Behind The Boss

Behind The Boss
Saling Terbuka



Kiran menunggu Radit penuh harap jika kata-kata fenomenal nan sakral itu terucap dari bibir laki-laki yang sangat dicintainya ini. Radit menangkap sinar penuh harap itu dari wajah Kiran namun dirinya merasa sangat kesulitan memenuhinya. Beberapa saat mereka saling pandang, namun pria masa kecil yang telah menjadi suaminya ini belum juga membuka mulut untuk mengucapkannya.


Radit salah tingkah. "Kenapa? Kau mau apa dariku?"


Panggilan yang diberikan Radit kembali seperti sedia kala. Sebab pria itu salah tingkah. Namun Kiran tidak peduli. Dia masih menatap Radit penuh harap. Dua kata yang menjadi jawaban Kiran membuat Radit membeku.


"Pernyataan cinta ...."


"Kenapa harus begitu? Kita kan sudah menikah. Aku juga jadi lajang lapuk demi dirimu. Apa itu masih kurang?" Radit mengelak. Kiran tidak bergeming. Tidak menjawab Radit dan masih menatapnya dengan penuh harap.


"Ah, baiklah." Radit menyerah. Ia tidak bisa mengabaikan mata penuh harap itu. Lagi pula cuma pernyataan cinta. Ya, cuma pernyataan cinta. Seketika Radit menjadi resah. Bagaimana caranya?!


Baik, sekarang kita mulai dari menatap lawan bicara dan katakan kalau kau menyukainya, Radit berbicara pada dirinya sendiri. Begitu yang sering ia lihat dari kartun yang ditontonnya.


Oke, lihat dia!


Radit menangkup wajah Kiran. Menantang kedua mata gadis itu yang kini tersenyum malu-malu. Namun mata Kiran juga menentang matanya.


Sekarang, ucapkan cinta!


"A-aku ...." Lidah Radit serasa kelu. Kenapa susah sekali ..., batinnya. Beberapa bulir keringat menyembul di dahi Radit. Mau sidang meja hijau di kuliah dulu ataupun rapat para pemegang saham saja, tidak pernah membuatnya seperti ini. Kenapa hanya pernyataan cinta dia jadi begini?


"A ... ah, aku ngantuk. Besok lagi kita sambung pembicaraan ini!" seru Radit memutuskan sesuatu hal yang secara tidak langsung sudah menyiksanya. Wajah Kiran terlihat kecewa.


"Cinta itu kan nggak mesti diungkapin. Cukup dibuktikan dengan perbuatan aja. Apa gunanya kata-kata tanpa tindakan. Seorang laki-laki kan dinilai dari perbuatannya bukan hanya ucapannya." Radit berkilah. Memberikan alasan agar Kiran tidak terlalu kecewa padanya.


"Perbuatan memang penting. Tapi kata-kata juga penting. Bagaimana aku tahu perasaan Kakak jika Kakak juga nggak pernah bilang. Kekuatan kata-kata kan bisa berpengaruh besar dalam hubungan kita. Contohnya, sebelum aku tahu kalau Kakak itu teman masa kecilku, mana mungkin aku bisa bertanya seperti ini? Mana mungkin aku bermanja-manja sama Radit Makarim yang dulu pernah bilang kalau aku itu murahan ..., licik, penipu, piranha, wanita penggoda ...."


"Stop! Kakak kan udah bilang jangan diungkit lagi. Kok diungkit terus." Radit meletakkan telunjuknya di bibir Kiran.


"Kiran bukan mau mengungkit. Kiran cuma mau memberi tahu Kakak kalau kata-kata sebelumnya itu berperan besar memengaruhi sikap kita kepada orang lain. Makanya Kiran pun nggak pernah percaya kalo Kakak udah berubah sikap sebab masih mengingat kata-kata yang Kakak berikan sebelumnya," ucap Kiran setelah menggeser telunjuk Radit dari bibirnya.


"Makanya dulu kamu bawaannya curigaan melulu sama Kakak?"


"Iya."


"Jadi Rangga dan Ari sering bilang kata-kata cinta sama Karin?" Kiran mengerjap. Dengan ragu ia anggukkan kepalanya. Radit mendesah.


"Jadi bagaimana perasaan Karin pada Rangga sebenarnya? Apa karena dia makanya Karin tidak pernah mencari Kakak?"


Kiran mendesah, ia akan jujur. "Dari kelas dua SMA, Rangga memang sudah menyatakan rasa sukanya namun Kiran belum menerimanya. Saat Papa meninggal, maksudnya saat Papa membuat dirinya seolah-olah meninggal, Kiran sendirian. Dimasa sendiri itu, Rangga selalu muncul sebagai teman yang menemani Kiran." Kiran merubah posisinya, tidur telentang menatap langit-langit kamar.


"Dia selalu ada menemani Kiran. Menguatkan hati Kiran yang sebenarnya sangat rapuh pada saat itu. Begitu pun Kiran belum menerima cintanya. Setelah tujuh tahun baru Kiran menerimanya. Itu pun setelah setahun Karin nggak menemukan Kakak di kota ini. Setahun setelah tiba di sini. Kiran selalu berupaya mencari Kakak. Bahkan Kiran sampai selalu memerhatikan setiap ada pria gendut hitam yang lewat maupun berada di sekitar Kiran."


Kiran tersenyum kecil. Ia jadi teringat pada masa itu ia selalu menegur pria gendut beberapa kali berharap jika pria yang ditegurnya adalah teman masa kecilnya. Namun yang ia dapati saat itu selalu orang gendut asing yang tidak dikenalnya. Orangnya sudah berubah jadi tampan begini. Mau sampai kapan pun pasti nggak bakalan jumpa ....


Kiran kembali serius, ia menambahkan. "Setelah sekian lama kami bersama, tanpa sadar Rangga sudah menempati posisi juga di hati Kiran, meski tetap ada nama Kakak di hati Kiran." Kiran melirik Radit. Takut pria itu tersinggung. Entah kenapa Kiran merasa dia tidak sebaik Radit yang selalu menjaga hatinya sampai akhir.


Radit terdiam beberapa saat. "Lalu bagaimana dengan Ari?"


"Kakak kan ada di sana saat aku menyetujui pernikahan itu."


Ya, Radit ingat saat Kiran akhirnya menyetujui untuk menikahi Ari setelah Mamanya berpura-pura jika sakit jantungnya kambuh.


Kiran menatap Radit. Pria itu membalasnya. "Apa?" tanya Radit tak mengerti tatapan Kiran.


"Kak, panggil aku Kiran saja. Aku sudah nyaman dengan nama itu."


"Baiklah, jika kamu menyukai seperti itu. Meski sebenarnya aku lebih senang memanggilmu Karina." Kiran menarik satu sudut bibirnya. Menatap Radit lagi seakan menagih apa yang dia minta sebelumnya.


"Apa?"


"Bukti kata-katanya ...."


Radit menghela nafas berat. Terdiam lagi. Kiran mendesah pelan. "Ya sudah nggak apa-apa jika Kakak berat untuk mengucapkannya."


Akhirnya gadis itu menyerah. Tapi Radit malah mendapati rasa kecewa ada teramat dalam ucapan Kiran. Radit pun menangkup wajah Kiran dengan kedua tangannya. Mata mereka saling beradu. Kiran berdebar saat wajah dengan tatapan tajam itu memandangnya dalam. Mungkinkah setelah ini akan keluar ucapan luar biasa dari bibir pria ini?


Mendadak mata Radit menyipit. Bibirnya tertarik ke samping karena menyunggingkan senyuman lebar dengan bibir terkatup. "Kakak cinta banget sama Kiran. Muaachhh ...!"


Sebuah kecupan ringan mendarat di bibir Kiran. Mata Kiran mengerjap. Mencoba mencerna kejadian barusan adalah benar perbuatan Radit Makarim.


"Pffttt .... !" Kiran menahan tawa. "Jadi begini cara Tuan Radit Makarim menyatakan cinta ..., Kok nggak sama ketika memimpin rapat internal perusahaan ya ...."


Radit melepaskan tangannya dari wajah Kiran. Dia menutupi wajahnya dengan bantal. Kiran berdehem. Menahan tawanya. Ia tahu jika wajah yang ada di bawah bantal itu pasti sedang tersipu.


"Kan udah Kakak bilang, jangan lagi ditonton film begitu. Ngajarin kamu yang nggak-nggak kan jadinya. Kakak memang nggak bisa bilang begituan. Kalo Kakak memang jago ngutarain cinta, udah dari dulu Kakak pacaran."


"Eh?" Kiran tersadar.


"Kakak lebih suka bersikap daripada berkata-kata. Yang jelas di hati Kakak cuma Kiran seorang," imbuh Radit lagi.


"Ehm, maaf Tuan Radit Makarim. Anda mengatakan tidak bisa mengutarakan cinta. Lalu yang barusan anda ucapkan tadi apa ya?"


Radit menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ternyata tanpa ia sadari malah ia bisa berkata dengan sendirinya. "Udahan yuk. Kakak capek ni. Tidur yuk," tutur Radit sembari memeluk pinggang ramping Kiran.


"Ehm, kita bakal tidur aja? Yang di hotel kemarin nggak mau dilanjutin?" tanya Kiran menutupi rasa malu bercampur cemas dalam hatinya. Meski Radit tidak mengatakannya namun ia paham apa yang Radit inginkan malam itu. Dan sebagai seorang istri sudah selayaknya ia melayani suaminya.


Radit menggeleng pelan. Ia mengecup dahi Kiran dengan mesra. "Kakak sebenarnya sudah berjanji dalam hati. Ingin menjadikan malam pertama kita sebagai sesuatu yang akan menjadi kenangan manis untuk kita berdua. Dan Kakak inginnya kita menghabiskan malam kita itu di tempat romantis. Minimal di hotel di mana hanya ada kita berdua."


"O, begitu. Maaf ya Kak. Kiran sudah mengacaukan segalanya. Maksud Kiran waktu itu nggak begitu. Kiran cuma nggak suka Kakak mengaku yang tidak-tidak." Wajah Kiran menunjukkan penyesalan yang teramat sangat.


"Padahal mama sama papa udah pengen banget gendong cucu ...." Kiran menambahkan.


"Yang berlalu nggak usah diungkit lagi Sayang .... Masalah bulan madu itu bisa kita rencanakan lagi."


Kiran tersenyum senang mendengar panggilan yang diberikan Radit padanya. "Sayang ...?"


"Iya. Kamu keberatan?"


"Agak geli mendengarnya."


"Kakak juga ngerasa begitu."


"Coba panggil lagi!"


"Sayang ...."


Radit mengeratkan pelukannya. Mencium puncak kepala Kiran. "Iya. Sekarang kita tidur ya, Sayang. Besok kita rencanain bulan madu kita. Kita kosongkan jadwal kita satu pekan. Kakak cuma ingin memeluk kamu begini aja selama bulan madu. Nggak mau mikirin kerjaan."


"Iya, Kak ...."


"Panggil Mas biar lebih mesra."


"Hah?"


"Mas!"


"Iya, Ma ... Mas .... Geli Kak."


"Lagi!"


"Mas ...." Kiran menyembunyikan wajahnya. Radit membenamkan kepala Kiran pada dada bidangnya. Ia merasa puas.


Sahutan Kiran menjadi obrolan terakhir di antara mereka karena suara dengkuran Radit terdengar tidak lama setelah Kiran memanggil pria itu. Hati Kiran juga luar biasa bahagia. Kecemasannya selama enam hari ini terhilangkan sudah.


-


***


Bara mengamati pantulan dirinya melalui cermin. Mencocokkan warna dasi yang ia pakai hari ini. Setelah ia rasa semua telah sempurna pada penampilannya, pria itu pun segera meraih kunci sepeda motor yang ia letakkan tergantung di dinding ruang televisi. Kunci itu bergelantungan bersama kunci-kunci yang lain. Dan semua sudah ada labelnya. Bara selalu rapi untuk menandai barang-barangnya.


Ia melangkah dengan santai. Meraih sepatu dari rak sepatu kaca di dalam bagasi rumahnya. Sekilas ia melirik arloji di tangannya. Memastikan jika waktunya sudah benar. Ia duduk di kursi untuk memakaikan sepatu pantofel yang diraihnya tadi, setelah sebelumnya ia ulaskan sebuah lap kain kecil dan semir warna hitam pada sepatu tersebut. Sepatunya harus selalu tampak kilat, ia berprinsip akan hal itu.


Setelah kedua sepatu itu sudah membungkus kakinya, Bara melangkah ke pintu bagasi. Dengan gerakan santai ia membukanya. Ia terkesiap saat kedua manik matanya menemukan sesosok perempuan kasat mata tersenyum padanya. Aroma parfum wanita itu sudah ditangkap indera penciumannya. Dahinya berkerut. Bibirnya menarik senyum sinis saat wanita itu menyapanya.


"Assalamu'alaikum Bara .... "


❤❤❤💖


Mohon maaf yang sebesar-besarnya buat para readers .... 🙏🙏🙇🙇🙇


Baru bisa update sekarang. Real life meluluhlantakkan tenaga diriku....


So, udah kehabisan tenaga jadi nggak bisa nulis lagi.


Btw, baru update NT, jadi agak beda nulisnya. Agak aneh juga rasanya. Jadi mohon maaf kalo isi partnya masih agak kurang berkenan di hati. Penting nulis dulu deh ya. Nanti jika sudah tamat, aku revisi lagi ni novel.


Buat yang tetap setia. Aku lope-lope banget deh. Love u full readers tersayong....😘😘😘