
Mereka pun segera keluar hingga para warga berhasil melihat wajah Erlangga yang sesungguhnya. Lutut preman itu terasa lemas karena dia baru saja berhadapan dengan konglomerat yang sangat dikenal di negara ini. Apalagi jas yang digunakan terdapat logo perusahaannya.
"Eh, Tu-Tuan." Beberapa orang juga terlihat gemetaran karena rupanya mereka adalah karyawan di perusahaan itu. Ada yang di bagian cleaning service, kantor, hingga lapangan.
"Jadi, mari kita bicarakan hal yang tadi. Sampai di mana tadi, saya lupa. Mungkin bapak-bapak yang berwajah pucat di sana bisa menjelaskan." Erlangga menuju sang preman yang memang terlihat pucat pasi karena dia salah sasaran.
"Eh, tidak, bukan, sepertinya kita salah orang. Bapak-bapak, sebaiknya kita pergi saja karena kita salah orang. Mana mungkin Tuhan ini melakukan hal itu di tempat seperti ini."
"Be-benar, silakan anda boleh pergi, Tuan."
"Baik, saya akan pergi. Saya minta maaf karena telah membuat kerusuhan di sini. Kalau begitu kami permisi."
Erlangga langsung membawa Nala pergi dari hadapan mereka.
"Nala, apakah kau mau memaafkan aku?" tanya Erlangga ketika mereka sudah berada di dalam mobil.
"Aku tidak tahu." Nala masih menatap keluar jendela mobil sambil melihat pemandangan yang ada di sekitar.
"Aku tahu bahwa aku salah karena aku berbohong padamu. Tapi, percayalah bahwa aku melakukannya sebelum aku mengenalmu. Aku hanya ingin menikmati petualangan menjadi orang biasa. Sangat sulit menjalani hidup dengan embel-embel keluarga kaya karena orang-orang hanya menatapku dengan tatapan takut dan segan. Aku ingin semua orang menatapku seperti kau menatapku."
Nala sedikit tiba dengan cerita Airlangga yang hanya menginginkan pandangan biasa dari orang-orang. Dia pun menoleh ke Erlangga dan tersenyum lembut.
"Aku memaafkanmu. Terima kasih karena kau telah menunjukkan padaku bahwa tidak semua orang kaya itu jahat. Benar kata mereka, aku adalah wanita yang paling beruntung karena berhasil mencuri hatimu."
Erlangga tersenyum senang. Dia pun menggenggam satu tangan Nala dan mencium punggung tangannya dengan lembut.
"Aku mencintaimu, Nala."
"Aku juga."
"Kau harus melamarku sebanyak aku melamarmu dulu. Bahkan kau harus melakukannya dua kali lipat." Nala tersenyum jahil. Dia terkekeh melihat ekspresi wajah Erlangga yang sangat lucu saat bingung.
"Baiklah, aku akan berjuang untuk mendapatkan jawaban iya darimu."
Nala hanya tertawa melihat Erlangga yang tetap berusaha keras untuk mendapatkan jawaban atas lamarannya.
"Memangnya mengapa kau ingin cepat-cepat menikah? Apa karena penyamaranmu sudah terbongkar?"
"Ya, itu adalah alasan kedua."
"Memangnya alasan pertama apa?"
"Alasan pertama adalah agar kita tidak perlu melakukan hal yang tadi dan berakhir di grebek warga."
Ucapan Erlangga membuat Nala tertawa lebar. Polos sekali pemikiran Erlangga. Ya, mungkin karena dia memang belum pernah merasakan jatuh cinta. Sehingga dirinya hampir tidak bisa menahan diri ketika bersama orang yang dicintainya.
"Tertawa lah jika itu membuatmu senang."
"Kau sangat lucu." Nala mencubit pipi Erlangga hingga membuat pria itu meringis kesakitan akibat cubitan yang sedikit keras.
Namun, karena orang yang mencubitnya adalah Nala, dia sama sekali tidak keberatan. Bahkan kalau Nala mau melakukannya lagi, dia akan dengan sukarela menyerahkan pipinya untuk dicubit.
Mereka pun sampai di Mess Nala dan tentu saja kedatangan Airlangga membuat terkejut semua penghuninya. Beberapa orang yang tahu mengenai hubungan mereka sebelumnya terlihat biasa saja meskipun beberapa wanita terlihat iri dengan keberuntungan yang memihak pada Nala.
Namun, bagi beberapa orang yang baru mengetahui bahwa mereka memiliki hubungan sangat terkejut. Karena Erlangga malah memilih gadis biasa seperti Nala, bukan gadis anak konglomerat.
Nala pun pamit masuk. Tak lupa Erlangga meminta untuk dipeluk sebelum mereka berpisah. Pelukan yang mereka lakukan membuat beberapa orang terlihat syok. Terlihat betapa Erlangga sangat mencintai Nala. Membuat jiwa-jiwa iri semakin terbakar rasa cemburu melihat betapa beruntungnya Nala karena bisa mencuri hati Erlangga.