Behind The Boss

Behind The Boss
Pelukan Hangat



"Tidak ada pilihan lain. Kita harus bermalam di sini," ucap Radit menatap Kiran dalam. Beberapa saat Kiran terdiam.


"Kenapa, kau keberatan?" tanya Radit melihat gelagat tidak terima dari Kiran.


"Aku pikir kau lah yang pastinya akan keberatan," ucap Kiran datar.


"Aku sama sekali tidak keberatan. Kita juga tidak ada pilihan lain."


"Sepertinya Nenek Sihir itu sudah diberitahu oleh papa tentang pernikahan kita."


"Darimana kau tahu?" tanya Kiran meragukan.


"Yang tahu kondisi pernikahan kita itu cuma kita, orang tua kita serta Bara. Nenek sihir itu sama sekali tidak tahu. Dengan terjebaknya kita, berarti dia sedang mendekatkan kita. Dari siapa dia tahu? Bara tidak akan mungkin memberitahunya. Ia tidak akan berani. Pasti dia tahu dari papa." Kiran hanya diam mendengarkan.


"Sebentar. Kalau dilihat dari sifat nenek sihir itu pasti ada sesuatu di sini." Radit melirik dengan teliti ke seluruh ruangan. Matanya mencari sesuatu.


"Ketemu!" katanya melihat ke arah kotak tisu yang ada di atas nakas.


Radit mengambil kotak tisu itu. Terdapat lubang kecil di salah satu sisi yang mengarah ke tempat tidur. Radit menyeringai. "Apa yang kau harapkan dari kami malam ini, Intan?!" gumamnya pelan.


Pria itu segera merusak kamera yang menempel di kotak tisu itu. Tadinya ia ingin mematikan lampu untuk melihat sensor pada kamera pengintai yang biasa dilihat jika lampu dimatikan. Mengingat sifat Intan, tentu wanita itu akan menggunakan kamera mahal sehingga kamera tidak menggunakan sensor. Beruntungnya ia segera menemukannya.


Kiran sedari tadi diam dan hanya mengamati Radit. Dirinya pun begitu kaget ketika kamera itu ditemukan.


"Lebih baik kau ganti baju aja dulu di dalam kamar mandi, sekalian mandi setelah itu sholat. Aku akan mencari kamera yang lain." Radit mencari ke setiap sudut ruangan. Belakang kaca, pintu, semua tempat tak luput dari perhatiannya.


Kiran tak mengulur waktu, langsung bergerak menuju paper bag yang ada di sudut, mengambil bagian yang menjadi miliknya. Kiran terpana. Isi paper bag itu memang baju miliknya. Hingga underware miliknya juga ada di sana. Segera setelahnya ia masuk ke dalam kamar mandi.


Begitu keluar dari kamar mandi, Kiran dapati Radit sedang duduk di atas tempat tidur. Memegang satu botol air mineral di tangannya.


"Kau sudah siap. Berikan aku handukmu." Tangan Radit terulur. Kiran menatapnya ragu.


"Nenek sihir itu cuma memberikan kita satu handuk. Lebih baik aku pakai handuk bekasmu daripada melap tubuh basahku dengan baju bekas pakai ini."


"Aku tidak keberatan. Aku hanya takut kau muntah nanti," jawab Kiran dingin.


"Tidak lucu! Sini handuk itu!" Radit merampas handuk yang ada di tangan Kiran. Handuk itu diletakkan begitu saja di lengan Kiran. Sementara tangannya memegang baju kotor yang sudah dilipat.


Radit menarik handuk itu dengan sedikit kasar hingga baju yang terlipat itu jatuh ke lantai. Sesuatu yang berada di antara baju kotor itu menyeruak keluar.


Radit melongo melihat sesuatu yang kini teronggok itu. Wajah Kiran bersemu merah. "Tidak bisakah kau mengambil sesuatu dengan baik-baik?!" ucap Kiran menahan malu.


Radit langsung ngacir masuk ke dalam kamar mandi. Sementara Kiran memunguti sesuatu itu serta pakaian kotornya dengan wajah yang merona kemudian memasukkannya ke dalam paper bag serta mendekatkannya dengan tas miliknya. Kiran menghela nafas pelan menatap sesuatu miliknya yang terjatuh tadi. ****** ***** dan bra miliknya! Kiran menutup mukanya. Kenapa aku tidak membawa paper bag itu langsung ke dalam?! sesalnya.


Tidak ingin larut dalam rasa malu yang tak berkesudahan, Kiran mengambil mukena yang ada di atas tempat tidur kemudian sholat isya.


Selesai sholat, Kiran tersentak mendapati Radit yang sudah berbaring di atas tempat tidur menghadap ke arahnya. Pria itu menatapnya. "Apa yang kau lihat?" tanya Kiran ketus.


"Kenapa tidak kau buka saja jilbabmu. Kau tidak risih menggunakan jilbab yang telah kau pakai seharian?" tanya Radit tak mengalihkan pandangan dari Kiran.


"Apa pedulimu?! Lagipula aku bosan kau katai murahan jika aku membuka jilbab. Aku juga sudah jengah mendengar perkataan bahwa aku terlihat ingin menggodamu," jawab Kiran tanpa memandang Radit. Dirinya sibuk melipat mukena yang ia pakai.


"Maafkan aku. Aku tidak akan mengatakan seperti itu lagi padamu," jawab Radit pelan.


Kiran tersentak, seketika melirik Radit. Dia minta maaf? Itu sungguh dia?


"Kenapa wajahmu begitu?" Radit kini bangkit dan dalam posisi duduk. Kiran tak menjawab. Ia menutupi keterkejutannya dengan mengalihkan pandangannya dari tatapan Radit. Ia letakkan mukena di dalam lemari gantung yang ada di dalam kamar itu.


"Tidur lah di sini. Tidak usah bingung seperti itu," ujar Radit melihat Kiran yang terlihat bingung.


"Kau tidak apa-apa jika aku tidur di sebelahmu?" tanya Kiran memastikan, menatap Radit yang kini membelakanginya.


"Hmmmm ...."


Kiran menghela nafas pelan. Secara perlahan mendekati tempat tidur dan mulai membaringkan tubuhnya di atasnya. Tubuhnya menegang. Melirik pria di sampingnya yang tidur dengan menghadap ke arahnya.


"Jangan takut, aku tidak akan memperkosamu." Mata pria itu kini terbuka. Kiran segera berbalik, membelakangi Radit.


"Kau itu biasanya cuek meskipun berbagi tempat tidur denganku. Sekarang kenapa jadi canggung begitu. Jangan-jangan kau suka padaku ya?"


Kiran melengos. "Jangan kegeeran! Itu tidak akan pernah terjadi!"


Radit tertawa kecil. "Aku hanya bercanda, Kiran."


Hening.


Kiran mulai merasa hawa dingin menerpa. Sebenarnya ia paling tidak bisa tidur tanpa selimut. Meskipun selimut itu hanya menutupi bagian atasnya. Setidaknya ada kehangatan selimut yang membalut tubuhnya, maka ia sudah bisa tidur dengan lelap.


Di kamar ini sama sekali tidak ada selimut. Hanya dua bantal yang kini telah digunakan oleh masing-masing dari mereka. Jika ada bantal satu lagi, sudah bisa menggantikan selimut yang ia harapkan. Kiran menghela nafas pelan.


"Kenapa kau belum tidur? Kau tidak bisa tidur?" tanya Radit menyadari kegelisahan Kiran. Matanya terbuka lagi. Menatap Kiran dari belakang.


"Aku tidak bisa tidur tanpa selimut," jawab Kiran pelan.


Hening.


Perlahan Kiran merasakan ada pergerakan di belakangnya. Tangan Radit melingkari pinggangnya. Menarik tubuhnya menempel pada pria itu.


"Anggap saja aku selimutmu," bisiknya lembut di telinga Kiran. Tubuh Kiran menegang. Kiran merasakan jantungnya berdetak dengan kuat sejak tangan pria itu menyentuh tubuhnya. Hawa hangat menjalari tubuhnya. Ia tak berani bersuara. Meski begitu, Kiran merasakan tubuhnya menghangat karena pelukan itu.


"Kiran ...," panggil Radit pelan.


"Hmmm ...." Kiran masih berusaha mengatasi detak jantungnya.


Eh?


"Kau dan aku sudah dijodohkan orang tua kita sejak kecil. Kau juga harus ingat itu. Kita harus merubah sikap kita satu sama lain."


Hening. Hanya terdengar nafas mereka yang berhembus pelan.


"Kenapa kau diam saja?" tanya Radit lembut.


"Aku harus bilang apa?" Kiran jadi canggung luar biasa.


"Bagaimana menurutmu?"


"Hmmm ...."


Radit tertawa kecil. "Kalau diajak berdebat kau pasti banyak bicara. Tapi kenapa begitu diajak bicara baik-baik malah tidak ada jawaban darimu. Kau ini sangat aneh," ujar Radit.


"Mungkin aku tidak bisa mencintaimu. Tapi aku akan menghormatimu sebagai istriku," Radit melanjutkan. Tak ada sahutan dari Kiran. Ada sedikit kekecewaan dalam hati gadis itu. Meski ia juga tidak mencintai Radit tapi mendengar kata 'tidak bisa mencintaimu', rasa kecewa itu memenuhi hatinya.


"Aku sudah punya seseorang dalam hatiku."


"Aku juga punya seseorang dalam hatiku," ucap Kiran tidak mau kalah.


"Siapa? Ari atau Rangga?" tanya Radit sedikit merasa penasaran.


"Salah satu dari keduanya," jawab Kiran asal. Padahal dari mereka berdua belum ada yang membuat ia merasa cinta. Cinta itu masih sama, untuk teman masa kecilnya.


"Tidak apa-apa. Asal jangan berhubungan lagi dengan pria manapun. Karena kau telah menikah sekarang."


"Baik."


Hening lagi.


"Apa kau merasa mual?" tanya Kiran.


"Sudah tidak lagi. Kenapa?"


"Apa kau begitu jijik padaku, hingga sampai muntah begitu?"


"Apa maksudmu?" tanya Radit tak mengerti.


Kiran menghela nafas pelan. "Sudahlah. Lupakan saja."


Radit berpikir sesaat. "Apa kau berpikir kalau aku muntah karena menciummu?" tanyanya. Suaranya terdengar ragu. Apa itu yang dipikirkan wanita ini?


"Jadi kau muntah karena apa lagi?" Kiran balik bertanya.


Radit tertawa kecil. "Kenapa kau bisa berpikir seperti itu?" Radit semakin mengeratkan pelukannya.


"Aku muntah karena bau buah yang tidak aku sukai. Intan memaksaku makan bolu dengan aroma buah itu. Aku tidak tahan," Radit mengaku.


Kiran berbalik menghadap Radit. Matanya menatap kedua manik mata Radit. Mencari kejujuran di kedua matanya.


"Kau tidak percaya?" tanya Radit menatap Kiran dengan sedikit geli.


"Kau mau aku buktikan. Aku bisa menciummu sekarang," ucap Radit mendekatkan wajahnya ke wajah Kiran.


Kiran terkesiap. Buru-buru ia membalikkan badannya lagi, membelakangi Radit. Wajahnya terasa panas. Jantungnya semakin bertalu dengan cepat. Terdengar suara tawa pria itu di belakangnya.


"Kau itu lucu. Meragukanku tapi tidak mau aku buktikan. Jika aku menciummu dengan mulutmu beraroma buah itu mungkin aku bisa muntah."


"Buah apa itu?"


"Buah yang berduri. Disebut sebagai raja buah. Jangan minta aku untuk menyebutkan namanya. Kau juga jangan menyebutnya jika sudah tahu. Aku sudah memakannya tadi. Aku bisa mual lagi jika mendengarnya."


Hening.


"Kiran ...," panggil Radit lagi. Bulu kuduk Kiran meremang. Suara pria itu terdengar sangat lembut.


"Hmmm ...."


"Ciuman denganmu tidaklah buruk. Sebagai suami istri kita harus mengulanginya lagi. Mamaku juga menginginkan cucu. Lambat laun kita harus melakukannya."


Deg!


Apa maksudnya ...? Tubuh Kiran membeku.


"Tenang saja. Aku tidak akan memaksamu. Kita harus melakukannya dengan sama-sama ikhlas." Tubuh Kiran melemas. Ia bernafas lega meskipun pernyataan Radit barusan membuat sedikit kekhawatiran dalam dirinya.


"Kau harus tidur. Jangan berpikiran macam-macam. Aku juga sudah mengantuk sekali."


Hening beberapa saat. Kemudian terdengar dengkuran halus di belakang Kiran. Kiran mengeratkan pelukan Radit di tubuhnya. Merasa nyaman, ia pun akhirnya terlelap.


❤❤❤❤


Pelukan hangat hanya berlaku bagi pasangan yang sudah mahrom ya genks...


Yang belum mahrom, dihindari dulu.. 😁😁😁


 


Jangan lupa like, komen n vote sayong-sayong aku..😘😘