
Sesuai dengan perintah Tuan Mahesa, Radit pun meminta Bara untuk memadatkan agenda di pekan ini. Dan mengosongkan jadwal pekan depan. Karena ia berencana weekend di salah satu hotel yang diberitahu Tuan Mahesa. Setelahnya akan dilanjutkan pemantauan ke hotel di sekitarnya.
Radit juga sudah meminta Kiran mengosongkan waktu seperti dirinya. Awalnya Kiran bingung. Namun karena pria yang memintanya berkata bahwa tidak ada tawar-menawar, maka ia pun menurutinya. Begitu banyak yang telah dilakukan pria itu. Maka permohonan seperti pergi ke suatu daerah dan menginap di sana bukanlah hal yang berat bagi Kiran karena toh mereka juga telah menikah.
Bara sebagai asisten siap siaga yang berperan besar menjadi peran pengganti bagi tugas Kiran dan menghendle sementara laporan yang masuk ke meja Radit.
Hari sudah sore, namun laporan di meja Radit masih juga menumpuk. Radit menelaah satu persatu laporan itu. Sore ini ia baru punya waktu, setelah sebelumnya menjalani beberapa pertemuan dengan klien maupun beberapa petinggi di anak perusahaan.
Sebuah pesan masuk, dari Kiran. Aku ingin menjenguk nenek. Jika kau izinkan, sepulang dari kantor, aku akan singgah ke sana.
Radit mengetikkan balasan. Pergilah. Sampaikan salamku untuk nenek. Jam berapa pulang?
Sebuah pesan masuk lagi ke ponsel Radit. Setelah aku bicara dengan paman Sandi, aku akan langsung pulang.
Radit memainkan jarinya lagi pada layar ponsel. Baiklah. Hati2 di jalan.😘
Send.
Radit menutup wajahnya. Apa aku terlalu berlebihan mengirimkan emoticon kiss...
Radit menekan pesan itu dan ingin menghapusnya. Namun pesan itu telah dibaca. Apa yang akan dia pikirkan?? Hatinya berdebar, menunggu balasan dari Kiran.
Sebuah pesan masuk lagi. Radit buru-buru membukanya. Iya. Kau juga hati-hati di jalan nanti saat pulang. 😘
Dia membalasku! Hatinya senang luar biasa. Radit jadi senyum-senyum sendiri.
Seketika Radit ingat sesuatu. Ia sudah berjanji pada Kiran untuk memberitahukan teman masa kecilnya pada pekan ini. Bertepatan dengan ia menginap di hotel nanti.
Radit berpikir sesaat. Lintasan kata-kata Papa Mahesa terngiang di telinganya. Berikan kami cucu yang lucu....
Radit menutup wajahnya. Merasa malu. Namun hal itu telah ditahannya selama ini. Mungkin saat yang tepat, pikirnya. Setelah ia mengutarakan kebenaran masa lalu mereka berdua, mungkin dirinya dan Kiran bisa....
Radit mengetikkan beberapa kata pencarian di laptopnya. Ia harus menjadikan malam itu sempurna, tanpa celah. Seperti kesempurnaan cintanya untuk wanita itu, yang tak pernah berhasil dimasuki wanita lain meskipun beberapa kali ia pernah ingin memulai dengan wanita lain setelah tahu jika Kiran meninggal dunia. Namun ternyata memang ia tak bisa.
Radit menekan tuts keyboard. Cara memuaskan istri di malam pertama .... Search.
Radit membaca dengan saksama apa yang di papakan pada artikel tersebut. Menuliskan beberapa poin yang mungkin bisa dilakukan. Matanya menatap beberapa judul yang ada.
Rahasia sukses malam pertama. Klik.
Radit membacanya lagi. Back. Isinya hampir sama seperti artikel pertama.
Dia beralih lagi pada judul pencarian yang lain. Membacanya dengan serius. Seakan-akan apa yang ada di artikel itu akan menjadi soal ujian yang akan keluar dan menentukan nilainya. Hingga ia tak menyadari Bara telah masuk ke dalam ruangannya. Dan membaca kertas yang ada di atas mejanya dengan suara lantang.
"Bangun hubungan yang lebih intim. Tidak usah tergesa-gesa, foreplay. Berikan pujian, kalimat harum atau sebagainya. Berikan ciuman mesra. Cari titik panas pasangan. Carilah momen untuk menggoda atau penetrasi tarik ulur ...."
"Buset dah! Ini apaan Dit?!!!"
Radit terkesiap. Ia sampai tak memerhatikan sama sekali ternyata Bara membaca apa yang sudah ia tulis. Ia langsung merampas kertas yang ada di tangan Bara. Kertas berisi poin yang ia tulis tadi. Menyembunyikan wajahnya yang tersipu dengan melototkan matanya pada Bara.
"Wah .... Sepertinya ada yang lagi cari referensi malam pertama ni ...," ledek Bara. Tidak peduli pada pelototan Radit. Melotot dengan wajah merah karena malu begitu, siapa yang takut?!
"Diam!" bentak Radit. Melengos.
"Kenapa? Mau kuajarin?" ejek Bara lagi. Menaikkan kedua alisnya berulang kali.
"Emang kau sudah menikah? Gaya mau ngajarin! Cari pasangan dulu sana!" cibir Radit.
"Jangan salah .... Pasangan belum ada, tapi pengetahuanku soal begituan udah mumpuni. Tinggal prakteknya aja sama Raisa nanti," elak Bara. Tidak mau mengalah.
"Jangan bawa-bawa nama adikku. Diterima aja belum tentu, udah sok-sok'an mau praktek!" Radit mendelik.
"Sabar Kakak Ipar. Namanya mau bahagiain calon istri. Ya harus persiapan dulu."
"Paling ilmu mumpunimu itu dapat dari nonton bokep sama Dodi dulu kan? Atau jangan-jangan sekarang kau pun suka nonton begituan."
Di kampus dulu, Radit ingat Dodi, teman kampusnya, suka ngumpulin kawan-kawan kuliah untuk nonton film tanpa busana itu. Dan ia ingat, pernah memergoki Bara mengikutinya beberapa kali.
"Ya ... i-iya. Yang dari situ juga." Bara nyengir.
"Yang kayak gitu mau kau praktekkan sama adikku. Kau mau cari mati!" Radit mendelik lagi.
"Namanya juga pengen tahu, Dit. Kau aja tuh ma Bagas yang kolot kali nggak mau nonton. Udah mau praktek gini baru bingung kan?" Bara cari pembenaran.
"Yang bingung itu siapa? Trus kau pikir bagus lihat tubuh perempuan tanpa busana gitu. Adanya nanti kau banding-bandingkan tubuh adikku sama tubuh perempuan dalam video itu. Udah ku blacklist namamu dalam daftar calon suami adikku!"
"Yah, Dit. Jangan gitu lah .... Kita kan friend. Aku kan udah insaf sekarang. Dulu kan masih labil, Dit. Rasa ingin tahunya besar."
"Jadi kau mau apa masuk ke sini?"
"Aku cuma bilang semua agendamu udah oke. Udah aku atur sesuai dengan yang kau mau."
"Udah?"
"Ya."
"Jadi, apa lagi? Pergi sana. Jangan ganggu aku!"
"Aku mau ikut lihat informasi apa yang kau peroleh .... Aku ..., Dit! Jangan tendang donk ...."
Bara mengusap bok*ngnya yang baru saja ditendang Radit. Dengan menggerutu, akhirnya ia keluar dari ruangan itu.
Radit meraih remote. Menekan tombol untuk mengunci pintu. Tatapannya kembali fokus pada layar laptop. Kini ia beralih pada kata yang berbeda. Satu kata diketikkan pada pencaharian. Lingerie.
-
❇❇❇
Kiran kembali lagi ke rumah ini. Rumah Nenek Tutik. Bu Asih sudah menunggunya di teras saat ia sampai.
"Gimana keadaan Nenek, Bu?" tanya Kiran sembari berjalan dibimbing Bu Asih.
"Sudah mendingan, Non. Sudah mau makan. Tapi begitu. Selalu nanyain Non kapan datang lagi."
Hati Kiran berdesir. Datang kemari memang langkah tepat. Entah kenapa beberapa hari belakangan ini ia selalu teringat Nenek. Ternyata Nenek selalu menunggunya.
"Lain kali telpon saja saya Bu, jika memang Nenek bicara begitu," katanya. Bu Asih menanggapi dengan anggukan.
"Kau datang Karina ...." Kiran setengah berlari menghampiri sang Nenek.
"Iya Nek. Karina datang. Nenek sudah makan? Mau makan bareng Karin?"
Kiran mendekatkan diri. Menyium punggung tangan Nenek Tutik takzim. Nenek Tutik tersenyum senang. Ia mengangguk, mengelus kepala Kiran yang berlutut di depannya.
-
❇❇❇
Nenek Tutik sudah tidur saat Kiran menuju ruang kerja Pamannya. Sandi Sanjaya. Pria itu telah duduk menunggunya. Tubuh pria itu terlihat lebih kurus dari sebelumnya.
Sesuatu yang menarik ketika Kiran datang ke rumah ini. Tidak sekalipun ia melihat istri dan anak angkat Paman Sandi yang kemarin terlihat saat resepsinya. Apa memang wanita itu selalu di kamar atau mungkin sedang tidak ada di rumah.
"Apa kabar, Paman?" tanya Kiran sembari duduk di sofa. Di sebrang Sandi Sanjaya.
"Seperti yang kau lihat. Kau juga apa kabar, Karina? Kau terlihat lebih cantik sekarang," puji sang Paman. Ia memang melihat Kiran lebih cerah dari sebelumnya. Dan satu-satunya yang berbeda. Ini pertama kalinya Kiran melihat Paman Sandi tersenyum padanya.
"Baik, Paman. Terima Kasih."
"Ada yang ingin kau tanyakan pada Paman lagi, Karin?" tanya Sandi Sanjaya. Karena sebelumnya memang Kiran menghubunginya ingin membicarakan sesuatu. Kiran meminta nomor Paman Sandi dari Radit.
"Iya ada." Kiran memang berniat menceritakan bahwa Papanya masih hidup. Tapi sebelumnya ia ingin menanyakan sesuatu.
"Maaf kalau Karin bertanya, Paman. Tapi sejak Karin pertama kali datang kemari, kenapa Karin nggak pernah lihat Tante ya Paman?"
Sandi Sanjaya terdiam beberapa saat, kemudian ia berbicara dengan senyum dipaksakan. "Dia sudah pergi meninggalkan Paman. Pergi dengan pria lain yang mencintainya."
-
❇❇❇
Kiran dan Radit menaiki pesawat menuju daerah wisata di pulau X. Daerah wisata dengan danaunya yang terkenal di Indonesia.
Radit membuat rute, setiba di sana mereka akan menginap di hotel yang ditunjuk Tuan Mahesa. Besoknya mereka menuju hotel yang lebih mahal. Rencana kedepannya, yang tidak diketahui Kiran. Radit akan menginap di beberapa hotel sebagai perbandingan.
Sesuai perintah Radit, mereka tidak membawa banyak baju. Hanya dua pasang baju dan satu piyama.
Setiba di hotel tersebut, Radit sudah mendapat penilaian buruk. Ia berpikir bahwa sudah selayaknya hotel itu kurang diminati pengunjung dan selalu mendapat komentar negatif dari para tamu yang sudah pernah menginap di situ.
Radit membuka pintu kamar hotel mereka dengan card key.
"Kau sengaja memilih standar room?" tanya Kiran memasuki kamar.
"Ya, aku harus tahu fasilitas kamar mulai dari yang paling murah," jawab Radit sembari menggulung lengan baju kaosnya.
Ia memang menghindari memakai pakaian formal. Mereka harus terlihat seperti orang yang hanya ingin liburan.
"Kau mau apa?" tanya Kiran melihat Radit sudah menekan tombol telepon.
"Mau pesan makanan. Kau mau pesan apa?" Radit balik bertanya pada Kiran.
-
❇❇❇
Tidak seperti liburan. Waktu mereka hanya digunakan untuk memantau hotel tersebut. Radit memesan banyak makanan, hanya untuk mencicipinya saja.
Sebelum pukul dua belas siangnya mereka check out. Berangkat menuju hotel lain. Hotel dengan harga lebih mahal untuk tipe kamar yang sama dengan hotel sebelumnya.
Kiran mengingatnya. Membedakan antara keduanya. Ia paham, Radit mengajaknya tidak mungkin tanpa maksud. Pasti ingin ia memberikan kontribusi dalam bentuk penilaian.
Di hotel kedua juga sama. Radit hanya memintanya untuk menghabiskan waktu di dalam kamar. Sore harinya, mereka sempat jalan-jalan sebentar di pinggir danau. Setelahnya mereka mengendap kembali di dalam kamar.
"Bagaimana menurutmu hotel yang pertama tadi?" tanya Radit setelah mereka salat isya berjamaah.
Kiran tersenyum. Benar apa yang sudah dipikirkannya. "Jika dibandingkan dengan hotel ini, hotel pertama tentu lebih buruk. Pelayanannya buruk. Karyawan hotelnya tidak ramah. Sabun dan shampoonya tidak wangi. Makanannya juga dalam level hanya untuk menghilangkan lapar. Sarapannya kurang memuaskan. Pilihan menunya kurang beragam. Padahal selisih harga kamarnya dengan ini hanya beda tipis."
Radit mengangguk puas. "Ya. Kau benar."
"Jadi apa maksud perjalanan ini?"
"Papa berencana membelinya."
Kiran berdecak. "Aku sudah menduganya. Karena kau begitu detail melihat hotel sebelumnya."
"Kau memang pintar. Tidak sia-sia aku membawamu hari ini."
"Berarti kalau aku nggak memberikan penilaian, kau akan merasa sia-sia membawaku."
"Mana ada hal sia-sia jika ingin liburan bersama istri, Kiran ...."
"Ya, aku lebih suka kau panggil begitu." Kiran menahan senyumnya. Sejak beberapa hari ini, ia memang merasa lebih dekat dengan Radit. Ia juga bisa bicara dengan lebih santai dengan pria itu.
"Kau mandi saja. Buka bajumu dan letakkan di dalamnya," kata Radit menyerahkan laundry bag.
"Semua bajuku akan dilaundry. Jadi aku pakai apa?"
"Ada kiriman dari Intan. Kau bisa pakai itu." Menyerahkan paper bag pada Kiran.
Kiran menerimanya dengan ragu. Terakhir kali ia menemukan baju minim di dalam paper bag dari Mbak Intan. Lalu, apakah kali ini akan sama?
❤❤❤💖
Readers...
Ooo... Readers...
Mohon maaf jika lama and kurang ngefeel di part ini...🙏🙏🙏
Tapi aku ucapin terima kasih buat yang masih setia dinovel ini. Kalian readers terbaik..
Semoga sehat2 semua... aamiin.
〰〰〰〰〰〰〰😘😘😘〰〰〰〰〰〰〰