
Rutinitas Kiran berjalan kembali seperti sedia kala saat dirinya menjadi sekretaris TJ Company. Pengelolaan agenda Radit dikembalikan lagi kepada Bara. Ia juga tetap memeriksa beberapa laporan TJ untuk selanjutnya dilaporkan kepada Radit. Pria itu hanya mengatakan bahwa itu langkah mempersiapkan dirinya menjadi direktur TJ.
Hubungan Kiran dan Radit kembali renggang. Kiran masih bersikap datar dan dingin pada Radit meski berita pemecatan Lusi sudah terdengar di telinganya. Kesal di hatinya sudah hilang namun dirinya masih merasa malas untuk berbicara pada pria itu. Jika Radit tidak mengawali pembicaraan di antara mereka, Kiran pun tak berniat untuk memulainya.
Agenda Radit pun semakin padat karena harus menggantikan jadwal meeting yang berantakan di hari senin. Alhasil, Radit selalu pulang larut setiap malam. Ia juga selalu mengendap di ruang kerjanya setelah salat subuh di lakukan.
Sesuai apa yang telah dikatakan pria itu sebelumnya, akhir pekan ini Radit mengajak Kiran keluar. Radit berkata bahwa mereka akan menemui seseorang, namun Kiran merasa tidak seperti itu.
"Kau sudah siap?" tanya Radit pada Kiran. Pria itu baru keluar dari walk in closet. Radit mengenakan stelan jeans. Celana jeans dan kaos oblong yang dibalut jaket jeans. Sebuah topi bertengger di kepalanya. Mengingatkan Kiran akan pertemuan pertama mereka. Ketika itu Kiran membuat Radit mencium lantai dengan paksa.
Kiran mengangguk. Dirinya sendiri menggunakan setelan jeans juga. Radit yang meminta. Untuk atasan, Kiran menggunakan tunik kaos.
Radit memberikan kaca mata hitam pada Kiran. "Pakai ini!"
"Untuk apa?" tanya Kiran heran. Tak ayal, ia terima juga kaca mata hitam itu.
"Biar keren," jawab Radit singkat. Membuat Kiran mengernyitkan dahinya.
Setelah sarapan bersama, Radit menyuruh Kiran menunggu di teras. Tidak berapa lama, pria itu datang dengan mengendarai motor sport berwarna black gold. Hati Kiran bergetar melihatnya. Radit terlihat lebih tampan dan gagah berada di atas motor itu.
"Mau sampai kapan kau terpaku di situ? Ayo ke sini!" Radit melambaikan tangannya, meminta Kiran mendekat.
"Pakai ini!" kata Radit begitu Kiran mendekat, memberikan helm pada Kiran.
"Kita mau ke mana sebenarnya?" tanya Kiran merasa aneh.
Mengapa menjumpai seseorang harus memakai jeans segala dan naik motor yang belum pernah dilihatnya sebelumnya. Ia hanya tahu mobil Radit yang biasanya. Tidak pernah melihat motor sport ini.
"Kita memang mau menemui seseorang. Tapi sebelumnya kita kencan dulu." Pria itu menjelaskan sambil menarik tangan Kiran agar segera naik ke atas motor.
"Pegang yang kuat ya." Radit menarik tangan Kiran agar melingkari pinggangnya. Kiran tak membantah, membiarkan tangannya melingkari pinggang pria itu.
Motor sport itu memiliki box di belakangnya sehingga mau tidak mau Kiran akan duduk merapat pada Radit.
"Ini motormu?" tanya Kiran.
"Kau pikir aku tipe orang yang suka meminjam barang orang lain?!" sahut Radit, terdengar sombong menurut Kiran. Tapi memang dia Radit Makarim. Jadi wajar jika berkata seperti itu.
"Kita berangkat ya." Radit langsung menghidupkan motor tersebut. Mereka segera meluncur keluar dari pagar kediaman keluarga Makarim.
-
❇❇❇
Angin berhembus sangat kencang. Air yang bergelombang berulang kali menyapu kaki mereka yang berjalan di atas pasir. Sengaja kaki celana mereka gulung sampai ke betis. Tangan mereka bertautan. Tak sedetikpun Radit melepaskan pegangannya pada tangan Kiran.
Pantai ini belum terlalu ramai saat mereka datang. Air pantai pun terlihat masih surut. Mereka jadi leluasa menikmati berjalan di pinggirannya.
"Kau senang di sini?" tanya Radit menatap Kiran. Mengamati ekspresi wanita itu.
"Lumayan," jawab Kiran singkat. Tak melirik Radit sama sekali.
"Kalau aku melemparmu ke situ, bagaimana ya?" canda Radit menunjuk bagian yang sedikit ke tengah. Daerah yang ditunjuk Radit lumayan dalam.
Kiran mengikuti arah telunjuk Radit. "Aku masih bisa berenang di situ. Ombaknya masih bisa kuatasi. Aku sudah pernah berlatih berenang disitu saat SMA," jawab Kiran datar.
"Luar biasa. Kau bisa segalanya ya Karina. Jadi apa yang kau tak bisa?" tanya Radit ingin melucu.
"Mencintaimu," jawab Kiran tanpa ekspresi.
Radit terkesiap. Hatinya mencelos. Menatap Kiran dalam. "Kau masih marah padaku?" tanya Radit lirih.
"Aku tipe orang yang susah melupakan ucapan pahit seseorang," sahut Kiran. Kembali ingin melangkahkan kaki.
"Kau bisa melupakan kesalahan yang dilakukan pamanmu. Tapi kenapa kau sulit untuk membuka dirimu padaku."
Kini Kiran menatap Radit. Menentang kedua manik mata pria itu. "Aku sudah cukup membuka diri tapi kau sendiri yang membuat aku jadi ragu."
Radit menghela nafas pelan. Tidak ingin berdebat lagi. Ia mengajak Kiran berjalan lagi. "Aku dulu punya keinginan mengajak istriku berjalan di sepanjang pantai seperti ini. Bayanganku saat itu, hal seperti ini pasti akan terasa manis. Tapi ternyata hal itu berbeda sekarang."
Terdengar kekecewaan dalam suaranya. Perasaan bersalah menghinggapi Kiran. Apakah dirinya terlalu berlebihan?
"Sedari awal aku sama sekali tidak tau jika akan menikah denganmu. Kita terjebak dalam pernikahan ini. Jadi, jika kau merasa kurang puas terhadapku, aku membolehkanmu untuk menikah lagi. Aku nggak keberatan sama sekali."
Radit berhenti melangkah. Dia menatap Kiran dalam. "Bukan aku yang kurang puas, tapi kau." Radit membantah.
Kiran membisu. Mengalihkan pandangan pada deru ombak yang menyatu pada desauan angin.
"Kita duduk di sana yuk." Tunjuk Radit pada bagian pantai yang tak tersapu ombak.
Kiran menurut, mengikuti langkah Radit. Mereka berdua duduk di atas pasir. Sama-sama menatap ombak yang bergulung-gulung, berlomba mengecup pinggiran pantai.
"Saat pertama kali Papa memintaku untuk menangani perusahaan. Papa menceritakan sebuah kisah padaku."
Kiran diam, mendengarkan. Matanya menatap gulungan ombak itu, tapi ia mendengarkan Radit dengan seksama.
"Papa menceritakan kisah Ali bin Abi Thalib dengan seorang Yahudi." Radit menambahkan.
Kiran sedikit terkejut. Ali bin Abi Thalib? Bukankah itu sahabat Nabi? Apa maksudnya? Kenapa menceritakan ini padaku?
"Suatu hari Ali bin Abi Thalib menjatuhkan baju besinya. Baju besi itu dikutip oleh seorang Yahudi. Yahudi itu ingin menjualnya. Namun Ali bin Abi Thalib tau dan bersikeras melarang dan berkata bahwa baju itu adalah miliknya karena ia tak pernah menjualnya. Namun Yahudi itu juga bersikeras menyangkal bahwa baju itu memang baju besi miliknya. Akhirnya mereka berdua datang pada hakim. Oleh hakim tiap dari mereka diminta untuk menunjukkan bukti kepada hakim atau menunjuk dua orang saksi."
"Yahudi itu memiliki bukti karena baju besi itu berada di tangannya. Ali tidak memiliki bukti. Dia punya dua orang saksi, budaknya dan anaknya, Hasan. Namun karena anak tidak bisa menjadi saksi bagi ayahnya, maka saksi dari pihak Ali tidak kuat."
"Kau tahu apa yang terjadi setelahnya?" Radit bertanya pada Kiran, menatap wanita itu dengan senyum manisnya.
"Ya. Yahudi itu yang memenangkan perkara," jawab Kiran. "Itu cerita masa kecilku. Untuk apa kau ceritakan padaku?" tanya Kiran merasa jika Radit mempermainkannya.
Radit tak peduli. Ia kembali melanjutkan. "Kau benar. Hakim memberi keputusan bahwa Yahudi lah pemenang saat itu. Meski Ali bin Abi Thalib adalah sepupu Nabi sekaligus menantu dan sahabatnya yang setia, tentunya sangat diyakini kejujurannya, namun hakim itu tetap memberi kemenangan pada si Yahudi. Padahal hati hakim saat itu yakin seratus persen jika baju itu miliknya Ali."
Kiran terkesiap. Ia jadi mengerti arti cerita ini. Ia merenungi apa yang Radit ucapkan. Kenapa ia jadi melupakan kisah ini sebelumnya? Kiran merasa sedikit malu karena tadi sempat merasa jika Radit mempermainkannya.
"Papa bilang padaku saat itu bahwa pekerjaan yang aku lakukan saat ini sebagai pemimpin perusahaan, nantinya akan dikoreksi oleh hakim yang disebut sebagai dewan komisaris ataupun para pemegang saham."
"Maka semua tindakan yang aku lakukan harus cermat dan hati-hati. Aku tidak boleh membiarkan orang lain mengambil kesempatan di atas ketidak hati-hatianku. Papa bilang saat itu, jika suatu saat aku melakukan kesalahan dan aku tidak bisa memberikan bukti bahwa aku yang benar maka Papa yang sudah pasti percaya padaku tidak akan pernah membelaku."
Radit memberi tekanan pada akhir kalimatnya. Ia mengawasi ekspresi Kiran yang kini merunduk.
"Begitu juga denganmu Karina. Kedepannya, bukannya kita harus selalu berprasangka buruk pada tiap orang maupun bawahan kita. Tapi demi mencegah terjadi hal buruk pada kita kedepannya lebih baik kita berhati-hati pada tiap orang."
Radit memandang lagi ke laut lepas.
"Kau akan jadi direktur utama, Karina. Setelah kau menjadi direktur nanti bukan hanya orang seperti Lusi, bisa jadi ada yang lebih licik lagi yang melakukan berbagai macam cara agar keinginannya tercapai meskipun dengan menjatuhkanmu."
"Hari itu, aku tidak membelamu. Karena aku ingin kau sadar bahwa kau telah membiarkan seseorang mengelabuimu. Sebagai seorang pemimpin yang nantinya akan mengambil banyak keputusan. Tanda tanganmu itu akan sangat berharga Karina."
"Ketika memberikan tanda tangan, harus betul-betul kita ketahui isi dokumen yang akan kita tanda tangani. Jangan pernah membubuhkan tanda tangan pada dokumen yang tak kau ketahui isinya, apalagi dokumen kosong."
"Aku pribadi sekarang, jika akan menandatangani dua kertas berbeda. Maka akan aku angkat kertasnya dan untuk memastikannya, setiap kertas akan kubaca dulu baru kutandatangani. Yang jelas sebelum tanda tangan, kita memang harus memastikan bahwa tanda tangan itu berada pada kertas yang kau tahu isinya."
Kiran menatap Radit sebentar lalu kembali menunduk. Ia jadi merasa bersalah, telah berprasangka buruk pada Radit sebelumnya. Kenapa ia begitu emosional padahal biasanya ia selalu berpikir secara logika dalam menilai apapun yang berkaitan pekerjaannya. Apa karena rasa di hatinya telah berubah untuk pria yang ada di sampingnya ini?
"Kau kecewa padaku?" tanya Kiran melirik Radit sambil tersenyum sinis.
"Aku takut kau yang kecewa padaku." Radit balik menatap Kiran hangat.
"Ternyata begini rasanya. Pantas Papa melarang Mama kembali bekerja. Aku baru tahu rasanya sekarang...." gumam Radit pelan sambil menghela nafas pelan, memandang ke laut lepas.
"Apa maksudmu?" tanya Kiran tidak mengerti.
"Dulu Mama sempat menjadi direktur TJ. Kemudian Papa melarangnya. Mungkin alasannya sama seperti yang kita lakukan sekarang." Radit terkekeh.
"Ya, aku mengerti," ucap Kiran lirih. Ia merasa malu.
"Kau harus tau Karina. Aku adalah suamimu. Apapun yang terjadi, kau akan selalu mendapat perlindunganku. Aku akan menjadi tamengmu. Namun semua itu akan berbeda, jika suatu saat aku menjadi komisaris TJ dan kau direkturnya. Jika kau ditimpakan kesalahan atas kekeliruanmu dalam menyikapi seseorang, maka aku tidak akan bisa membelamu hanya karena kau istriku. Dalam dunia bisnis tidak akan ada pembelaan seperti itu."
"Sebelumnya mungkin kau hanya seorang sekretaris. Tidak terlalu banyak yang iri padamu. Sekretaris juga tidak menentukan kebijakan. Nantinya kau akan menjadi seorang direktur. Kebijakan perusahaan berada di tanganmu. Berjalan atau tidak suatu project harus dengan persetujuanmu. Maka semua tidak akan sama lagi untukmu."
"Ya. Aku tahu."
"Kalau sudah tahu. Berarti kau nggak marah padaku lagi kan?" Radit menggoda Kiran sambil tersenyum. Kiran mengalihkan wajahnya dari tatapan Radit. Kemudian menggeleng.
"Kalau begitu ciuman yang tertunda waktu itu sudah bisa dilakukan sekarang?"
"Sekarang?" Kiran mengerutkan dahinya. Kemudian mengamati sekitar mereka yang telah ramai.
"Hahaha .... Aku bercanda, Karina .... Tapi kalau kau bisa, aku nggak keberatan," ucap Radit sambil mencuri kecupan ringan di pipi Karina.
-
❇❇❇
Radit mengemudikan mobil dengan kecepatan sedang. Mereka tidak lagi mengendarai motor sport tadi. Secara tiba-tiba Radit meminta Kiran berganti baju setelah mereka makan siang dan salat zuhur di restauran tepi pantai tadi.
Ketika berganti baju, ia ditemeni seorang wanita yang akan memakai baju yang tadi dipakainya. Setelah mengganti baju, Kiran memakai topi, lalu keluar dari restauran itu dan masuk ke dalam mobil berbeda. Motor sport mereka telah dibawa oleh sepasang pria wanita yang memakai baju mereka tadi.
Radit tidak menjelaskan apapun. Pria itu langsung mengemudikan mobil saat Kiran masuk ke dalamnya.
"Apa ada orang yang mengikuti kita, Dit?" tanya Kiran merasa sangat penasaran. Ia sudah menahannya sejak tadi.
"Aku hanya berjaga-jaga," ucap Radit masih fokus mengemudi sambil melirik ke belakang. Aman.
"Kita mau kemana?" tanya Kiran lagi. Masih penasaran. Ada apa sebenarnya.
"Kau tau, pada malam itu. Ari membawa fotomu dan tanpa sengaja menunjukkan foto keluargamu pada salah seorang temannya."
"Trus?"
"Setelah itu Ari langsung pergi ke tempat yang diinformasikan oleh temannya itu pada malam itu juga."
"Jadi apa maksudmu?"
"Kita akan menemui orang yang ingin ditemui Ari pada malam itu. Orang yang berkaitan denganmu, hingga Ari kemudian tenggelam karena itu."
Orang yang ingin ditemui Ari? Yang berkaitan dengannya? Banyak tanya berkecamuk dalam benak Kiran. Melihat Radit seperti enggan meneruskan penjelasan, Kiran pun bungkam. Ia membiarkan dirinya tetap diam dengan tanda tanya besar di benaknya.
❤❤❤💖