
"Kiran...." panggil Radit pelan.
"Iya." Kiran menjawab cepat.
Aku harus menjawabnya. Jika tidak, aku akan dikatakan idiot olehnya, batin Kiran.
"Perbuatan kita yang tadi pagi ..., mau dilanjutkan?" tanya Radit lirih melirik Kiran.
Eh? Kiran terkesiap. Melirik pria itu yang kini menatapnya dalam.
Kiran berpikir sesaat. Dia serius atau sedang mengejekku sekarang?
"Jawablah sejujurnya," Radit menambahkan.
Kiran menaikkan satu alisnya. "Kau sedang mengejekku, kan? Karna aku tidak menolak sentuhanmu tadi pagi." Wajah Kiran terasa panas karena mengucapkan itu.
"Kau berpikir seperti itu?" Radit mengernyitkan dahinya.
"Kau kan selama ini menganggap aku murahan. Dengan peristiwa tadi pagi, pasti kau berpikir semua tuduhanmu tentang aku itu benar. Jadi apa lagi maksudmu jika bukan untuk mengejekku." Kiran memalingkan wajahnya. Malu sekaligus kesal. Ia masih berusaha setenang mungkin dalam berbicara. Menjaga intonasi suaranya agar tetap rendah.
"Kau ini yab..., kenapa otakmu itu selalu berpikiran buruk padaku," sahut Radit mulai kesal.
"Karena otakku ini menyimpan dengan baik sangkaan burukmu terhadapku." Kiran menjawab dengan cepat, tidak mau kalah.
Kata-kata Radit yang mengatakan dirinya murahan, licik, selalu terngiang di telinganya. Jadi ada semacam alarm peringatan pada dirinya sendiri untuk tidak berharap terlalu banyak pada Radit. Meski sebenarnya ia merasa nyaman pada pria itu.
Radit mendengkus kesal. "Kau ini sangat sulit memaafkan dan melupakan kesalahan orang lain."
"Aku hanya mengingat perkataan orang tentang diriku agar aku tidak menjadi apa yang dikatakan orang terhadapku."
Radit menghela nafas kasar. Dasar keras kepala! Dia selalu tidak mau kalah! Radit membuang muka.
Keheningan melanda di antara mereka selama beberapa saat. Keduanya melemparkan pandangan pada keindahan malam. Di mana terdapat bintang-bintang bertaburan.
"Kau lihat bintang itu. Apa kau pikir bintang itu akan tampak bersinar terang jika tanpa ada gelapnya malam? Sama seperti dirimu. Aku tidak akan tahu dirimu jika sebelumnya tidak berprasangka buruk padamu," ucap Radit tanpa mengalihkan pandangannya dari bintang-bintang di langit. Kiran terpana. Tercenung menatap Radit.
"Maaf. Aku sudah salah menilaimu sebelumnya. Sekarang aku sudah sadar akan kesalahanku, termasuk tuduhan tidak benar padamu saat kau tidur dengan Ari pada waktu itu." Kiran terkesiap. Entah kenapa ada kelegaan luar bisa yang muncul dari lubuk hatinya yang paling dalam akibat kata-kata Radit barusan. Mungkin karena fitnah sebagai wanita murahan setidaknya kini telah menghilang. Atau mungkin karena hal lain. Perasaan itu muncul sendiri tanpa ia ketahui alasannya.
"Memangnya apa yang kau tahu tentang kejadian malam itu?" tanya Kiran menyelidik. Setidaknya dia harus tahu, apa saja yang diketahui Radit pada dirinya dan Ari pada waktu itu.
Radit menoleh dan melirik Kiran. "Aku tahu kalau itu semua bukan keinginanmu. Itu semua kesalahan adikku. Jika bukan karena Ari, mungkin kau sudah menikahi pria dari perusahaan Regan itu."
"Rangga maksudmu?" Kiran mengoreksi.
"Kau ini, ya. Ya ..., Rangga ..., kekasihmu itu!" Radit memalingkan wajahnya lagi. Kiran tersenyum geli. Aku kok selalu ngerasa dia lucu ya? Walau lebih banyak membuat kesal ....
Kiran berdehem, mengatur intonasi suaranya. "Aku tidak menyalahkan Ari. Mungkin aku juga salah. Meski aku tidak tahu kenapa aku tidak sadar pada waktu itu. Jika aku masih bisa mengendalikan diriku, mungkin semua itu tidak akan terjadi," ucap Kiran merasa menyesal.
Radit melirik Kiran. "Syukur ada yang nyadar .... Itu memang benar! Jika bukan karena kesedihanmu yang berlebihan waktu itu, tidak akan mungkin Ari punya kesempatan untuk mengganggumu. Kau pun aneh! Dikhianati pacar seperti sudah hilang aja separuh duniamu. Menangis sampai hilang kewaspadaan diri seperti itu. Kau ingat saja waktu kau datang ke rumahku waktu itu. Lihat Mama pingsan, sampai nangis seperti kau lah yang kehilangan ibu. Nangis sih, boleh saja. Tapi jangan sampai over begitu. Efeknya kan jadi gak bagus buat kelangsungan hubunganmu!" Radit mengoceh panjang lebar.
Kiran melongo, Kok jadi dia yang ngomel .... Pria ini memang tidak pernah membuatku senang lebih lama ....
"Kau kan tidak pernah berhubungan dengan wanita sebelumnya. Mana kau tahu bagaimana perasaanku saat itu?!" Kiran mencebikkan bibirnya.
"Kau saja yang bodoh! Kalau memang kekasihmu selingkuh sebelum pernikahan kalian. Berarti bagus. Allah membuka aibnya sehingga kau tahu keburukannya. Kenapa malah nangis gak jelas begitu!"
ISSS, AKU EMOSI SAUDARAAAA .... Ups!
Kiran mengontrol amarahnya yang hampir meledak. Ingat kata Papa, Kiran. Berbicara dengan disertai kemarahan hasilnya tidak akan bagus. Jangan marah, Kiran. Bagimu surga!
Kiran menghela nafas pelan kemudian menatap Radit tajam. "Iya kau benar. Aku ini memang bodoh, rapuh, murahan, suka nangis gak jelas, gak bisa ngambil hikmah dari setiap kejadian. Apalagi? Bisa kau tambahkan?" Kiran menjawab dengan suara datar, tenang namun penuh dengan penekanan.
Radit menarik satu sudut bibirnya. "Marah?"
Radit tersenyum menahan geli. Wanita ini ....
"Pria yang kau suka itu ..., pasti Rangga, kan?" tanya Radit mengalihkan pembicaraan.
"Kenapa kau bisa berpikir seperti itu?" tanya Kiran melirik Radit. Kini mereka saling menatap satu sama lain.
"Kalian sudah lama bersama. Jika bukan karena Ari, pasti kau sudah menikah dengannya, kan?" tanya pria itu lagi.
"Iya," jawab Kiran singkat.
Tidak mungkin aku bilang aku tidak mencintai Rangga, sementara aku sudah berencana menikah dengannya. Tidak mungkin juga aku katakan bahwa aku menyukai seseorang yang kukenal sejak kecil. Aku pasti ditertawakan olehnya, batin Kiran.
"Kau ingat waktu itu? Di tempat ini, aku memergoki Ari yang ingin menciummu ...," ucap Radit, menatap bintang-bintang itu lagi. Kembali fokus pada tujuan semula.
Kan ..., sudah kuduga. Predikat murahan untukku pasti tidak akan hilang semudah itu. Baginya, aku yang dulu mau saja ketika Ari ingin menciumku. Sementara sekarang, aku pun tak menolak saat dia menyentuhku ....
"Apa kau sudah lupa?" tanya Radit sekilas melirik Kiran dengan tatapan menyelidik. Lalu kembali menatap bintang-bintang yang bersinar itu.
"Tentu aku masih ingat," jawab Kiran malas. Dia merasa malu.
"Aku masih mengingat betul bagaimana tatapan Ari saat melihatmu. Bagaimana khawatirnya saat kau diculik waktu itu. Dan betapa bahagianya saat kau bersedia menikah dengannya ketika pertama kali kau datang ke rumahku. Ingatan itu tidak akan mudah hilang begitu saja dalam pikiranku.
Ingatan itu juga yang membuat aku merasa bersalah pada Ari jika aku menyentuh terlalu jauh padamu. Meski Papa mengingatkanku bahwa kita telah dijodohkan sejak kecil. Namun ingatan bahwa sebelumnya kau adalah calon Ari juga masih membekas dalam ingatanku."
Kiran masih diam mendengarkan. Namun ada perasan tak enak menguar dalam hatinya.
"Jadi Kiran ..., untuk sementara ini, aku berharap kita tidak usah terlalu jauh dulu. Meski pada akhirnya, seperti yang aku katakan padamu kemarin malam, jika nantinya kita harus berhubungan layaknya suami istri. Namun bukan untuk sekarang. Waktu kematian Ari belum terlalu lama. Aku masih merasa seperti menyakitinya."
Hati Kiran kini terluka. Seharusnya dari awal, ia memang tidak boleh larut dalam sentuhan Radit. Ucapan tidak akan bisa mencintai, plus seakan menyakiti Ari, seakan-akan Kiran yang menginginkan sentuhan itu. Ini terlalu sakit bagi Kiran. Melukai harga dirinya.
Fuhhh...
"Aku setuju." Kiran menjawab dengan cepat.
"Apa kau kecewa?" tanya Radit menyelidik.
"Sekarang sudah pasti kau mengejekku?" tanya Kiran sinis.
"Kau ini .... Berhentilah beranggapan bahwa aku selalu menganggap kau buruk. Kan sudah kukatakan kalau aku telah salah menilaimu. Jadi berhentilah berpikiran seperti itu." Radit geleng-geleng kepala.
"Baik. Jadi apa pendapatmu tentang aku yang tidak menolak sentuhanmu tadi pagi? Sementara kau tau sendiri bahwa aku dan Ari pernah hampir berciuman di tempat ini?" tanya Kiran dingin.
"Kau hanya terbawa suasana. Begitu pun aku. Aku rasa begitu," jawab Radit setelah sebelumnya berpikir sesaat.
"Oke. Aku semakin mengerti pemahamanmu tentangku setelah ini," ucap Kiran datar. Suaranya terkesan dingin.
Radit mulai merasa was-was. Wanita ini berpikir apa lagi? Aku kok seperti merasa ada yang tidak beres di sini ....
"Baik. Terima kasih atas makan malamnya. Dan terima kasih atas pemikiran yang telah berubah padaku sekarang. Semua ini jadi mengubah sudut pandangku. Aku lelah, aku permisi dulu." Kiran bangkit dan melangkah masuk ke kamar sebelum Radit mengiyakan.
Setelah ini aku akan membentengi diriku dengan kuat untuk tidak terlena dan jangan sampai terlena untuk kedua kalinya meski dia berkata-kata lembut atau mengucapkan hal-hal manis yang bisa membuatku lupa. Aku harus selalu ingat bahwa dia adalah suami pengganti yang seharusnya menjadi calon kakak iparku. Dia juga telah MENYUKAI GADIS LAIN SEHINGGA TIDAK AKAN MENCINTAIKU. Jadi kau harus selalu ingat ini, Kiran. Tanamkan dalam hatimu. Dan ingat itu dengan sepenuh jiwamu! Tekad Kiran dalam hati sembari melangkah dengan percaya diri meninggalkan Radit yang masih mematung di balkon.
❤❤❤💖
Mohon maaf ya genks.... beberapa hari ini telat update, belum terkondisikan pegang hape dalam situasi pikiran yang tenang. So, nyari Ilham buat nulis macem nyari jaringan di desa terpencil di bawah bukit. hehe...
Pokoke love u all..😘😘😘
Like, komen n vote .... 🤗🤗🤗😘