Behind The Boss

Behind The Boss
Lebah dan Sarangnya



Radit mensejajarkan langkahnya di samping Kiran. "Kenapa kau berkata seperti itu pada nenekmu, Kiran? Bukankah itu sangat kejam?" bisik Radit dengan volume suara yang tidak bisa didengar oleh orang lain. Tampak dua orang asisten Intan kembali mengejar mereka untuk membantu Kiran.


"Kalau kau menjalani hidup sepertiku maka kau tidak akan pernah berkata seperti itu. Dialah yang kejam bukan aku," bisik Kiran ketus. Malas berdebat.


"Tapi aku lihat tatapannya tampak tulus menyayangimu," sahut Radit.


"Kau tidak tahu apa-apa. Ada banyak tamu. Apa kau mau mengajak berdebat denganku?!" bisik Kiran lagi namun intonasi suaranya penuh dengan penekanan. Radit menahan ucapannya.


Radit jadi mengerti sesuatu, Kiran berubah menjadi lebih dingin ketika menghadapi keluarganya sendiri. Ketegasan yang tanpa kompromi menjadi kepribadian yang dipasangnya ketika bertemu mereka. Mungkin nanti, jika situasi dan kondisinya pas, aku akan bertanya lebih dalam padanya, pikir Radit. Melirik Kiran sekilas kemudian kembali berjalan.


"Anda tidak boleh masuk, Pak. Maafkan kami." Kiran dan Radit mendengar ada suara ribut-ribut dari pintu masuk. Kiran menoleh, melirik seorang pria yang sedang ditahan oleh beberapa pengawal di sana.


"Aku hanya ingin bertemu Kiran. Aku ingin masuk sebentar saja. Biarkan aku masuk. Setelah itu aku akan keluar tanpa membuat keributan," terdengar suara yang sangat familiar, terlebih lagi disebutkan namanya di sana. Kiran tertarik dan mendekati sumber keributan itu.


Radit yang berjalan disebelahnya pun merasa terusik sebab ada yang mengganggu pestanya. Siapapun itu, jika tak berhenti membuat keributan maka terpaksa akan digunakan cara kasar.


"Mohon maaf, Pak. Anda tetap tidak boleh masuk. Sebab Anda tidak punya undangan," bantahan pengawal di depan pintu masuk itu semakin jelas terdengar.


Kiran menghentikan langkahnya saat ia berada dalam jarak dekat sehingga bisa melihat siapa pria yang mencarinya hingga meresahkan para pengawal.


"Rangga?" pekik Kiran secara tak sengaja. Pria yang dipanggil Rangga itu pun menoleh, melihat Kiran yang berada di dalam ruangan. Mata mereka bertemu. Mata sayu itu ....


Radit dengan cepat melangkah mendekati Rangga membiarkan Kiran tertinggal jauh di belakang. "Apa tujuanmu datang kesini?!" tanya Radit menarik kerah baju Rangga, menyingkirkannya dari para pengawal.


"Ada yang ingin aku bicarakan dengan Kiran. Sekali saja, aku mohon biarkan aku menemuinya," ucap Rangga menatap Radit penuh pengharapan. Radit masih membisu.


"Masalah Ari. Aku sama sekali tidak ikut campur. Memang aku punya rencana pada awalnya. Tapi percayalah aku tidak jadi melaksanakanannya. Demi Allah bukan aku yang menyebabkan ia kecelakaan," kata Rangga menambahkan. Rangga tahu bahwa suruhan Radit sudah menginterogasi orang suruhannya.


Radit terkesiap. Pria bodoh ini. Apa dipikirnya, kalau aku tahu dia yang menjadi dalang kematian Ari, akan kubiarkan dia masih bisa hidup dengan tenang hingga hari ini?


Radit menatap Rangga tajam. "Kalau kau melakukannya maka kau sangat bodoh. Kau jatuhkan dirimu dalam penjara hanya demi seorang wanita. Belum lagi dosamu yang besar karena membunuh manusia."


"Iya. Maka itu aku tidak jadi melakukannya," balas Rangga dengan tatapan sayu. Radit mengamati wajah pria yang sedang dicengkramnya itu. Ia bisa melihat kesedihan yang mendalam di kedua matanya.


Radit melepaskan cengkramannya. "Kali ini permintaanmu aku kabulkan. Bicaralah dengannya. Setelah hari ini jangan kau harap aku akan membolehkannya lagi!" ucap Radit. Ia memberi isyarat kepada para pengawal agar membiarkan Rangga masuk.


Kiran mendekati Radit dan Rangga. "Ada apa Rangga? Kenapa kau datang kesini?"


"Aku akan membiarkan kalian berdua bicara," ucap Radit melirik Rangga dan Kiran bergantian kemudian beranjak ingin pergi.


Sebelum sempat ia melangkah, Kiran sudah menarik lengannya. "Tetaplah bersamaku. Aku tidak ingin ada salah paham nantinya."


"Tenang saja, aku tidak akan menganggapnya seperti itu," sahut Radit kembali ingin melangkah.


"Aku tidak berpikir tentang kau. Tapi ini tentang pandangan tamu lain yang melihat kami."


Radit melihat ke sekeliling. Benar saja. Beberapa tamu ada yang melayangkan pandangan pada mereka. Jika ia meninggalkan Rangga dan Kiran berdua, tentu para tamu akan berprasangka buruk. Melihat mempelai wanita bicara berdua dengan pria lain.


"Baiklah kalau begitu. Sebaiknya kita duduk di sana saja," ucap Radit menunjuk beberapa kursi yang ada di sudut.


Radit kembali mensejajarkan langkahnya dengan Kiran. Rangga mengikuti dari belakang bersama dua orang asisten Intan.


"Ada apa Rangga? Bicaralah," ucap Kiran lebih dulu setelah mereka semua duduk. Asisten Intan tadi duduk menjauh. Radit duduk dengan tatapan yang tak acuh.


Rangga menatap Kiran sendu. "Kau tampak cantik sekali, Kiran," katanya.


Radit melirik Kiran. Wanita itu tampak tersenyum tipis. "Terima kasih, Rangga."


Kemudian tatapan Kiran berubah menjadi sendu. "Bagaimana kamu hidup sekarang? Kenapa kamu masih tampak kurus."


Radit memalingkan wajahnya. Hatinya berdesis. Kamu? Sama suaminya sendiri manggilnya kau .... Apa maksudnya itu?


"Kenapa kamu tidak mengundangku, Kiran? Apa memang aku sudah benar-benar dilupakan?" tanya Rangga.


"Maaf. Semua rencana dan pelaksanaan resepsi ini diatur oleh papa mertuaku. Aku tidak ingat untuk mengundang teman."


"Aku baru tahu kalau Ari meninggal. Aku baru mendengar kabar itu. Pasti hal ini juga berat bagimu," ucap Rangga. Kiran menatap Rangga. Mata mereka bertemu.


"Kenapa kamu gak menemuiku, Kiran. Kenapa harus menikah dengannya?" ucap Rangga lagi.


Radit melirik, menatap Rangga tajam. Untuk kali ini aku biarkan kau bicara seperti itu. Aku biarkan kalian berdua bicara sepuasnya. Setelah ini jika berani kau bicara seperti itu, lihat saja apa yang akan kulakukan untukmu!


"Semua direncanakan oleh mertuaku. Aku awalnya juga tidak tahu kalau Ari kecelakaan dan akhirnya meninggal."


"Apa kamu bahagia dengan pernikahan ini?" tanya Rangga mengamati wajah Kiran dengan seksama.


"Menikahlah denganku, Kiran. Aku tetap menerimamu apa adanya. Bagiku kamu yang dulu sebelum tragedi itu dan yang sekarang sama saja. Perasaanku tidak akan pernah berubah," ucapnya lagi.


Kiran terkesiap, merasa waswas kemudian melirik Radit yang tampak membuang muka. "Maaf, Rangga. Sebenarnya yang kusukai dari acara hari ini adalah bukan karena aku menikah tapi karena aku sudah diumumkan menjadi anggota dari sebuah keluarga. Memang aku dan dia terpaksa menikah tapi aku jadi punya keluarga dengan pernikahan ini," jawab Kiran.


Radit melirik Kiran sekilas. Kata-kata Kiran membuatnya terharu.


"Aku kan juga punya orang tua yang sayang padamu, Kiran. Jika kamu menikah denganku, keluargaku akan menjadi keluargamu."


"Mereka akan lebih menyayangi Sesilia daripada aku. Menikahlah dengannya. Kau dan dia akan sama-sama bahagia."


Rangga menatap dengan sorot mata penuh kesedihan yang mendalam. "Aku tahu. Dari modal dasar saja aku sudah kalah dengannya. Mana mungkin kamu mau kembali padaku."


"Sedari awal latar belakang tidak pernah menjadi prioritasku. Kita memang tidak berjodoh Rangga. Pahamilah itu. Sama seperti aku yang tidak berjodoh dengan Ari. Kita manusia hanya berencana. Allah juga yang menentukan akhirnya bagaimana." Rangga dan Radit sama-sama menatap Kiran.


"Dengan ini aku mengundangmu. Silakan nikmati hidangannya, Rangga. Aku pergi dulu. Aku takut papa mertuaku mencariku." Kiran memberi isyarat pada Radit untuk berjalan bersamanya.


"Rangga ..., terima kasih telah menemani hari-hari ketika aku sendiri. Sekarang lupakan hubungan kita di masa lalu. Jadilah temanku dan hiduplah dengan bahagia. Lamarlah seseorang agar kamu cepat melupakanku. Aku yakin kamu tahu siapa yang pantas untukmu," ucap Kiran lagi.


Kiran berdiri dan melangkah meninggalkan Rangga. Mengabaikan mata pria itu yang memerah. Aku serius dengan doaku, Rangga. Aku memang menginginkanmu bahagia, batin Kiran dalam hati.


"Sepertinya aku baru saja menjadi seekor nyamuk tadi," bisik Radit ketika mereka sudah agak jauh dari Rangga. Radit sempat melirik, akhirnya Rangga keluar dengan tatapan hampa. Ajakan Kiran untuk menikmati hidangan sepertinya tak dihiraukan oleh pria itu.


"Kau itu bukan nyamuk. Tapi lebah. Mendengar suara hembusan nafasmu saja aku sudah takut tersengat," balas Kiran dengan berbisik pula.


"Kalau aku lebah maka kau sarangnya. Kaulah yang membuat aku ingin menyengat," sahut Radit. Kiran terdiam. Ia malas menjawab lagi.


"Karna aku lebah. Hati-hatilah kau malam ini. Aku akan menyengatmu," ucap Radit menyeringai. Meninggalkan Kiran di belakang.


Kiran terkesiap. Berani kau menyengatku, akan kupatahkan ekormu, batinnya dalam hati sembari melangkah pelan-pelan.


❇❇❇


"Sandi ..., ada yang kau sembunyikan dari Mama, Nak?" tanya Nyonya Tutik di dalam mobil ketika mereka telah melaju di jalanan meninggalkan hotel milik Makarim Group. Rombongan mereka pulang setelah Nyonya Tutik selesai berbicara dengan cucunya, Karina.


"Tidak ada, Ma. Sandi hanya melaksanakan apa yang Mama perintahkan pada Sandi. Tidak ada yang lain."


"Lalu kenapa Karina berpikir seperti itu?"


"Memang apa yang dikatakan Karina, Ma?" tanya Sandi melihat Nyonya Tutik dengan penasaran.


Nyonya Tutik menggeleng pelan. "Tidak ada. Jika memang darimu tidak ada apa-apa. Mama akan mencari tahu sendiri nanti."


"Jangan terlalu peduli dengan ucapannya, Ma. Dia cuma anak kecil. Jika memang Mama mau, Sandi yang akan mencari tahu," ucap Sandi sembari memegang kedua tangan ibunya.


"Sudah. Kau fokus saja pada perusahaanmu. Pertahankan agar tetap sejajar dengan TJ. Radit tidak bisa kita abaikan. Sejak namanya diumumkan jadi pemimpin TJ, saham perusahaan itu langsung naik dengan tajam. Kredibilitasnya sebagai seorang pemimpin sepertinya tak diragukan. Jangan sampai perusahaan kita kalah darinya."


"Baik, Ma. Sandi akan lebih berusaha."


"Terima kasih. Mama akan selalu percaya padamu," ucap Nyonya Tutik sembari menepuk punggung tangan Sandi.


Mobil rombongan keluarga Nyonya Tutik membuat barisan mobil di jalanan. Orang di sekitar jalanan akan mengira bahwa yang lewat bukan orang biasa saja. Namun salah satu konglomerat yang ada di sana. Terlebih lagi plat mobil yang digunakan ada lambang huruf "W" nya.


❤❤❤💖