Behind The Boss

Behind The Boss
Penyelamatan



Dia langsung masuk ke dalam mobil dan bergabung bersama Pak penghulu dan juga pengawalnya.


"Mengapa wajah bos kalian sangat jelek? Katanya keluarga konglomerat, tapi tidak pernah ada di surat kabar atau televisi," ucap Pak penghulu ketika melihat wajah Erlangga yang seperti sedia kala saat dia melakukan penyamaran. 


"Tuan, kenapa wajah Tuan…." 


"Aku belum siap membongkar identitasku. Aku ingat bahwa Nala tidak suka dengan orang kaya. Aku tidak ingin kehilangan dia jika dia mengetahui bahwa aku adalah anggota Armadja."


"Apa kau sedang berhalusinasi?" Lagi-lagi pak penghulu mengatai Erlangga yang menurutnya sedang berhalusinasi menjadi orang kaya.


Erlangga tidak terlalu menanggapi dan memilih memerhatikan para pengawal Adnan yang sibuk mencari sang penghulu.


"Bagaimana, Tuan? Apa yang harus kita lakukan?"


"Sekarang kita atur rencana saja. Pak penghulu, Bapak datang ke sana dan berpura-puralah tersasar. Buat mereka sibuk dengan Bapak dengan segala permintaan Bapak. Saya akan berusaha menyelamatkan kekasih saya saat mereka lengah."


"Mengapa aku harus menuruti perintahmu?"


"Bagaimana kalau anak perempuan Bapak dipaksa menikah dengan pria tua? Apa Bapak bersedia? Bapak iklhas?"


Ucapan Erlangga membuat sang penghulu terdiam. Raut wajahnya menunjukkan kecemasan kalau-kalau hal itu terjadi pada anak perempuannya yang masih bersekolah.


"Tolong setelah ini jangan libatkan saya lagi."


"Baik, terima kasih, Pak." Erlangga mengangguk sambil tersenyum.


Mereka pun segera menjalankan rencana itu. Pak penghulu datang ke arah mereka hingga membuat mereka bernafas lega .


"Maaf, tadi saya nyasar. Hp saya sering eror jadi saya tidak tahu jika ada yang memanggil ataupun mengirimkan pesan. Saya tidak tahu jika rumah Bapak yang ini. Maklum, saya sudah tua."


"Tidak apa-apa, Pak. Silakan masuk agar kita bisa melangsungkan pernikahan," ujar Adnan tidak sabaran.


"Tunggu sebentar, sebelum pernikahan, biasanya saya melakukan beberapa persiapan yang juga melibatkan para laki-laki."


"Bagaimana, Pak?"


"Saya mau kita semua berdiri dan berbaris di sini. Saya akan menjelaskan apa-apa saja yang harus kita lakukan agar pernikahan ini berjalan dengan lancar."


Tapi, apa tidak di dalam saja, Pak?"


"Tidak, saya biasa melakukannya sebelum masuk ke dalam rumah klien saya."


Ucapan pak penghulu dipercaya oleh Adnan. Dia pun langsung menyuruh semua pria untuk berdiri di halaman agar mendengar beberapa pesan yang akan disampaikannya. Ceramah singkat mengenai tugas seorang suami pada istrinya.


Bertepatan dengan itu, Erlangga langsung melancarkan aksinya. Dia mencari keberadaan Nala yang ternyata masih ada di kamar menunggu penghulu memanggil. Dia pun menerobos masuk sendirian agar Nala tak curiga. Sedangkan para pengawalnya bertugas untuk menangani para pelayan. Berpura-pura menjadi tamu dengan pakaian batik yang sudah dibeli Erlangga. Juga penyamaran dengan kumis, gigi palsu, serta kacamata.. Mengajak mereka mengobrol dan berpura-pura merayu agar mengalihkan perhatian mereka.


"Angga!" Nala memeluk Erlangga sambil menangis tersedu-sedu. Dirinya tak menyangka jika sang pujaan hati akhirnya menyelamatkan dirinya dari pernikahan paksa ini.


Mereka segera pergi dari tempat itu tanpa diketahui oleh siapapun. Dan setelah Pak penghulu selesai dengan ceramahnya, mereka pun segera masuk ke dalam. Namun, berapa terkejutnya mereka ketika melihat bahwa Nala tidak ada di kamarnya. Kemarahannya pun memuncak ketika melihat para pelayan yang katanya tak menyadari kepergian Nala.


Mereka segera berpencar untuk mencari keberadaan Nala yang saat ini sudah pergi bersama Erlangga menaiki taksi yang sudah dipesannya.