Behind The Boss

Behind The Boss
Sebuah Cincin



"Memang ada disiapkan tapi gaun seperti ini ...." kata Kiran sembari mengangkat gaun itu tinggi-tinggi. Radit melirik.


"Gaun ini dan ****** ***** ini. Jadi aku hanya pakai ini???" tanya Kiran sembari memegang lingerie di tangan kanannya dan ****** ***** dengan warna senada di tangan kirinya. Mengabaikan mata Radit yang membelalak serta menahan nafas ketika melihatnya.


"Hei! Bilang saja kalau kau ingin menggodaku! Apa pantas kau tunjukkan benda itu di hadapanku?!" tunjuk Radit pada tangan kiri Kiran sembari memalingkan wajahnya. Kiran memasukkan benda yang ada di kedua tangannya ke dalam paper bag dengan cepat.


"Ditunjukkan katanya aku menggodanya. Gak ditunjukkan dan langsung kupakai pasti dibilang juga aku menggodanya. Memang hidupku jadi serba salah jika sama dia," gumam Kiran dengan suara yang tidak didengar Radit.


"Apa-apaan dia itu, menunjukkan ****** ***** yang akan ia pakai dengan wajah dingin seperti itu. Apa dia tidak pernah berpikir kalau aku ini pria?" gumam Radit dengan suara yang hanya bisa didengarnya sendiri.


"Sekarang kau sudah taukan, baju inilah yang akan aku pakai. Jangan kau berpikir jika semua ini keinginanku," ucap Kiran.


"Ya aku tahu. Semua ini bukan salahmu. Ini kerjaan Nenek Sihir itu." Masih memalingkan mukanya.


"Sudah. Sudah kumasukkan. Untuk apa kau masih memalingkan muka begitu?!"


Refleks Radit menoleh kembali. Dan bersyukur luar biasa karena benda yang mengejutkan itu sudah tak tampak lagi di sana.


"Jadi, aku hanya pakai ini saja?? Aku gak biasa cuma pakai baju seksi begini meskipun cuma untuk tidur. Coba tolong kau telpon Mbak Intan untuk memberikan aku baju yang lain."


"Ya sudah. Sini ponselmu. Biar aku hubungi dia," ucap Radit sembari mengulurkan tangannya.


"Ponselku gak ada. Disita Mbak Intan," ucap Kiran datar.


"Jadi, bagaimana mau hubungi dia kalau ponselmu gak ada?!" sahut Radit kesal.


"Ya pakai ponselmu," balas Kiran.


"Ponsel aku pun gak ada juga. Disita nenek sihir itu," ucap Radit sembari melihat televisi kembali.


"Jadi ...?"


"Ya kau pakai saja baju yang tadi itu! Mau gimana lagi??!" Radit berteriak kesal.


"Kau ini ..., apa kau itu tidak capek. Setiap bicara bawaannya mau nyolot aja!" pekik Kiran ikutan kesal.


"Ini karena dirimu!" balas Radit tidak mau kalah.


"Sudahlah. Percuma bicara denganmu. Aku mau ganti baju aja dengan ini. Kalau kau gak suka. Jangan lihat aku."


"Yang mau lihat dirimu pakai baju itu siapa? Kau pakai saja. Aku takkan melihatmu," ucap Radit cuek. Kembali melihat layar televisi.


Baru saja Kiran berbalik, ingin masuk ke kamar mandi untuk mengganti bajunya. Namun ia berhenti seketika ketika mendengar suara bel pintu.


"Mungkin itu makanan kita," ucap Radit memberi isyarat agar Kiran membuka pintunya.


Kiran segera membuka pintu dan mempersilakan pelayan hotel membawa makanan yang dibawanya untuk kemudian diletakkan di atas meja. Setelah selesai, pelayan itu pun segera keluar dari kamar.


"Kita makan saja dulu. Ganti bajunya nanti aja. Kau bisa masuk angin jika terlalu lama pakai baju kurang bahan begitu," kata Radit menyuruh Kiran duduk di sebelahnya.


Kiran menurut, mendekati Radit dan duduk di sampingnya. Mereka berdua kemudian mulai makan dengan tenang.


"Kau suka film kartun ya?" tanya Kiran melihat tampilan layar di televisi.


"Jadi mau nonton apalagi? Aku tidak suka drama percintaan," jawab Radit tak acuh sembari menikmati makanannya.


"Pantas lah kau kaku begitu. Kesukaanmu aja kartun. Wajahmu pun lama-lama kulihat memang seperti kartun," ejek Kiran.


"Hei, sejak kapan kau jadi suka menghina seperti itu?" tanya Radit menatap tajam Kiran.


"Sejak aku jadi istrimu!" jawab Kiran tak acuh.


"Kau ini. Kau lihat saja wajahku baik-baik. Apa pantas wajah tampan seperti ini dibilang seperti kartun. Matamu itulah yang rabun!" sahut Radit kesal.


Kiran tak menjawab. Dia fokus pada makanannya. Karena tak ada balasan, Radit pun kembali menikmati makanannya.


"Aku sudah selesai. Aku mandi dulu ya," ucap Radit, beranjak bangun dari duduknya. Menghampiri lemari dan membuka paper bag miliknya.


"Dasar Nenek Sihir gila!!" maki Radit dari balik lemari.


"Ada apa?" tanya Kiran datar. Menghentikan makannya.


"Sudah jangan mengeluh. Pakai saja," ujar Kiran datar. Radit menutup pintunya dengan kasar.


"Hei, bagaimana kalau pintu lemari itu jadi rusak?!" ucap Kiran merasa kaget dengan suara pintu yang sangat keras.


"Terserah aku! Hotel, hotel aku! Berani mereka marah hanya gara-gara lemari, kupecat mereka semua!" jawab Radit. Kekesalannya sudah sampai ubun-ubun.


Kiran menutup mulutnya. Orang kaya mah bebas ..., batinnya sembari melirik Radit masuk ke dalam kamar mandi.


Kiran meletakkan piring bekas makanan mereka ke luar pintu. Dia tahu Radit pasti akan risih jika piring kotor itu masih ada di dalam kamar. Karena dia pun merasa begitu. Setelah Radit keluar dari kamar mandi, Kiran pun masuk ke dalamnya. Ketika berpapasan, Kiran menundukkan pandangannya saat melihat tubuh atas Radit yang terbuka.


Setelah mandi, Kiran mengamati dirinya di dalam cermin. Menatap pantulan bayangannya memakai lingerie itu dari cermin yang ada di hadapannya. Syukur saja baju ini masih lumayan tertutup. Hanya mengekspos bagian paha dan bahu.


Kiran jadi ingat saat secara tak sengaja melihat baju yang sama namun dengan model yang berbeda di situs belanja online yang dibukanya. Terdapat bolong di dada, bahan yang tipis serta transparan luar biasa. Belum lagi ****** ******** pun hanya seutas tali saja. Jikalau model seperti itu yang diberikan Mbak Intan, entah bagaimana ia harus mengangkat muka di depan Radit.


Kiran menghela nafas perlahan. Baiklah, aku akan cuek saja. Mau dilihatnya ya terserah. Tidak dilihatnya, alhamdulillah .... Mau bagaimana lagi?!


Kiran melihat belahan di samping kanan kiri yang membuat pahanya semakin terlihat. Dengan menegakkan bahunya, Kiran keluar dari kamar mandi.


Kiran berjalan dengan langkah biasa melewati Radit. Dia mengambil mukena dan sajadah yang ada di dalam lemari kemudian mulai salat isya. Tak dihiraukannya mata Radit yang membelalak seketika dan langsung menundukkan pandangannya.


Dasar wanita ini! Dengan cueknya dia berjalan di depanku dengan memakai baju itu. Baju kurang bahan begitu. Apa dia tidak merasa malu padaku?! Minimal dia harusnya kan tampak malu-malu ..., tapi jangankan malu, sepertinya pun dia tidak merasa risih jika aku melihatnya dengan baju terbuka seperti itu. Apa dia pikir jiwa kelaki-lakianku ini tidak meronta melihatnya memakai baju itu?!


Radit menggeleng pelan. Dengan segera naik ke atas tempat tidur dan menutupi tubuh bagian atasnya yang terbuka. Membalutnya dengan selimut. Membelakangi Kiran yang sedang salat di belakangnya.


Selesai salat, Kiran melirik Radit yang membelakanginya. Dengan perlahan Kiran juga naik ke atas tempat tidur dan menutupi tubuhnya dengan selimut.


"Kau jangan berharap aku akan memelukmu. Tubuhmu begitu terbuka. Aku takut gak bisa mengendalikan diri lagi."


Wajah Kiran memerah. "Saya tidak perlu dipeluk oleh Anda, Tuan Radit Makarim ...!" sahut Kiran.


"Ketika di butik Mbak Intan waktu itu, sama sekali tidak ada selimut, makanya aku terbantu dengan pelukanmu. Sekarang ini, jangankan selimut, bantal kita pun ada dua. Jadi aku bisa memeluk bantal dan menghangatkan badanku di bawah selimut meskipun tubuhku terbuka. Malah kalau kau peluk, aku akan merasa geli karna tubuh atasmu yang terbuka begitu," jelas Kiran panjang lebar. Sengaja ia menekankan kata-katanya agar Radit paham ia sudah membuat garis di antara mereka.


"Baguslah kalau begitu," sahut Radit pelan. Entah kenapa hatinya merasa kecewa. Ia pun heran, ia kecewa karena apa.


Setelahnya Kiran memejamkan matanya. Tubuhnya terasa lelah dengan prosesi resepsi yang tadi dilakukan. Belum lagi, hatinya pun merasa lelah. Menghadapi dua situasi yang menguras emosinya. Baik dari Nyonya Tutik maupun dari Rangga.


Jangan harap aku akan memanggilnya nenek. Dia tidak pantas untuk itu! Nenekku sudah mati saat Papaku mati! Kiran berkata-kata dalam hati. Merasa lelah akhirnya Kiran pun tertidur dengan posisi membelakangi Radit.


Berbeda dengan Kiran, Radit malah tidak bisa tidur sama sekali. Kilasan bayangan Kiran yang keluar dari kamar mandi dan berjalan di hadapannya kembali membayanginya. Kulit putih Kiran sangat kontras dengan warna bajunya. Bahkan kini Radit jadi penasaran dengan benda yang ada di tangan kiri Kiran tadi, yang warnanya sama dengan baju yang dipakai Kiran. Timbul keinginan untuk melihatnya. Radit menyingkirkan bayangan dan keinginan gila itu. Memaksa otaknya agar tetap waras dan tidak terprovokasi dengan hawa nafsu. Merasa tidak konsen lagi pada tontonan yang dilihatnya, Radit pun mematikan televisi dan mencoba memejamkan mata.


Malam semakin larut. Udara pun semakin dingin. Radit mencoba untuk tidur. Namun entah kenapa dia merasa gelisah. Kilasan bayangan Kiran dengan memakai baju itu kembali melintas dengan jelas. Padahal ia sudah coba untuk menepisnya, namun ternyata ia kesulitan juga. Entah karena efek jomblo terlalu lama, atau karena umurnya sudah dewasa, bayangan itu terus mengusiknya.


Padahal biasanya dia tidak mudah tergoda oleh wanita yang sengaja memakai baju seksi di depannya. Pun saat ia kuliah di luar negeri. Melihat sahabatnya memakai rok mini, ia sama sekali tidak tertarik. Namun kenapa ketika Kiran yang memakainya ia begitu tergoda.


Radit melirik Kiran yang tidur di sampingnya. Tangan Kiran yang terbuka hingga bagian lengan atasnya mengusik Radit. Ia memalingkan wajahnya lagi dan memeluk bantalnya dengan erat.


Benar-benar wanita ini. Sama sekali dia tidak risih dengan situasi seperti ini. Dia bisa tertidur pulas dengan wajah polos begitu.


Radit merasakan ada pergerakan di belakangnya. Radit tak menghiraukannya. Ia takut, jika melihat Kiran lagi bisa membuat sesuatu yang ditahannya meronta. Radit masih mencoba untuk bisa tidur. Seketika ia tersentak saat tangan Kiran melingkari pinggangnya. Tubuhnya menegang.


"Raksasa ...," bisik Kiran sembari mengelus perut Radit. Pria itu terkesiap. Raksasa? Apa maksud wanita ini?


Suara helaan nafas Kiran terdengar kecewa. Kemudian bergerak lagi, menjauh, dan tidur membelakanginya.


Berani-beraninya dia mengelus perutku. Kalau aku bilang besok pagi, pasti dia akan menyangkal ucapanku. Radit terus berkata-kata dalam hati. Hingga tanpa sadar ia tertidur juga.


❇❇❇


Radit melangkah cepat masuk ke dalam kamar mandi. Perutnya mulas luar biasa. Alarm jadwal pembersihan perut setiap pagi memanggilnya.


Setelah selesai, Radit menyeka wajahnya dengan air. Ia merasa segar kembali. Radit meraih sabun cair yang berada di atas wastafel namun ia terusik pada sebuah benda dingin yang ada di belakang sabun cair itu. Sebuah cincin kecil yang jadi mainan dari sebuah kalung.


Cincin kecil? Bentuknya ....


Radit meraih cincin itu dan mengamatinya. Ia begitu terkesiap saat tahu bahwa cincin itu adalah cincin yang seingatnya dulu ia berikan pada Karina. Radit mengamati bagian dalam cincin tersebut. Benar saja inisial RK terukir di sana.


❤❤❤💖