamil tegas lalu mendesah pelan. "Aku kecewa padamu, Mahesa. Aku pikir, aku akan tenang membiarkan putriku di sini. Ternyata dugaanku salah."
"Kalian tahu. Aku sengaja merancang agar nantinya dia akan bertemu Radit. Mereka sudah saling menyukai sejak kecil. Aku tahu itu makanya aku arahkan dia agar bekerja di TJ. Aku pikir kalian akan memberikan posisi pemimpin TJ pada Radit karena itu adalah warisan papamu, Ariana. Tidak di sangka dia malah bertemu Ari dan Ari jatuh cinta padanya. Begitu, kan?"
"Malangnya dia malah tertimpa musibah saat ingin menemuiku. Lalu kalian menikahkannya dengan posisi dia yang tidak mengenali Karin. Setelah mereka saling mengenal dan memahami posisi mereka di hati masing-masing, kalian malah ingin memisahkan mereka karena Ari telah kembali."
"Kamu tahu Ariana, apa yang ada di dalam pikiranku ketika mendengar itu?"
Mama Ariana yang biasanya selalu angkuh dan tidak mau kalah jika berargumen dengan Kamil, untuk saat ini kehilangan kata-kata sebab pertengkaran dengan suaminya tadi. Ia hanya diam saja mendengarkan omelan Kamil.
"Kamu gila, Ariana. Itu lah yang aku pikirkan! Kamu tahu, kamu gila!" geram Tuan Mahesa. Matanya melirik tajam Ariana.
"Maaf Kamil. Aku pikir, untuk usia kita sekarang tidak lah pantas jika kamu berbicara begitu pada Ariana!" bantah Tuan Mahesa cepat.
"Tina, panggilkan Karin. Suruh dia kemasi pakaiannya segera dan turun ke bawah!" Perintah Kamil pada Tina membuat Ariana dan Mahesa terperanjat.
"Apa maksudmu? Jangan bawa Kiran dariku. Tidak bisa! Kamu tidak bisa membawanya. Dia menantuku. Dia putriku!" Mama Ariana menggeleng. "Pa ...." Ia menatap Tuan Mahesa, memohon pembelaannya.
"Panggil segera! Atau aku yang menjemputnya. Dan jika itu terjadi, aku pastikan dia tidak akan kembali ke rumah ini bersama menantuku!" Ketegasan yang luar biasa. Menyurutkan niat Tuan Mahesa yang ingin menyela. Tuan Mahesa mengangguk pada Tina sebagai perintah mengiyakan kemauan Kamil.
"Aku pikir kita jangan terburu-buru begini, Kamil. Apa kamu ingin kedua anak kita bercerai?"
"Bukankah itu yang kalian inginkan?!" ucap Kamil sarkas.
"Tidak. Kami memang awalnya berpikir begitu. Tapi sekarang tidak lagi. Ariana dan aku sudah sepakat. Kami tidak akan memaksa mereka lagi. Kami akan memberikan pemahaman pada Ari."
Kamil tertawa sinis. "Apa ini karena kedatanganku?"
"Tentu tidak. Kami sudah memutuskannya sebelum kedatanganmu. Awalnya kami hanya takut kejadian padamu berulang pada Radit dan Ari. Radit juga memahami itu." Terang Tuan Mahesa mencoba mendamaikan Kamil.
"Tentu kamu bisa melihat perbedaannya, Mahesa. Saat itu terjadi padaku, darahku dan darah Sandi berbeda. Itulah yang aku jaga. Aku juga memiliki amanah dari papa. Rina juga tidak memiliki kedua orang tua sehingga tidak ada yang membela kami. Dan kami terbelenggu dengan kehidupan rumit keluarga Widjadja."
"Tapi Radit dan Karin berbeda. Ari dan Radit adalah saudara sedarah. Mereka juga masih memiliki kalian yang bisa memahamkan perasaan mereka pada Ari.
Dan tentunya Karin masih punya kami sebagai orang tuanya. Aku tentu tidak akan membiarkan putriku mengalami kesedihan seperti apa yang aku rasakan dulu."
Hening sejenak hingga kemudian Kamil melanjutkan. "Kamu tidak tahu kan Mahesa, betapa sakitnya perpisahan itu?"
"Aku tahu. Sebab aku juga pernah mengalaminya. Kami pernah mengalaminya, Kamil," jawab Mahesa cepat.
"Kamu mengalaminya tapi dalam kondisi kalian yang sedang bertengkar. Kalian sama -sama marah saat itu. Sementara aku dan Rina terpisah saat cinta kami sedang melambung tinggi. Dan tentunya perpisahan merupakan pukulan berat buat kami. Begitu juga yang dirasakan Karin dan Radit. Dan parahnya hubungan mereka terpisah karena permintaan kalian sebagai kedua orang tuanya."
"Bukankah seharusnya kalian malu, Mahesa? Ada lagi yang kamu ingin katakan padaku?" Pertanyaan yang tak mampu dijawab Tuan Mahesa. Dia dan Mama Ariana sama-sama terdiam.
❤❤❤💖