
Acara sudah selesai ketika MC menutupnya dengan salam. Kiran langsung dibimbing oleh dua orang asisten Intan menuju salah satu kamar di hotel itu. Radit masih berada di ballroom melayani satu dua orang tamu yang tersisa. Akhirnya, menjelang maghrib para tamu sudah pulang semua.
"Apa yang dibicarakan Kiran dengan neneknya, Dit?" tanya Tuan Mahesa setelah mereka sholat maghrib berjamaah di salah satu ruangan di dalam hotel.
"Sebenarnya apa yang terjadi pada keluarga mereka, Pa. Kenapa Kiran memanggil neneknya dengan sebutan seperti itu?" tanya Radit. Tuan Mahesa membimbing Radit untuk duduk di sudut ruangan.
"Panggilan seperti apa rupanya, Dit?" tanya Tuan Mahesa ingin tahu.
"Dia memanggil neneknya dengan sebutan nyonya. Panggilan itu bahkan tidak berubah meskipun Tuan Sandi Sanjaya mengingatkannya untuk memanggil nenek."
"Begitu ...," ucap Tuan Mahesa seperti tidak heran mendengarnya.
"Kiran bahkan menyebut neneknya sebagai pembunuh, Pa."
Tuan Mahesa tersenyum tipis. "Sepertinya dia juga menebak ke sana ya ...."
"Apa maksud Papa?" tanya Radit, menaikkan satu alisnya.
"Papa pikir waktu Kiran cerita ke Papa pada waktu itu, dia belum punya dugaan siapa pelakunya. Ternyata Papa salah. Sepertinya dia sudah menebak ke sana." Radit menaikkan satu alisnya.
"Dugaan Papa dan dia juga belum tentu benar. Jika penasaran, sebaiknya kau tanyakan langsung padanya. Dia kan istrimu. Kau harus tahu latar belakang dan kehidupannya. Tapi, Dit ..., apapun yang dia katakan, kau harus membimbing dan mendukungnya. Ingatlah selalu bahwa kau harus ada selalu berada di depannya dalam menghadapi setiap masalah. Jangan biarkan dia menghadapi semuanya lagi sendiri."
Radit menatap sang Papa dalam. Merenungi kata-kata sang Papa. "Baik, Pa," jawab Radit kemudian. Sesaat setelahnya Radit ingin mengatakan sesuatu pada Tuan Mahesa namun ia tampak ragu.
"Kenapa? Ada yang ingin kau sampaikan lagi pada Papa?" tanya Tuan Mahesa menangkap ekspresi skeptis Radit.
"Hal ini memang belum terlalu jelas, Pa. Bara juga masih menyelidikinya. Tapi dari bukti atas kematian Ari, secara perlahan mengarah pada orangnya keluarga Widjadja. Terlebih lagi orang yang sangat dekat dengan Nyonya Tutik dan Tuan Sandi Sanjaya. Apa mungkin ...." kata Radit ragu-ragu sambil memandang sang Papa.
Tuan Mahesa terkesiap. "Maksudmu Ari dibunuh???!"
"Mungkin bukan pembunuhan tapi mereka hanya ingin menghalangi Ari menyingkap sebuah rahasia. Terbunuhnya Ari itu sepertinya di luar rencana mereka," jawab Radit.
"Darimana kau dapatkan asumsi itu?? Kenapa baru bilang pada Papa sekarang?! Dan siapa orang itu?!" pekik Tuan Mahesa. Radit melihat ke sekitar mereka. Tampak beberapa pelayan sedang membereskan sisa acara, terlihat tak acuh pada mereka.
"Semua masih belum jelas, Pa. Kami juga masih menyelidikinya," jawab Radit tenang.
Tuan Mahesa menghela nafas pelan, tampak kecewa. Radit menatap Tuan Mahesa dalam-dalam. "Radit tidak ingin menyembunyikannya, Pa. Hanya saja semua belum jelas. Kami hanya berasumsi berdasarkan penemuan di lapangan. Radit memang berkeinginan menjelaskan pada Papa jika semuanya sudah jelas."
Tuan Mahesa menepuk bahu Radit pelan. "Papa percaya padamu. Mulai besok, pindahlah ke TJ. Kau bisa mempersiapkan kepemimpinan Kiran secara langsung. Besok malam temui Papa di ruang kerja. Kita bicara di sana."
"Baik, Pa." Radit mengangguk.
"Malam ini, jalani saja yang sudah dipersiapkan oleh tantemu. Jangan membantahnya karena semua itu ide dari Papa."
Radit sedikit terkejut. Ia mencium aroma mencurigakan dari kata-kata papanya barusan. Begitupun ia tetap menganggukkan kepalanya di hadapan Tuan Mahesa.
-
❇❇❇
"Ini kamarnya?" tanya Radit pada Intan yang tersenyum tipis menatapnya.
"Iya. Yang jelas malam ini kau harus menginap di sini. Habiskan malam pertamamu bersamanya. Semua kebutuhanmu dan Kiran sudah kupersiapkan. Aku akan meninggalkan dua pengawal untuk berjaga-jaga di sini. Jadi, jangan keluar hingga besok pagi kecuali saat Bara datang untuk menjemputmu." Intan menjelaskan sembari menatap Radit tajam.
"Kali ini aku akan menurutimu. Jadi mana ponselku?" tanya Radit menatap pintu yang ada di hadapannya.
"Malam ini kau harus bebas dari ponsel dan gangguan apapun."
"Ya sudah. Sekarang cepat buka pintunya," kata Radit memberi isyarat pada Intan.
"Kau tekan saja belnya. Kiran sudah ada di dalam," ujar Intan memberikan senyum menggoda.
"Segera kirimkan makanan. Aku lapar. Aku belum sempat makan tadi karena kau sudah mendorong aku untuk pergi ke kamar ini."
Intan tersenyum penuh arti. "Aku memang sudah menyiapkan makanan penuh cinta buat kalian."
Radit menatapnya tajam. "Asal jangan kau campurkan sesuatu pada makanan yang kau bilang penuh cinta tadi. Kalau itu sempat terjadi, habislah butikmu itu!" ancam Radit. Intan sesaat bergidik ngeri.
"Kau tenang saja. Kau kira aku akan melakukan apa? Aku senang jika kau berproses sendiri seperti waktu itu," ucap Intan mengerlingkan matanya pada Radit.
Radit tak mengacuhkannya kemudian menekan bel yang ada di samping pintu. Sesaat kemudian pintu kamar terbuka. Ketika Radit masuk ke dalamnya, Intan melangkah menjauh darinya sembari mengelus dadanya perlahan.
Aku harus menghentikan pelayan yang kusuruh tadi untuk mencampurkan obat itu ke dalam makanan mereka. Jika tidak, si jutek itu pasti akan marah padaku..., batin Intan melangkah cepat melewati dua orang pengawal yang berjalan menggantikannya berdiri di pintu kamar tadi.
-
❇❇❇
Radit langsung masuk ke dalam kamar mandi dan mencuci tangannya. Hatinya masih bertanya-tanya akan perkataan papanya tadi. 'Jalani yang sudah dipersiapkan ....'
Apa yang sudah mereka rencanakan? Apa berkaitan dengan keinginan untuk memberikan cucu? Seketika wajah Radit bersemu merah. Kilasan bayangan di mana dirinya dan Kiran berciuman hingga tangannya yang bergerak begitu saja kembali melintas.
Kiran berdiri di sisi tempat tidur saat Radit keluar dari kamar mandi. Radit melonggarkan dasinya kemudian melepas jasnya lalu meletakkannya di gantungan yang ada di dalam lemari.
"Apa kau lapar? Sebentar lagi mereka akan mengirimkan makanan," ucap Radit sekilas melirik Kiran yang mengamatinya.
"Aku lelah sekali memakai baju ini. Apa aku sudah boleh membukanya?" gumam Kiran.
Radit menggulung lengan kemejanya menjadi tiga perempatnya. "Buka saja. Intan bilang dia sudah menyiapkan semua keperluan kita. Kau ganti saja gaun itu jika memang tidak nyaman."
Radit duduk di kursi yang ada di dalam kamar, menyalakan televisi kemudian memilih saluran yang menarik minatnya.
"Kenapa kau terus memandangiku? Apa aku terlalu tampan hari ini hingga kau terus menatapku seperti itu?" tanya Radit dengan mata masih fokus pada layar televisi. Menyadari Kiran yang terus menatapnya.
Kiran memcebikkan bibirnya. Seketika ia teringat pada Ari yang pernah ia panggil tampan dulu. Hatinya menjadi gerimis seketika.
"Kenapa wajahmu jadi murung begitu? Kau teringat nenekmu?" tanya Radit melirik Kiran sekilas sembari masih memutar saluran televisi.
"Jangan berkata hal yang tidak mungkin. Kata-katamu barusan hanya mengingatkanku pada Ari," jawab Kiran.
Hening sesaat. Kiran terlihat berpikir dalam diam. Meski ragu akhirnya Kiran memberanikan diri berucap.
"Radit ..., malam ini ...."
"Tenang saja! Aku tidak akan menyentuhmu!" potong Radit cepat. Kiran tampak bernafas lega. Kata-kata Intan yang membayanginya sedari tadi hilang seketika.
Malam ini adalah malam kalian. Kau harus selalu mengingat bahwa Radit adalah suamimu. Maka, apapun yang terjadi malam ini, kau harus tetap mengingat itu.
Sekarang Kiran dapat menghapus kata-kata itu dari ingatannya. "Syukur kalau begitu. Baru saja aku ingin mencegahmu jika kau sampai akan melakukan itu padaku. Sedari awal aku memang selalu percaya padamu. Kau kan orang yang memegang kata-kata dengan teguh. Mana mungkin kau yang baru saja bilang tidak akan melakukan tindakan lebih jauh kemudian akan melakukan itu padaku."
Radit melirik Kiran kemudian menatapnya dalam. "Padahal aku menyesal telah mengatakan itu padamu."
Kiran terkesiap kemudian menatap kedua manik mata Radit. "Maksudmu?"
"Dengan kata-kataku itu, kau pasti berpikir bahwa aku menilai kaulah yang menginginkan itu. Itu yang membuat aku menyesalinya. Sejujurnya aku juga heran kenapa bisa lepas kontrol begitu padamu."
Kiran menunduk dalam. Wajahnya bersemu merah. Kata-kata Radit membuat lintasan bayangan saat itu hadir kembali. Seketika hangat menjalari tubuhnya.
"Aku sendiri juga heran. Kenapa aku diam saja saat itu. Aku tak bisa melawanmu dalam waktu lama. Padahal kau itu selalu mengejekku. Bagiku kau itu kasar, tapi anehnya aku malah jadi nyaman padamu."
"Aku juga merasa nyaman padamu," sahut Radit. Kiran terkesiap. Mata mereka bertemu. Sesaat mereka terdiam.
"Kau mirip salah seorang yang aku kenal!" Kiran dan Radit sama-sama kaget karena telah berbicara di waktu yang sama dengan kalimat yang sama.
Sesaat mereka terdiam lagi. "Kau mirip teman masa kecilku!" ucap mereka lagi secara bersamaan.
"Kenapa kau mengikutiku!!" pekik mereka bersamaan lagi.
"Kau yang mengikutiku bukan aku!" lagi, masih bersamaan. Sesaat mereka terdiam kemudian saling membuang muka, menahan tawa.
Radit menutup mulutnya, memberi isyarat pada Kiran untuk berbicara lebih dulu lewat anggukan kepalanya. Tapi Kiran menggelang pelan, dan mempersilakan Radit yang lebih dulu bicara dengan isyarat tangan. Radit menggeleng dan memberi isyarat pada Kiran untuk memulai lebih dahulu. Kiran menggeleng, mempersilakan Radit.
"Sudahlah, kau ganti baju saja sana! Mumpung hari ini aku free, aku mau nonton dulu," seru Radit. Merasa jengah atas permainan lempar-lemparan isyarat seperti itu.
Kiran tak menjawab. Ia melangkah mendekati lemari. Membukanya dan mengambil paper bag yang tertulis namanya.
Ia mengecek isi paper bag itu. Kiran tersentak kaget saat melihat isinya. Mencoba mencari yang lain, mana tau terselip di sana. Usahanya sia-sia. Tidak ada barang lain di sana selain yang ia pegang.
Kiran melirik paper bag di sebelahnya yang memuat nama Radit, mengintipnya sekilas. Mana tau bajunya ada di sana. Nihil.
"Dit, sepertinya aku punya masalah!" pekik Kiran dari balik lemari.
"Apa?" tanya Radit malas, matanya fokus menatap film kartun yang ada di layar televisi.
"Bajuku tidak ada!" jawab Kiran.
"Coba cari lagi! Intan bilang sudah menyiapkan semuanya. Mana mungkin dia salah."
"Memang ada disiapkan tapi gaun seperti ini ...." kata Kiran sembari mengangkat gaun itu tinggi-tinggi. Radit melirik.
"Gaun ini dan ****** ***** ini. Jadi aku hanya pakai ini???" tanya Kiran sembari memegang lingerie di tangan kanannya dan ****** ***** dengan warna senada di tangan kirinya. Mengabaikan mata Radit yang membelalak serta menahan nafas ketika melihatnya.
❤❤❤💖
Salam Readers...
Maafkan aku jika telah mengecewakan kalian karena tidak bisa up tiap hari. Beberapa hari ini agenda agak padat. Setelah itu leye2 bentar. Padat lagi. hehehe..
Insya Allah kedepannya aku usahakan untuk up tiap hari. Insya Allah....