
"Wa'alaikumussalam!" jawab Bara dengan setengah hati. Memandang wanita di depannya dengan pandangan tidak suka, dan merasa amat sangat terganggu dengan kehadiran wanita itu.
"Ada apa pagi-pagi gini udah nongol ke rumahku? Mau nagih hutang?!" imbuh Bara ketus.
Wanita itu mengangsurkan paper bag yang ada di tangannya. Ia julurkan tangannya hingga benda itu mendekati tangan Bara.
"Apa ini?" tanya Bara dingin. Serasa enggan menerima apapun dari wanita ini.
"Ini selimut kamu. Aku membawanya pulang dan mencucinya sebab kotor sudah terkena muntahanku." Lusi berkata lirih menatap Bara dengan harap-harap cemas.
"Oh ...." Bara meraih paper bag itu dan meletakkannya begitu saja di dalam garasi di dekat pintu. Mata Lusi mengikuti hingga paper bag itu diletakkan. Ia menghela nafas kecewa.
"Ada apa?" tanya Bara tak acuh.
"Kamu nggak coba lihat isinya dulu?"
Bara menaikkan alisnya. "Kenapa? Ada bom di dalamnya?" ucap Bara cuek. Meninggalkan Lusi dan mendekati motornya. Menaikinya dan memanaskan motor tersebut. Suara meraung mesin motor memenuhi ruangan. Tatapan Lusi tak sekalipun lepas dari Bara.
Setelah dirasa cukup, Bara menghunuskan telunjuknya ke depan. Mengarah ke Lusi. Lalu memberi gerakan mengibas agar wanita itu menyingkir dari jalannya. Lusi bergeser sedikit. Motor Bara melesat keluar dari bagasi.
Bara menghentikannya ketika motor itu telah keluar dari bagasi lalu menyandarkannya. Ia menutup dan mengunci pintu garasi dari luar.
"Ehm .... Bara ...." Panggil Lusi saat Bara sudah naik lagi ke atas motornya. Ia tahu setelah itu, pria itu pasti langsung melesat ke rumah Radit.
"Apa lagi?!"
"Kita pacaran yuk," ucap Lusi lembut. Seketika Bara membelalakkan matanya. Ia melengos, kemudian menstaterkan motornya. Menggeber-geberkan motornya beberapa kali.
"Kau tahu arti pacaran bagiku?" tanya Bara melihat Lusi mendekatinya. Menatap dirinya dalam diam.
"Apa?"
"Menikah! Dan aku nggak mau menikahi wanita tukang mabuk sepertimu!" ucap Bara sembari menarik tuas kopling full lalu memasukkan gigi persneling di gigi satu. Motor berwarna red-black itu pun melesat meninggalkan Lusi yang menatapnya terpana. Hati wanita itu berdesir.
Kenapa baru sekarang aku sadar jika ternyata ia begitu memesona ..., ucap Lusi dalam hati.
-
***
Kiran merapikan jas Radit. Membenarkan letak dasi yang mengitari leher suaminya itu. "Sudah ...," katanya setelah merasa semuanya telah rapi.
"Ini pertama kalinya kamu membantuku berpakaian ..., terasa sangat menyenangkan." Mata Radit yang sedari tadi mengamati apa yang dilakukan istrinya itu, melembut. Menatap Kiran dengan mesra.
"Sejak dulu sebenarnya aku juga ingin seperti ini, cuma takut Kakak nggak suka dan malah berpikir yang tidak-tidak."
"Mas ...." Radit membenarkan. Kiran terkesiap. " Ya, Mas ...."
"Kita turun?" tanya Radit yang disambut Kiran dengan anggukan. Radit menautkan jari mereka kemudian berjalan keluar kamar.
Mama Ariana menyiku lengan Tuan Mahesa ketika melihat Radit dan Kiran turun. Papa Mahesa berdehem. "Ada yang tambah mesra ya, Ma?"
Tuan Mahesa menyindir kedua makhluk yang baru saja mendekati mereka. Radit dan Kiran paham akan maksud sang Papa namun keduanya merasa malu untuk menanggapinya.
"Papa sempat khawatir waktu ada yang pulang sendirian. Papa pikir lagi marahan. Lihat kalian berdua gandengan mesra gitu, Papa jadi menyesal sudah sempat khawatir."
"Memang Radit sengaja minta Kiran pulang duluan, Pa. Biar Kiran urus TJ saja. Cukup Bara yang menemani Radit." Radit memberi alasan.
Tuan Mahesa memang sempat curiga ketika tahu Kiran pulang lebih dahulu. Sebab sesuai dengan rencana yang telah ia ketahui, setidaknya Radit dan Kiran akan berada di sana selama sepekan. Saat Kiran pulang lebih dulu, Tuan Mahesa ingin menegur Radit. Meski ia tidak berhak ikut campur rumah tangga anaknya namun jika pertengkaran dalam rumah tangga anaknya dibiarkan terlalu lama, takutnya akan berefek negatif dikemudian hari. Beruntungnya, telponnya selalu tidak tersambung ke Radit jika tidak tentu ia sudah malu karena telah salah sangka.
Radit pun sengaja menutupi dari sang Papa. Mengingat keinginan sang Papa untuk bisa segera memiliki cucu. Ia takut membuat sang Papa kecewa.
"Jadi bagaimana hotel itu, Dit?" tanya Tuan Mahesa. Radit sudah duduk di kursinya. Mereka duduk saling bersebrangan. Terlihat Kiran mengambil nasi dan beberapa lauk dan menempatkannya ke piring Radit. Tuan Mahesa menangkap itu. Ia bersyukur dalam hati. Hubungan mereka jelas sudah layaknya suami istri sungguhan.
"Jadi bagaimana kedepannya? Tindakan apa yang kita ambil?"
"Akuisisi lebih layak, Pa."
Tuan Mahesa manggut-manggut tanda setuju. "Nanti langsung ke kantor, Dit. Kita bicara di sana." Yang dimaksud Tuan Mahesa dengan kantor, yakni kantor di Makarim Group.
Baik Pa."
Suara denting sendok dan garpu menjadi lanjutan percapakan mereka di meja makan. Setelahnya Kiran dan Radit pergi naik mobil yang sama. Sementara Tuan Mahesa naik mobil yang lainnya.
"Setelah mengantar Kiran, kita segera ke Makarim Grup, Bara." Perintah Radit pada Bara.
"Oke!" sahut Bara tanpa menoleh. Mobil sedan hitam itu pun keluar dari pekarangan rumah keluarga Makarim.
Bara melirik pasangan di belakangnya yang masih terlihat membisu dari kaca spion. Irisnya menangkap kedua jemari Radit dan Kiran saling terkait. "Lagi kangen-kangenan ya?" candanya. Sekilas melirik ekspresi Radit.
"Udah tahu nanyak!" sahut Radit ketus.
"Kiran ..., suamimu kok masih galak bener. Tadi malam apa nggak dikasi jatah?"
Radit menatap Bara tajam. "Omonganmu itu udah seperti obrolan bapak-bapak di warung kopi aja!"
"Hahahaha ..., yaelah padahal baru baikan .... Bawaannya mau emosi aja." Radit enggan untuk membalas. Ia membiarkan Bara tertawa meledeknya. Sementara Kiran hanya diam, malas membalas kata-kata Bara dan mengalihkan pandangannya keluar jendela.
Setelah sampai di depan TJ Company, Bara menghentikan laju kendaraannya. "Nanti makan siang di restauran waktu itu ya. Mas tunggu di sana," tutur Radit lembut menatap Kiran dengan hangat. Kiran menganggukkan kepalanya. "Iya."
"Ciee ..., mas ni ye ...." Bara berdehem. Senyum jenakanya kembali muncul. Melirik ekspresi Radit yang seperti tak acuh pada perkataannya. Pria yang digodanya masih memusatkan perhatian pada perempuan berjilbab yang kini sedang menyium punggung tangannya takzim.
"Kiran ..., ini." Radit menunjuk pipinya. Kiran melirik Bara sekilas. Memberikan isyarat jika ia malu sebab ada Bara bersama mereka.
"Bara, tutup matamu!" perintah Radit tegas.
"Hahaha .... Nasib deket sama lakik bini yang baru baikan gini nih."
"Oke, Dit. Aku tutup mata nih. Anggap aja aku nggak ada Kiran. Yang penting dunia ini hanya milik kalian berdua lah, yang lain ngontrak," kata Bara sambil memejamkan matanya dengan segera. Ia letakkan kepalanya pada setir.
Momen itu segera digunakan Radit untuk mendekatkan wajahnya dan mendaratkan ciuman ringan pada pipi, dahi dan terakhir, agak lama di bibir Kiran.
"Jangan dekat-dekat sama karyawan pria di kantor ya, Sayang ...." Pesan Radit sebelum Kiran membuka pintu mobil. Begitupun terdengar juga sahutan darinya. "Iya ...."
"Mas pergi dulu ya ...," ucap Radit melihat Kiran dari jendela mobil. Kiran mengangguk. "Hati-hati Mas ...." Kiran melambaikan tangannya. Melihat mobil Radit menjauh hingga menjadi sebuah titik lalu menghilang. Setelah itu ia pun segera memasuki gedung TJ Company.
"Sekarang udah pakai panggilan sayang sama mas ya?" ucapan itu sebenarnya tidak dimaksudkan untuk bertanya, lebih tepatnya meledek.
"Kenapa? Iri?" sahut Radit cuek.
"Hahaha .... Ya nggak lah. Ngapain iri sama pasangan yang udah terpisah selama puluhan tahun .... Syukur aja kalian jumpanya nggak nunggu kakek nenek ya. Kalau sempat udah tua jompo baru jumpa gimana tu ya, Dit?"
Radit menyunggingkan senyuman. "Iya. Kau benar. Alhamdulillah kami sudah bertemu sekarang."
"Aku turut berbahagia, Dit. Tapi agak mau muntah juga dengernya tadi."
Radit melotot, namun bibirnya meloloskan ucapan yang berasal dari lubuk hatinya yang paling dalam. "Thanks Bara. Makanya kau menikah juga. Biar jangan cuma aku yang bahagia."
"Cepatlah kau restui aku sama Raisa. Biar aku bisa menikah juga."
"Kau serius menunggunya, Bara? Dia masih kecil."
"Hatiku sudah terpaut dalam dengannya, Dit. Aku nggak bisa berpindah ke lain hati." Suara Bara dibuat mendayu-dayu, mendramatisir apa yang ia ucapkan.
"Hahaaha ..., gaya aja nggak bisa pindah ke lain hati." Radit tergelak.
"Beneran lho, Dit."
"Dit, aku serius nih. Raisa apa nggak bisa kuliah sambil nikah gitu?" Bara tak memedulikan gelak tawa Radit. Dia malah melontarkan pertanyaan dengan nada serius.
"Kau mau dibunuh sama papaku nanya begituan? Tapi kalau kau berani, kau boleh bertanya langsung sama papa." Radit masih tergelak.
"Minimal kau bisa rekomendasikan aku, Dit. Puji-puji aku dikit lah di depan papamu. Papamu tu kan paling percaya sama ucapanmu."
"Sori, Bara. Kalau itu agak berat. Papa nggak mungkin ngizinin."
Bara mendesah pelan. "Pesona Raisa sih kebangetan. Aku jadi susah begini."
"Hahaha ..., makanya naksir jangan sama anak kecil!"
"Jadi aku naksir siapa lagi? Masa Lusi? Nyebut namanya aja aku udah merinding." Bara jadi teringat ucapan Lusi perihal mengajak dirinya pacaran. Gila aja pacaran sama Lusi! Macam nggak ada perempuan lain! batinnya.
"Dia lumayan juga tu, Bara," sahut Radit membuat Bara terkesiap.
"Apanya yang lumayan? Nggak, dia bukan tipeku. Iss ... amit-amit."
"Kau belum mengenalnya, Bara. Hidupnya tragis makanya dia jadi begitu. Jadi rindu kasih sayang orang lain. Sebenarnya kisah dia dan Kiran hampir sama. Hanya Kiran berubah menjadi kuat sementara dia berubah jadi seperti itu."
"Nggak, apa pun yang kau bilang. Aku tetap pilih Raisa. Titik!"
"Aku cuma menyampaikan saja. Semua pilihan ada di tanganmu. Yang jelas pacaran itu ternyata asyik ya, Bara ...."
"Pacaran? Maksudnya kau yang pacaran?" Bara tidak mengerti.
"Iya. Aku dan Kiran kan sedang pacaran sekarang. Hidup ini terasa lebih berwarna Bara ...."
Bara menggeleng pelan. "Bentar lagi ada yang nyanyi lagu India nih ...."
"Hahaha .... Gimana lagunya Bara? Tumpas se ae .... Kuche kuche hota hai ...." Radit malah mendendangkan lagu India yang paling diingatnya. Maklum dia tidak pernah hafal lagu meskipun lagu anak muda zaman sekarang. Cuma satu lagu itu yang dia tahu, itu pun lagu India. Kuch kuch hota hai.
"Memang pengaruh Kiran ini luar biasa ya ...." Bara geleng-geleng kepala. Dia jadi memahami perasaan cinta dan bahagia jika bersatu maka akan menjadi sebuah harmonisasi dalam diri seseorang dan bisa berefek pada halusinasi dan hilang kontrol diri. Sahabatnya yang biasa serius itu kini malah senyum-senyum sendiri.
Virus cinta ternyata berbahaya!
"Yang jelas tetap ingat moto hidup kita dulu Bara!" suara Radit terdengar lagi.
"Apa?"
"Kita kan sudah berjanji untuk pacaran hanya jika setelah menikah."
"Iya. Kau nggak lihat aku sekarang jomblo!"
Radit tidak menghiraukan lagi ucapan Bara. Ia kembali mengingat perkataan Kiran yang tidak mengenalinya karena dirinya sangat tampan sekarang. Ah, dia sudah rindu lagi pada wanita itu.
Bara melirik sahabatnya lagi yang kembali tersenyum. Kita pacaran .... Sebuah kata yang sama namun kenapa jadi berbeda rasanya ditangkap telinga ketika orang yang mengucapkannya berbeda. Saat Radit bilang kata pacaraan, Bara bisa merasakan rasa bahagia yang memancar dari ucapan itu. Namun ketika mendengar kata itu dari Lusi tadi pagi. Jangankan bahagia, dia malah merinding setengah mati.
Ada ya perempuan ngajak pacaran seperti ngajak nonton bioskop begitu. Bara menghela nafas, kemudian melajukan kendaraannya dengan kecepatan sedang.
❤❤❤💖
Ada yang kasi masukan,
Karakter Kiran seharusnya tetap dingin dan tegas biar aja Radit yang bucin (kalau nggak salah begitu ya).
Yes, saran ini aku tangkap dengan cepat. Dua chapter sebelumnya udah aku revisi untuk mengganti dialog Kiran.
Benar sekali. Karakter Kiran memang dibuat tegas, dingin, dan nggak manja sebenarnya. So, aku makasi banget udah kasi masukan. Karena kadang aku lose character karena mikirin karakter lain.
Untuk alur mungkin udah nggak bisa ditawar lagi karena alurnya memang udah aku tetapkan sebelumnya. Namun untuk character aku makasi banget udah diingatkan.
So, love u full my readers tersayong ....😘😘😘
Jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komen and votenya. Terima kasih. ^^