Behind The Boss

Behind The Boss
Kejutan



Lusi duduk di sebuah kursi di ruang tamu rumah Bara. Kakinya sudah bisa berjalan seperti sedia kala. Ketika ia mendapati surat pemecatan kemarin, ia memberanikan diri untuk datang hari ini. Sang tuan rumah duduk di hadapannya dan sedang menatapnya tajam. Merasa sedikit risih akan itu, ia mengalihkan wajahnya, melihat ke sekeliling ruangan. Rumah itu terlihat sepi.


"Kau tinggal sendiri?" tanya Lusi, mencoba basa-basi. Bara tidak menjawab. Menatap Lusi tajam.


"Bagaimana kau bisa tau rumah ini?" tanya Bara to the point. Menunjukkan ketidaksukaannya dengan terang-terangan. Weekend ini, ia ingin menghabiskan waktu dengan mengosongkan pikiran dari pekerjaan. Kini pekerjaan itu malah mendatangi rumahnya.


"Aku pernah mengikutimu," sahut Lusi kalem.


"Dasar stalker! Apa gunanya kau mengikutiku? Nggak cukup jadi stalker Radit aja ya?!" ia mulai terlihat kesal.


"Aku nggak sengaja mengikutimu. Aku bertemu denganmu di jalan," bantah Lusi cepat.


"Lalu apa maumu sekarang? Surat pemecatan itu sudah sampai ke tanganmu kan?" tanya Bara sinis.


"Apa kamu nggak bisa ngomong nggak ngotot samaku, Bara?" Lusi berkata lirih.


"Nggak bisa! Kalau kau nggak suka, kau boleh angkat kaki dari rumahku sekarang!" sahut Bara ketus.


"Kenapa kau begitu membenciku, Bara?" tanya Lusi menatap Bara dengan tatapan minta dikasihani.


"Hei, Perempuan! Nggak usah pake drama. Aku bukan Radit yang mudah kasihan padamu. Katakan apa yang kau ingin katakan! Jika kau masih drama seperti itu, aku akan melemparmu keluar dari rumahku!" Bara malah makin melotot padanya.


"Baiklah. Kenapa aku dipecat?" suara Lusi kembali terdengar tegas.


"Hei! Bodoh juga harus tahu tempatnya! Kau sudah berbuat begitu pada Kiran, kau pikir kau akan tetap bekerja setelah kau berbuat begitu?!" Bara melengos.


"Ya, aku memang salah. Tapi aku kan sudah dipukul dan ditendang oleh wanita itu." Lusi membela diri.


"Namanya Kiran. Dia itu istri bosmu! Wanita itu ... sampai sekarang pun kau nggak sopan padanya. Kenapa juga kau masih harus bekerja di situ?! Sudah pasti kau akan melakukan tindakan licik lain lagi padanya nanti."


Lusi menggeleng. Ia menatap Bara sendu. "Aku ... Entah kenapa waktu itu aku terlalu iri padanya. Tapi aku janji, aku nggak akan begitu lagi."


"Telat!"


"Jadi, beneran aku udah nggak bisa kerja di situ lagi?" tanya Lusi lirih, berharap jika mungkin semua bisa kembali seperti sedia kala.


"Kau sudah tau jawabannya. Sedari awal Radit sudah memberimu surat perjanjian itu kan? Kenapa nggak kau pergunakan untuk memperingatimu sejak awal."


Lusi tertunduk lesu. Tak menjawab lagi.


"Aku anggap pembicaraan ini udah selesai. Sekarang pulang! Kau menganggu aktivitasku!" kata Bara bangkit dan melangkah ke pintu, memberi isyarat dengan membuka pintu depan rumahnya dengan lebar.


Lusi memandang Bara hampa. "Baiklah jika begitu. Mohon maaf telah menganggumu," katanya sedih kemudian melangkah keluar.


-


❇❇❇


Flashback On


"Apa yang ingin kau tanyakan?" tanya Sandi Sanjaya, ingin tahu kenapa Radit memintanya untuk bertemu. Mereka mengadakan pertemuan yang dirahasiakan dari Kiran, di sebuah restoran.


Radit terdiam beberapa saat. Setelah ia berhasil menyusun kata-kata yang tepat, ia menatap Sandi Sanjaya dalam. "Apa kau dalang dibalik penyerangan terhadap adikku, Ari?"


Sandi Sanjaya menaikkan satu alisnya. "Penyerangan adikmu? Bukankah dia tenggelam seperti berita yang aku dengar?"


Radit mengamati ekspresi Sandi Sanjaya dengan seksama. Menilai kebohongan atau kejujuran atas apa yang ia ucapkan.


"Aku anggap kau tidak terkait akan hal itu," katanya kemudian, mengamati bahwa reaksi Sandi menunjukkan bahwa memang dia benar-benar tidak tahu.


"Malam itu adikku membawa foto keluarga Karina bersama orang tuanya. Setelah itu dia kecelakaan dan tenggelam. Kutemukan peluru di ban mobilnya. Ada indikasi ia diserang sebelum akhirnya kecelakaan dan tenggelam."


Sandi Sanjaya menghela nafas. "Itu tidak berhubungan denganku. Aku bersumpah atas nama Allah atas itu," katanya penuh dengan kesungguhan.


"Apa kau tahu ada keluarga Widjadja lain yang mungkin melakukan itu?" tanya Radit menyelidik. Ingin ia katakan bahwa seseorang yang memiliki peluru itu terhubung dengan Sonya, tapi ia urungkan. Tidak ada gunanya jika memang pria di depannya ini sama sekali tidak tahu. Malah bisa membebani. Sementara Radit sendiri tahu, Sandi Sanjaya sedang merawat ibunya yang sakit.


"Entahlah. Aku kurang akrab dengan mereka. Bisa dibilang mereka tidak pernah menganggapku sebagai keluarga. Aku jarang berinteraksi dengan mereka," jawab Sandi menatap Radit dalam.


"Ini pertanyaan terakhir. Apa kau masih mau mengganggu Karina setelah semua kejadian ini?"


"Kenapa kau masih bertanya? Apa kau masih meragukanku? Kau kira aku berakting meminta maaf pada Karina waktu itu?" tanya Sandi tak percaya Radit masih bisa bertanya padanya seperti itu.


"Aku hanya memastikan. Dan jika kau masih seperti itu, kau pasti berhadapan denganku. Aku tidak akan ragu menghancurkan perusahaanmu jika kau lakukan itu. Meski kau adalah pamannya Karina."


Sandi Sanjaya terkekeh. "Kau tidak takut? Aku investor di banyak perusahaanmu!"


"Atas nama Nenek Tutik, bukan namamu. Apa kau pikir setelah lama tak bertemu, Nenek tidak akan berpihak pada Karina atau padaku yang menjaga cucunya?"


Sandi tersenyum kecut. "Sebenarnya tanpa kau ancam seperti itupun aku tidak akan pernah mengganggunya lagi. Aku menyesal. Sekarang aku bahkan ingin melindunginya. Jika kau izinkan, aku malah ingin mengajaknya bergabung di perusahaan kami. Perusahaan itu haknya." Sandi terlihat sedih.


Radit kemudian melayangkan pertanyaan terakhir pada Sandi. Sebuah pertanyaan yang membuat pria itu tercenung.


"Setelah kebenaran yang telah kau dengar tentang Papa kamil, jika mereka berdua, Papa dan Mama Karina masih hidup, apa kau masih ingin menghancurkan kebahagiaan keluarga mereka?"


Lama Sandi Sanjaya terdiam. Air matanya mengambang. "Tentu saja tidak. Malah aku bersyukur jika itu terjadi. Aku tidak akan menyesal hingga seperti ini."


Flashback Off


Radit mengendarai mobil dengan kecepatan sedang. Berulangkali ia melihat ke arah belakang melalui kaca spion. Memastikan bahwa tidak ada yang mengikuti mereka. Sandi Sanjaya sudah membantah jika dia dalang penyerangan Ari pada malam itu. Berarti ada orang lain lagi, mungkin dari keluarga Widjadja yang tahu keberadaan 'mereka' dan tidak ingin itu diketahui hingga dengan segala macam cara mencegah orang yang ingin ke sana.


Jalanan itu tampak lengang. Ketika melewati sungai tempat Ari tenggelam, Radit melihat sungai itu dengan sedih. Mengingat bahwa di situlah Ari ditemukan dalam kondisi tak bernyawa.


Akhirnya mereka telah sampai di sebuah rumah. Terlihat seperti rumah makan namun dalam keadaan tutup. Radit memberhentikan mobilnya di situ.


"Kita sudah sampai?" tanya Kiran tidak yakin. Untuk apa mereka ke rumah ini?


"Iya. Kita akan bertamu di rumah ini," jawab Radit tenang. Namun hatinya berdebar. Jika informasi yang Bara berikan benar. Maka memang di sinilah tempatnya.


Meski lokasinya terletak di pinggir jalan, namun dikarenakan daerah itu jarang penduduk, maka rumah itu terlihat sepi.


"Sepertinya nggak ada orangnya Dit," kata Kiran melihat sekilas rumah itu seperti tak berpenghuni. Karena pintu dalam keadaan tertutup dan tidak ada tanda-tanda orang di dalam.


"Kita ketuk aja," sahut Radit. Melangkah mendekati pintu kemudian mengetuknya dengan perlahan.


"Assalamu'alaikum ...," panggil Radit.


Setelah lama memanggil, akhirnya pintu terbuka.


Krieetttt!


Suara pintu tua berderit. Sesosok wanita menyembul keluar. Seorang wanita paruh baya dengan jilbab instannya. Matanya berkaca-kaca.


Kiran yang tadinya tak melihat ke arah pintu, begitu terdengar bunyi derit pintu, mendadak menoleh, melihat ke arah pintu itu. Ia tersentak kaget. Menatap sosok wanita itu tak percaya. Sebuah kata lolos dari bibirnya tanpa ia pinta.


"Mama ...???"


❤❤❤💖