Behind The Boss

Behind The Boss
Kunjungan



Hari ini, perusahaan tempat Erlangga bekerja sedang heboh. Hal itu dikarenakan, pagi tadi, pimpinan perusahaan Armadja, yaitu Reyza dan Alea yang merupakan orang tua Erlangga datang untuk mengadakan kunjungan.


Erlangga sendiri juga terkejut karena ia sama sekali belum memberitahu orang tuanya perihal kecurangan yang ada di perusahaan ini.


Pekerjaan mereka tetap berlangsung, namun setiap ruangan terus saja membahas kunjungan dadakan ini.


Erlangga yang sedang membersihkan jendela tanpa sengaja mendengar suara gaduh tak jauh darinya. Ia meminta izin pada Handi untuk mengeceknya.


"Cepatlah, mereka pasti sudah menunggu!" Hardik seorang wanita pada sekarang pria kurus yang usianya mungkin setara dengan Erlangga.


"Aku tidak berani, Bu, bagaimana kalau aku melakukan kesalahan. Aku takut." Pria itu terlihat memohon dengan raut wajah ketakutannya.


"Bu, tenang dulu, apa tidak ada orang lain yang bisa mengantar minuman ke ruangan Tuan Vian?" tanya Erlangga.


"Tidak ada, semua juga takut." Wanita itu tampak mengusap wajahnya kasar. "Dia ini adik sepupu saya, hanya dia yang saya harapkan mengantar minuman ke ruangan itu."


"Angga! Tepat sekali kau di sini. Sekarang pergi ke ruang rapat dan berikan mereka minuman ini. Hanya kau yang belum pernah bertemu mereka, kau pasti tidak akan takut." Seorang HRD menyuruhnya pergi.


Erlangga terkejut mendengarnya. Itu sama saja menampakkan dirinya ke orang tuanya. Bagaimana kalau mamanya malah membuat rahasianya terbongkar?


"Apa yang kau tunggu! Cepat!" bentak sang HRD.


Erlangga langsung mengambil nampan dan membawa minuman berupa teh ke ruang rapat. Sepanjang berjalan, ia terus dihantui rasa takut kalau mamanya akan melakukan hal yang ia takutkan.


"Permisi." Erlangga masuk ke dalam ruang rapat dan menyajikan teh di atas meja. Terlihat Reyza dan Alea sedang menatap serius ke arah Vian yang terlihat ragu.


Ia merasa heran, tapi ia juga bersyukur karena mamanya sama sekali tidak memperdulikannya.


Ia hendak bergegas keluar, namun Reyza memanggilnya.


"Hei, sini dulu."


Erlangga langsung menghadap dan menundukkan kepalanya.


"Siapa namamu?" tanya Reyza dengan wajah serius.


"Angga, Tuan."


"Berapa lama kau bekerja di sini?"


"Hampir satu bulan, Tuan."


"Kau bekerja di bagian apa?"


"Berapa gaji yang dijanjikan HRD?"


"Dua juta lima ratus, Tuan."


"Dan jika lulus training?"


"Tiga juta lima ratus, Tuan."


"Apa itu gaji bersih?"


"Tidak, Tuan, kata HRD akan ada potongan lagi."


"Apa kau tahu bahwa di sini, gaji masa training adalah tiga setengah juta dan gaji setelah training jadi lima juta? Dan tanpa potongan?"


'Tentu saja aku tahu, Ayah,' batin Erlangga.


Erlangga pura-pura terkejut dan langsung menggeleng.


"Sekarang kembalilah bekerja."


"Ba-baik," sahut Erlangga pelan.


"Eh tunggu sebentar."


Alea membuat Erlangga menghentikan langkahnya.


"Ya, Nyonya, ada apa?"


"Saya tidak suka teh buatan orang lain. Saya ingin membuatnya sendiri. Antarkan saya ke bagian dapur," ujar Alea.


"Ba-baik, Nyonya." Erlangga menunduk, lalu mempersilakan Alea untuk keluar duluan.


Setelah itu, mereka pun memakai lift khusus atasan. Dan hal itu langsung dimanfaatkan Alea untuk berbicara dengan Erlangga.


"Apa akting Mama bagus?" tanya Alea tanpa menoleh. Ia berdiri di depan Erlangga.


"Kenapa Mama dan Papa datang ke sini?"


"Mama sangat merindukan mu. Jika berkunjung tidak boleh, maka Mama mengajak Papa ke sini sekaligus melakukan kunjungan."