
Radit mengulurkan sebuah kartu pada Kiran. Kiran menerimanya dengan heran. Kartu yang diberikan Radit adalah kartu atm dari salah satu bank swasta.
"Apa ini?" tanya Kiran tidak mengerti.
"Selama kita menikah aku belum pernah menafkahimu. Pakai kartu ini. Setiap bulan aku akan mengisinya secara rutin. Pin nya tanggal lahirmu."
"Eh? Oh ... makasi."
"Tanggapan apa begitu?!"
"Jadi aku harus bagaimana? Aku kan sudah ngucapin terima kasih."
"Sudahlah, lupakan!" kata Radit naik ke atas ranjang. Meletakkan lengannya di bawah kepala dengan mata menatap ke langit-langit kamar.
"Lagi mikirin apa sampe begitu?" tanya Kiran, membuat posisi tidur miring, menghadap Radit.
"Aku jadi mikir kisah keluargamu, Karina. Kenapa begitu memusingkan."
"Aku juga heran kenapa begitu. Pada awalnya aku mengira, jika mamaku menikahi papa karena uangnya. Makanya setelah papa jatuh bangkrut, mama jadi meninggalkan papa. Tapi hari ini aku jadi tahu kalau mereka menikah karena cinta. Semua ini masih menjadi tanda tanya besar dalam benakku. Jika memang mama cinta pada papa. Kenapa dia pergi dari kehidupan kami?" Berbalik. Telentang dengan mata menatap langit-langit. Mengikuti Radit.
"Aku pikir Sandi ada kaitannya dengan itu. Kita akan bertanya padanya nanti. Jadi sekarang jangan terlalu kau pikirkan."
"Setelah menghadiri pernikahan Rangga nanti, kau mau menemaniku nonton?" tanya Radit kemudian.
Eh, kok tumben pake tanya dulu. Dia Radit Makarim kan?
"Emangnya aku boleh nolak?" Melirik Radit.
"Aku nggak akan memaksamu. Dalam beberapa hal aku akan menunggu hingga kau siap." Kiran tercenung.
Dit, aku takut berpikir bahwa sepertinya kau menyukaiku. Dari perubahanmu hingga debaran jantungmu. Aku tau jika itu semua menunjukkan itu. Tapi apa benar begitu? Setelah hari itu aku jadi susah percaya padamu. Aku jadi tidak bisa menebak kemana arah hatimu.
"Kenapa kau jadi diam?!"
"Nggaakk ...."
"Karin ..., kau sudah berhubungan dengan Rangga selama sebelas tahun kan? Berarti selama itu kau menyukainya ya?"
"Kenapa kau berpikir seperti itu?"
"Aku salah? Atau kau ada menyukai lelaki lain selain Rangga?"
"Ya, ada."
Dasar wanita tidak setia!!! Radit mendengkus kesal.
"Eh, kenapa kau seperti kesal?"
"Kau itu. Ada berapa orang sih sebenarnya yang kau suka? Kenapa ada begitu banyak? Atau kau itu memang tipe gampangan ya?! Dideketi pria langsung suka. Tadinya pacar Rangga. Dideketi Ari langsung berpaling. Sebenarnya kau itu bisa setia nggak?!"
Kan, kalau bicara dengannya selalu saja begini ....
Kiran tak mengacuhkannya. Dia berpaling. Tidur membelakangi Radit.
"Eh, kenapa kau marah?"
"Aku sudah bisa menduga arah bicaramu. Aku lagi malas ngomong."
"Kau kan sedang bicara tadi. Hei, jawab aku!" Radit mendorong pelan bahu Kiran dengan telunjuknya.
"Dit!" pekik Kiran tidak suka Radit menekan telunjuk ke bahunya.
"Makanya jawab!"
"Apa yang harus kujawab?!"
"Kau bisa setia tidak? Kulihat wajahmu nggak ada sedih-sedihnya melihat undangan Rangga. Apa kau sudah melupakannya? Apa kau mencintai orang lain?"
"Ya, aku memang tidak bisa setia. Makanya aku mau menikahkanmu." Kiran menatap Radit tajam.
Radit terkesiap. Hingga ia duduk dari posisi rebahannya. "Jangan katakan menikahkanku lagi. Aku takut hilang kendali kalau kau bicara begitu lagi!"
"Kenapa? Apa aku salah?"
"Sudahlah. Aku mau tidur saja." Radit tidur kembali. Membelakangi Kiran.
"Radit ...!" panggil Kiran pelan. Pria itu tak menjawab. Hatinya masih kesal.
"Dit ...!" panggil Kiran lagi. Tidak menyerah. Merasa menyesal sebab sepertinya Radit tidak suka ucapannya barusan.
"Kau sudah suka pada Lusi ya?" tanya Kiran lagi dengan pertanyaan berbeda.
Apa lagi sih wanita ini?! Tadi aku tanya dia enggan menjawab. Giliran aku sudah kesal gini, dia nanya yang nggak-nggak.
"Kenapa kau berpikir seperti itu?" Radit malah menjawab dengan pertanyaan.
"Lalu apa alasanmu merekrut dia lagi setelah menyuruhnya keluar dari Makarim Group?"
"Dia itu sekretaris handal. Kenapa kau keberatan dia bergabung di TJ?"
Radit berbalik, menghadap Kiran. Rasa kesalnya menguap begitu saja. Sepertinya arah pembicaraan mereka kali ini menarik hatinya.
Mereka berbaring sama-sama dengan memiringkan tubuh. Mengarah satu sama lain. Sesaat pandangan mereka bertemu. Bahkan saling mengunci satu sama lain. Seperti ada magnet yang menarik mereka untuk mendekat. Begitu tersadar, dengan gerakan cepat dan bersamaan, mereka telentang kembali, menatap langit-langit kamar. Kedua wajah mereka bersemu merah.
Hening beberapa saat. Masih menetralkan debaran jantung masing-masing.
"Dit .... Sejujurnya entah kenapa aku merasa Lusi kurang menyukaiku. Bahkan dia terlihat kurang suka jika aku memberitahukan tugas yang harus dia lakukan. Aku jadi merasa agak sulit bekerja sama dengan dia."
Hal ini bahkan Kiran rasakan sejak Lusi baru bergabung ke TJ. Lusi terlihat tidak mengacuhkannya ketika ia menjelaskan tugasnya selama jadi sekretaris TJ.
"Gunakan saja kekuasaanmu."
"Aku bukan orang seperti itu. Jika aku begitu maka dia akan takut. Sementara aku lebih senang jika orang lain segan padaku dan bukan takut. Karena jika takut, maka orang tersebut akan menuruti semua kemauanku. Tidak akan ada perbaikan jika ada kesalahan yang aku lakukan. Dan bawahanku tidak akan mengeluarkan seluruh kemampuannya untuk berinovasi karena mereka takut padaku. Namun, jika segan, mereka akan mengeluarkan kemampuan mereka dan bisa memperbaiki kesalahanku. Menurutku sebuah pekerjaan akan berkembang jika ritmenya seperti itu."
"Teori seperti itu hanya berkembang pada situasi tertentu. Jika atasan tidak ditakuti bawahan maka mereka akan bekerja seenak udel mereka. Jika tujuannya hanya mengeluarkan apa yang mereka punya, tinggal kasi reward bagi karyawan berkompeten. Pasti nggak ada lagi yang namanya kerja secara statis. Mereka akan berlomba-lomba satu sama lain. Buat juga kesetaraan antara reward dan punishment. Reward bagi mereka yang punya prestasi dan kinerja baik. Dan singkirkan orang yang hanya bisa leha-leha tanpa mau tahu pekerjaannya."
"Jadi untuk Lusi. Sekretaris yang masuk atas koneksi dari direktur utama langsung. Apa bisa aku berikan punishment jika pekerjaannya kurang baik?"
"Ketika pekerjaan itu berkaitan denganmu, kau boleh mengadukannya padaku."
"Aku kurang suka mengadu."
"Ah ..., kau ini bikin repot. Terserah kau saja mau bagaimana!" Radit mulai kesal.
Kiran menghela nafas. "Baiklah. Aku akan coba bicara baik-baik. Jika memang dia tidak bisa kooperatif, mau gimana lagi. Aku menyerahkannya padamu."
"Ya, serahkan saja padaku."
"Tapi tatapannya padaku itu lho .... Kadang buat aku merinding. Berbeda sekali ketika dia menatapmu."
"Memangnya kenapa saat dia menatapku?"
"Darimana kau tahu itu?" Radit semakin tertarik. Memiringkan tubuhnya kembali, menghadap Kiran.
"Aku bisa melihatnya."
"Trus ...."
"Trus apa?" Kiran melirik sebentar kemudian menatap ke langit-langit lagi
"Apa yang kau rasakan ketika melihat wanita lain menatapku penuh cinta?"
Radit mendelik tidak sabar. Katakan kau cemburu .... Katakan kau tidak suka melihatnya begitu! Katakan .... Katakan ....!
Kiran menoleh, melihat Radit sinis. "Apa urusannya denganku?! Mana mungkin aku harus bilang padanya untuk tidak menatapmu begitu!"
Radit mendesah. "Oh, hanya itu."
"Jadi kau mau aku bagaimana?"
Radit diam. Hatinya diliputi kekecewaan. Bahkan rasa cemburu di hatinya pun tidak ada untukku.
"Kenapa? Kau mau aku nikahkan dengan dia?"
"Apa?!"
"Wajahmu kecewa begitu ..., kau pasti berharap kalau aku akan bilang bahwa kalian serasi kan?"
Demi apapun, Radit sudah tak sanggup lagi. Dia bangkit dengan cepat dan bergerak merangkak naik menaungi tubuh Kiran. Kiran terkesiap saat tiba-tiba Radit berada di atasnya dan menatapnya dengan tajam. Mata pria itu menyiratkan kekesalan dan kemarahan.
"Sudah aku katakan kan kalau kau bilang tentang menikah lagi, aku akan kehilangan kendaliku!"
Belum sempat Kiran menjawab, Radit sudah bergerak lebih dulu. Mata Kiran membulat kaget.
"Tutup matamu!" perintah Radit menjauhkan dirinya sebentar kemudian menyatukan bibir mereka kembali. Refleks Kiran menutup matanya.
-
❇❇❇
Rumah kediaman Nyonya Tutik ....
"Mama kenapa Mbak Asih?" tanya Sandi, khawatir melihat kondisi Nyonya Tutik.
"Sepertinya penyakit Nyonya kambuh, Pak. Tapi saya sudah memanggil dokter. Sebentar lagi beliau akan datang," jawab Asih sambil memberikan kompres air hangat pada dahi Nyonya Tutik.
Tiba-tiba saja Nyonya Tutik menggigil kedinginan. Badannya pun panas. Berulangkali mengeluh karena kepalanya berat. Seakan-akan ada batu besar yang sedang menindih kepalanya. Saking beratnya, Nyonya Tutik tak mampu membuka matanya. Ia pun merasa mengantuk luar biasa.
Sandi duduk di tepi ranjang, menatap Nyonya Tutik dengan sedih. "Sabar ya, Ma. Dokter akan datang sebentar lagi. Mama mau Sandi bagaimana? Mau Sandi pijat yang mana?" tanyanya dengan lembut.
"Mama mau Kamil .... Mama mau Karina ...." Nyonya Tutik berbisik lirih masih dengan mata terpejam. Menyebut nama Kamil dan Karina.
Sandi terperangah. Matanya menunduk dalam. Ia menggenggam tangan Nyonya Tutik dengan erat. "Sandi akan membawanya, Ma. Sandi akan mengajaknya ke sini," ucapnya dengan penuh keyakinan.
-
❇❇❇
Radit dan Kiran saling memunggungi. Wajah mereka bersemu merah. Jantung mereka berdegub dengan cepat. Lebih cepat dari biasanya. Mereka baru saja memisahkan diri. Lebih tepatnya Radit dengan kesadaran diri penuh menghentikan tautan kedua bibir mereka.
Kurasa memang aku murahan. Kenapa aku sama sekali tidak bisa menolaknya. Entah apa yang kupikirkan hingga aku membalas apa yang dia lakukan. Dan ini untuk kedua kalinya --- Kiran.
Kiran jadi mengingat bagaimana dia menolak untuk awalnya. Namun begitu sentuhan pria itu melembut, Kiran terhanyut. Pada akhirnya ia tak menolak bahkan membalas apa yang Radit lakukan.
Semakin aku tahu kalau dia Karina, aku semakin lose control. Semoga dia tidak marah padaku. Syukur aku bisa mengendalikan diri dengan cepat tadi. Nyaris saja! ---- Radit.
Radit berdehem. "Itu tadi aku yang cium. Jadi kau belum membayar hutang maafmu padaku. Kau harus ingat itu!"
"Apa?! Kau bahkan masih mengingatnya. Kau ini benar-benar perhitungan!"
"Ya, harus. Namanya hutang ya mesti dibayar. Jangan lupakan kewajibanmu itu."
"Jadi ..., apa kau mau aku membayarnya sekarang?" tanya Kiran tanpa memperhitungkan resiko yang akan terjadi.
"Sepertinya kau ketagihan aku cium ya?" ledek Radit melirik sekilas Kiran yang ada di belakangnya.
"Apa?"
"Sudah, tidur saja. Ini sudah malam," kata Radit sambil menarik selimut ke atas kepalanya.
Menjaga kewarasan pada sesuatu yang berada di bawah sana. Sebab ia sudah bertekad untuk menjaga malam pertamanya hingga waktunya tiba.
-
❇❇❇
Radit dan Kiran pergi ke butik Intan terlebih dahulu, sebelum akhirnya nanti mereka berangkat menuju tempat perhelatan Rangga di gelar. Bersyukurnya Intan menyediakan fasilitas make up setara MUA jadi Radit tidak perlu reservasi salon untuk merias Kiran.
Kiran terlihat sangat cantik dengan gaun silvernya. Terlihat manis saat dipadu padankan dengan hijab warna abu. Ada kesan lembut, manis namun mewah. Semakin sempurna dengan sepatu silver yang berada di kaki Kiran. Sudah bisa dipastikan, setiap orang akan terpukau dengan penampilannya.
Pria tinggi yang berdiri gagah di sampingnya tak kalah mengesankannya dengan Kiran. Meski ia tak menuruti Intan untuk memakai stelan silver, namun pesona Radit tetap memancar.
Mereka berdua kini telah siap untuk menghadiri pesta pernikahan Rangga. Orang yang menurut Radit, mampu mengisi hati Kiran. Membuat Kiran melupakannya.
Bara yang melihat penampilan mereka berdua hanya bisa berdecak kagum. Begitu juga Intan dan para karyawan lainnya. Radit dan Kiran terlihat sangat serasi.
"Hari ini aku aja yang nyetir. Kau bisa pulang. Kuizinkan kau untuk malam mingguan. Biar kejombloanmu itu berakhir." Radit tersenyum mengejek sambil mengambil kunci mobil dari tangan Bara.
"Kejombloanku akan berakhir jika Raisa tamat kuliah nanti," sahut Bara tidak mau kalah.
"Kau pikir dia mau padamu?"
"Kenapa dia tak mau padaku? Kau nggak lihat pesonaku ini." Bara menyibakkan rambutnya dengan jemari tangan.
Radit melengos. "Pesona apa begitu?!"
Bara tertawa. "Yang jelas dia pasti cinta padaku. Keberuntunganku karena kau selalu melarangnya berdekatan dengan pria lain. Maka sudah pasti, tamat kuliah nanti dia masih jomblo. Saat itu dia akan melihat nggak ada pria lain yang lebih baik dariku."
"Kita pergi saja Kiran. Omongan bujang lapuk nggak usah didengerin." Radit menarik tangan Kiran pergi.
"Alah ..., dulu pun kau juga bujang lapuk!" Intan menimpali.
"Diam kau Nenek Sihir! Kau pun lajang lapuk! Duet lajang lapuk mau melawanku." Radit melengos pergi.
"Kurang ajar kau ya. Dasar bocah jutek!!!" Intan melotot marah. Ingin mengejar Radit dan memukul kepalanya. Namun urung demi menjaga wibawanya di depan karyawannya. Ia pun berdehem kemudian memberikan satu dua perintah pada karyawanya. Sementara Bara mengikuti Radit keluar dari sana.
❤❤❤💖
.