
Hari ini adalah hari yang sangat membahagiakan bagi Erlangga.
Ya, hari ini, dia melangsungkan pernikahan dengan sang pujaan hati, yaitu Nala.
Pernikahan diselenggarakan di gedung milik keluarga Armadja. Kebanyakan tamu yang hadir adalah rekan bisnis Erlangga juga kedua kakak serta ayahnya.
Juga keluarga dari ibunya yang juga merupakan konglomerat. Apalagi sang nenek yang memiliki butik paling terkenal di kota itu.
Banyak berita yang beredar mengenai Erlangga dan sejarah mereka bertemu. Erlangga menceritakan awal mula dirinya dan Nala bertemu. Mulai dari menyamar sebagai orang biasa dengan wajah minus, hingga saat dia berkenalan dengan Nala. Tidak ada cerita mengenai Adnan karena Erlangga tak mau mengungkitnya. Dia hanya tidak mau hidup mereka diganggu lagi oleh Adnan. Apalagi Nala yang trauma berat dengan pria bangkotan itu.
Sementara para pekerja di anak perusahaan tempat dulu Erlangga menyamar cukup terkejut dengan berita ini. Mereka sama sekali tidak tahu jika Erlangga adalah anak konglomerat. Bahkan namanya adalah nama almarhum pendiri perusahaan Armadja.
"P-Pak, jadi di-dia itu anak pemilik perusahaan ini? Bagaimana ini, Pak? Apa kita akan dipecat?" tanya Bobi dengan tatapan penuh ketakutan dan diikuti anggukan dari Luki.
"Ya kalau kita dipecat, kita hanya perlu mencari pekerjaan baru," ujar Handi dengan tatapan datar.
"Apa Bapak tidak tahu jika kita dikeluarkan dari perusahaan ini, maka kita akan kesulitan mencari pekerjaan di tempat lain. Contohnya mantan direktur di sini, Pak Vian. Saya dengar sekarang dia menjadi seorang penjual minuman di pinggir jalan karena tidak ada perusahaan yang mau menerimanya bahkan di posisi paling rendah sekalipun." Bobi semakin dihantui rasa takutnya akan kehilangan pekerjaan dari perusahaan ini.
"Bukankah kau temannya? Apa kau pernah membuatnya marah?"
"Tidak, Pak, tapi aku sering mengejeknya saat bercanda."
Bobi mencoba untuk berpikir positif di tengah rasa khawatirnya. Hingga tiba-tiba seorang kepala HRD memanggil mereka dan meminta mereka untuk datang ke ruangannya.
"Pasti kita akan dipecat, Pak."
"Sudah, jangan khawatir. Berdoa saja semoga kita menerima kabar baik." Meskipun Randi terlihat tenang, namun di hati kecilnya dia tetap merasa khawatir akan dikeluarkan dari perusahaan ini. Bagaimana dia akan memberi makan anak istrinya jika setelah ini dia tidak mendapatkan pekerjaan lain.
"Sekarang kalian pulang. Ini surat untuk kalian," ucap kepala HRD yang bernama Dafa.
"Pak, saya mohon, jangan pecat saya. Saya punya anak dan istri. Mereka mau makan apa, Pak?" Tiba-tiba saja Handi memohon pada Dafa untuk tidak memecat mereka. Dia mengira bahwa surat yang mereka terima adalah surat pemecatan.
"Bicara apa, kau? Siapa yang memecatmu! Saya menyuruh kalian semua pulang dan membawa kertas ini karena kalian harus bersiap-siap. Satu jam lagi mobil yang akan membawa kalian ke kota datang. Ini adalah surat undangan khusus dari Erlangga untuk kalian! Kalian harus datang ke pernikahannya dengan syarat tidak boleh membawa apapun untuknya atau kalian akan benar-benar dipecat."
Ketiga orang itu pun bingung dan hanya bisa saling pandang. Ternyata surat itu adalah undangan yang diberikan pada Erlangga untuk mereka agar mereka datang ke pernikahannya hari ini. Bahkan mereka akan dijemput dengan mobil pribadi dari anak konglomerat itu.
Mereka pun mengangguk senang dan menerima surat itu. Namun, ketika mereka hendak pergi, Dafa kembali memanggil mereka dan memberitahukan mereka satu hal.
"Setelah kalian sudah pulang, jangan gunakan pakaian itu lagi! Pakai seragam ini!" Dafa memberikan paper bag yang masing-masing diberikan untuk mereka.
Saat dibuka, ternyata paper bag itu berisi seragam untuk karyawan di bagian inti, bukan lagi cleaning service. Dan lagi, Handi juga diangkat di posisi paling tinggi di antara mereka. Karena katanya, Erlangga membutuhkan orang yang disiplin sepertinya. Ah, syukurlah, ternyata mereka tidak dipecat oleh Erlangga dan malah mendapatkan kenaikan jabatan.