
Erlangga dan Nala sudah pindah ke ibu kota dan bekerja di perusahaan inti. Mereka sangat senang karena berada di dalam suatu ruangan, bahkan duduknya saja berdekatan. Setiap saat bisa saling melihat atau berbicara.
Jika istirahat ke kantin bersama. Dan ketika pulang juga bersama-sama menuju ke Mess. Mess karyawan adalah sebuah fasilitas tempat tinggal yang dibangun dan ditujukan bagi karyawan, pegawai, atau anggota suatu instansi. Ini merupakan tempat tinggal bagi mereka selama bekerja. Dalam pengertian lain, mess karyawan adalah sebuah penginapan yang dilengkapi dengan fasilitas makan dengan kisaran biaya tertentu dan dikendalikan oleh perusahaan yang bersangkutan.
Mess karyawan biasanya menyediakan fasilitas tinggal dan makan bagi karyawan dengan harga yang lebih terjangkau dibandingkan mencari penginapan dan makan sendiri.
Rumah Mess karyawan yang menggunakan rumah dari kontainer dapat memenuhi fasilitas dasar seperti tempat tidur, meja, kursi, lemari, dapur, dan area makan. Ini akan memudahkan karyawan dalam memenuhi kebutuhan dasar mereka.
Tempat ini memfasilitasi interaksi antar karyawan, sehingga membantu menciptakan ikatan kekeluargaan dan kerjasama yang baik antar karyawan. Dengan fasilitas ini, para karyawan dapat fokus bekerja mereka karena tidak perlu mengkhawatirkan soal penginapan dan makan. Hal ini juga akan menghemat waktu para pekerja sehingga tidak terlambat datang ke lokasi proyek dan memiliki energi yang masih optimal.
Mess Karyawan biasanya dilengkapi dengan sistem keamanan yang baik, sehingga dapat meningkatkan keselamatan karyawan saat tinggal di sana.
Namun, bekerja di perusahaan inti tidaklah mudah, karena banyak sekali saingan yang selalu ingin mencari muka pada pimpinan mereka.
Seperti orang yang satu ini. Seorang pria bertubuh tinggi dan berwajah lumayan. Dia adalah manajer baru yang menaungi mereka. Namanya adalah Bagas.
"Anak baru, kerjakan ini!" ucapnya sambil memberikan tumpukan berkas ke Erlangga.
Erlangga menatapnya dengan tatapan tak suka. Dia tahu berkas ini harusnya dikerjakan secara berkelompok dengan karyawan lain, namun, sepertinya pria itu memang ingin membuat Erlangga kesusahan.
"Tidak apa-apa, aku akan membantumu. Kita bisa lembur sama-sama," ucap Nala yang didengar oleh Bagas.
"Kau harus mengerjakan sendiri. Jika saya mengetahui ada yang membantumu, maka saya akan menambah pekerjaanmu. Minimal kalau tidak tampan, ya rajinlah."
Ucapan Bagas membuat Nala berdecak kesal. Mereka yang belum mengenal Erlangga dengan baik tidak akan tahu jika pria itu memiliki pesona tersendiri. Nala tidak pernah memperdulikan soal fisik. Asal dia nyaman bersama orang itu, maka dia akan tetap setia padanya.
"Anak baru sok-sokan punya pacar. Tidak sadar diri punya wajah pas-pasan," gumam Bagas sambil melihat Nala dan Erlangga yang terlihat kompak, saling pandang, dan sesekali tersenyum.
Sebenarnya dia tak masalah, namun Nala dengan setia menunggunya. Karena kasihan, dia pun meminta bantuan kakaknya, Rayden yang merupakan CEO perusahaan ini untuk berpura-pura datang ke ruangannya agar mereka bisa pulang.
Hingga beberapa saat kemudian, Rayden pun datang dan berpura-pura mencari sesuatu. Saat melihat ada pegawai yang lembur, dia pun menegur Bagas.
"Bagas, apakah mereka lembur?" tanya Rayden pada Bagas yang langsung berkeringat dingin.
"I-iya, Tuan."
Rayden mendekat dan melihat berkas yang dikerjakan Erlangga.
"Mana teman-temannya? Mengapa hanya dia yang mengerjakan."
"Nah, itu, dia, Tuan. Saya sudah berulang kali mengatakan padanya agar membagi pekerjaan ini pada rekan-rekannya. Tapi, dia menolak karena ingin mengerjakan semua sendiri. Saya rasa, dia ingin mencari muka pada atasan, Tuan. Saya akan menegurnya."
"Oh ya? Bisakah kau buktikan omongan itu? Ada CCTV yang akan menjawab omonganmu ini."
"Tidak, perlu, Tuan. Sebaiknya kita tidak perlu mengecek CCTV karena itu hanya akan memakan waktu. Ini salah saya karena membiarkan dia bekerja sendiri. Saya akan menyuruhnya pulang dan menyerahkan tugas ini pada rekan-rekannya yang lain," ucap Bagas yang masih berkeringat dingin.
Rayden pun segera pergi sambil menatap Erlangga dan juga gadis di sampingnya. Tak lama setelah dia pergi, Rayden pun langsung mengirimkan pesan padanya.
[Seleramu bagus.]
Erlangga hanya berdecak kesal. Namun, dia bersyukur karena sekarang Bagas telah memperbolehkan dirinya dan Nala untuk pulang.