
Kiran membuka matanya secara perlahan. Ia begitu kaget ketika wajah Radit yang pertama kali dilihat saat membuka mata. Ia tersentak, menjauhkan diri dengan segera.
Gerakannya yang kasar membangunkan Radit. "Kau kenapa?" tanya Radit setengah membuka mata. Azan shubuh sama sekali belum terdengar. Ia masih merasa enggan untuk bangun.
Kiran celingukan. Berpikir sesaat kemudian tersadar. Gadis itu menghela nafas pelan.
"Jangan bilang, kau lupa bahwa kita telah menginap di sini tadi malam?" tanya Radit dengan mata terpejam.
Bukannya menjawab, Kiran beranjak bangun lalu masuk ke dalam kamar mandi. Radit kembali mendengkur pelan.
Setelah keluar dari kamar mandi, wajah Kiran tampak lebih fresh. Mulutnya sudah beraroma segar. Ia merasa malu tadi ketika bangun dan melihat Radit ada di hadapannya. Jarak mereka sangat dekat. Ia khawatir aroma mulutnya mengganggu pria itu. (Author: Padahal si Radit pun masih bau naga juga ya, kan....😅😅)
Kiran kembali naik ke atas tempat tidur. Melirik Radit yang masih tidur. Tadi malam ia begitu kaget dengan perubahan Radit. Maka sekarang waktunya ia akan bertanya kembali pada pria itu.
"Dit ...," panggil Kiran pelan. Tidak ada sahutan. Kiran mengguncang bahu Radit.
"Jangan ganggu aku!" Radit menepis tangan Kiran.
"Biar aku istirahat sebentar lagi." Radit berbalik, tidur membelakangi Kiran.
"Tidurlah. Setelah salat shubuh, kita harus bicara." Kiran turun dari tempat tidur, mendengar azan subuh telah berkumandang.
-
❇❇❇
Kiran mengakhiri salatnya dengan salam. Melirik Radit yang sudah tidak ada di atas tempat tidur. Saat Kiran melipat mukena, Radit tampak keluar dari kamar mandi.
Kiran bergeser. Mempersilakan Radit untuk salat di atas sajadah bekas ia salat tadi. Tanpa bicara Radit mulai mengangkat tangan, takbiratul ihram, memulai salatnya.
Kiran duduk di atas tempat tidur menunggu Radit menyelesaikan salatnya. Setelah menyelesaikan salatnya, pria itu mendekati tempat tidur dan naik ke atasnya.
"Apa yang ingin kau bicarakan?" tanyanya pada Kiran.
"Aku hanya ingin bertanya tentang maksud ucapanmu tadi malam. Apa maksud ucapanmu itu, Dit?" Kiran bertanya dengan ragu, melirik Radit sekilas. Lalu menundukkan pandangan. Ia masih merasa malu, mengingat tadi malam mereka tidur dengan berpelukan.
"Kau ini lemot atau gimana?! Aku ngucapinnya tadi malam kenapa tanyanya baru sekarang?!" Radit tampak kesal. Kiran mendongak, kaget mendengar jawaban Radit.
"Tadi malam aku kaget karena tiba-tiba saja kau jadi lembut begitu. Makanya aku jadi lupa nanya. Sekarang baru aku sadar arti ucapanmu makanya aku tanya!" Kiran ikutan nge-gas.
Radit menghela nafas kasar. "Lembut salah. Nanti aku ngomong kuat sedikit salah. Jadi harusnya aku ini bagaimana?!"
"Biasa aja. Gak usah lembut kali, gak usah nge-gas kali!" sahut Kiran ketus. Eh? Kok jadi seperti dia?
Kiran berdehem, menegakkan tubuhnya, mengatur intonasi suaranya agar lebih tenang. Tenangkan dirimu, Kiran.
"Bukankah kau bilang semalam kalau kita harus berubah. Kita sudah suami istri, jadi harus mengubah sikap kita satu sama lain. Tapi kenapa sekarang kau yang mengingkarinya? Kenapa kau jadi marah-marah lagi?" tanya Kiran dengan suara yang dibuat setenang mungkin.
"Itu karena dirimu yang memancingku. Seharusnya kau bersyukur, aku bersikap lembut. Bukan malah jadi idiot, ketika ditanya jawabannya cuma hmmmmmm ... aja."
Kiran mendelikkan matanya. Dia bilang aku idiot?! Kiran mengepalkan tangannya. Mengambil nafas serta menghembuskannya dengan perlahan. Menahan amarah yang rasanya mau meledak.
"Kenapa, kau marah? Memang tadi malam kau seperti orang idiot. Ditanya cuma diem aja. Kalau gak cuma bilang hmmmm, baik. Apalagi namanya kalau bukan idiot?!" Radit membuang muka.
Eh? Diulangi! Cari gara-gara dia ....
Kiran tersenyum samar menatap Radit. Matanya melirik ke arah kepala Radit seperti hendak menemukan sesuatu.
Plak!!
Kiran menampar pipi Radit pelan. Radit yang sedang membuang muka, kaget. Menoleh dan melirik Kiran. "Nyamuknya bandel. Berani sekali dia mengigit pipimu."
Plak! Plak! Plak!
"Iss, bandel betul ini nyamuknya ya. Ngejek sekali dia, minta dipukul." Kiran memukul bagian wajah Radit yang lain. Pukulan Kiran memang pelan namun Radit bisa tahu pukulan itu punya arti lain. Mata pria itu kini mendelik menatap Kiran.
"Syukur nyamuknya sudah pergi." Kiran memandang dari wajah Radit beralih ke atas, seakan-seakan memang ada nyamuk yang pergi dari wajah pria itu.
"Kau sengaja kan?" tanya Radit menyeringai.
"Mana aku berani. Beneran ada nyamuk, Dit." Kiran memasang wajah polos tak berdosa.
"Kau pikir aku bodoh?! Mau cari mati kau berani memukul wajahku, ya. Awas kau, jangan lari!"
Kiran segera turun dari tempat tidur dan berlari menjauhi Radit. Pria itu ikut turun dan mengejar Kiran. Kiran berlari memutar, naik ke ranjang kemudian turun lagi. Naik dan turun lagi. Karena kamar Intan tidaklah luas, dengan segera Radit menangkap Kiran. Gadis itu tertangkap ketika berada di atas tempat tidur. Tubuh gadis itu terkurung di bawah tubuh Radit. Satu tangan Radit mengunci dua tangan Kiran ke atas.
"Sudah empat kali kau menampar wajahku. Sekarang rasakan balasanku." Radit bersiap menyentil Kiran dengan tangan kanannya.
"Satu!" Hitung pria itu, menyentil dahi Kiran dengan kuat. Gadis itu mengaduh. Matanya memejam menahan sakit.
Radit baru tersadar akan posisinya. Wajahnya begitu dekat dengan Kiran. Ia menatap wajah Kiran dalam. Matanya yang memejam. Dan bibir itu ..., beberapa saat mata Radit mengunci bibir gadis yang berada di bawahnya.
Merasa tidak ada pergerakan. Kiran membuka mata. Melihat mata Kiran terbuka, Radit terkesiap. Sadar akan ada kesempatan, Kiran mengangkat kepalanya ke atas, membenturkan kepalanya pada kepala Radit. Pria itu mengaduh, mengusap kepalanya. Melepaskan kunciannya pada kedua tangan Kiran. Merasa kedua tangannya bebas, dengan cepat Kiran menolak tubuh Radit dengan kuat hingga pria itu terjatuh ke lantai.
Buk!!!
"Aww !!" Radit meringis kesakitan, memegang pinggangnya.
Kiran mengerjapkan matanya menatap Radit, menahan sesuatu yang hampir lolos dari mulutnya. Dan ....
"Hahahahahaha ...." Kiran tertawa geli. Ia sampai memegang perutnya.
"Kenapa wajahmu jadi lucu begitu ..., hahahaa .... Lihatlah wajahmu itu ...." Kiran tak bisa menghentikan tawanya.
Radit mendongak. Menatap Kiran dengan tidak terima. Ia perhatikan dengan seksama wajah Kiran yang tertawa. Radit ingin menghentikannya. Ia benci pada mulut itu yang menertawakannya.
Ia pun bangkit dari lantai. Naik ke tempat tidur dan menatap Kiran tajam. Kiran yang kaget karena Radit sudah ada di hadapannya, langsung berhenti tertawa. Radit menarik kepala Kiran dan ....
"Hmmm ...." Mata Kiran membelalak. Radit menciumnya dengan tiba-tiba. Kiran mendorong kepalanya ke belakang dan menjauhkan tubuhnya, namun tak berhasil. Sebab Radit mengunci kepalanya dengan satu tangan dan pinggangnya dengan tangan yang lain.
Bibir Radit menekan kuat bibir Kiran. Ciuman kasar yang dilakukan Radit untuk menghentikan tawa Kiran itu lama- kelamaan melembut. Kiran yang tadinya berusaha mendorong, jadi mengikuti irama ciuman yang dilakukan Radit. Mereka saling mengecup dan memagut dalam.
-
❇❇❇
Bara mengikuti Intan. Ada beberapa karyawan Intan yang ikut berjalan di belakang mereka.
"Bagaimana kalau dia marah padaku?" tanya Bara cemas. Ia paling paham sahabatnya itu.
"Aku akan tanggung jawab," jawab Intan dengan cepat. Menutupi kecemasannya. Ia juga takut Radit marah padanya. Tadi malam ia begitu bersemangat untuk membuat agar Kiran dan Radit berada dalam satu kamar semalaman. Mendengar dari Tuan Mahesa bahwa Radit selalu tidur di ruang kerja setelah dia menikah. Mendorongnya untuk merencanakan ide itu. Pagi ini ia malah ketakutan sendiri.
Bara dan Intan berjalan dengan cepat menuju kamar pribadinya. Tempat ia biasa beristirahat ketika berada di butik. Kunci kamar itu sudah ia minta pada pegawainya yang diminta untuk mengunci Kiran dan Radit tadi malam.
Intan memasukkan kunci dan memutarnya. Ia pegang handle itu dengan membaca basmallah. Terbayang wajah keponakannya yang melotot dengan sempurna.
'KAU CARI MATI, INTAN?! KAU MAU MATI?!'. Intan membayangkan kata-kata yang akan dikeluarkan keponakannya itu.
Kreeeekkkk! Pintu terbuka.
Intan dan Bara sama-sama membelalak dengan sempurna. Pemandangan di depan mereka sungguh di luar dugaan.
❤❤❤💖
Ini bonus chapter buat kalian yang udh nge like, komen n vote aku..
Thank u all...😍😍😍