
Ruangan rapat mendadak suram. Meeting yang selayaknya diadakan secara rutin itu seakan berbeda. CEO, Tim Eksekutif dan para jajaran pimpinannya tetap sama. Akan tetapi yang duduk berada paling depan itulah yang berubah.
Radit Makarim menatap para peserta rapat setajam elang. Lirikan matanya bahkan masih bisa menangkap gelagat lain dari peserta rapat. Mereka semua tak berkutik. Mereka hanya fokus pada bahan di tangannya. Tak berani meminta pembelaan apalagi membela sesama peserta rapat lain.
Berbeda halnya di ruangan rapat yang mencekam. Di depan ruangan direktur utama, duduk seorang perempuan cantik. Ruangan seakan semakin memesona setelah duduknya gadis itu di sana. Cara duduknya saja menawan. Membuat Kiran terkagum-kagum saat sesekali ia meliriknya.
Kalau pada saat pertama kali melamar di sini, aku sudah bersaing dengannya, tentu saja akan sulit bagiku untuk menang.
Kiran menghela nafas. Mencoba fokus pada beberapa agenda serta membuat beberapa memo yang akan diedarkan atas kemauan Radit. Ia sedikit terganggu dengan suara langkah kaki yang berjalan dengan cepat disertai beberapa gerutuan. Belum melihatnya, Kiran sudah tau siapa orang yang berjalan itu.
"Sudah kubilang sedari awal mereka harus tahu cara bekerja denganku. Mereka sudah terbiasa bekerja santai. Tidak ada kretivitas dan inovasi yang mampu mereka tunjukkan padaku bahkan dalam kurun waktu lima tahun sebelumnya. Bagaimana mungkin mereka meminta keputusanku untuk pekerjaan yang telah mereka lakukan berulang kali. Sampaikan pada mereka, akan ada rapat ulang. Aku ingin mereka menyampaikan sesuatu yang berbeda. Setidaknya ada satu poin yang berkembang dari yang telah ada sebelumnya. Jika belum ada, beri mereka waktu satu bulan untuk memikirkannya."
Radit mengomel panjang lebar. Bara yang berjalan di sampingnya, tak berani membantah. Jika sudah begini, maka siapkan saja dua kuping. Jika sahabatnya memintanya bicara, baru Bara berani bicara.
Gadis cantik yang mencoba menyibukkan diri dengan membaca beberapa koran harian lokal, segera beranjak dan bangun dari duduknya begitu mendengar gerutuan khas seseorang. Ia berdiri dengan bahu ditegakkan. Dengan memberikan senyuman paling menawan, ia siap menyambut seseorang yang sudah lama dinantinya.
Radit menghentikan langkah dan gerutuannya begitupun Bara yang berada di sampingnya. Melihat Lusi berdiri seakan menyambutnya. Entah kenapa Radit bisa melihat ada kerinduan mendalam terpancar dari kedua manik mata gadis itu.
"Kau sudah datang?" kata Radit menatap Lusi.
"Ya, seperti yang kau lihat," katanya dengan penuh percaya diri.
"Dia makin cantik aja, Dit ...," bisik Bara pelan. Namun bisikan itu terdengar di telinga Kiran yang berada tak jauh dari mereka.
"Masuk ke ruanganku. Begitu juga denganmu, Karina. Masuk ke dalam," ucap Radit tanpa ekspresi.
Kiran mengikuti Radit, Bara dan Lusi masuk ke dalam ruangan Radit.
Dia terus memanggilku Karina. Itu memang namaku. Tapi karena sudah lama tidak ada yang memanggilku begitu, aku jadi merasa aneh ketika mendengarnya. Bahkan Rangga saja mengganti panggilannya padaku meski dia tahu namaku Karina.
Radit duduk di kursi dengan elegan. Siapa pun yang melihatnya bisa menangkap aura kekuasaan yang memancar dari gaya duduknya. Ia memberi isyarat pada Bara yang berdiri di sampingnya untuk mulai bicara.
"Lusi ..., Anda akan ditempatkan sebagai sekretaris perusahaan dan Ibu Kiran akan menjadi sekretaris pribadi Bapak Radit sekaligus penanggung jawab pekerjaan Anda untuk sementara waktu. Anda harus banyak bertanya kepada beliau terkait hal-hal yang berkaitan dengan tugas Anda. Dan Ibu Kiran, mohon bantuannya untuk membimbing Lusi. Kedepannya, kalian harus saling bekerja sama dengan baik."
Bara menjelaskan panjang lebar setelah sebelumnya memperkenalkan Lusi dan Kiran bergantian. Radit hanya menatap lurus ke depan. Kiran sesekali melirik Lusi lewat ekor matanya. Melihat ke arah mana tatapan serta senyuman gadis itu. Ia bahkan tampak tak peduli dengan apa yang Bara ucapkan.
"Anda sudah paham, Lusi?" tanya Bara, memberi penegasan pada Lusi untuk mendengarkan apa yang ia bicarakan.
Wanita ini memang tidak pernah berubah. Radit selalu menjadi pusat perhatiannya. Bara menggeram dalam hati.
"Ya, saya paham. Bahkan sangat paham." Mata Lusi masih menatap Radit dalam.
Bara berdehem. "Ibu Kiran ..., tugas Anda berikutnya membuat schedule Bapak Radit, menggabungkan agenda di TJ Company dan Makarim Group. Anda harus saling berkolaborasi dengan sekretaris perusahaan yang bersangkutan," kata Bara lagi.
"Baik," jawab Kiran singkat.
Bara tersenyum tipis. "Aku akan menjelaskan lebih detail padamu nanti," katanya. Kiran menganggukkan kepalanya sedikit.
"Baik, terima kasih. Kalau tidak ada lagi yang ingin dibicarakan, saya permisi dulu."
Kiran melangkahkan kakinya keluar ruangan, begitu Bara maupun Radit membolehkannya keluar. Namun masih ia ingin menutup pintu, sebuah kalimat membuat ia merasa penasaran. Hingga tanpa sadar ia melihat isi ruangan dari sedikit celah pintu yang akan tertutup.
"Kau merindukanku?"
Lalu perempuan itu tampak merentangkan tangannya. Pintu pun tertutup.
Kiran jadi penasaran atas apa yang akan terjadi di dalam setelah ia keluar dari sana. Tidak mungkin ia kembali lagi ke dalam. Ia kan baru saja minta izin keluar dari sana.
Apakah mereka sudah saling mengenal sebelumnya?? Jika dilihat dari tatapan Lusi saat menatap Radit, hal itu bukan mustahil. Atau apakah dia, seseorang yang pernah dikatakan Radit sebagai orang yang dicintainya ...?
Kiran membeliak, tangannya menutupi mulutnya. Ia mengangguk kemudian menggeleng. Berhenti mengira-ngira, Kiran kembali fokus pada pekerjaan awalnya.
Pintu ruangan Direktur utama terbuka. Bara keluar dari ruangan. Kiran melirik. Bara menghela nafas kasar. Wajahnya tampak kecewa dan tidak terima.
Bahkan Bara pun diminta keluar. Apa yang mereka lakukan? Pembicaraan rahasia apa hingga Bara pun diminta keluar dari ruangan?
Hati Kiran kembali berkata-kata. Bara menangkap gelagat tak biasa dari Kiran. Ia dekati meja wanita itu. Kemudian duduk di kursi yang ada di sebrang meja Kiran.
"Dia memang cantik sih, wajar kalau kau cemburu ...," kata Bara.
Kiran mengernyitkan dahinya. "Kau sedang bicara padaku? Jangan berkata hal mustahil. Aku di sini sebagai bawahan dan dia atasanku. Jika kupertegas statusku sebagai istrinya pun, hal itu tetap mustahil bagi hubungan kami. Kau kan tahu sendiri bagaimana hubungan kami."
Beeuuuhh!! Jelas sekali dari wajahnya kalau ia sedang cemburu. Mereka sebenarnya saling mencintai. Cuma sok jaga image, jadinya begini.
Bara menarik satu sudut bibirnya. Sebuah ide terbersit dalam benaknya. "Meski aku bilang bahwa mereka telah saling mengenal sebelumnya? Dan Lusi sangat menyukai Radit. Dari dulu bahkan mungkin hingga hari ini. Apa kau masih tidak cemburu?"
Kiran terkesiap. Namun ia menyembunyikan keterkejutannya. Ia terlambat. Bara sudah menangkap ekspresinya.
"Baiklah. Akan kuberitahu satu rahasia. Kalau kau ingin tahu kebenarannya, maka akan kuberitahukan padamu. Tapi jika kau tidak ingin tahu maka aku tidak akan memberitahukan padamu."
Ucap Bara dengan wajah serius. Bahkan tampang seriusnya melebihi keseriusan Detectif Conan sewaktu ingin mengungkap pelaku pembunuhan. Kiran meliriknya sekilas. Menatapnya datar, seakan tidak tertarik pada apa yang ia ucapkan.
"Aku sama sekali tidak tertarik. Tapi jika kau ingin sekali aku mendengar ocehanmu, aku akan mendengarkannya untukmu."
Bara menarik satu sudut bibirnya. Jual mahal juga ada tempatnya Kiran ...!!
Bara tertawa dalam hati. Wajahnya sangat polos. Mereka memang sama-sama polos ....
Bara tersadar. Sadar Lo Bara .... Mereka yang Lo bilang polos itu sudah menikah. Bahkan mungkin sudah ehem-ehem seperti yang terciduk di butik Intan waktu itu. Lo sendiri .... Jomblo abadi!
Bara meringis dalam hati. Menepis suara-suara buruk dari dalam hatinya. Ingin menangis ..., tapi masa' gegara jomblo jadi merasa seperti orang paling menderita sedunia.
Aku nggak boleh cemen. Jodoh itu memang misteri Ilahi dan akan datang tepat pada waktunya .... (Diikuti suara tepuk tangan dari dalam hati Bara)
Prok! Prok! Prok! Bravo Bara!
Peeuuuhhhhh! Kembali ke target asal.
"Lusi itu dulunya adalah sekretaris di Makarim Group. Trus Radit secara tidak langsung memecatnya."
"O ya ..., trus ....." Kiran tampak bosan. Aku juga dulu pernah ingin dipecat. Trus apa menariknya dari itu?
"Aku tahu kau pasti tidak akan terkejut, mengingat karakter Radit seperti itu." Bara langsung keintinya. Ia bisa melihat, Kiran tampak tidak tertarik dengan hal yang baru saja ia katakan tadi.
"Tapi kau akan terkejut jika kukatakan apa penyebab alasan dibalik pemecatan secara tidak langsung itu ...."
Bara mencondongkan tubuhnya ke depan. Lebih mendekat ke arah Kiran. Ia berbisik dengan sangat pelan. "Lusi ketahuan oleh Radit. Ketahuan ingin mencium bibirnya saat Radit tertidur di kursinya."
Kiran membeliak dengan dua tangan menutup mulutnya. Bara menarik tubuhnya ke belakang. Ekspresi Kiran membuatnya tersenyum puas.
❤❤❤💖