
Radit tak memedulikan suara Intan. Ia hendak membantu Kiran berdiri dalam posisi tegak dan melepaskan tangannya dari pinggang gadis itu. Namun tiba-tiba kepalanya terdorong lagi mendekati wajah Kiran dan..., cup! Bibir itu kini menempel dengan lebih kuat dari sebelumnya. Hingga hidung Radit dan Kiran bertabrakan. Mata mereka berdua membelalak lagi seketika.
Radit menegakkan tubuh Kiran dengan bibir mereka yang masih menempel dengan kuat. Setelah Kiran berdiri, Radit pun melepaskan tangannya dari pinggang gadis itu. Kemudian menepis tangan Intan yang berada di belakang kepalanya.
"Hei, Nenek Sihir! Jangan memancing kemarahanku!" pekik Radit, menatap tajam Intan.
Yang ditatap malah balas melototinya. "Siapa yang peduli dengan kemarahanmu!"
"Cepatlah kau menikah biar kau bisa ciuman sepuasnya dengan suamimu. Jadi tidak perlu menjadikan ciuman kami sebagai tontonan."
Intan terkesiap, pernyataan Radit barusan menyinggungnya. Dia pun memalingkan mukanya. "Jika sudah tau begitu, maka bersyukurlah kau pada Kiran. Jika tidak ada dia, mungkin kau akan melajang lebih lama dariku."
Intan menghela nafas kasar. Kemudian tatapannya beralih pada Kiran. "Udah yuk, Kiran. Kamu ganti baju aja dulu. Hari ini ada dua stel baju yang harus dipakai," ucap Intan kemudian sembari menarik tangan Kiran.
"Hei, kau tidak lihat gaunnya?! Jika seperti itu kau menariknya, maka dia akan jatuh," sela Radit melihat Kiran yang kesusahan berjalan mengikuti Intan.
Intan menoleh, melirik Kiran yang di belakangnya. "Kalau begitu, kau saja yang menggendongnya."
"Dia punya kaki. Aku juga sudah lelah jadi bonekamu. Kau suruh saja asistenmu membantunya mengangkat gaunnya," elak Radit.
"Tadi ketika di kamar, kau bilang dia istriku. Begitu disuruh gendong bilangnya dia. Punya suami gak romantis itu ya gini, Kiran. Sabar-sabar lah dengannya, ya," omel Intan sembari mengelus punggung Kiran. Kiran menanggapinya dengan tersenyum samar.
"Kau tunggu saja di sana. Kiran akan ganti baju dulu," ujar Intan pada Radit menunjuk sofa yang berada di ujung ruangan.
-
❇❇❇
"Ciee ..., yang ciuman pertama ..., mukanya sampai merah banget tadi." Bara menyenggol lengan Radit dengan lengannya. Ia tersenyum geli.
Radit melirik Bara, menatap tajam sahabatnya itu. "Diam, atau akan kupaksa kau ciuman sama Intan!" ancamnya.
"Belum mahrom, Bro. Ngeri amat yang marah. Masa aku yang polos ini mau dikasi sama tante-tante ...," jawab Bara sambil bergidik ngeri.
"Sama Raisa dong, Bro. Gak nolak aku. Langsung ijab kabul," ucap Bara menambahkan. Tatapan mata Radit semakin tajam. Alarm tanda bahaya berdenging di telinga Bara.
"Aku ambilkan jas yang akan kau pakai nanti. Aku pergi dulu, ya," katanya mengalihkan percakapan. Pria itu langsung ngacir, menyingkir, menjauhi Radit.
Radit menghela nafas pelan. Mengingat kata-kata Bara barusan, 'Ciuman Pertama'.... Ingatannya langsung kembali pada peristiwa di masa lalu ....
Flashback On
"Beneran nih, Kak, Karina bisa turun. Tapi beneran ditangkap, ya," ucap seorang anak perempuan dari atas dahan pohon. Radit mengangguk sembari matanya tak lepas dari dahan pohon itu.
Anak perempuan itu menjatuhkan tubuhnya dan Radit coba menangkapnya. Namun kakinya tergelincir hingga tangkapannya meleset. Tubuh anak perempuan itu menimpanya. Dan bukan hanya tubuhnya, akan tetapi bibir anak perempuan itu juga menimpa bibirnya.
"Huaaa ...!" jerit anak perempuan itu, mengangkat tubuhnya dari atas tubuh Radit dan menjauhkan tubuhnya dengan segera. Bocah perempuan itu mengusap bibirnya dengan kasar.
Secara perlahan Radit bangkit dan duduk di atas tanah. Wajahnya bersemu merah. "Maaf, Kakak gagal menangkapmu. Kaki Kakak tergelincir."
"Huaaaa ...! Karina berdosa!!" pekik anak perempuan itu lagi.
Radit menatapnya heran. "Kenapa Karina jadi menangis? Kenapa jadi berdosa?" tanyanya kemudian.
"Waktu itu Karin tanya sama Papa masalah ciuman. Kata Papa, ciuman hanya boleh dilakukan jika sudah menikah saja. Dan kata Papa, ciuman pertama Karin harus sama suami Karin," ucapnya sambil terisak.
"Kakak minta maaf. Kakak juga tidak sengaja. Ciuman tadi juga ciuman pertama Kakak. Sama-sama pertama kalinya untuk kita. Maka dari itu, Kakak akan tanggung jawab!" sahut Radit, memberi ketegasan pada akhir kata-katanya.
Karin menghentikan isak tangisnya. "Kakak mau tanggung jawab bagaimana?" tanya anak perempuan itu polos.
Radit menatap Karina beberapa saat. "Setelah besar nanti Kakak akan menikahi Karin."
"Itu kan kalau sudah besar. Sekarang kita masih kecil. Jika Karin hamil akibat ciuman tadi, bagaimana?" tanya Karina menatap Radit.
"Kalau cuma ciuman, tidak akan buat bocah seperti kamu hamil, Karin," jawab Radit menahan geli.
"Darimana Kakak tahu? Papa bilang ciuman itu hanya boleh dilakukan setelah menikah. Papa jawab begitu kan, karena ciuman itu bisa bikin hamil."
"Papa bilang begitu ke Karina, bukan karena ciuman itu bikin hamil. Tapi untuk menjaga Karin agar tidak sembarangan mencium orang. Karin jangan khawatir. Yang Kakak bilang ini benar. Kakak sudah membaca dari buku perpustakaan sekolah."
"Bagaimana Kakak mau menikahi Karin? Kakak saja mau pergi dari sini meninggalkan Karin." Bocah perempuan itu mulai mengerucutkan bibirnya. Air matanya mulai menggenang.
Radit mengusap kepala Karina dengan perlahan. "Kakak akan datang lagi nanti. Karin tunggu saja Kakak. Setelah dewasa nanti Kakak akan kembali dan melamar Karin. Kakak janji itu," ucap Radit dengan penuh kesungguhan.
"Beneran ya, Kak? Jangan lupakan Karin," ucap Karina dengan air mata yang sudah menetes.
"Iya. Kakak janji. Udah, jangan menangis lagi. Karin memang cengeng ya. Begitu aja nangis."
"Biarin aja cengeng! Suruh siapa Kakak pergi!" jawabnya tidak terima.
"Kakak kan pergi cuma sebentar," elak Radit. Wajahnya mulai sedih.
"Sebentar apanya! Kakak akan pergi dalam waktu yang lama. Kakak akan pindah dari sini. Nanti siapa lagi yang nemenin Karin mandi hujan? Siapa lagi yang nemeni Karin pergi dan pulang sekolah? Siapa yang bantuin Karin negerjain tugas sekolah, nangkap Karin kalo Karin gak bisa turun dari pohon? Siapa lagi Kak?" Karina mencecar Radit dengan pertanyaan. Air mata Radit sudah mulai keluar. Ia hanya terdiam.
"Huaaa ..., Kakak jangan pergi. Karin bakalan kesepian," tangis Karina sembari memejamkan mata, kakinya ia gesekkan dengan kuat ke tanah.
Flashback Off
Radit menghentikan lamunannya. Ia tersentak saat kakinya ditendang dengan tiba-tiba. Intan menendang kaki Radit pelan. "Hei, mikirin apa sampai melamun, gitu?!" tanyanya menyelidik.
Radit mengusap sudut matanya yang basah. Melirik Intan dengan tajam. Mereka memang jarang sekali bisa berdamai.
"Apa? Kau marah karena aku menendangmu? Tubuhmu kan kuat. Masa' ditendang pelan gitu aja sakit," ucap Intan.
"Kau tidak lihat, aku sedang mengantuk. Kau ini cuma mengganggu waktu istirahatku saja!" sahut Radit ketus.
"Dimana-mana kalau mengantuk itu, mata mejem. Ini mata melotot gitu. Akui saja jika kau memang melamun!"
"Mau melamun mau tidur, terserah aku. Mata, mata aku. Apa Pedulimu?!"
"Aku ini sedang peduli padamu! Dasar bocah ngeselin nih, ya .... Nih, makan! Biar mingkem tu mulut yang suka ngomong julid!" ucap Intan kesal sembari memasukkan secara paksa satu potong bolu ke dalam mulut Radit dengan tiba-tiba. Karena mulut Radit dalam posisi tidak terbuka maka bolu itu hanya menempel di bibirnya. Namun sebagian kecil sudah masuk dalam mulutnya juga. Sebab Intan memasukkan bolu itu dengan menekannya kuat ke mulut Radit yang tertutup.
Radit menegang, merasakan bolu itu lewat lidahnya kemudian merasa mual yang teramat sangat.
"Kau minta mati, ya! Lihat saja, aku akan membalasmu!" ucapnya kesal, menatap tajam Intan.
Radit berlari cepat masuk ke dalam kamar mandi. Ia sudah tidak tahan lagi. Perutnya serasa diaduk-aduk.
"Oeekk!!" Radit memuntahkan semua isi perutnya. Mata pria itu kini berair.
Bara yang baru datang dengan membawa jas di tangannya langsung berlari mengikuti Radit, masuk ke dalam kamar mandi. Jas yang tadi dibawanya langsung diberikannya kepada karyawan Intan.
"Kenapa, Dit? Kenapa tiba-tiba muntah?" tanya Bara setelah masuk kamar mandi yang terbuka pintunya.
"Kerjaan si Nenek Sihir! Dia memberikan aku bolu ..., oeekk!!" Radit menghentikan ucapannya. Ia muntah lagi. Mau mengucapkan rasa bolu itu saja, Radit sudah mual. Bara menepuk-nepuk pundak Radit.
Kiran yang sudah selesai berganti baju berjalan kembali ke ruang pemotretan. Ia berjalan melewati kamar mandi itu. Begitu mendengar suara Radit, ia pun menghentikan langkahnya.
"Nenek sihir itu selalu saja memaksa apa yang tidak aku sukai! Bibir dan mulutku sudah ternoda dengan baunya. Perutku rasanya mual sekali. Bara, tolong kau ambilkan aku air putih hangat dan permen. Aku tidak akan tahan dengan bau ini di mulutku," perintah Radit pada Bara.
Mendengar perintah Radit, Bara langsung bergerak cepat keluar dari kamar mandi. Di luar kamar mandi ia bertemu dengan Kiran.
"Eh, Kiran. Kenapa kamu di sini? Pasti nyariin Radit ya? Dia lagi di dalam. Kalau kamu mau bantuin, masuk aja ke dalam."
"Eh, tapi gak usah aja. Radit gak suka dilihat sekarang," ucap Bara melanjutkan.
Ya, dia dalam kondisi lemah sekarang. Dia tidak akan suka dilihat olehmu dalam kondisi lemah, batin Bara. Melanjutkan langkahnya setelah Kiran mengangguk.
Kini gadis itu berjalan menjauh. Perasaannya sungguh tidak enak mendengar kata-kata Radit yang terdengar di telinganya barusan.
'Bibir dan mulutku sudah ternoda dengan baunya.' Kalimat itu terus terngiang. Kiran mendekatkan tangannya ke depan mulutnya. Kemudian membuang hawa mulut ke telapak tangan lalu menciumnya.
Mulutku tidak bau. Lalu kenapa dia sampai muntah begitu? Apa dia begitu jijik jika menciumku? Apa karena ia tahu bahwa aku sudah ternoda oleh adiknya?
Kiran menekan hatinya yang mulai merasa teriris, mendapati kenyataan yang baru saja ia simpulkan. Meskipun merasa sangat sedih, namun ia menjaga ekspresi wajahnya agar tetap tenang seperti sebelumnya. Ia pun menegakkan bahunya kemudian melangkah kembali menuju tempat pemotretan.
❤❤❤💖