
Flashback On
"Kau bebas menghukumku. Kau mau apa untuk menebus semua dosaku pada kalian? Silakan saja, aku siap sekarang."
Gadis itu terdiam beberapa saat. Matanya menatap Sandi Sanjaya dingin. Pria itu sudah mempersiapkan diri untuk ini. Saat ia meminta gadis itu untuk menjenguk mama, dirinya sudah siap.
Namun kata-kata yang diberikan gadis itu kemudian membuat ia terhuyung ke belakang. Sebuah kata yang tidak ia sangka sama sekali. Sebuah kata yang mungkin terlalu kejam diberikan padanya yang telah begitu banyak melakukan kejahatan pada keluarga kecil mereka.
"Papa selalu memintaku agar jangan membenci Paman. Untuk itu, aku tidak akan melakukan apapun. Aku memaafkan Paman. Ini cuma salah paham."
Bagai petir di siang bolong, kalimat yang meluncur itu membuat Sandi berlutut tanpa sadar. Gadis itu kemudian menyentuh bahunya dan pergi keluar ruangan. Sandi terperangah. "Kakak ..., dirinya bahkan sudah mewanti-wanti pada anaknya untuk tidak membenciku. Sebenarnya sebesar apa rasa sayangmu padaku, Kak?" lirihnya. Air matanya telah mengalir, membanjiri wajahnya.
Flashback Off
Sandi memegang foto lama keluarga mereka dengan tangan gemetar. Kejadian tadi mengantar langkahnya masuk ke ruangan ini. Kamar Kamil, kakaknya.
Di dalam foto itu terdapat Papa, Mama, Kakak dan dirinya. Mereka tampak bahagia. Foto itu dibuat saat mereka berkunjung ke salah satu tempat wisata. Foto itu di ambil terakhir kali sebelum akhirnya Papa Didi meninggal dunia.
Kini tatapannya mengarah pada satu sosok. Kamil. Bahunya mulai bergetar. "Terbuat dari apakah hatimu sebenarnya Kak? Kenapa kau bisa begitu berbesar hati menghadapiku?" gumamnya pelan. Titik air itu mengalir lagi.
Tak tertahan sampai di situ. Kini foto itu didekapnya. Dia berlutut di samping nakas. Mengeluarkan suara isak tangis yang memenuhi ruangan itu.
-
❇❇❇
"Kau datang Karina ...? Kau datang menjenguk Nenekmu? Kau sudah tidak membenciku, Cucuku?" kata wanita tua itu lirih.
Kiran terperangah. Tubuh Nyonya Tutik lebih kurus dari terakhir kali mereka bertemu. Matanya terlihat cekung. Wajahnya pucat. Seperti tidak ada sinar kehidupan di sana. Tanpa bisa dicegah, buliran bening itu langsung meluncur menuruni pipi mulus Kiran.
"Iya, Nek. Karina sudah datang. Karin nggak akan membenci Nenek lagi. Maafin Karin Nek," ucap Kiran saat sudah berada di dekat wanita tua itu.
Nyonya Tutik tampak tersenyum senang. "Sini. Duduk di sini," katanya. Menunjuk tepi ranjang, dekat dengan posisinya yang juga sudah duduk dengan kepala beralaskan bantal.
Kiran menurut, menempati posisi yang diinginkan Nyonya Tutik. Wanita tua itu kini meraih tangan Kiran dan menempatkan dalam genggamannya.
"Bagaimana kau melalui hidup selama ini? Apa kau kesepian? Apa kau selalu menangis? Ceritakan semua pada Nenek. Biar Nenek tahu harus membalas seperti apa."
Kiran tak sanggup lagi. Ia menarik tangannya dari tepukan lembut tangan Nyonya Tutik. Tangannya kini diposisikan menutupi wajahnya yang sudah banjir akan air mata.
Dia menggeleng pelan. "Karin baik-baik saja, Nek. Tidak ada yang harus dibalas. Karin baik-baik aja," katanya, kemudian menutupi wajahnya lagi dengan kedua tangan.
Tangisannya sudah tak terbendung. Ia merasa sesak mendengar kata-kata Neneknya tadi. Seluruh rasa sakitnya selama ini seakan menghilang.
Melihat cucunya menangis, Nyonya Tutik jadi tidak bisa membendung air matanya. Begitu juga dengan Asih, asistennya. Mereka berurai air mata.
"Sudah. Kau tak pantas menangis. Memang kami yang salah. Aku salah karena menuruti Suami dan anakku. Hingga menyeretmu dalam pusaran masalah ini." Nyonya Tutik menepuk paha Kiran dengan perlahan.
-
❇❇❇
Kiran duduk membisu di dalam mobil. Matanya lumayan bengkak. Dia menangis cukup lama di kamar neneknya tadi. Mendengar ucapan sang nenek dengan keadaan seperti itu membuat hatinya tersayat.
"Bagaimana perasaanmu sekarang?" tanya Radit sambil mengendalikan mobil dengan kecepatan sedang. Ia sengaja meninggalkan Kiran sendiri ketika masuk ke dalam kamar Nyonya Tutik. Ia hanya melihat dari jauh. Begitu pun ia ikut merasakan suasana haru yang menguar di dalam kamar itu.
"Seperti yang kau lihat."
"Keputusanmu untuk memaafkan mereka sudah benar."
Radit menangkup tangan Kiran sebentar. Kiran sedikit terkejut. Melirik Radit yang melemparkan senyuman padanya.
"Sekarang kau jadi suka tersenyum ya?"
"Kau melihatnya ya? Aku terlihat lebih tampan kan jika tersenyum?" Radit malah balik bertanya.
"Kau juga sekarang narsis dan suka menggoda ya?"
"Ah iya. Aku hampir melupakan sesuatu."
"Apa?"
"Pekan depan aku akan mengajakmu pergi menemui seseorang."
Kiran menaikkan satu alisnya. "Siapa lagi?"
"Kau akan tahu nanti. Kalau kita temui sekarang, aku takut matamu akan bengkak seperti mata panda nanti."
Kiran melengos. "Gak lucu."
"Hahaha, iya. Memang gak lucu. Kalo gitu kita lakukan yang lucu saja. "
"Hah? Apa maksudnya?" tanya Kiran tak mengerti. Radit tak menjawab. Ia menarik senyum penuh arti pada Kiran sambil mengemudikan mobilnya dengan lebih cepat.
-
❇❇❇
Melakukan yang lucu itu ternyata mengajak dirinya ke bioskop untuk nonton salah satu film kartun. Padahal matanya masih sembab. Alhasil demi menutupi kebengkakan di matanya, Radit memberikannya sebuah kaca mata hitam. Memang cukup lucu, masuk ke dalam bioskop menggunakan kacamata hitam. Kiran tersenyum geli dalam hati.
Lebih lucu lagi karena mereka duduk di tempat paling atas dengan dua deretan bangku di depan dan di sampingnya di biarkan kosong. Karcisnya sudah diborong Tuan Radit Makarim melalui Bara. Pria itu membooking lewat salah satu aplikasi di ponsel.
Tadinya Radit ingin membooking satu teater khusus mereka. Tapi karena Kiran menentangnya. Bukan nonton bioskop kalau tidak rame, begitu alasan Kiran. Barulah keputusan sang direktur utama bisa berubah. Hanya membooking beberapa bangku saja dan syukurnya masih bisa dirubah. Karena Kiran akhirnya tahu saat Bara belum membooking semua tempat duduk itu.
Ajaibnya, sudah mereka duduk terpencil, Radit juga memintanya duduk di sudut. Perintah itu tak terbantahkan karena ancamannya jika Kiran tidak menurutinya, pria itu akan menggendongnya untuk duduk di posisi itu. Dengan menghela nafas pelan, Kiran akhirnya mengalah. Semua ini memang lucu, batinnya.
Film pun di mulai. Meski sebenarnya Kiran kurang suka kartun, namun film yang dipilih Radit ini memang banyak ilmunya. Kiran jadi menikmati setiap aksi di film tersebut.
Sekilas ia melirik Radit yang tampak fokus menatap ke depan. Saking fokusnya, makanan dan minuman yang sudah mereka beli tak disentuh pria itu.
Seperti banyak film pada umumnya. Film kartun ini juga mengandung cerita yang dibuat tidak melulu pada aksi dan komedi. Sisi percintaan juga diselipkan di dalamnya. Percintaan yang dilakukan oleh sang tokoh utama.
Film itu kini sampai pada saat sang tokoh kartun pria sedang merayu kartun utama wanita. Setelah berhasil merayu, seperti kebanyakan yang terjadi, adegan itu telah terpampang nyata.
Kiran berpura-pura mengalihkan perhatiannya pada minuman yang ia pegang. Ia menghisap minuman itu dengan perlahan sambil menundukkan kepala. Pada saat yang sama Radit mengamatinya. Entah sejak kapan kepala pria itu mendekat pun ia tak tahu. Hanya hawa panas dingin yang entah kenapa mengalir di tubuhnya. Sesaat kemudian wajah mereka menyatu.
Karena mereka berada paling atas, plus di sudut. Dan dalam keadaan minim cahaya. Kiran menduga bahwa mungkin tidak ada orang yang tahu atas apa yang mereka lakukan. Meski pikiran dalam keadaan menduga, Kiran ikut terhanyut dalam kelembutan yang Radit berikan.
"Manis," ucap Radit setelah menarik kepalanya, menjauh. Ia menatap wajah Kiran yang diduganya pasti bersemu merah. Nafasnya saja masih belum teratur, pikir Radit.
"Dulu aku hanya mendengar ini dari teman-temanku. Kala itu aku merasa hal ini sangat lucu. Tapi entah kenapa aku jadi ingin melakukan ini juga bersamamu."
"Y-ya. I-ini memang lucu. Tapi aku nggak suka yang lucu," jawab Kiran terbata pada awalnya, masih dengan tatapan terkejutnya.
"Oh, ya. Tapi Karin, setelah dilakukan ternyata nggak buruk juga, ya. Bagaimana kalau sekali lagi?" tanya Radit tersenyum smirk.
Belum sempat menjawab, kepala Radit sudah mendekat. Wajahnya menutupi wajah Kiran. Menyisakan mata gadis itu yang kini membelalak dengan sempurna.
❤❤❤💖
Ya Allah Radit...
Begitu dibilang lucu. Pikiran situ yang lucu. Udah yang ditonton kartun tapi aksinya film romantis.
Begitupun buat para readers..
Jangan ditiru tingkah Radit ini ya. Apalagi bagi yang belum halal. Belum boleh... hehehe.
Kalo yang udah halal? Yah, tetap malu sih, ya. Lebih enak juga di rumah, ya kan...
Oke lah.. Kita lanjut next chapter...😉