
Tak lama kemudian Bara masuk ke dalam ruangan dengan cepat. Wajahnya seperti kebingungan akan sesuatu.
"Apa tadi Kiran masuk ke sini, Dit? Aku mencarinya dari tadi. Tapi tak kutemukan ia dimana pun."
Radit sedikit terkejut, namun melihat situasi yang baru saja terjadi, ia bisa menebak sedang apa Kiran sekarang. "Biarkan saja. Dia pasti lagi menenangkan diri," ujar Radit tenang.
"Hei, kau nggak takut dia pergi darimu?"
"Dia nggak akan begitu. Jika dia ingin lari, maka dia akan pergi dengan marah tadi. Bukan dengan tenang dan memohon izin keluar ruangan."
Radit ingat kejadian saat ia mengejar Kiran di bawah guyuran hujan waktu itu. Saat itu, Kiran langsung meninggalkannya tanpa kata. Berbeda dengan sekarang. Wanita itu masih terlihat tenang. Radit yakin, Kiran tidak akan kemana-mana. Jika pun ia menghilang, paling hanya untuk menenangkan diri.
"Semua ini karena dirimu!" cerca Bara menatap Radit dengan kecewa.
"Jangan sulut emosiku!" seru Radit tidak terima.
"Kan sudah kubilang. Kau jangan memperkeruh suasana. Kenapa kau malah panggil dia lagi?! Lihat apa yang terjadi sekarang?!"
"Kau memarahiku? Kau berani?!" Radit melototi Bara.
"Aku harus berani jika tak ingin kau kehilangan cintamu! Kau lihat sendiri bagaimana keras kepalanya dia. Kau mau hubunganmu dengannya jalan di tempat trus seperti ini?!"
"Seperti ini apanya? Kami sudah saling mencintai." Radit membuang muka. Kini dia merasa malu.
"Kalau memang kalian sudah saling mencintai, kenapa sampai sekarang kau belum juga mengaku padanya? Kalau kau itu teman masa kecilnya."
"Itu karena .... Ah, kau terlalu ikut campur urusanku!" Radit jadi merasa malu. Apa yang dikatakan Bara memang benar. Tapi mengenai hubungan yang berjalan di tempat yang sama. Radit pikir, Kiran juga sudah mulai berubah padanya.
"Kau masih meragukan perasaannya kan, makanya kau belum mengaku siapa dirimu sebenarnya?"
Radit tak menjawab. Sejujurnya memang iya. Meski Kiran terlihat sudah berbeda. Wanita itu tampak mulai menyukainya. Namun dirinya sendiri masih ragu ingin mengatakan kebenaran itu.
Melihat Radit diam, Bara terus mengeluarkan uneg-unegnya. "Kenapa kau juga membentaknya seperti tadi? Jelas-jelas kau tahu jika ini semua ulah Lusi!"
"Sebenarnya aku hanya ingin memberi pelajaran padanya, kalau dia harus lebih teliti lagi. Hari ini dia hanya berhadapan dengan Lusi. Besok-besok dia bisa berhadapan dengan orang yang mungkin lebih licik dari Lusi."
"Kalau gitu jelaskan padanya. Jangan biarkan dia salah memahami apa yang kau lakukan padanya."
"Nanti akan aku jelaskan." Radit mengibaskan tangannya.
"Jadi bagaimana dengan Lusi?" tanya Bara antusias.
"Hei, kau mendikteku!" Radit tidak terima.
"Sebagai sahabat aku hanya mengingatkanmu. Atau kau nggak mau kuanggap sahabat lagi?"
Radit menaikkan satu alisnya. Ia menghela nafas pelan. "Ya. Sudah aku berikan dia ancaman. Jika dia mengulah, kita pecat saja dia. Kau sudah senang kan sekarang?!" ejek Radit pada Bara. Dirinya paham, Bara sangat membenci Lusi sejak dengan berani wanita itu menggoda dirinya.
"Belum. Kau pecat dulu dia, baru aku senang," jawab Bara.
"Kau jangan terlalu membencinya. Terlalu benci lama-lama jadi cinta."
"Kau pikir perasaanku pada Raisa main-main?!" Bara jadi ngotot. Ia merasa sedikit tersinggung Radit meragukan cintanya pada adik sahabatnya itu.
"Setidaknya kau harus punya cadangan. Umurmu sudah tua. Kalau Raisa menolakmu bagaimana? Aku kan sahabatmu," sahut Radit tenang.
"Kalau kau sahabatku. Kau pengaruhi dia biar mencintaiku." Bara tak mau kalah. Ia memang sudah bertekad untuk mendapatkan Raisa.
"Kau kira aku mak comblang!" sungut Radit.
"Sudah, berhenti bicara seperti ini terus. Ayo kita ke atap untuk melihat apa yang bisa kita bangun di sana," ucap Radit memotong perdebatan antara dirinya dan Bara.
-
❇❇❇
Bara membuka pintu menuju rooftop. Ia melangkah maju, keluar menuju teras atas gedung TJ yang terbuka. Angin berdesir lumayan kencang. Ia berdiri menyamping, membiarkan Radit melewatinya.
"Sudah kau ukur tanda yang akan dibuat nanti?" tanya Radit mengamati luas rooftop itu. Sebelumnya ia hanya menyuruh Bara. Baru kali ini ia mengecek secara langsung.
"Sesuai perintahmu, kita akan buat dengan tanda lingkaran dengan huruf H di tengahnya, tepat di sini." Bara menjelaskan dan menunjuk tempat ia berdiri. Posisi tepat di tengah area yang cukup luas itu.
"Aku harap pekan depan, helipad ini sudah bisa kita gunakan."
"Aku akan memaksimalkan pengerjaannya," ucap Bara penuh keyakinan.
Baru saja Radit ingin mengamati ke sekeliling rooftop itu, namun urung mendengar suara buk-buk berulang kali. Terdengar seperti suara seseorang yang memukul sandbag.
Radit memberi isyarat pada Bara untuk mengecek suara yang mereka dengar. Suara itu berasal dari balik dinding pintu rooftop.
Bara bergerak cepat. Berjalan menuju asal suara dengan gerakan tanpa suara. Ia mengintip sesuatu di balik dinding. Matanya membeliak dengan mulut menganga.
Melihat ekspresi Bara seperti itu, membuat Radit penasaran. Ia pun mengikuti Bara dan melihat ada apa di balik dinding. Apa yang dilihatnya kemudian membuat ia juga membelalakkan matanya. Selanjutnya ia tersenyum simpul.
"Rupanya dia ada di sini, Dit?" bisik Bara pelan. Radit tak menjawab. Ia menarik Bara. Menyuruh sahabatnya itu menunggunya di dalam.
"Oke-oke. Kau pasti ingin merayunya, kan?" ledek Bara. Radit menatapnya tajam. Melihat tatapan sahabatnya itu, Bara langsung melangkah dengan cepat ke balik pintu. Meskipun langkahnya cepat, ia tetap mendengar Radit yang berbisik dengan penuh peringatan.
"Jangan biarkan orang lain masuk ke sini. Dan kau juga jangan mengintip kami!"
Setelah Bara berjalan cukup jauh, Radit mendekati balik dinding itu lagi. Hatinya berdegub dengan kencang. Apa ia sangat marah hingga tidak mendengar suaraku dan Bara ketika kami berbicara tadi?
Kini pria itu berhenti melangkah. Melihat lebih dulu momen yang pas untuk mendekati seseorang yang membuat suara pukulan dari balik dinding.
Kiran yang hatinya sangat panas. Mencari sebuah tempat untuk menenangkan pikiran. Sebelumnya ia hanya berdiri melihat ke bawah dari rooftop. Memandang jauh ke depan dari tempat paling tinggi, membuat Kiran melepaskan semua kekesalannya. Amarah yang tadi ada di hatinya menguap, melihat keramaian di daerah sekitar dari puncak gedung TJ.
Kedamaian yang melandanya rusak saat ia mendengar suara pria itu secara tiba-tiba. Seketika rasa kesal yang sudah hilang bangkit lagi. Merasa ingin melampiaskan kekesalan itu, ia pun memukuli karung pasir yang bersusun itu. Karung pasir itu sudah ada di sana sejak Robin memimpin perusahaan. Sisa dari rehab bangunan TJ.
Kiran menghela nafas kasar. Ia sudah puas. Kini ia berbalik. Membelakangi dinding, melihat kembali ke pemandangan kota dari atas.
Sekarang waktunya!
Radit melangkah pelan. Ia merengkuh Kiran dari belakang. "Kau kelihatannya sangat emosi?" bisiknya pelan.
Kiran terkejut saat tubuhnya dipeluk dari belakang namun mendengar suara pria menjengkelkan di belakangnya, ia menahan gerakan yang tadi hampir ia layangkan pada seseorang yang berada di belakang tubuhnya. Ya, Kiran sedang jengkel pada pria ini sekarang.
"Menurutmu, apa aku tidak boleh emosi jika pekerjaanku diragukan?" Kiran bertanya balik tanpa menoleh.
"Tentu saja jika kau bisa membuktikan bahwa pekerjaanmu baik, sangat tidak adil untuk diragukan."
"Kau pasti tahu ini ulahnya. Apa mungkin aku sebodoh itu hingga tidak bisa menyusun jadwal yang sudah kudapatkan dari mereka? Bukankah kau juga sudah berjanji untuk menangani Lusi jika dia berbuat sesuatu padaku?" cecar Kiran.
"Aku percaya semua ini bukan salahmu. Aku hanya mencoba untuk objektif dalam melihat suatu masalah. Terkadang sebagai pemimpin kita harus melihat dari segala sisi dulu untuk menentukan sebuah keputusan meskipun pada dasarnya kita sudah tahu karakter orang-orang yang terlibat dalam masalah itu. Dan sangat tidak fair jika keputusan itu diambil atas dasar status seseorang ataupun kepentingan individu."
"Jadi maksudnya, janji itu tidak berlaku jika aku tidak bisa membuktikan kebenaran itu. Dan karena kau seorang pemimpin di sini, maka selayaknya aku sebagai bawahan tidak akan pernah mendapatkan dukunganmu jika aku tidak bisa membuktikan kebenaran pekerjaanku meski kau tahu jika tidak mungkin aku seperti itu?"
"Iya ..., bisa dibilang begitu." Radit menjawab dengan ragu. Sebab suara Kiran mulai terdengar dingin.
Kiran bergeming. Sekarang ia mulai paham.
"Baik. Itu artinya saya harus menegaskan pada diri saya bahwa Anda adalah atasan saya dan sebagai bawahan saya harus menghadapi sendiri masalah yang menimpa saya akibat dari kebijakan yang anda ambil. Apalagi pihak saya tidak dapat membuktikan kebenaran itu. Begitu kan?!"
Kiran melepaskan tangan Radit. Kini ia berbalik melihat Radit yang mematung. Ia menatap Radit dingin.
"Saya sudah paham akan hal itu, Pak. Terima kasih sudah memikirkan emosi saya dan sudah percaya pada karakter saya. Tapi Anda juga tidak perlu sampai menghibur dengan memeluk saya dari belakang seperti tadi. Karena tidak etis seorang direktur utama memeluk sekretarisnya."
Setelahnya, Kiran menundukkan kepalanya sedikit kemudian pergi meninggalkan Radit yang termangu.
Dia benar-benar marah!
Bara naik lagi ke rooftop saat tidak berapa lama ia berpapasan dengan Kiran di bawah. "Ada apa? Kenapa cepat sekali Kiran sudah turun? Kenapa wajah Kiran datar betul? Dia bahkan nggak tersenyum saat berjumpa denganku tadi," ucap Bara begitu sudah berada di hadapan Radit.
"Dia marah padaku."
"Sudah pasti!" Bara tersenyum mengejek.
Radit melirik. "Kau sebenarnya ke sini mau meledekku atau apa?!" Radit mulai kesal.
"Tentu saja untuk meledekmu!" sahut Bara cepat. Radit menatapnya tajam.
"Eh, enggak dong .... Aku kemari ya mau bicarain helipad lagi denganmu," ralat Bara cepat sambil menampilkan deretan gigi putihnya.
-
❇❇❇
Kiran melangkah dengan kecepatan sedang menuju ruangan direktur utama. Sudah waktunya pulang. Beberapa karyawan sudah meninggalkan gedung. Karyawan yang berada satu lantai dengan ruang direktur saja hanya tersisa satu dua orang. Jumlah mereka memang tidak terlalu banyak.
Meski bibirnya berulangkali memberikan senyum pada beberapa karyawan yang berpapasan dengannya, namun hatinya sedang menggerutu. Kepada siapa lagi kalau bukan pada Radit.
Objektif? Jadi maksudnya dia boleh meragukanku di depan orang lain namun membelaku di belakang orang lain? Dia pikir pembelaannya itu berguna?!
Karena hatinya terus menggerutu, Kiran tidak menyadari sebuah peristiwa yang akan terjadi di depan. Dia tidak melihat sebuah kaki putih nan mulus menjuntai tepat di depan arah langkah kakinya. Pada satu langkah ke depan, Kiran pun terhuyung.
"Opss, maaf. Sepertinya kau menyandung kakiku." Lusi menutup mulutnya, menatap Kiran dengan tatapan kasihan yang dibuat-buat. Kiran melirik wanita itu sekilas. Kemudian bangkit berdiri dengan cepat.
"Kau itu sangat ceroboh. Bersyukur Radit selalu mencintaimu. Kau itu hanya beruntung. Jika bukan karena keberuntunganmu, mana mungkin Radit menyukaimu." Lusi menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Menatap Kiran dengan sinis.
Jantung Kiran berdegub dengan kencang. Debaran itu hadir karena amarahnya yang ingin meledak. Ia tahu, Lusi pasti sengaja menjegal kakinya. Kejadian tadi ditambah peristiwa ini, kemarahannya sudah sampai ubun-ubun.
"Kenapa? Kau marah? Semua terjadi karena kecerobohanmu. Salahkan dirimu yang begitu bodoh."
Rahang Kiran mengeras. Tangannya mengepal. Ia mencoba menetralkan jantungnya yang berdegub dengan kencang. Setelah debaran itu berkurang, Kiran membalas ucapan Lusi dengan tenang.
"Tentu saja. Semua ini memang karena kecerobohanku. Tapi seperti katamu tadi. Selain ceroboh, aku juga beruntung. Berbeda sekali dengan seseorang yang mungkin sempurna tapi tidak seberuntung diriku hingga menghalalkan segala cara karena iri pada keberuntunganku."
Tersinggung. Itulah yang dirasakan Lusi. Ia berang. Saking marahnya dan sudah kehilangan kata-kata, Lusi menatap Kiran tajam.
Merasa sudah menyampaikan apa yang perlu ia sampaikan. Kiran ingin meninggalkan Lusi. Ia berbalik ingin melangkah ke tujuan asalnya. Ruangan direktur utama. Namun belum pun lagi ia melangkah, kepala Kiran dengan cepat tertarik ke belakang.
Kiran spontan meletakkan tangan kirinya di atas kepala. Menahan jilbab yang sepertinya akan terbuka.
Karena refleks ingin melindungi diri dan mempertahankan jilbabnya yang ingin lepas sebab jilbabnya ditarik dengan kuat oleh Lusi. Kiran menghantamkan sikunya ke belakang.
Buk! Tepat mengenai perut Lusi.
"Aow!!" suara Lusi mengaduh.
Meski begitu, pegangan Lusi tidak juga lepas. Selanjutnya Kiran menendangkan kaki kanannya ke belakang. Menurut Kiran, dia belum menggunakan seluruh kekuatan dalam tendangannya atau mungkin disebabkan emosi berlebih menyebabkan tenaga dalan tendangannya bertambah berkali lipat lebih kuat hingga Lusi terdorong jatuh ke belakang beberapa meter. Bahkan menabrak pot bunga yang berada di dekat situ.
Wanita itu tidak lagi mengaduh. Kiran terkesiap saat Lusi memejamkan matanya. Di saat itu pula sebuah teriakan terdengar dari ujung.
"Kiran, apa yang kau lakukan?!" Pertanyaan dengan nada panik itu membuat Kiran bungkam dan mematung di tempatnya berdiri.
❤❤❤💖