
"Jadi sebenarnya dia itu calon Ari? Pantaslah Radit begitu tidak senang di hari akadnya kemarin. Kasihan sekali nasibmu Ari ..., huhu ..., kenapa nasibmu bisa menyedihkan seperti ini ...." Intan menghapus bulir-bulir yang turun dengan cepat dari matanya.
Tuan Mahesa menghela nafas berat. Melirik sepupu istrinya itu yang baru saja ia beritahukan kebenarannya.
"Tapi kenapa begitu cepat, Kak? Kasihan kan, Ari. Meski dia sudah meninggal, tapi kan sepertinya kejam sekali jika kita langsung menikahkan calon istrinya pada Radit. Menikahkan mereka dengan mewah dalam jangka waktu yang sangat dekat dengan waktu kematiannya. Aku rasa gak adil bagi Ari," protes Intan sambil menyeka air matanya.
"Aku sendiri sebenarnya merasa berat. Tapi aku juga tidak ingin Ariana larut dalam kesedihan. Ditambah lagi, Kiran itu putri sahabatku. Yang banyak memberikan kontribusi atas perusahaanku sekarang. Dia putri satu-satunya. Jika sahabatku masih hidup tentu dia menginginkan pernikahan yang layak untuk putrinya."
"Lalu bagaimana dengan Radit dan Kiran?" tanya Intan.
"Mereka sudah setuju," jawab Tuan Mahesa dengan yakin.
"Jadi aku minta padamu, urus resepsi mereka. Buat pernikahan ini menjadi pernikahan paling layak untuk putri sahabatku dan putra pertamaku. Aku memercayakannya padamu."
Meski hati Intan merasakan sedih yang teramat dalam ketika mengetahui semuanya, namun ia merasa tersanjung, suami dari sepupunya ini memercayakan semua padanya.
"Kau sanggup?" tanya Tuan Mahesa. Intan mengangguk.
"Aku ingin pernikahan mereka paling lambat pekan depan sudah terlaksana. Pastikan undangan tersebar. Buat nama Kiran sesuai nama aslinya. Aku ingin keluarga Widjadja mengetahuinya. Kirimkan juga undangan pada mereka dengan desain undangan terbaik. Aku ingin mereka tahu bahwa salah seorang keluarga mereka ada padaku. Aku ingin melihat reaksi mereka."
Intan mendengarkan sembari menambahkan catatan pada ponselnya. Ia mencatat setiap detail perintah yang diberikan Tuan Mahesa.
"Siapkan juga bulan madu untuk mereka. Jika Radit menolak, biar aku yang membujuknya."
Intan terdiam beberapa saat. "Baiklah Kak, aku akan mengaturnya sebaik mungkin."
Tuan Mahesa tersenyum puas. "Baik. Aku percaya padamu. Urus mereka sebaik mungkin. Aku pergi dulu." Tuan Mahesa bangkit dari duduknya dan melangkah keluar ruangan.
❇❇❇
"Apa maksud data ini, Bara? Kau yakin dengan semua ini?" Radit menatap layar laptopnya tidak percaya.
"Itulah yang aku dapatkan dengan susah payah. Peluru itu berhubungan dengan semua orang yang telah ku-list dalam data. Namun ada beberapa orang yang akhirnya terhubung dengan orang-orang yang tak asing buat kita. Aku rasa semua ini ada hubungannya dengan Kiran."
"Maksudmu?"
"Mereka menargetkan Ari karena Ari berhubungan dengan Kiran. Terlebih lagi kaitan dengan foto itu. Yang jelas, ini masih asumsi sementaraku. Kematian Ari itu berkaitan dengan Kiran. Atau dengan kata lain, jika Ari tidak menikah dengan Kiran maka dia tidak akan mengalami ini."
"Katakan dengan jelas!"
"Seseorang sepertinya sedang mengamati Kiran dan ..., ini hanya asumsi sementaraku. Aku janji padamu, sepekan lagi semuanya akan terang. Sepertinya ada orang yang tidak ingin Kiran menikah atau mungkin tidak ingin Kiran menjadi keluarga Makarim. Tapi karyawan Regan tidak terkait dengan hal ini."
Radit terdiam beberapa saat. "Baiklah, kau selidiki background orang ini. Aku ingin tahu latar belakangnya untuk kemungkinan itu," ucap Radit sembari membuat pola lingkaran pada layar laptopnya.
Radit menyandarkan kepalanya pada kursi. Matanya terpejam. Dia mencoba menenangkan hatinya yang bergemuruh. "Jika tidak ada lagi, kau boleh keluar Bara. Biarkan aku sendiri saat ini." Bara meninggalkan Radit yang termangu duduk di kursinya.
Kiran penyebab semua ini? Berarti ..., secara tidak langsung dia menjadi penyebab kematian Ari!
"Siapa sebenarnya Kiran ini? Wanita seperti apa yang sebenarnya sedang kunikahi," gumamnya pelan.
❇❇❇
Kiran pulang dijemput supir. Setelah mendapat telpon dari Bara, hati Kiran jadi diliputi tanda tanya. Ada apa sebenarnya? Kenapa Bara bertanya tentang isi foto itu? Lalu ciri-ciri orang dalam foto, nama lengkap dan usia? Untuk apa itu semua?
Sampai jam makan malam, Radit belum juga pulang. Makan malam hanya diikuti oleh tiga orang saja. Mama Ariana, Raisa dan Kiran. Selesai makan malam, Kiran mengobrol ringan dengan Raisa. Mereka tidak melakukannya di kamar Mama Ariana, sebab mertuanya merasa mengantuk dan ingin tidur lebih awal.
"Bagaimana Kakak ipar bisa jatuh cinta pada Kak Radit? Cerita dong Kak! Secara Kak Radit itu payah banget jatuh cinta. Biasanya Kak Radit itu juga selalu dingin sama cewek. Kenapa bisa dia jatuh cinta pada Kakak?" Raisa bertanya dengan antusias. Mereka sedang mengobrol di kamar Raisa, kamar yang dulu ditempati oleh Kiran.
Kiran tersenyum kecut. Ia tak tahu harus cerita apa. Karena ia pun tak pernah merasakan mencintai apalagi dicintai Radit. "Kakak juga enggak tau. Semua mengalir begitu saja." Tentu saja kata-kata ini merupakan alasan.
"Bersabarlah dengan Kak Radit ya, Kak. Meski kadang ia agak kasar namun hatinya sangat lembut, Kak. Dia sangat peduli pada kami. Pasti lebih peduli lagi pada Kakak. Karena terlalu peduli dan perhatian, terkadang Kak Radit jadi over protective."
Raisa mengerucutkan bibirnya, mengingat tindakan Radit yang selalu mengancamnya jika ketahuan pacaran. Hidupnya akan habis, tentu saja.
"Raisa sangat mengagumi Kak Radit ya?" tebak Kiran.
"Hehehe, kelihatan banget ya, Kak. Raisa memang pengennya sih, dapet suami nanti seperti Kak Radit. Jadi gak perlu khawatir, sebab Kak Radit itu tipe setia."
"Hmmm, yakin? Walau marahnya sangat mengerikan, tetap mau punya suami kayak Kak Radit?" tanya Kiran tersenyum penuh arti.
"Kakak sendiri sudah tahu begitu, kenapa masih suka sama Kak Radit? Hayo!" cibir Raisa.
Karna aku terpaksa! Kiran tersenyum getir.
"Raisa beritahu sebuah rahasia ya, Kak. Meski memang agak pemarah, namun jika punya strategi yang baik maka akan mudah menghilangkan kemarahan Kak Radit. Jika Kak Radit marah. Kita tinggal pura-pura menyesal dan peluk kakinya. Mohon maaf saja padanya. Pasti langsung hilang marahnya. Itu sangat efektif bagi Raisa. Bagi Kakak tentu jauh lebih efektif," ujar Raisa.
Kiran tertawa kecil mendengarkan adik iparnya itu. "Bagi Kakak mungkin itu tidak efektif, Raisa. Kakak tidak akan pernah memohon padanya. Sedari kecil, Papa Kakak mengajari Kakak untuk tidak memohon pada siapa pun. Memohon cukup pada Allah. Memohon bagi kami berarti merendahkan diri."
"Meski Kakak ipar yang bersalah? Tetap tidak mau memohon juga?"
"Jika bersalah, tinggal minta maaf saja. Namun tidak untuk memohon. Tapi Kakak selalu berusaha untuk tidak melakukan kesalahan sekecil apapun."
"Wah, Kakak ipar lama-lama kenapa mirip Kak Radit, ya. Kalian sepertinya satu made in."
Kiran tersenyum kecil. Satu made in?
"Ngomong-ngomong Raisa sudah punya pacar?"
"Maksudnya tamat?" Kiran tak mengerti.
"Kemana-mana pasti bakalan ada pengawal. Gak boleh keluar lagi. Gak boleh kemana-mana lagi. Memikirkannya saja Raisa sudah merinding."
"Padahal Raisa tinggalnya jauh ya. Apa Kak Radit bisa tahu?"
"Kak Radit tu punya mata-mata, Kak. Daripada ketahuan dan gak diberi kebebasan lagi, Raisa mending gak pernah melakukannya."
"Kalau Papa tahu, Papa gak marah Kak Radit berbuat begitu sama Raisa?"
"Papa selalu mendukung keputusan Kakak. Kak Radit sudah seperti Papa kedua bagi kami."
Ternyata dia memiliki pengaruh kuat dalam keluarga ini.
❇❇❇
Saat Kiran kembali ke kamar, Radit telah berada di sana. Pria itu baru saja keluar dari kamar mandi.
"Kau lembur?" tanya Kiran memulai percakapan. Ia merasa Radit sudah tidak terlalu memusuhinya lagi seperti sebelumnya. Terbukti tadi pagi, pria itu terlihat ingin melindunginya. Untuk itu, dia juga harus bersikap baik.
Melihat Radit tak menjawab, Kiran Mencoba bertanya kembali. "Mau kuambilkan minum?"
Radit menatap Kiran dingin. "Tidak usah, terima kasih."
Ada apa dengannya? Apa dia marah padaku?
"Kau lelah?" tanya Kiran lagi.
Radit tak menjawab. Ia melangkah dan menaiki tempat tidur. Berada dalam posisi duduk menyandar pada kepala tempat tidur. Pria itu menggerakkan layar ponselnya dengan serius.
"Kau sibuk? Jika tidak, ada yang ingin kutanyakan padamu." Kiran mendekat. Duduk di pinggir tempat tidur.
"Katakanlah."
"Waktu di kantor tadi, Bara menelponku. Aku hanya penasaran. Ada apa Bara menanyakan itu padaku. Apa kau tahu sesuatu?"
"Menurutmu apa?" Radit balik bertanya.
"Aku tidak tahu. Makanya aku bertanya padamu."
"Aku sendiri juga tidak tahu. Kau bisa tanyakan pada Bara jika kau ingin mengetahuinya."
"Bara itu asisten pribadimu. Tentunya segala tindakannya itu atas dasar perintah darimu. Tidak mungkin kau tidak mengetahuinya. Sebenarnya apa maksudmu?"
Radit melirik Kiran dengan cuek kemudian membaringkan tubuhnya, menutupi wajahnya dengan selimut. "Aku lelah. Aku mau tidur dulu," katanya dari balik selimut.
Kiran merasa diabaikan. Radit sepertinya menyembunyikan sesuatu darinya. Ia tidak terima, Kiran membuka selimut Radit dengan paksa. "Katakan sejujurnya padaku sekarang!"
Radit membelalakkan matanya. "Kau tidak dengar? Aku sedang lelah sekarang!"
"Baik, aku akan tidur di sini malam ini. Aku juga lelah menghadapi perubahan sikapmu ini." Kiran membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur.
"Hei, siapa yang suruh kau tidur di sini?! Kembali sana ke sofa. Kau hanya boleh tidur di sofa!"
"Aku tidak mau!" Kiran tak peduli, tetap melanjutkan membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur.
"Hei! Kau memancing kemarahanku ya?!" Radit bangun dari tidurnya dan membangunkan Kiran dengan paksa.
"Kau lihat sofamu itu. Tubuhku terlalu panjang. Aku juga lelah di kantor karena telah bekerja seharian. Kali ini coba kau rasakan tidur di atas sofa itu. Biar kau bisa merasakan apa yang aku rasakan," ujar Kiran dengan suara datar. Ia mencoba menahan gemuruh dalam dadanya.
"Hei, kau jangan coba mengaturku!"
"Tentu aku tidak bisa mengaturmu. Namun coba kau pikirkan sedikit tentang sofa itu. Tidakkah kau lihat dia lebih kecil dari tubuhku. Jika aku anak kecil tentu aku bisa nyaman di situ."
"Aku tidak peduli. Bangkit sekarang!"
"Aku tidak mau! Jika kau ingin aku tidur di sofa, maka belikanlah yang panjang."
"Bangkit!"
"Tidak!"
"Kiran!!"
Mau tak mau Kiran bangkit dan berdiri di hadapan Radit. Kini gadis itu menekuk kaki kanan di depan, telapak kaki menghadap ke depan. Sedangkan kaki yang di belakang dalam posisi lurus dengan posisi tangan mengepal ke depan.
Posisi kuda-kuda depan!
Radit mengernyitkan dahinya. "Kau ingin menantangku?"
"Siapa yang kalah, dialah yang harus tidur di sofa," ujar Kiran dengan sorot mata penuh dengan kesungguhan.
❤❤❤💖