Behind The Boss

Behind The Boss
Namanya Arini



"Apa maksud kamu, Ari? Dia istrimu lalu sekarang kamu menceraikannya? Kamu waras, Ari?!" Melihat wanita lain tersakiti di depan matanya, hati Kiran ikut meronta.


"Kamu nggak ngerti, Kiran. Kami ini ...,"


"KAMU YANG NGGAK MAU MENGERTI, ARI! Semua orang kamu tuntut harus mengerti kamu sementara kamu tidak mau mengerti orang lain, begitu?!" Ari kaget akibat suara Kiran yang meninggi dan memotong ucapannya.


"Maaf, Mba. Tapi tidak sepenuhnya salahnya Mas Ari."


Sebuah tangan menahan lembut lengan Kiran. Ya, wanita berhijab besar itu sedang mencoba menenangkannya.


"Maaf ..., Mas Ari dipanggil Tuan Mahesa." Suara Tina memecah ketegangan di antara mereka, mengurungkan niat Kiran untuk bicara lebih lanjut.


Ari mematung namun kemudian melangkah mengikuti Tina. "Aku pergi dulu, Kiran." Ia terlihat lesu mendapati emosi Kiran untuknya.


"Maafkan saya," kata Ari lagi pada wanita berhijab itu yang terlihat mengusap air matanya. Wanita itu mengangguk.


"Baik, kalau begitu saya permisi dulu, Mbak," pamit wanita itu ingin pergi.


"Tunggu! Ada yang ingin kubicarakan padamu, tentu jika kamu tidak keberatan."


Wanita itu terdiam beberapa saat kemudian mengangguk.


...***...


"Nama saya, Arini, Mbak." Gadis itu memulai ceritanya setelah Kiran memperkenalkan diri. "Mbak, jangan menyalahkan Mas Ari, beliau tidak salah. Kami terpaksa menikah karena keadaan."


"Ibu saya janda, Mbak. Di rumah kami tidak ada pria. Hanya saya, ibu dan adik saya, yang semuanya perempuan. Saat ibu menolong mas Ari, saya lagi tidak di rumah, Mba. Saya masih di sini. Kemudian saya pulang ke rumah karena tidak ada lagi pekerjaan. Tapi warga sekitar rumah tidak terima jika mas Ari tinggal di rumah kami, sementara ibu juga tidak bisa memaksa mas Ari pergi karena mas Ari sendiri nggak tahu mau pergi kemana. Akhirnya kami menikah. Tentu saja hanya menikah di bawah tangan." Ada gurat kesedihan yang terpancar dari wajah gadis itu.


"Tujuan saya ke sini karena ibu menyuruh saya." Kiran melihat gadis itu meremas jemarinya.


"Lalu bagaimana reaksi ibu kamu jika tahu kalau sekarang kamu sudah bercerai dari Ari?" pertanyaan menohok, membuat dua aliran air mata gadis itu langsung turun dari tempatnya.


Kiran mendesah, menatap kedepan. "Kamu bisa bilang bukan salah Ari tapi kamu tentu tidak lupa harapan ibu kamu. Mana ada orang tua yang senang anaknya bercerai. Melihat kamu yang datang dengan membawa buah tangan tadi saja, saya sudah bisa menebaknya."


"Saya tidak bisa memaksa mas Ari, Mba. Tapi saya juga bingung jika harus menceritakan pada ibu saya keadaan ini."


"Lalu apa yang bisa saya bantu, Arini? Setidaknya saya bisa membantu kamu hal lain." Kiran menatap lembut Arini. Gadis berjilbab besar yang baru saja mendapat pelampiasan kecewa dari Ari itu tercenung. Yah, dia datang di waktu yang tidak tepat.


Arini tersenyum getir. "Tidak ada, Mba. Doakan saya saja agar saya bisa melalui semuanya. Agar Allah menyabarkan ibu saya." Lagi, gurat kesedihan itu muncul di wajahnya.


Kiran mengulum senyum. "Tapi aku punya kemampuan untuk membantumu lebih dari sekedar doa lho, Arini. Gini-gini aku masih sekretaris suamiku yang memiliki banyak perusahan. Yakin kalau tidak ada yang bisa aku bantu untuk kamu?"


Arini terdiam beberapa saat. Terlihat ragu namun kemudian dengan suara pelan, ia berucap, "Jika Mbak nggak keberatan, saya minta diberi pekerjaan dan tempat tinggal saja. Biar saya tidak pulang ke rumah. Biarlah ibu beranggapan saya diterima di sini." Ia mengucapkan dengan sangat sungkan.


"Yakin cuma itu?"


"Iya, Mbak," jawab Arini mantap.


"Baik. Besok aku akan menunjukkan tempat tinggalmu. Kebetulan rumah bekas kontrakanku dulu belum kuserahkan pada orang lain. Perabotan milikku juga masih di sana. Tapi karena sudah lama tidak dibersihkan mungkin agak berdebu.


Mengenai pekerjaan, aku perlu mendiskusikan dengan suamiku, Kak Radit.


Sementara ini aku akan memberikanmu uang saku sebelum kamu bekerja. Anggaplah ini sebagai terima kasih kami karena kamu dan ibumu telah menolong Ari."


"Tidak bisa, Mbak. Saya sungkan jika harus menerima uang begitu. Ibu sudah berpesan pada saya agar tidak boleh menerima apapun balasan dari keluarga mas Ari." Arini menggeleng.


"Hemm, begitu ya. Baiklah kalau begitu aku ralat. Ini uang saku dari seorang kakak ipar pada adiknya. Lagipula gajiku selalu utuh sejak aku menikah, jadi lebih baik gajiku kuberikan untukmu. Kalau pemberian dari kakak ipar tentu boleh kan? Tanda sayang kakak pada adiknya?"


"Tapi saya kan sudah dicerai mas Ari, Mba."


"Kalau gitu kamu aku angkat menjadi adikku. Kamu maukan jadi adik angkatku? Sudah lama aku pengen punya adik. Alhamdulillah ada kamu, jadi kesampaian keinginanku."


Arini menatap Kiran dengan bola mata berkaca-kaca. Ia tahu, semua alasan itu diutarakan Kiran agar ia mau menerima bantuannya. Ia juga tahu, alangkah baiknya jika ia bisa menolak niat baik Kiran agar tidak memberatkan wanita itu namun melihat ketulusan Kiran dan hati kecilnya yang meronta, mencegah ia untuk menolak tawaran Kiran sebab memang itu yang ia butuhkan sekarang, dengan terpaksa ia pun mengangguk.


"Terima kasih, Mbak. Saya nggak tahu lagi mau ngomong apa. Jazakillah khairan katsiraan Mbak Kiran." Arini meraih tangan Kiran dan mencium punggung tangannya takzim.


Kiran kaget namun membiarkan punggung tangannya dicium Arini. Ia tertawa pelan. "Iya-iya. Aamiin. Kamu nggak perlu ngomong apa-apa lagi. Ayuk, aku antar dulu kamu ke kamar. Kamu harus istirahat. Lihat muka capek kamu itu." Menarik lengan Arini.


"Istirahat di kamar Raisa." Kiran tersenyum cerah.


***


"Mba Arini diminta Tuan menemui beliau sekarang di ruang kerja." Tina menyambut Kiran dan Arini, saat kedua wanita itu ingin naik ke lantai dua.


Arini menunduk canggung. "Saya Mba Tina?" tanyanya memastikan.


Kiran kaget karena Arini langsung tahu nama Tina. Begitupun Tina. Apakah saat memanggil Ari tadi, Tina menyebutkan namanya?


"Kamu boleh mengikuti Tina, aku akan menunggumu di sana," ujar Kiran menunjuk ruang santai yang ada di lantai dua.


Arini mengangguk mantap. Setelah mengucapkan terima kasih dan memohon izin pada Kiran, ia pun berjalan mengikuti Tina masuk ke ruang kerja Tuan Mahesa. Kiran hanya melihat sekilas pintu ruang kerja itu langsung ditutup Tina dari luar begitu Arini masuk.


Cukup lama Kiran menunggu setelah itu Arini keluar dengan wajah yang Kiran sendiri tak mampu mengartikannya. Ingin sekali ia bertanya namun karena mereka baru saja berkenalan maka ia akan membiarkan gadis itu yang menceritakannya sendiri.


"Lama ya, Mba?" ucap Arini terlihat sungkan.


"Nggak juga. Aku sambil nonton televisi juga, kok!" Ya, memang Kiran menghidupkan televisi demi mengusir rasa bosannya.


"Ayuk, ikut aku."


Kiran menuntun Arini naik ke lantai tiga kemudian masuk ke kamar Raisa.


"Kamu berangkat dari rumah jam berapa?" tanya Kiran setelah mereka berdua duduk di sisi ranjang.


"Jam sepuluh pagi, Mba."


"Lama banget kamu nyampe sininya malem. Rumah kamu sejauh itu?"


"Nggak, Mba. Ikut mang Giman dulu anter orderan sawit baru disinggahi di sini."


"Mang Giman?"


"Tetangga saya yang bawa truk sawit tempat saya numpang kesini, Mba. Truk itu juga yang bawa mas Ari kemarin. Karena menurut kami mang Giman tahu dimana mas Ari diturunkan makanya saya kemari juga sama mang Giman." Kiran manggut-manggut.


"Kamu sudah makan?"


Arini terdiam sebentar masih tampak ragu. Kiran sudah bisa menebak jawabannya.


"Sebentar ya, aku minta pelayan nyiapin makanan kamu."


"Mba, nggak usah. Saya nggak lapar." Arini menahan tangan Kiran saat ingin mengangkat interkom di kamar Raisa.


"Kamu nggak lapar tapi sebagai tuan rumah yang baik, aku ingin menjamu kamu."


Arini diam, tidak bisa membantah.


Setelah selesai meminta pelayan membawakan makan malam untuk Arini. Kiran mulai membuka beberapa lemari di kamar itu.


"Setelah makan kamu bisa mandi. Baju Raisa di lemari ini bisa kamu pakai. Ada pakaian dalam baru juga. Kamu pakai aja. Karena di kamar ini selalu ready pakaian dalam baru sebab setiap pulang Raisa selalu belanja dan dalam jumlah banyak. Jadi selalu ada stok baru di dalam lemari."


"Raisa itu adik mas Ari ya, Mba?".


"Iya."


"Sekarang kamu mau aku temani atau sudah bisa aku tinggal? Kamar aku di sebelah kok. Kamu bisa ke kamar aku lewat pintu itu. Nanti aku buka kuncinya." Kiran menunjuk pintu penghubung di kamar itu yang menghubungkan kamar Raisa dan kamarnya.


"Iya, Mba. Insya Allah saya sudah bisa sendiri. Makasi banyak ya, Mba. Terima kasih banyak atas bantuan, Mba." Kiran mengangguk.


"Kalau begitu, aku tinggal dulu, ya. Selamat istirahat Arini. Nanti kalau ada pelayan ketuk pintu, suruh masuk aja. Kamu jangan sungkan-sungkan. Kamu tamu aku sekarang. Okey?!" Kiran mengerling. Arini mengangguk. Mengantar Kiran keluar dari kamar. Tentunya dengan iringan ucapan terima kasih pada Kiran yang selalu keluar dari bibirnya.


****