BECOME AN ANTAGONIST

BECOME AN ANTAGONIST
#99



"Kita akan berlibur?" tanya Lara.


"Hmm, terserah kau saja," jawab Phoenix yang masih memejamkan matanya.


"Tak usah tempat yang terlalu jauh," kata Lara.


"Kalau begitu ke resort pantai saja," sahut Phoenix.


"Aku lebih suka pegunungan," ucap Lara.


Phoenix membuka matanya dan melihat wajah Lara yang tampak segar. "Baiklah, apapun keinginanmu, Baby."


Lara mengangguk dan beranjak dari ranjangnya.


"Kau mau ke mana?" tanya Phoenix.


"Ke kamar mandi. Aku belum mandi dan badanku terasa lengket," jawab Lara sambil berjalan ke kamar mandi.


"Jangan terlalu lama," sahut Phoenix.


"Benar kata kak Velvet. Kau benar-benar manja," jawab Lara tertawa pelan.


Phoenix senang melihat mood Lara yang tampak sudah membaik. Dan anehnya, mual di perutnya sedikit menghilang karena melihat tawa cantik sang istri.


"Ya ya, kurasa hanya satu solusinya. Aku harus selalu membuatnya tertawa dan senang agar bayiku tak dendam padaku," gumam Phoenix konyol.


*


*


Galy dan Rey menunda kepulangan mereka sampai Phoenix dan Lara membaik. Meskipun sebenarnya Lara sudah kembali sehat.


Tetapi anggota keluarga yang lainnya harus pulang hari ini karena tak bisa terlalu lama meninggalkan kegiatan sekolah dan pekerjaan mereka.


"Mom, aku sudah baik-baik saja dan aku bisa menjaga anak manja mommy itu," ucap Lara di depan Phoenix.


"Kau suka sekali dengan sebutan itu, Baby? Apakah itu ajaran Velvet?" sahut Phoenix.


Lara tertawa pelan.


"Oke oke, tak masalah jika itu membuatmu senang," lanjut Phoenix ketika melihat tawa Lara yang memang langka itu.


Galy hanya tersenyum mendengarnya.


"Ya, Mom," jawab Lara.


"Kalian sudah memutuskan akan ke mana?" tanya Galy.


"Kami akan ke villa di pegunungan, Mom," jawab Lara.


"Itu pilihan yang bagus. Pemandangan dan udara di sana sangat bagus." Galy tersenyum.


Lalu Galy keluar dari kamar.


"Kau sudah lebih enak?" tanya Lara.


Phoenix mengangguk.


"Ayo keluar. Aku bosan berada di kamar sepanjang hari," ucap Lara.


"Baiklah, ayo." Phoenix mengecup bibir Lara dan beranjak dari ranjangnya lalu menuju ke walking closetnya.


Pria tampan itu tampak membuka baju serta celananya dan meletakkannya di atas karpet lalu mengambil baju ganti di dalam lemarinya.


Lara yang ada di belakangnya langsung menghampirinya dan mengambil baju Phoenix yang tergeletak di bawa.


"Kau punya kebiasaan yang buruk," ucap Lara.


Phoenix hanya tertawa pelan dan menuju kamar mandi.


Lara meletakkan baju dan celana Phoenix di keranjang pakaian kotor yang ada di pojok walking closet.


Kemudian Lara mengambil ponselnya dan banyak pesan yang masuk di sana. Dia membalas beberapa pesan termasuk dari Iris.


Iris sementara dipekerjakan di perusahaan Lara di ruang sekretaris. Sedangkan Gonza lebih banyak bersama tuan Silas yang cukup sering ke luar negeri. Hanya seminggu dua kali saja dia mengunjungi New Jersey untuk berjaga-jaga jika Lara membutuhkannya.


Iris tinggal di apartemen Gonza sesuai perintah Lara dan membuat Gonza tak bisa menolaknya.


Lalu Lara menerima telepon dari anak buahnya. "Hmm, bagaimana?" tanya Lara.


"Dia sudah masuk jebakan, Nona," jawab pria yang ada di ujung telepon.


"Good," jawab Lara dan segera menutup ponselnya ketika Phoenix keluar dari kamar mandi.