
Pada awalnya Radit menjalani treatment yang diberikan dengan setengah hati. Memaksa dirinya untuk terus mengikuti tahapan membosankan yang dipersiapkan untuknya. Namun ternyata lama kelamaan ia menjadi lebih relaks. Dirinya merasa menyesal, kenapa hal seperti ini tak pernah terpikir sebelumnya.
Kiran juga tak tampak lagi setelah pertama kali ia masuk ruangan itu. Perawatan Kiran dilakukan di kamar Ari. Radit hanya mendengar dari salah seorang pelayan bahwa Kiran tidak mau dilihat oleh pria lain. Ia mendengar ini saat Intan menanyakan kepada para pelayan. Radit jadi teringat, Kiran tampak kaget melihatnya masuk bersama Bara. Pria itu baru menyadari bahwa mungkin Kiran tidak nyaman dengan adanya Bara.
Saat mereka berendam bersama, ingin sekali Radit menyapanya dan bertanya hal itu pada Kiran. Namun melihat gadis itu tampak tak acuh padanya, Radit pun mengurungkannya.
-
❇❇❇
Pukul tujuh keluarga Makarim pergi menuju hotel tempat diselenggarakannya resepsi. Hotel milik Makarim Group. Radit satu mobil dengan Kiran, Intan dan Bara. Sementara Mama Ariana bersama Raisa. Barisan paling depan dan belakang adalah mobil para pengawal. Sistem pengamanan dua ring diberlakukan Radit.
Begitu sampai di pelataran hotel, Kiran merasa jantungnya berdebar dengan kencang. Seperti apakah resepsi yang disiapkan keluarga Makarim untuknya? Hatinya merasa tidak sabar untuk melihat dekorasinya.
Dulu, pernah ia merencanakan seperti apa resepsi yang akan digelar bersama Rangga. Karena tidak ingin menyulitkan pria itu, Kiran pun berinisiatif untuk membuat resepsi yang sederhana saja. Tapi kali ini berbeda. Dia menikah dengan putra sulung keluarga Makarim. Meski mereka menikah karena terpaksa namun tentunya Tuan Mahesa, selaku sahabat dari Papanya, pasti memberikan yang terbaik untuknya.
"Kenapa kau melamun di sini?" tanya Intan tiba-tiba membuyarkan lamunan Kiran.
"Ti-tidak kok, Mbak." Kiran menyembunyikan keterkejutannya.
"Mbak, langsung ke ruang make-up aja. Salah seorang karyawanku akan mengantar Mbak," ujar Intan pada Ariana sembari memberi kode pada salah satu karyawannya. Ariana mengangguk dan pergi mengikuti karyawan itu bersama Raisa.
"Ayo, kalian harus gladi resik dulu untuk acara nanti." Intan memberikan instruksi pada Kiran dan Radit. Mereka mengikuti langkah Intan, tak terkecuali Bara.
Kiran ternganga ketika memasuki ballroom di hotel tersebut. Ekspresi terpukaunya tak bisa disembunyikannya dari Intan.
Intan tersenyum geli. "Bagaimana, kau suka kan? Resepsi ini akan menjadi sejarah perjalanan rumah tangga kalian. Semoga berjalan dengan indah dan semerbak seperti dekorasi yang telah kupilih ini," bisik Intan pada Kiran. Wanita itu tersenyum puas melihat ekspresi Kiran.
"Silahkan lihat dan cermati dulu. Kau masih bisa complain jika ada yang kurang," kata Intan lagi.
Kiran tak membuang kesempatan. Ia mencermati dekorasi yang digunakan. Konsep shabby chic menghiasi ruangan itu. Warna krem dan putih yang kadang diselingi dengan warna pink dan emas menonjolkan kesan feminim dan romantisme yang kental. Kiran menahan nafas saat melihatnya.
Tatapan gadis itu kini menyusuri backdrop yang berada di salah satu sisi ruangan. Backdrop model lingkaran dengan hiasan lilitan bunga berwarna pink dan putih serta dedaunan hijau memberikan kesan manis saat dilihat. Ditambah dengan properti inisial namanya dan Radit, plus hiasan lampu menambah kesan hangat dan terang.
Kiran berdiri mematung di depan inisial itu. Tangannya terjulur ingin memegang inisial nama depannya itu. "R & K". Sontak Kiran memegang cincin yang dimasukkannya ke dalam kalung dan melingkar di lehernya. Cincin itu difungsikan menjadi mainan kalung karena sudah tak muat lagi di jarinya. Ia genggam cincin itu dari luar bajunya. Menahan rasa yang membuncah dalam dadanya.
Tak jauh darinya tampak Radit mematung melihat inisial itu dari jauh. Dia mendesiskan inisial itu. Membawanya pada kilasan masa lalu.
Flashback On
"Kakak ...! Kau baru tinggal di sini, ya? Namaku Karina. Namamu siapa Kak?" pekik salah seorang anak perempuan, menyembulkan kepalanya keluar dari jendela.
Radit menghela nafas pelan. Malas menanggapi. Ia baru saja pindah ke rumah neneknya. Papa memintanya untuk tinggal sementara di rumah nenek sampai semua masalah keluarganya clear. Begitu masuk ke kamar ini, ia langsung membuka jendela, agar ada sirkulasi udara. Tidak disangka malah langsung ditegur oleh tetangga yang kamarnya bersebelahan dengan miliknya.
"Kakak ..., namamu siapa?" tanya bocah perempuan itu lagi. Radit menghela nafas kemudian menutup jendela itu. Tampak wajah kecewa bocah perempuan itu. Radit tak peduli. Ia melanjutkan merapikan barang-barang miliknya.
Besok paginya ....
"Eh, Kakak ..., mau pergi sekolah ya?" anak perempuan itu menyengir lagi dari dalam gerbangnya saat Radit melintas ingin berangkat ke sekolah. Radit tak mengacuhkannya. Jarak sekolah dan rumah nenek tidak terlalu jauh. Radit pergi sendiri dengan menaiki sepeda.
Mungkin karena seringnya ia mengabaikan bocah perempuan itu hingga akhirnya ia kembali memanggilnya tapi dengan sebutan lain. "Hei, Raksasa!" Itulah awal mula nama itu tercipta. Bahkan sampai akhirnya mereka jadi dekatpun, anak perempuan itu tak tahu namanya. Dia selalu menyebutnya Kakak atau Raksasa. Radit pun malas untuk menginterupsinya. Ia merasa Karina sangat lucu saat memanggilnya seperti itu.
Flashback Off
Radit mendesiskan inisial itu lagi. "Raksasa dan Karina ...," gumamnya yang tak didengar orang lain selain dirinya.
Kiran secara tak sengaja melirik Radit yang sedang fokus pada hal yang sama dengannya. Kiran melengos, beralih, mengamati yang lain.
Kiran melangkah menuju kursi barisan tamu. Mencermati konsep tempat duduk yang digunakan. Dikarenakan resepsi berkonsep indoor party, maka konsep tempat duduk dimix standing, round table dan long table. Di posisi depan dekat pelaminan terdapat meja half moon, meja setengah lingkaran, sehingga nantinya orang yang akan duduk di situ menghadap ke arah panggung dan bukan membelakanginya. Tangan Kiran menyapu meja setengah lingkaran itu dan berakhir pada panggung yang berada di hadapannya.
Dekorasi pelaminannya membuat Kiran semakin terpana. Luar biasa mewah dan elegan. Bunga berwarna putih dan pink mendominasi. Sofa mewah dan elegan menjadi satu-satunya sofa yang berada di atas sana.
Kiran merasa sedikit heran. Bukankah biasanya sofa itu selalu ditemani dua sofa lainnya di sisi kanan dan kirinya. Sebagai tempat orang tua kedua mempelai. Tapi ini, kenapa tidak ada? Terbersit keharuan dalam hati Kiran. Apakah semua ini sudah diperhitungkan oleh Tuan Mahesa, agar tidak menyakitinya. Agar ia tetap merasa gembira di hari pernikahannya. Tidak merasakan kecanggungan karena kedua orang tuanya tidak bisa duduk di sana. Ada yang menusuk dalam hati Kiran. Namun rasa syukur karena sudah memiliki mertua yang pengertian mengalahkan rasa sakit itu.
"Kau pasti heran? Tuan Mahesa yang memintanya. Kau pasti tau alasannya. Dia sangat menyayangimu," bisik Intan. Lagi-lagi membuyarkan lamunan Kiran.
"Iya, Mbak. Kiran paham. Kiran sangat berterima kasih pada Papa," jawab Kiran masih merasa haru.
"Berterima kasih saja tidak cukup, Kiran. Kau harus membuatnya terharu juga. Seperti yang kau rasakan sekarang."
Kiran menoleh, melirik Intan. "Maksud Mbak?"
"Ari telah meninggal. Tinggal Radit putra satu-satunya mereka. Usia mereka juga sudah tua. Mereka ingin cucu dari kalian, Kiran. Jika kau sangat berterima kasih padanya, sabar-sabar lah pada Radit dan jangan kecewakan Papa Mahesa." Tubuh Kiran menegang. Ia tak sanggup menjawab.
"Tidak apa-apa. Pelan-pelan saja. Yang penting belajarlah untuk mencintainya. Mungkin ia banyak menyakitimu. Karena dia tak pernah berhubungan dengan wanita sebelumnya, maka maklum jika sifatnya seperti itu," ucap Intan seakan tahu dilema yang terjadi dalam diri Kiran.
Untuk masa ini mungkin hal itu akan sulit, Mbak, jawab Kiran dalam hati.
"Bagaimana dekorasinya, kau puas?" tanya Intan mengalihkan pertanyaan. Mengalihkan kecanggungan yang telah hadir tiba-tiba.
"Alhamdulillah Kiran suka banget, Mbak. Puas," ucap Kiran.
"Baik. Kalau begitu kita mulai gladi resiknya."
Setelahnya, Intan memberikan arahan bagaimana ketika kedua orang itu memasuki ruangan. Cara berjalan, bergandengan hingga naik ke atas panggung. Yang membuat Intan kagum pada kedua orang itu, meski mereka seperti perang dingin namun ketika mengikuti instruksi Intan, ekspresi mereka mengisyaratkan seperti sepasang kekasih yang sedang dimabuk cinta.
Intan merasa heran. Membandingkan dengan ekspresi mereka ketika foto prewedding, di mana mereka berdua tampak diam dan agak sedikit kelihatan malu-malu. Justru kini ekspresi malu-malu itu sudah tak ada lagi. Apakah ini berarti ...? Aku kira hubungan mereka jadi jauh lebih buruk dari sebelumnya.
-
❇❇❇
Tuan Makarim tiba di lokasi setengah jam sebelum acara. Intan sudah memberitahu susunan acaranya. Begitu masuk ke dalam ruangan, mata Tuan Mahesa menyisir ruangan, menyapa tamu yang sudah hadir. Ia mulai mencari namun sepertinya yang dicari belum juga ditemukannya. Mungkin beliau belum datang, pikir Tuan Mahesa.
Ariana menepuk bahu suaminya dari belakang. "Mencariku, Cinta ...?" tanyanya dengan lirikan mata yang menggoda.
"Cantik banget, Mama. Masya Allah ...," ucap Tuan Mahesa dengan senyum tak kalah menggoda. Hatinya sangat bersyukur, sesuai dugaannya, istrinya telah kembali ceria. Sudah bisa menggodanya.
"Nanti malam, kita nginep di sini, yuk. Anggap saja kita sedang honeymoon lagi." Tuan Mahesa berbisik sembari mengerling ke arah Mama Ariana.
Ariana tersenyum tipis. "Di rumah aja. Malu sama Radit dan Kiran," jawabnya dengan berbisik pula.
"Kalau malu, kita cari hotel lain. Biar mereka gak tahu." Tuan Mahesa belum menyerah.
"Ih, Papa. Malu sama Raisa, Pa. Udah ah, ada teman Mama di sana, Mama ke sana dulu ya, Pa." Ariana mengalihkan pembicaraan. Tuan Mahesa mengangguk membiarkan Ariana berlalu dari hadapannya.
Iringan dari luar ballroom menarik perhatian Tuan Mahesa. Ia memfokuskan penglihatannya kemudian tersenyum tipis, "Mereka sudah datang ...," gumamnya pelan.
Tuan Mahesa mendekat ke arah pintu masuk. Menyambut seseorang yang melangkah dengan pelan ke sana.
"Apa kabar, Nyonya. Senang Anda bisa hadir hari ini." Tuan Mahesa menyapa wanita tua yang ada di hadapannya.
Wanita itu memandang Tuan Mahesa dengan sorot mata skeptis. "Apa kau sengaja menyembunyikannya, Mahesa?" tanyanya to the point.
Tuan Mahesa tersenyum tipis. "Jika begitu, maka saya tidak akan menyampaikan undangan untuk Nyonya." Wanita tua itu membisu mendengar jawaban Tuan Mahesa.
"Silakan duduk, Nyonya. Kursi Anda sudah saya sediakan di depan." Tuan Mahesa mempersilakan wanita tua itu untuk mengikutinya.
Dalam rombongan wanita tua itu terdapat Sandi Sanjaya beserta istri dan anaknya. Tuan Mahesa mempersilakan mereka semua duduk di salah satu meja half moon.
Ketika pukul sebelas siang, Tuan Mahesa memberi isyarat pada MC untuk mulai membuka acara.
"Assalamu'alaikum warahmatullahi wa barakaatuh ...," terdengar salam MC, membuka acara.
"Yang terhormat keluarga mempelai pria yakni Tuan Mahesa Makarim dan Nyonya Ariana Makarim beserta keluarga."
"Yang kami hormati keluarga mempelai wanita yakni Nyonya Tutik Hardiyanti Widjadja beserta Tuan Sandi Sanjaya Widjadja beserta Istri dan keluarga. Dan yang kami hormati tamu-tamu undangan yang berbahagia."
"Puji syukur serta solawat dan salam acara resepsi pernikahan ini kita selenggarakan dalam keadaan sehat walafiat."
"Hadirin yang berbahagia, hari ini, mempelai pria yang bernama Radit Makarim telah mempersunting kekasih tercintanya Karina Hardiyanti Widjadja."
"Alhamdulillah, keduanya telah melaksanakan akad pada tanggal xx/xx/xxxx dengan selamat dan sukses."
"Hadirin yang berbahagia kita mulai saja acara ini dengan membaca basmallah .... Bismillahirrahmanirrahim ...."
"Selanjutnya kita akan mendengarkan kata sambutan dari Tuan Mahesa Makarim selaku pihak keluarga mempelai pria." Terdengar tepuk tangan dari para tamu undangan begitu Tuan Mahesa menaiki panggung.
Tuan Mahesa mengucapkan terima kasih kepada tamu yang hadir. Kemudian menceritakan sedikit peristiwa yang terjadi pada Ari. Kemudian alasan kenapa ia menyelenggarakan pesta pernikahan ini meski baru saja kehilangan putranya. Semua itu disebabkan ia merasa berhutang budi pada sahabatnya, orang tua menantunya, yang dulu banyak menolongnya mendirikan perusahaan.
Ada keharuan yang luar biasa ketika Tuan Mahesa mengucapkan itu. Tuan Mahesa melirik ibu dari sahabatnya itu. Wanita tua itu tampak menitikkan air matanya. Saat Tuan Mahesa turun, tepuk tangan bergemuruh dalam ruangan. Rekan bisnis maupun saudara yang hadir langsung menyambutnya dengan pelukan.
"Selanjutnya kita akan mendengarkan kata sambutan dari Nyonya Tutik Hardiyanti selaku pihak keluarga mempelai wanita." Terdengar tepuk tangan lagi dari para tamu undangan.
Sandi Sanjaya menatap ibunya dengan penuh kasih. "Mama yakin, bisa? Jika Mama ragu, aku akan menggantikan Mama," ucap Sandi Sanjaya penuh kekhawatiran di matanya.
Nyonya Tutik menggeleng. "Bantu Mama ke atas," ucapnya penuh keyakinan. Sandi Sanjaya langsung beranjak membantu ibunya berdiri kemudian berjalan menuju panggung. Beberapa asisten tampak ikut membantu. Sampai ketika akan naik ke panggung, Sandi Sanjaya masih setia membantu ibunya. Saat sudah di atas, Sandi Sanjaya tetap berada di belakang ibunya bagaikan bodyguard yang menjaga tuannya.
Tuan Mahesa merasa salut sekaligus miris. Salut sebab Sandi Sanjaya sangat menghormati dan menyayangi ibunya. Miris, karena seharusnya Kamil yang berada di posisi itu pada ibunya. Tuan Mahesa sangat paham, Kamil sangat menyayangi ibunya. Saking takutnya sang ibu susah, ia membeli saham Makarim Group atas nama sang ibu. Hanya TJ yang dibuat atas namanya.
"Pertama-tama saya ingin mengucapkan terima kasih kepada Tuan Mahesa yang telah menemukan salah satu anggota keluarga kami. Semula saya mengira cucu saya sudah meninggal dalam kecelakaan. Tak disangka hari ini dia menikah. Alhamdulillah. Kebahagiaan apalagi yang diharapkan dari seorang nenek selain melihat cucunya bahagia. Semoga rumah tangga mereka langgeng hingga ke anak cucu. Terima kasih kepada para tamu yang telah memberikan doa maupun restu untuk kebahagiaan cucu saya."
Tepuk tangan kembali bergemuruh saat Nyonya Tutik menyelesaikan pidatonya. Wanita tua itu kembali turun dari panggung dan duduk di kursinya. Tampak matanya yang berkaca-kaca. Ekspresi itu tertangkap di manik mata Tuan Mahesa.
"Setelah pidato yang menguras rasa haru di hati kita. Mari kita sambut kedua mempelai ...!" pekik MC sembari mengangkat tangannya ke arah pintu masuk. Musik pun mengalun. Radit masuk melalui salah satu pintu, sementara Kiran melalui pintu yang lain. Setelah mereka bertemu di tengah, Radit berlutut dan mengulurkan tangannya pada Kiran. Radit meraih jemari Kiran dan mengecup punggung tangannya. Kemudian Radit berdiri dan Kiran menggandeng lengan Radit dengan mesra. Semua tindakan mereka diringi musik.
Suasana ballroom gemuruh seketika. Para tamu undangan sampai berdiri melihat apa yang terjadi di pintu masuk. Drama kedua mempelai.
Wajah kedua mempelai berseri saat melewati mereka. Setiap tamu menyanjung kecantikan dan ketampanan yang serupa. Sungguh serasi kata mereka. Mereka tidak tahu bahwa si mempelai pria sedang ngedumel dalam hatinya.
Sesosok mata menatap haru ke arah sang mempelai wanita. Air mata itu menggenang kemudian luruh seketika.
❤❤❤💖