
Setelah tragedi si Masa Depan, Kiran dan Radit sama-sama bungkam. Terutama Kiran yang akhirnya membiarkan Radit memeluknya dari samping meski pria itu tampak sedang menahan sakit. Hatinya terus bertanya-tanya kenapa Radit jadi over protective padanya. Awalnya ia kira Radit mengejeknya, tapi sepertinya pria itu tampak sungguh-sungguh dengan perbuatannya.
Saat mereka sudah sampai pun, Radit memaksa berjalan sambil menggenggam jemarinya. Kiran yang masih merasa bersalah hanya pasrah dan membiarkannya.
"Kau duluan saja ke kamar. Aku akan menemui Papa," ucap Radit, melepaskan genggamannya pada jemari Kiran.
Sebelum keluar dari kantor tadi, Tuan Mahesa memberikan pesan padanya untuk menemuinya di ruang kerja jika sudah pulang ke rumah.
Radit menatap punggung Kiran yang berjalan di depannya. Setelah dilihatnya wanita itu masuk ke dalam kamar, Radit pun langsung melangkah masuk ke ruang kerja Tuan Mahesa di lantai dua.
"Assalamu'alaikum, Pa." Radit memberikan salam ketika masuk ke dalam ruangan.
Tuan Mahesa sedang duduk di meja kerjanya. "Wa'alaikumussalam. Sini, Dit. Duduk di sini aja," ajak Tuan Mahesa menunjuk kursi yang ada di depan mejanya.
"Ada apa, Pa?" Radit bertanya tanpa basa-basi.
Tuan Mahesa tersenyum tipis. Putra sulungnya itu ya begini. Sangat berbeda dengan Ari yang rajanya basa-basi. Jika Ari yang masuk ke ruang kerjanya, pasti anaknya itu akan bertanya hal yang lain dulu, baru kemudian bertanya perihal apa papanya memanggilnya. Apapun perbedaan itu, Tuan Mahesa sangat mencintai kedua putranya. Meski mungkin kadang Ari merasa sang Papa lebih bangga pada kakaknya.
"Maksud Papa kemarin memang mau menceritakan tentang Kiran padamu, Dit. Kau sebagai suaminya harus tahu. Tadi neneknya Kiran mendatangi Papa. Jadi apa yang Papa ceritakan jauh berbeda dari apa yang Papa pahami sebelumnya."
Radit diam dan bersungguh-sungguh mendengarkan sang Papa.
"Dia ingin kita pertemukan kembali dengan Kiran. Tapi dia meminta pada Papa agar Kiran membuka hatinya terlebih dahulu sebelum berjumpa dengannya. Dia ingin menjelaskan semuanya pada Kiran."
"Memang waktu pertama kali mereka bertemu, neneknya sempat menceritakan kalau ia dan anaknya membuat kesepakatan. Apa itu yang mau diceritakannya, Pa?"
"Itu salah satunya, Dit." Radit mengernyitkan dahinya.
"Ceritakanlah, Pa. Biar nanti Radit yang memberikan pengertian pada Kiran."
Tuan Mahesa mengangguk. "Sebenarnya Sandi Sanjaya itu bukan adik kandung Kamil, Ayahnya Kiran. Dia itu putra dari tangan kanan Pak Didi, ayahnya Kamil. Namanya Atmaja. Atmaja meninggal saat melindungi Pak Didi dari serangan sekelompok orang yang ingin membunuhnya. Saat mereka ingin menembak Pak Didi, Atmaja datang, menjadikan dirinya tameng pelindung Pak Didi. Akhirnya Atmaja meninggal dan Pak Didi selamat sebab polisi langsung datang ke tempat kejadian."
"Sebelum meninggal, Pak Didi sempat bertanya pada Atmaja, apa permintaan terakhir yang ingin dikabulkan olehnya. Pak Atmaja hanya berpesan pada Pak Didi agar bisa menerima Sandi menjadi anaknya. Ketika itu Sandi masih kecil. Dia masih berusia dua tahun. Karena merasa sudah berhutang nyawa Pak Didi pun menyanggupinya dan berjanji akan mendidik Sandi seperti anaknya sendiri serta akan menjaga agar rahasia itu tidak akan diketahui Sandi. Mendengarnya Pak Atmaja sangat puas. Ia menghembuskan nafas terakhirnya."
"Pada awalnya semua berjalan selayaknya biasa. Kamil dan Sandi sama-sama saling menyayangi layaknya abang dan adik. Bu Tutik juga menyayanginya tanpa membedakan mereka berdua. Namun semua itu berubah sejak Kamil menikahi Rina. Ternyata Rina itu dulunya adalah pacarnya Sandi. Namun Rina tidak mencintainya dan malah mencintai Kamil.
Di sinilah awal mula petaka itu. Sejak itu Sandi berubah, dia lebih dingin dan cepat emosi pada Kamil. Setelah Kamil punya anak dari Rina, rasa irinya semakin menjadi. Entah dapat informasi dari siapa, dia pun mendengar kebenaran bahwa dia bukan anak kandung Pak Didi. Sandi menjadi hancur. Kamil yang sudah berjanji pada Pak Didi, akhirnya malah mengakui bahwa dialah yang sebenarnya bukan anak kandung dari Pak Didi.
Kamil mengira, Sandi akan bahagia setelah mendengarnya. Ternyata dugaannya salah. Sandi semakin membenci Kamil dan mengusirnya keluar dari rumah bahkan dari keluarga Widjadja."
"Lalu bagaimana dengan Nyonya Tutik, Pa? Kenapa beliau diam saja?!" Radit jadi terbawa emosi mendengarnya.
Wajah Tuan Mahesa berubah muram. "Beliau tidak bisa apa-apa. Kamil meminta ibunya untuk mendukungnya memenuhi janji pada ayahnya."
"Permintaan apa itu?! Dia lebih membela orang lain. Padahal karena mengalahnya dia. Anaknya pun jadi korban. Jika memang mau mengalah seharusnya dari awal dia jangan menikahi ibunya Karin."
"Ya, menurut ibunya, pada awalnya memang Kamil dan Rina sama-sama sudah saling menjauh karena tidak ingin menyakiti Sandi. Tapi entah bagaimana akhirnya mereka malah jadi menikah. Memang begitulah sifat Kamil, Dit. Dia orangnya konsisten, keras kepala dan sangat memegang janji. Dia hampir seperti dirimu. Dia juga sangat patuh pada kedua orang tuanya. Kamil tidak pernah mengecewakan kedua orang tuanya, sama seperti dirimu."
Rasa bangga memenuhi hati Radit. Hatinya jadi menghangat. Secara tidak langsung, Papanya sedang memujinya. Baginya pujian itu bentuk pengakuan bahwa Papanya sangat bangga dan tidak merasa menyesal telah memiliki anak sepertinya. Itu yang paling penting.
Radit berpikir sejenak. "Jika begitu, Pa. Apa mungkin peristiwa kecelakaan Ari itu didalangi oleh Sandi?"
"Peluru yang ditemukan di ban mobil Ari, salah satunya mengarah pada seseorang yang memiliki riwayat pertemuan dengan Sonya, Pa. Bukankah Sonya itu ibunya Sandi?"
Rahang Tuan Mahesa mengeras. "Ya benar. Kenapa kau bisa tahu jika Sonya itu ibunya Sandi? Tapi untuk apa mereka melakukan itu? Apa untungnya?"
"Kami sudah mencari tahu identitas Sonya, Pa. Sebelum menikah dengan suaminya yang sekarang, dia adalah istrinya Pak Atmaja, tangan kanan kakeknya Kiran. Semula Radit pun sempat berpikir bahwa neneknya lah penyebabnya melihat riwayat kesetiaan Pak Atmaja. Tapi mendengar semua ini dari Papa, sepertinya semua panah mengarah pada Sandi.
Motif apa yang mereka miliki, masih ingin Radit cari tahu, Pa. Seperti janji Radit sebelumnya. Radit akan memberi tahu Papa jika semua sudah menjadi jelas," ucap Radit penuh keyakinan memandang sang Papa yang kini berubah muram. Kesedihan tampak jelas di matanya.
Radit belum bisa memberitahu Papa sebelum Radit melihat dengan mata kepala Radit sendiri. Bersabar lah, Pa. Jika memang benar mereka. Maka Radit akan membuat mereka mengakui dan bertanggungjawab atas perbuatan mereka.
-
❇❇❇
Mengobrol dengan sang papa ternyata membuat Radit lupa waktu. Tanpa terasa malam telah larut saat ia beranjak keluar dari ruang kerja sang papa.
Radit memasuki kamarnya dengan perlahan, ia menduga Kiran pasti sudah tidur. Jadi dia tidak ingin mengganggu wanita itu.
Meski sudah larut, Radit tetap mandi. Membersihkan tubuhnya yang terasa lengket. Setelah selesai mandi, ia pun segera berpakaian.
Radit terpaku sesaat ketika melihat Kiran dari jauh. Hatinya terkadang masih belum yakin jika wanita yang sekarang tidur di atas ranjangnya adalah Karina yang ia cari selama ini. Pencarian itu berhenti setelah mendengar berita bahwa Karina sudah meninggal dalam kecelakaan. Kini wanita itu di sini, di kamarnya, bahkan menjadi istrinya. Sungguh keberuntungan yang luar biasa.
Perlahan Radit mendekati Kiran yang sudah tertidur pulas kemudian duduk di tepi tempat tidur. Ia sibakkan beberapa helai rambut yang menutupi dahi wanita itu, mengamatinya dengan seksama. Untung saja dahinya tidak memar apalagi terluka. Jika sempat itu terjadi, kau akan mendapatkan akibatnya Bara ...!!!
Radit menggeram dalam hati. Tatapannya kini beralih pada wajah polos wanita itu. Jemarinya menyentuh beberapa helai rambut yang jatuh dan meletakkannya ke belakang telinga.
Apa benar kau Karina? Setelah kuamati tanpa jilbab begini, memang benar kau mirip dia. Bukan, kau memang dia!
Radit tersenyum. Pikirannya kembali mengembara pada ucapan 'iya' Kiran yang terngiang di kepalanya. Wajahnya berubah muram.
Kenapa kau bisa melupakanku? Kenapa kau tidak mencariku? Kau bisa sampai ke sini, tapi kenapa bukan untuk bertemu denganku? Padahal kau yang memaksaku untuk berjanji melamarmu ketika dewasa. Tapi kau sendiri yang mengingkarinya.
Kau tidak tahu, hatiku sakit jika mengingat kalau kau bisa mencintai pria lain selain Raksasamu. Apa kau tahu bagaimana perasaanku saat tahu kau telah meninggal dunia? Hatiku hancur saat itu. Namun ternyata hatiku lebih hancur saat kau berada di sampingku namun hatimu bukan untukku lagi.
Radit mengalihkan pandangannya. Hatinya bergetar. Ia mengusap sudut matanya yang basah. Ia merasa dirinya sangat menyedihkan selama ini telah memendam rasa untuk seseorang yang ternyata sudah melupakannya. Ia menatap Kiran lagi.
Anehnya, cintaku ini tak pernah berkurang untukmu meskipun hatiku merasa sakit. Sakit karena perasaanku yang selama bertahun-tahun telah kau abaikan. Aku akan membuat kau menyukaiku lagi sama seperti dulu. Aku ingin matamu hanya mengarah padaku. Dan hatimu hanya untukku. Tapi kau juga harus memahami betapa berartinya aku untuk kau miliki. Sama seperti dulu.
Radit menyuarakan perasaannya sembari mengelus wajah Kiran. Ingin ia ucapkan apa yang ia rasakan, namun Radit merasa malu karena seperti mengemis untuk dicintai oleh Kiran.
Setelah puas memandang Kiran sembari menyuarakan isi hatinya. Radit terpaku sejenak. Perlahan ia mendekati wajah Kiran.
Cup! Sebuah ciuman kecil ia daratkan di dahi Kiran. Pandangannya kini beralih pada bibir Kiran. Bibir yang pernah dirasanya itu. Pantaslah ia begitu cepat terhanyut dan tergoda oleh wanita ini. Radit tersenyum tipis.
Mau siapapun namamu, aku pasti mudah menyukai dan tergoda olehmu. Aku harap kau pun begitu. Kau harus kembali menyukaiku. Setelah itu terjadi, baru aku akan memberitahumu bahwa aku adalah Raksasamu.
❤❤❤💖